
Suasana kalut dan kacau terjadi di vila sepeninggal Ken dan Gugun dari tempat itu. Beberapa pengawal berusaha mengejar Ken dan Gugun dengan mobil yang terparkir diparkiran, namun hanyalah sebuah kesia-siaan. Mobil itu tak mampu berjalan lebih cepat karena ban mobil sebelah kiri berhasil dikempesin Gugun. Kedua dokter diriqng perawatan terlihat sibuk mengurus pria yang baru saja dipukul Gugun, dan beberapa pengawal lagi berusaha menelpon mobil untuk segera datang. Seorang pria menghubungi beberapa anak buah yang tersebar di kota kecil itu, untuk mengejar Gugun dan Ken. Semua usaha mereka tak membuahkan hasil hari itu, mobil Gugun dan Ken sudah melejit jauh ke arah utara benua Australia.
Sementara itu suasana tegang dan senyap dimobil yang dikendarai Gugun dan Ken. Sepanjang perjalanan mereka saling diam tak banyak bicara. Dada keduanya, berdegub begitu kencang, mereka masih merasa ini adalah sebuah hal yang mustahil bisa lolos dari Donita. Setelah satu tahun dua bulan di villa itu akhirnya mereka bisa berhasil lolos keluar. Perencanaan perencanaan yang sudah mereka susun empat hari terakhir berhasil dengan sempurna. Dan kini mereka telah bebas dari cengkraman Donita dan anak buahnya.
Ken terlihat duduk memegang pegangan pintu mengatur posisi duduknya. Setelah hampir dua jam perjalanan Ken mulai merileks kan posisi duduknya dari posisi kaku sebelumnya. Suara tarikan nafas panjang terdengar begitu jelas di telinga Gugun.
"Huffttt Gun apa sekarang kita sudah aman?" tanya Ken.
Gugun tak menjawab sedikitpun pertanyaan Ken, pandangan Gugun terus fokus ke depan sambil terus melajukan kendaraan.
"Gun, kita sudah berkendara selama dua jam. Sebentar lagi kita memasuki kawasan Australia utara. Perhatikan bahan bakar mobil, cari tempat pengisian bahan bakar dan cari beberapa informasi dari penduduk lokal," ucap Ken.
Gugun terus diam dan tak menghiraukan Ken.
"Gun, kamu nggak mendengar ku?" teriak Ken sambil tangan nya mencoba meraih tangan Gugun.
Gugun menatap Ken seakan baru saja sadar dirinya sudah berkendara sangat jauh.
Gugun mengerem mobil berhenti kemudian duduk mengelus dadanya.
"Boss, apakah kita berhasil?" tanya Gugun.
Ken menganggukkan kepalanya
"Hahahaaa," suara tawa Gugun begitu besar dan nyaring. "Kita berhasil boss, kita berhasil," sorak Gugun kemudian memeluk Ken yang duduk disebelahnya.
Ken ikut menampakkan senyumnya menatap Gugun yang baru saja bernafas lega.
"Sebentar boss, kita masih harus melanjutkan perjalanan hingga melewati perbatasan." ucap gugun sambil tangan nya menyentuh layar GPS pada dashboard mobil.
"Kita harus cari bahan bakar terlebih dahulu, singgah di toko kecil membeli air mineral kemudian melanjutkan perjalanan," kata Ken.
"Empat kilometer didepan ada pemukiman, apa boss gak singgah istirahat sebentar?" tanya Gugun.
"Kita akan istirahat setelah berada diatas kapal Gun, kamu pikir setelah Donita tahu kita kabur, dia tidak akan mengerahkan orang untuk mencari kita?" ucap Ken begitu yakin.
"Baik Boss," ujar Gugun kemudian menyalakan kembali mesin mobil dan menyusuri jalanan.
"Gimana kondisi boss? Apa boss baik baik saja?" tanya Gugun.
"Selain kelumpuhan ini, semuanya baik baik saja Gun, ayo fokus mengemudi" jawab Ken.
"Apa sudah lama boss bisa bicara? Dan boss sengaja berdiam diri setiap hari?" tanya Gugun lagi.
"Aku nggak tau persinya kapan, seingatku sejak kedatangan ibu, aku baru mulai punya keinginan untuk bicara. Aku tak tau apa apa sebelum itu," ucap Ken agak bingung.
"Karena mengingat tante Amel akan datang, jadi dua hari sebelumnya dosis obat boss sudah dikurangi oleh siluman domba itu, entah obat obatan apa yang sudah diberikan ke boss! Bahkan dokter sudah tak ingin memberinya resep itu, tapi siluman itu terus mengancam," kata Gugun sinis.
"Maaf boss, aku tidak bisa berbuat apa apa selama ini. Siluman itu selalu mengurungku jika aku mencoba mendekati boss. Semua CCTV memantau gerakan ku, aku hanya bisa berdiri menatap dan mengawasi boss setiap hari," jelas Gugun.
"Aku tau persis seperti apa Donita, dia bisa saja membunuh siapapun yang jadi penghalangnya. Jadi yang kamu lakukan itu sudah bagus, aku tak sedikitpun menyalahkan mu," ucap Ken.
"Donita itu sangat jahat boss, sebelumnya dokter yang merawat boss ada tiga orang. Hanya karena membantah satu perintah Donita dia malah dikurung berminggu minggu diruang bawah tanah. Hingga Dokter itu meninggal disetrum diruangan itu. Hiii mengerikan," ujar Gugun.
"Bos, itu ada mini market. Kita stop disitu?" tanya Gugun.
"Ya stop aja, kita butuh air mineral," kata Ken.
Gugun berhenti di sebuah mini market yang juga menjual bahan bakar. Gugun menggunakan uang yang ada didalam dompet pria botak yang baru saja dipukulnya untuk membeli keperluan mereka.
"Wahh, preman preman itu lumayan juga," ucap Gugun begitu melihat uang tunai yang ada didalam dompet.
"Jika uang mu masih kurang kita bisa menjual mobil ini ke penduduk setempat," kata Ken yang tak dihiraukan oleh Gugun.
Saat itu juga Gugun mengisi bahan bakar, membeli air mineral dan membeli beberapa cemilan untuk mengganjal perut selama perjalanan.
"Buruan Gun," teriak Ken dari dalam mobil.
"Aku hanya membelikan boss beberapa potong roti dan cemilan cemilan untuk mengganjal perut," jelas Gugun setelah masuk ke mobil dengan dua kantong plasti besar ditangannya.
"Ingat kita masih belum terlalu jauh dari vila, ini masih diperbatasan. Dan masih akan butuh beberapa jam perjalaan baru kita bisa aman," kata Ken.
"Boss dimana kita akan mencari kapal untuk nenyebrang ke Indonesia?" tanya Gugun penasaran kemudian mulai melajukan kendaraan.
"Coba aja terus menuju jalanan ini," Ken menunjuk peta yang ada di layar GPS mobil. "Untuk sampai ke sini bisa memakan waktu kurang lebih dua minggu," ujar Ken.
"What? Dua minggu?"teriak Gugun kaget.
"Kita terus saja berjalan Gun, semoga Donita tak menemukan kita. Jika kamu capek dan ngantuk kita berhenti di penginapan penginapan kecil yang akan kita lalui," kata Ken.
"Baik. Tapi boss baik baik saja kan?" tanya Gugun lagi.
"Baik Gun, malahan aku jadi begitu bersemangat sekarang ini,"kata Ken berbinar. Wajah Ken yang biasanya seperti tak ingin hidup, kini telah kembali pulih 100 persen. Hanya saja saat ini Ken masih merasa kesulitan menggerakkan badannya.
...
Setelah menempuh perjalanan lebih dari seminggu, Ken dan Gugun akhirnya tiba dikota Townsville. Kota dengan sebuah pelabuhan besar dan pusat perdagangan laut yang lumayan terkenal. Kondisi keuangan yang semakin menipis, membuat keduanya harus berhenti dikota itu dan memikirkan beberapa rencana baru selanjutnya.
Gugun berhasil menjual kendaraan yang mereka pakai saat itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju Cooctown dengan menggunakan kapal laut. Gugun dan Ken menetap di kota kecil Cooctown itu beberapa bulan kedepan hingga memungkinkan bagi mereka untuk menyebrang ke Indonesia.
------
Sementara itu divilla Donita...
Dengan segala kekacauan sepeninggal Gugun dan Ken dari villa itu, Donita mengerahkan semua anak buahnya mencari ke semua sudut kota bahkan ke beberbagai wilayah di Australia. Namun mengingat wilayah daratan Ausie yang begitu luas membuat Donita sedikit sulit menemukan Ken dan Gugun.
Beberapa bulan berlalu, Ken dan Gugun masih tak ada kabar berita. Donita pun memutus kan ikut menghilang, seolah Ken dan Donita lenyap bersama. Donita tak pernah muncul bahkan dihadapan ayahnya sekalipun.
Perusahan PH.Corp yang sudah tak bisa dipertahankan membuat pak William ayah Donita harus turun tangan mengatasi ulah anaknya.
Pak William ayah Donita bersama kedua orang tua Ken, tante Amel dan Om Hendry terus mencari keberadaan anak anak mereka hingga ke segala penjuru namun belum membuahkan hasil.
Bersambung...