Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
She's always there for me.



"Kita akan kemana Hon?" Tanya Alexa.


"Kita akan ke gudang cibubur, maaf sudah memaksa mu ikut." Ken terus menggenggam erat tangan Alexa saat keluar dari lift.


Beberapa orang melihat tingkah Alexa dan Ken saat itu, sepertinya hal itu sudah bukan sebuah gosip besar lagi karena setiap orang hanya menatap sesaat ke arah mereka kemudian kembali sibuk dengan kegiatan masing masing.


Mobil Ken melaju meninggalkan gedung PH corp, menembus kepadatan lalu lintas siang itu. Alexa tak bebicara sepatah katapun sejak didalam mobil.


"Hon, apa kamu masih marah?" Ken menatap sebentar ke arah Alexa kemudian melemparkan kembali fokus nya ke jalanan.


"Hon, maaf. Imelda itu bukan siapa siapa aku, dia hanyalah seorang teman dekat sebelum kita bertemu.


Aku nggak pernah menyukainya." Jelas Ken.


Ken menyerahkan ponselnya ke tangan Alexa.


"Mungkin sekarang kamu bisa membantuku menyingkirkan mereka, aku bahkan meminta bantuan Lisa dan Shanen karena aku merasa tak bisa menyuruh mereka untuk nggak menelpon aku lagi." Kata Ken.


"Sekarang nomor dan ponsel ini milikku." Alexa memasuk kan ponselnya ke dalam tasnya.


Senyum Ken menyeruak saat melihat wajah kekasihnya yang sudah mulai tersenyum lagi.


Saat mobil berhenti disebuah lampu merah, Ken menghentikan mobilnya kemudian memeluk Alexa erat.


"Ternyata ponsel ini yang membuat wajahmu manyun sejak tadi. Maaf ya sayang." Kata Ken.


Alexa membalas pelukan Ken.


"Aku nggak suka wanita bernama Imelda itu Hon, milikku seharusnya hanya menjadi milikku seorang." Kata Alexa.


Kecupan hangat bibir Ken mendarat lembut dibibir Alexa.


"As well as you want my future wife." Bisik Ken.


Selesai dari urusan gudang Ken langsung membawa Alexa memasuki sebuah kompleks perumahan elite yang tak berada jauh dari kantor.


"Kita ngapain ke sini?" Tanya Alexa setelah mobil memasuki pagar tinggi dihadapannya.


"Ini rumahku, aku harus membawa mu ke sini cepat atau lambat." Jawab Ken.


"Apa ini rumah orang tuamu?" Tanya Alexa.


"Bukan, sudah setahun aku pindah ke sini." Jawab Ken.


Halaman megah yang dipenuhi bunga membuat mata Alexa tak henti menatap ke sekeliling nya. Memasuki pintu besar rumah bak istana itu, mata Alexa tertuju pada sebuah lampu kristal yang menggantung diruangan tamu berukuran luas itu.


"Rumah yang sangat luar biasa." Kata Alexa.


"Yuk." Ken menarik tangan Alexa menaiki tangga yang hampir mengelililngi setengah dari ruangan besar itu.


Ken membawa Alexa masuk ke sebuah ruangan besar di lantai dua.


"Ini kamarku, nanti akan menjadi kamar kamu juga." Kata Ken.


"Honey, apakah menyenangkan tinggal dirumah besar ini sendiri?" Tanya Alexa.


"Terkadang aku pulang ke rumah orang tuaku jika aku mulai bosan." Kata Ken.


Ken mengambil gagang telpon rumah yang menggantung di didnding kamarnya.


"Pak Ron antarkan minuman dan cemilan ke kamar." Kata Ken kemudian menutup telpon tersebut.


"Honey kamu mau ikut atau akan menunggu disini? Aku akan ke ruangan kerja ku sebentar." Kata Ken.


"Aku disini saja." Alexa berjalan menuju balkon yang tertutup tirai putih tersebut, pemandangan kebun bunga yang indah terpampang dihadapannya. Warna biru kolam di bagian belakang menambah selaras warna warna di halaman rumah tersebut.


Look so beautifull.


Tiba tiba Ken datang memeluk Alexa dari arah belakang.


"Hon, biarkan aku menikahimu agar aku nggak sepi dirumah sebesar ini lagi. Mari kita bikin anak sebanyak yang kita bisa." Kata Ken sembari mendaratkan ciuman ke belakang telinga Alexa.


Alexa membalikkan badannya menghadap ke arah Ken.


Jarak yang sangat dekat diantara keduanya membuat Alexa jelas menatap wajah Ken lekat lekat.


"Aku juga kepengen secepat nya menikahimu Honey." Kata Alexa.


"Trus apa kamu masih ragu denganku?" Tanya Ken.


"Kemana kamu akan mendapatkan wali untukku? Kamu akan melamar diriku ke siapa? Aku masih harus mencari Ibuku, entah dia berada dibelahan dunia mana, masih hidup atau telah tiada." Kata Alexa lirih.


"Jika hal itu saja yang kamu pikirkan berarti aku bisa segera melamar dirimu. Kamu akan bertemu dengan Ibumu sebentar lagi." Kata Ken sambil memeluk kekasihnya itu.


"Maksud kamu?" Alexa melepaskan diri dari pelukan Ken.


"Yah, ibumu akan menemuimu saat dirinya sudah siap." Kata Ken.


"Jadi kamu sudah tau siapa ibuku?" Tanya Alexa dengan suara agak menekan.


"Ya, beliau nggak mengijinkan aku memberitahum terlebih dahulu. Maaf Honey, aku hanya berusaha menjadi calon menantu yang patuh." Jawab Ken.


"Diamana dia?" Tanya Alexa.


"Dia akan keapartemen kamu sebentar lagi."Jawab Ken.


"Truss kenapa kita masih berada disini? Ayo kita kembali!" Ajak Alexa.


"Oke oke, sebentar aku mengambil dokumenku dulu." Ken mengambil beberapa map kepemilikan properti yang ada di atas meja. Sambil membaca pesan yang masuk ke handphone nya.


Nak Ken, tante sudah dalam perjalanan. Pesan dari tante Ratih.


Tante Alexa sudah menunggu tante. Hati hati dijalan. Balas Ken.


Alexa sudah berdiri didepan pintu, pak Rony menyamperin Alexa dan menyalami tangan nya.


"Terimakasih pak, tapi aku belum bisa menyantap makanan buatan mu. Kami sudah harus pergi." Jawab Alexa.


Ken menghampiri Alexa dan pak Ron yang sedang berbincang.


"Pak Ron, ini Alexa calon istriku." Kata Ken.


"Ya den, bapak sudah berpikir begitu." Kata pak Ron dengan senyuman bahagia.


"Pak Ron jaga rumah yah, kami jalan dulu." Ken.


"Baik den, non, hati hati dijalan ." Pak Ron.


"Mari pak Ron." kata Alexa kemudian berlalu dari hadapan pak Ron menuju beberapa mobil mewah yang berderet diparkiran mobil Ken.


Salah satu mobil digunakan mereka pada sore menjelang malam itu.


"Honey," panggil Ken sambil sibuk dibalik setir mobilnya.


"Ya." Alexa melirik Ken.


Alexa memainkan jari jemarinya seperti orang yang gelisah akan sesuatu.


"Ibumu sebentar lagi tiba." Kata Ken setelah tiba di apartemen Alexa.


Alexa langsung duduk disofa diruang tamu minimalis sambil berharap harap cemas.


Sosok ibu yang aku rindukan, sosok yang gak pernah aku bayangkan, kini aku akan bertemu dengannya..


Ken memaikan game buatan Alexa didalam phonselnya. Matanya sesekali melirik ke Alexa yang terlihat mondar mandir entah memikirkan hal apa.


"Sayang, tenang dong. Mungkin lima menit lagi ibumu tiba." Kata Ken.


"Justru dia semakin dekat, aku semakin panik sayang." Wajah Alexa makin terlihat panik.


"Aku harus ngomong apa dengannya? Apa dia akan senang bertemu denganku?" Lanjut Alexa.


"Iyaa dong, dia kan ibu mu, dia sangat menyayangi dan merindukanmu." Ken memeluk menenangkan Alexa.


"Kamu kok nggak ngomong hon, seharusnya beritahu aku dulu. Biar aku lebih siap" Kata Alexa masih dalam pelukan Ken.


"Seperti apa wajah ibuku? hhfftt sepertinya aku gugup karena ini begitu mendadak dan diluar dugaanku."


"Apa kamu sudah lama mengetahui hal ini?" Tanya Alexa.


"Hmmmm sudah sebulan setelah kamu menghilang. Ibumu mencarimu ke perusahan." Jawab Ken.


"Hhhh ibuku ke perusahan? Dari mana dia tau aku disana?" Suara Alexa menyelidik, kemudaian mata nya menatap ke arah Ken lagi.


"Apa ibuku sudah tau aku?" Tanya Alexa.


"Sshhh ini biar kamu bisa lebih rileks" Ken menutup bibir Alexa dengan bibirnya.


Beberapa saat kemudian.


"Ting tong ting tong" Bunyi bel pintu membubarkan aksi kedua insan yang semakin panas itu.


Ken melepaskan Alexa dari dekapannya, buru nafas nya begitu cepat.


"Apa seperti ini yang dinamakan rilex?" Tanya Alexa.


Ken tertawa sambil jari jempolnya melap bibir Alexa.


"Kamu tunggu disini, aku akan membukakan pintu buatmu." Kata Ken.


"Ting tong" Suara bel lagi.


Ken membukakan pintu dan mempersilahkan tante Ratih masuk.


Alexa terlihat cemas dibelakang Ken.


Kepala Alexa miringkan untuk melihat sosok wanita yang akan muncul dibalik pintu.


Tante Ratih berdiam diri sejenak sebelum melangkahkan kakinya masuk.


Alexa menatap tante Ratih berdiri di depan nya, kepalanya mencoba melihat ke arah pintu jika masih ada wanita lain yang akan muncul.


"Tante Ratih" Sapa Alexa bahagia.


"Mana ibuku?" Tanya Alexa sambil melangkah mendekati tante Ratih.


Setelah Ken menutup pintu dan keluar, Alexa menjadi sadar bahwa wanita yang ditunggunya saat itu adalah tante Ratih. Saat air mata tante Ratih mulai menetes membasahi pipinya Alexa terdiam dan mencerna, sosok ibunya itu adalah tante Ratih.


Kakinya begitu kaku untuk melangkah lagi, mata nya begitu berat akan linangan air mata. Ditambah kepedihan dan tangis ibu dihadapannya itu semakin membuat pedih rasa didalam dadanya.


Tangis nya pecah saat tante Ratih melangkah beberapa langkah untuk mendekapnya.


"Anakku" Kata Tante Ratih dengan suara isak tangis.


Alexa masih berdiam diri ditempatnya menerima pelukan hangat ibunya. Ibunya yang selama ini tak pernah meninggalkannya, ibunya yang selalu ada untuk dirinya, ibunya yang selalu menjaga dan melindungi dirinya.


Selama ini wanita yang selalu aku anggap sebagai ibuku ternyata memang lah ibuku.


Dia selalu menjadi sosok yang luarbiasa, dia begitu tegar hingga bisa berdiri dihadapanku kini. Alexa mengenang kejadian 18 tahun lalu yang menimpa keluarga nya.


"Ibuu." Alexa tersedu dipelukan ibunya.


"Maafin Sasha bu, sasha nggak bisa mengingat wajah ibu, maafin Sasha meninggalkan ibu malam itu, maafin Sasha selama ini nggak pernah berbagi beban dengan ibu. Ibu selalu ada saat Sasha butuh tapi Sasha nggak pernah tau kalau ternyata ibu juga begitu menderita." Ucap Alexa pada ibunya.


"Shhhh Sha, semuanya sudah berlalu. Ibu menjadi kuat dan bisa bertahan karena ada dirimu. Sebenarnya kamulah yang selalu menjadi penyamangat buat Ibu" Jawab Ibunya.


Ibu Ratih membawa Alexa duduk di sofa untuk menenangkan putri kesayangan nya itu.


Bersambung...