
Satu persatu bulir salju berterbangan tertiup angin hingga mencair sebelum menyentuh tanah sore itu. Berpadu dengan suasana riuh dan ramai sebuah rumah makan cepat saji yang terletak dihalaman parkir rumah sakit St.Joseph, rumah makan yang kini disinggahi Alexa, bu Ratih, papa Bond, dan teman blondenya Charlotte. Lalu dan lalang orang banyak itu tak dihiraukan Alexa. Matanya kemudian tertuju ke beberapa pasangan muda mudi saling bergandengan tangan berjalan memasuki sebuah mobil hitam yang sedang terparkir.
Pikiran Alexa langsung teringat akan suaminya yang masih belum diketahui keberadaannya.
Ya ini adalah salju pertama selama aku disini, tak terasa sudah akan memasuki tahun yang baru, suasana Christmas di kota ini terasa begitu meriah. Dan aku masih belum menemukan keberadaan suamiku.. Lamun Alexa sambil menatap kearah luar jendela kaca. Tawa dan kelakar papa, ibu dan juga Charlotte tak sedikitpun mengusik lamunannya.
Sayang, bayi kita sehat dan semakin gendut. Bahkan dokter melarang ku minum susu sekarang, dokter juga menyuruh ku diet gula dan garam, aku hanya bisa mengenyangkan perutku dengan buah buahan. Padahal setiap saat aku membayangkan nikmatnya ayam kremes, soto ayam, sop iga, rendang, opor.. Aku rindu dimasak kan kamu sayang, hmmmm apalagi sekarang ada dua orang satpam ini yang setiap saat menjagaku.
Mata Alexa tertuju pada Charlotte dan ibunya yang kini dianggap nya sebagai satpam pribadi yang selalu siaga menjaga pola makannya.
Ditengah lamunan Alexa, beberapa sajian ayam frenchise ala negeri paman Sam sudah terhidang dimeja. Canda dan tawa tadinya tidak digubris Alexa, namun begitu aroma ayam menghampiri hidung nya, sontak posisi badanya langsung menghadap meja siap untuk menyantap makanan.
"Ibu gak pesankan Sasha burger?" kata Alexa.
"Nggak, ini aja setiap orang hanya mendapat jatah 1 potong paha," ucap bu Ratih sambil meletakkan sepotong ayam goreng ke atas piring Alexa.
"Sasha mau paha bu dan dada ayam ini terlalu kecil," pinta Alexa.
"Hanya ada satu paha, ibu khusus pesan buat Charlotte. Liat tuh badan kamu Sha, dokter sudah melarang kamu makan berlemak. Ibu sudah pesan salad buah untuk mengenyangkan perutmu," ucap bu Ratih iver protected pada anak nya yang badan nya sudah sangat gemuk.
"Ayam papa buat Sasha aja bu, dia masih kepingin makan," sanggah papanya.
"No," bu Ratih mengambil ayam dari tangan suaminya yang hendak dipindahkan ke piring Sasha. "Pa, berat bayi diperutnya itu sudah hampir 5 kg, sedangkan usia kandungannya baru masuk bulan ke 7. Itu untuk kebaikannya..." omel bu Ratih.
Alexa hanya menatap sepasang suami istri dihadapannya yang saling berdebat, sedangkan Charlotte duduk diam sambil menghabiskan makanannya.
"You are eating so fast," kata Alexa pada Charlotte, tak memperhatikan omelan ibunya.
"I just don't want you take my thigh, i need to eat fast than you," ucap Charlotte.
"Haha, i event dont know. You are my friend or my mom friend. Hmm it's oke, 3 more months i can eat anything." Alexa membesar kan hatinya, mengingat tiga bulan lagi dia sudah lahiran.
"Sha, how if Ken doesn't know you anymore because obesity? Haha. Charlote tertawa begitu besar membuat wahah Alexa agak muram. mengingat pipi dan boddy nya tidak setirus dulu lagi.
Alexa melatakkan ayam dari tangannya.
"Mulai hari ini, aku hanya akan makan buah," ucap Alexa datar kemudian meraih sepiring salad buah yang sudah dipesan ibunya.
"Wah Charlotte, kenapa ibu nggak berpikir kesitu? Seharus nya dari dulu ibu bilang seperti itu. 'Jika kamu kegemukan Ken tidak akan mengenalinya lagi.' Dia pasti akan jaga bodynya," ucap bu Ratih kemudian ikut tertawa.
Sore itu sepulang dari dokter kandungan Alexa harus menuju ke kantor advocad menandatangani balik nama aset milik ayah Frank dan pemindahan deposito ayahnya ke atas namanya.
Sebuah proses yang cukup rumit, mengingat Alexa adalah seorang warga negara Indonesia.
Alexa, papa Bond, bu Ratih dan Charlotte masuk bersamaan ke sebuah ruangan kantor mewah dari sebuah firma hukum terkenal dikota itu.
Seorang pengacara dan seorang PPAT dan seorang akuntan bank sudah berada diruangan itu menunggu Alexa dan Mr Bond.
Beberapa penjelasan dari pengacara membuat Alexa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Pengacara menyodorkan sebuah dokumen beberapa aset, dan sebuah buku deposito bank baru beratas namakan Alexa Corrina.
Alexa memilah milah lembar demi lembar sertifikat kepemilikan aset yang kini menjadi miliknya, tiga buah gedung ruko dipusat kota London. Dua buah rumah, dan tiga buah lahan perkebunan dipedalaman yorkshire.
Seketika matanyanya melotot melihat nominal angka yang tertera dalam buku tersebut.
€ 21.780.00? Ini jika dirupiahkan setara dengan 4,5 triliun? Apa mereka nggak salah?
"Pa, apa nominalnya emang sebanyak ini?" tanya Alexa belum berani menanda tangani.
"Ya, semua uang itu adalah hak mu. Uang hasil sewa bangunan selama bertahun tahun, uang hasil ladang dan bunga deposit di rekening ayah mu menjadikan uangmu terus bertambah setiap tahunnya nak, serta sebuah tanah sengketa dipinggiran kota, terpaksa papa menjualnya karena masalah dengan penduduk setempat. Semua sudah papa masukkan ke rekening kamu," jelas papa Bond begitu detail.
"But." Alexa masih terlihat bingung. Dalam sekejap mata, sekali menggoreskan tinta dalam kertas itu dirinya akan berubah menjadi seorang wanita millioner.
"Nak, sekarang semua tanggung jawab sudah papa emban. Papa sekarang tenang pada Almarhum ayah kamu." Papa Bond terus menyemangati Alexa.
Alexa menolehkan kepalanya ke arah kanan menatap wajah ibunya, bu Ratih mengangguk dengan senyuman.
Alexa memegang erat sebuah polpen yang terasa begitu berat ditangannya.
Apakah aku pantas mendapatkan semua ini??
Alexa melenggangkan pulpen diatas buku kecil itu. Sekejap saja beberapa orang dihadapannya langsung menjabat tangannya. Proses yang mereka kerjakan berbulan bulan akhirnya berhasil. Aset kepemilikan lahan ke atas nama warga negara asing. Otomatis status Alexa langsung menjadi warga kehormatan diInggris. Disamping ayah nya yang adalah anggota keluarga kerajaan Alexa juga akan segera mendapat gelar duchess dari pihak kerajaan.
Masih diluar nalar Alexa, bahkan setelah berhari hari dirinya masih terus berpikir. Mau diapakan uang sebanyak itu, bahkan tanpa harus bekerja Alexa sudah mampu mengidupi anak anak dan cucunya hingga puluhan tahun kedepan.
---
Beberapa minggu terakhir Alexa melewati harinya dengan berbagai kesibukan. Beberapa undangan ceremonial penetapan Alexa sebagai warga kehormatan dengan gelar the duchess dari kerajaan membuatnya harus beberapa kali menghadiri dinner dengan beberapa aggota keluarga kerajaan lainnya. Sebuah Aktivitas yang tidak bisa dihindarinya.
Disamping perutnya yang semakin membesar, para kembar kecil itu juga semakin aktiv bergerak.
"Bu, apa wajar jika aku merasa nyeri diperut," kata Alexa setibanya dirumah bersama papa Bond dari acara undangan makan malam keluarga Bernard.
"Sakit dibagian mana? Coba lihat apa ada flek?" tanya bu Ratih. Alexa disuruhnya ke kamar mandi.
"Nggak ada bu," kata Alexa begitu keluar dari kamar mandi.
"Besok kita akan ke dokter, kandungan mu sudah memasuki bulan ke delapan, harus lebih rutin ke dokter. Sudah kamu mandi trus istirahat ya," kata bu Ratih.
Malam itu rasa sakit dan mual dari dalam perut Alexa makin menjadi.
Alexa mencoba menenangkan si kembar dengan alunan music klasik yang biasa didengarnya.
Pada malam hari si kembar emang super aktif, hari ini mereka bergerak lebih banyak dari hari sebelumnya. Apa normal jika ada rasa sakit seperti ini?
"Twins kalian bobo dong, jika nendang perut mommy terus mommy jadi kesakitan nih," ucap Alexa pada bayi kembar dalam perutnya.
Alexa mencoba memejamkan mata memaksa dirinya tertidur pulas malam itu.
Bersambung...