
Menjelang subuh jenazah oma Anna telah dimandikan dan dibungkus rapih dengan kain kafan dari rumah sakit. Ambulance mengantar jenazah oma ke rumah nya di Bogor.
Alexa bersama ibunya terus saja duduk meratap disamping jenazah oma, tak beranjak sedikitpun.
Beberapa sanak keluarga, kenalan dan tetangga bergantian melayat dipagi harinya.
Bu Ratih untuk pertama kali nya sadar kalau hari sudah pagi dan Alexa terus saja duduk disamping omanya.
Tatapan nya kosong dengan tetesan airmata sesekali menetes ke pipinya.
Nak, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Ken?
"Asih bawakan non Sasha susu hangat," ucap bu Ratih padi bik Asih yang ikut duduk disitu.
"Baik bu," jawab bik Asih kemudian berdiri menuju ke arah dapur.
Bu Ratih menyusul bik Asih dibelakangnya.
"Sudah hampir jam delapan, apakah Ken belum juga muncul?" tanya bu Ratih.
"Belum bu, kenapa ibu tak tanya langsung ke non Sasha," ucap bik Asih.
"Bagaimana saya akan bertanya, kamu lihat dia menangis tak henti hentinya sejak semalam? Aku curiga terjadi sesuatu antaranya dan Ken, jika aku bertanya lagi malah hanya akan membuatnya makin sedih," jelas bu Ratih.
"Asih, sebentar lagi masakkan Sasha sop ayam. Aku akan mencoba membujuknya makan," ucap bu Ratih kemudian ke kamar mengambil ponselnya.
Bu Ratih hendak menelpon suaminya pagi itu.
Tangan nya mengutak atik ponselnya hingga tak sengaja menekan sebuah browser berita.
Sebuah berita terpopuler terpajang disitus tersebut. Ken Samuel Husada secara resmi bertunangan dengan Donita teman dan rekannya sedari kecil. Sejak kecil mereka telah dijodohkan. Dalam beberapa saat saham PT.PH corp berada pada titik tertinggi pagi ini...
Bu Ratih tak lagi meneruskan bacaannya itu, dirinya berkali kali menghubungi Ken namun tidak aktif. Bu Ratih kemudian keluar menghampiri Alexa.
"Nak gimana kalau kamu ke kamar beristirahat dulu," ajak bu Ratih.
"Nggak bu, ini terakhir kali Sasha menemani oma. Biarkan Sasha disini bu," ucap Alexa datar.
"Ya udah diminum susunya sebelum dingin," ucap bu Ratih sembari mengangkat gelas disamping Alexa ke tangan Alexa.
Alexa meneguk sekali susu dalam gelas itu.
Anak ini, dia bahkan hanya minum sesedikit. Jika seperti ini kamu akan sakit sayang. Batin bu Ratih sedih melihat tingkah anaknya seperti enggan untuk bergerak dan bicara.
Sore harinya setelah jenazah oma Anna dimakam kan bu Ratih masih terus berusaha menghubungi Ken, sedangkan Alexa terus menerus berada dikamar, tak makan dan hanya minum sedikit.
"Nak, kamu makan sup nya yah? Seharian kamu belum makan. Ibu nggak ingin kamu sakit." Bu Ratih enggan bertanya pada Alexa perihal Ken, dirinya hanya bisa menunggu anaknya untuk terbuka terlebih dahulu soal masalahnya dengan Ken.
Alexa mengambil sop dari tangan ibunya dan mulai memasukkan sendok berisi sop kedalam mulutnya. Setelah sendok ke tiga Alexa melepaskan mangkok itu.
"Sasha kenyang bu," ucap Alexa pelan.
"Ya udah, bik Asih akan membawakan yang panas lagi jika kamu sudah kepengen makan lagi," kata bu Ratih penuh kesabaran.
"Ibu sudah makan?" tanya Alexa.
"Sudah nak, ibu sudah dua kali makan sejak pagi," Alexa memeluk Ibunya.
"Ibu jangan tinggalkan Sasha ya bu, Sasha nggak mau sendirian tanpa ibu," Alexa berucap sambil menangis.
"Nggak sayang, ibu akan selalu menemani mu," ucap bu Ratih singkat menahan tangisnya.
Bu Ratih berusaha menguatkan putrinya setiap hari, rasa kecewa setelah dirinya ditinggal oma Anna dan Ken membuatnya sangat terpuruk. Setiap pagi Alexa akan duduk menatap keluar jendela yang menghadap ke arah pintu pagar. Tatapan nya selalu kosong, entah hal apa yang ada dalam pikirannya, sesekali air mata jatuh membasahi pipinya.
Sebulan berlalu, Alexa masih sama seperti sebelum nya. Enggan keluar rumah dan jarang mau diajak bicara, saat makan dia hanya akan makan beberapa suapan.
Pagi itu dimeja makan, bik Asih memberinya sepiring nasi goreng, belum sempat di cicipi Alexa sudah menolak makanan itu.
"Bik Asih kenapa memberiku makanan basi ini, aku sungguh tak bisa meciumnya. Berikan aku sop seperti biasa," ucap Alexa sambil mendorong piring itu menjauh darinya.
Ibu Ratih meraih piring berisi nasi goreng yang ada dihadapan Alexa. Satu sendok berhasil masuk ke mulut bu Ratih, sendok ke dua juga sudah ditelan bu Ratih.
"Iya bibik bikin kan Non sop yah." Bik Asih melangkah kedapur.
"Bu makanan Sasha diantar ke kamar ya," Alexa bergegas berdiri dari kursinya karena ingin menghindari bau nasi goreng yang membuatnya pusing.
Beberapa langkah dari meja mata Alexa terasa gelap, kepalanya begitu berat. Dia mencoba memegang kursi dibelakangnya kemudian terkulai lemah dilantai.
"Nak, sayang.." bu Ratih berlari menghampiri Alexa.
Bik Asih berlari menghampiri ruang makan saat mendengar teriakan bu Ratih.
"Non non Sasha, bu Non kenapa?"
"Panggil mang Kasim bik Asih, bawa Sasha ke Rumah sakit" ucap bu Ratih panik.
Mang Kasim memapah tubuh Alexa ke mobil kemudian menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan bu Ratih terlihat panik, sesekali dirinya mengomeli putrinya yang jarang makan akhir akhir ini.
Memasuki halaman sebuah rumah sakit dipinggiran Bogor, Alexa langsung dibawa ke IGD.
Beberapa tim medis langsung mengambil tindakan, selang oksigen langsung menempel dihidungnya.
Bu Ratih senantiasa berdiri disamping putrinya dengan panik sambil menunggu hasil medis dari dokter.
Beberapa saat kemudian Alexa membuka matanya menatap ibu nya yang berdiri disampingnya.
"Bu, Sasha dimana?" tanya Alexa.
"Anak bodoh ini, akhirnya kamu bisa sadar. Itulah kenapa ibu selalu memaksa kamu makan, bagaimana sudah sebesar ini namun kamu masih tidak bisa menjaga diri kamu sendiri," Bu Ratih mengoceh kemudian memeluk Alexa. "Tapi syukurlah kamu sudah sadar," ucap bu Ratih lagi.
"Maaf bu, ibu marah gak apa apa, Sasha salah. Maaf sudah membuat ibu panik," ucap Alexa sambil mengambil posisi duduk.
"Kamu baring dulu, kamu kan,"
"Sudah sudah bu, Sasha merasa baik baik saja sekarang," kata Alexa menenangkan ibunya.
"Kalau kamu baik baik saja ibu tidak mungkin akan membawamu ke sini," kata bu Ratih.
"Maaf bu, mulai sekarang Sasha akan makan yang banyak setiap hari. Sasha gak mau ibu panik lagi, Sasha janji," ucap Alexa kemudian memeluk ibunya.
"Ya Nona Alexa, memang sekarang anda harus benar benar menjaga nutrisi yang masuk ke dalam tubuh anda," kata dokter tiba tiba dari arah pintu kemudian melangkah mendekati keduanya. "Karna kedua mahluk kecil itu sangat membutuhkan nutrisi dari ibunya," ucap dokter itu.
"Ha maksud dokter?" tanya bu Ratih.
Sementara Alexa hanya tertegun mencerna maksud dari kata kata dokter barusan.
"Maksud saya Nona Alexa sedang hamil, dia harus menjaga kondisi tubuhnya," jelas si Dokter.
"Apa? Anakku, ibu sekarang akan menjadi seorang nenek sayang." Bu Ratih tertawa bahagia memeluk Alexa.
"Dok, dua mahluk maksudnya? tanya Alexa.
"Iya Nona, ada dua detak jantung didalam rahim anda saat ini, jadi anda harus extra lebih hati2 menjaga kehamilan anda," jelas dokter lagi.
Alexa terdiam, rasanya tak percaya kalau dirinya saat ini tengah mengandung dua orang anak dari pria yang dicintainya. Pria yang hingga kini masih belum ada kabar dan beritanya.
Rasa hangat menyelubungi hatinya, tangannya perlahan mengelus perut datarnya. Senyuman tak henti menghiasi wajahnya.
"Kamu dengar kan nak, kamu harus sehat untuk anak anak mu. Kamu tidak sendiri lagi, Tuhan sudah menggantikan rasa kehilangan yang kamu rasakan," ucap bu Ratih bahagia.
Alexa tersenyum semakin lebar melihat tingkah ibunya, ibunya terlihat jauh lebih bahagia dari dirinya. Bahkan ibunya mulai mengoceh mengingat Alexa yang jarang mau makan akhir akhir ini.
Ken, kamu dimana. Aku tidak bisa terus menunggu mu datang, kini aku akan mencari dirimu. Ada kabar bahagia yang ingin aku sampaikan pada mu.
Aku akan menemuimu dikantor...
Bersambung...