
Alexa berdiri didepan pintu menatap Ken yang masih asik bermain dengan anak anak.
Ibu Sukma duduk tak seberapa jauh dari situ menatap ke arah Alexa.
"Sasha." Kata bu Sukma sembari menunjuk kursi kosong di samping nya.
Alexa menghampiri kursi kosong yang ditunjuk bu Sukma.
"Ada apa bu?" Tanya Alexa.
"Ken mau mengajak kamu balik ke Jakarta malam ini. Apa kamu akan ikut dengan nya?" Tanya bu Sukma.
Alexa terdiam.
"Bu, apa menurut ibu aku.." Suara Alexa terputus.
"Apa kamu nggak bisa merasakan ketulusan Ken kepada mu Sha? Sejak kecil ibu lihat dia sudah menyukaimu, bahkan kini dia terlihat tidak ingin kehilangan kamu lagi." Bu Sukma.
Alexa mendengar dengan seksama setiap kata kata bu Sukma.
"Sejak dahulu ibu selalu berharap agar kalian berjodoh. Ibu akan lebih senang jika kalian segera menikah." Lanjut bu Sukma.
Alexa menatap ke arah bu Sukma setelah mendengar kata terakhir bu Sukma.
"Menikah bu?" Tanya Alexa.
"Iya menikah, apa kah ada pria lain selain dia yang lebih pantas menikahi kamu?" Tanya bu Sukma.
"Tidak bu. Tapi aku selalu merasa aku tidak pantas untuknya."
"Ohh jadi Sasha mau dia menikahi gadis lain yang lebih cocok untuknya? Apa Sasha yakin akan melepas Ken untuk wanita yang tidak dicintai nya. Jika dia menikahi gadis yang pantas apakah dia akan bahagia?" Kata bu Sukma.
Alexa menggeleng geleng kan kepalanya menyerap arti dari setiap kata kata bu Sukma.
"Jika kamu biasa membuatnya tersenyum maka kamulah orang yang paling pantas berada disisinya Sha." Lanjut bu Sukma.
"Apa keluarganya akan setuju?" Tanya Sasha yang sibuk memainkan kuku di jari jemarinya.
"Nak Ken itu sudah dewasa, dia pasti tau bagaimana harus melindungi kamu, dia pasti bisa meyakinkan kedua orang tuanya." Kata Bu Sukma.
Baik lah, aku akan membuat mu menjadi lelaki paling bahagia didunia ini.
Aku juga harus berusaha berjuang mendapatkan kamu Ken. Kamu adalah milkku!
Mata Alexa tertuju pada Rani yang mulai ikut bermain bola bersama Ken dan beberapa anak laki laki disitu.
"Yeeaaayyy Gooolll," teriak Rani.
"Kita menang, kita menang" sambil melompat lompat kegirangan.
Muka beberapa anak laki laki yang berada di tim nya berubah menjadi masam.
Rani yang terus berlarian sendiri langsung terhenti.
"Kenapa muka kalian?" Tanya Rani.
"Kakak gol kita kan di sebelah situ." Teriak seorang anak menunjuk ke arah berbeda dengan gawang yang di jebol Rani.
"Loh bukan nya tadi kamu teriak gol waktu menendang ke situ?" Tanya Rani tak kalah keras.
"Ini half time kakak, kita jadi ketinggalan satu poin sekarang." Jawab anak itu lagi sambil melipat tangan nya ke dada.
"Udah udah anak anak bubar, ini sudah sore. Ran suruh mereka mandi." Kata bu Sukma dari teras rumah.
"Ya udah kakak minta maaf." Rani melihat anak itu masih saja cemberut.
"Aku kan sudah minta maaf, sebentar kakak akan buatkan es krim untuk kalian." Ucap Rani merayu.
"Janji?" Tanya anak itu.
"Iya janji, tapi sekarang kalian harus bergegas mandi sebelum kakak menjewer telinga kalian." Ucap Rani.
Anak anak ditemani Rani masuk lewat samping untuk mandi, Ken mendatangi Alexa dan bu Sukma.
"Kamu nggak ikut mandi?" Alexa.
"Apa harus sekarang?" Jawab Ken.
Alexa mengangguk
"Kita akan belikan anak anak hadiah." Jawab Alexa.
"Baiklah Hon." ucap Ken kemudian menuju ke mobil mengambil koper kecil yang sudah tersedia di bagasinya.
Jam lima sore Ken, Alexa, dan Rani menuju sebuah Mall ternama tak jauh dari situ. Dengan mengendarai mobil miliaran rupiah, pajero berwarna hitam itu meluncur mulus ditengah jalanan.
"Ran beberapa anak anak handuknya sudah nggak layak pakai kita carikan mereka handuk, sendal, baju tidur, dan tas sekolah. Belikan mereka pakaian masing masing enam pasang." Kata Alexa menyodorkan premium card ke tangan Rani.
"Pakai ini aja Ran" Ken menyodorkan kartu miliknya.
"Nggak usah Hon, itu hadiah dari aku buat mereka." Kata Alexa sambil tersenyum.
Perubahan sifat Alexa membuat Ken mengalah dan langsung meraih dan menggenggam tangan Alexa.
Ini sebuah kode jika dia sudah kembali normal, nggak seperti tadi siang. Bahkan untuk menatap ku dia enggan. Pikir Ken
"Ehem gak enak banget ternyata jadi orang ketiga disini ya." Kata Rani.
"Haha, Ran kamu tau aku sangat merindukan nya. Wanita bodoh ini begitu cerdik menyembunyikan dirinya." Kata Ken.
"Istilah baru ya, bodoh tapi cerdik." Kata Rani.
"Ya, dia sangat bodoh karena pergi meninggalkan aku. Aku dibuatnya tak fokus dengan kerjaan karena terus mencarinya." Kata Ken.
"Bagaimana kamu tau aku disekitar sini?" Tanya Alexa.
"Aku nggak tau kamu di panti, yang pastinya aku sudah pergi ke rumah sakit dimana kamu dirawat dan aku juga menemui dokter Siska untuk mencari info tentang dirimu. Semua hal akan aku tempuh agar menemukan dirimu." Kata Ken.
"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Ken.
"Aku sedang mencari ibu ku." Kata Alexa.
Suasana di mobil hening beberapa saat.
"Saat aku sadar dari koma, aku sudah ingat sebagian ingatan saat aku kecil. Mimpi buruk yang selalu aku alami ternyata adalah kenyataan. Jadi aku memutuskan mencari nya tanpa harus merepotkan kamu." Kata Alexa.
Rani yang mendengar pengakuan Alexa teringat akan kejadian di koran yang ikut di bacanya saat dirumah sakit.
Dirinya mulai terisak pelan.
Ken dan Alexa terkejut kemudian melemparkan pandangan mereka ke arah Rani.
"Ran?" Panggil Alexa.
"Loh kok mewek?" Tanya Rani.
Rani menyeka airmatanya.
"Entah lah, aku selalu merasa ingin menangis akhir akhir ini." Jawab Rani.
Alexa pun mulai ikut menitikkan air matanya.
"Hiks hiks, aku sangat bersyukur memiliki teman seperti kamu."
Ken dengan mata yang ikut berkaca kaca saat itu ikut merasakan pedih yang dialami Alexa.
"Loh kok kamu jadi ikutan nangis? Shhhssshhhshhh, sorry aku sudah buat kamu sedih." Kata Rani.
Alexa menatap Rani.
"Aku nggak sedih tapi aku bahagia memiliki teman seperti kamu tau." Alexa tersenyum lebar.
"Udah jangan sedih sedih lagi, kita udah sampai." Kata Rani.
Mobil Ken memasuki parkiran sebuah gedung besar dengan temaram lampu besar dimana mana.
Mobil hitam itu terparkir didekat pintu masuk Mall tersebut.
Begitu turun dari mobil itu Rani menghampiri Alexa untuk jalan berbarengan.
Ken mengambil sebuah topi dibelakang jok mobilnya.
"Rani." Panggil Ken.
Rani menatap ke arah Ken tanpa berkata apapun.
"Sepertinya aku harus berterimakasih pada mu." Kata Ken kemudian memeluk Rani.
"Terimakasih karena sudah menjaga kekasihku selama ini, dan terima kasih sudah mau berbagi duka bersamanya." Kata Ken lagi kemudian melepaskan pelukan ringannya.
Alexa dan Rani terdiam melihat tingkah Ken.
Ken berdiri disamping Alexa dan menggenggam tangannya berjalan memasuki mall.
"Apa kamu lihat mata nya memerah?" Bisik Rani ke telinga Alexa.
"Iya." Jawab Alexa berbisik.
"Apa dia baru saja menangis?" Tanya Rani masih berbisik.
"Ya mungkin saja." Alexa.
"Ternyata hati seorang Ken lembut seperti kapas hihi" Rani tertawa kecil terdengar hingga ke telinga Ken.
"Shhhhh" Bisik Alexa.
"Pada bisik bisik apa sih?" Tanya Ken sambil mendekap Alexa ke pinggang nya.
"Ihhh, jangan tarik dia." Kata Rani dengan suara agak besar sembari menarik lengan Alexa menempel dibadannya.
"Loh dia pacarku, wajar dong jika ku peluk." Jawab Ken dengan suara tak kalah besar.
"Isshhhh kamu nggak malu deket deket dia diliatin orang banyak." Kata Rani menunjuk sekeliling.
Setiap mata orang orang disitu menatap Ken sambil berbisik bisik.
"Biarin aja diliat orang." Ken menarik Alexa lagi.
"Sudah sudah diam," kata Alexa kemudian berdiri ditengah tengah pertengkaran kedua orang itu.
"Aku akan berjalan sendiri." Lanjut Alexa.
"Tapi kan dia akan membawamu besok, waktumu bersamaku hanya tinggal malam ini saja." Kata Lisa dengat raut cemberut.
"Kok gitu?" Tanya Alexa.
"Aku mendengar nya saat dia ijin dengan bu Sukma tadi siang." Kata Rani masih dengan wajah cemberut.
Alexa mengambil inisiatif berdiri disamping Rani kemudian menggandeng tangannya.
"Ayuk" Ajak Alexa ke Rani dan Ken.
Ken mengikuti di belakang kedua gadis itu sambil menunduk dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal itu.
Setelah hampir tiga jam belanja semua barang bawaan telah penuh terisi dibagasi mobil Ken.
Mereka juga membeli makan malam untuk anak anak.
Anak anak sangat gembira malam itu, suasan Ken dan Alexa yang tadinya kaku kini telah mencair.
Pertengkaran antara Ken dan Rani berulang malam itu hanya karena masalah kecil. Namun Alexa tak menganggapnya sebuah hal besar. Rani agak dimanjakan ibu nya tak heran jika agak keras kepala namun hatinya selalu baik.
Itu malam terakhirnya bersama Rani, bahkan saat tidurpun Rani memeluknya erat.
Bersambung...