
Oma Anna kesehatan nya makin memburuk, setiap hari sepulang dari kantor Alexa akan langsung menuju ke rumah sakit menemani ibunya menjaga oma Anna. Sesekali Alexa akan tidur dirumah sakit meggantikan ibu nya yang harus pulang ke Bogor untuk mengambil beberapa barang.
"Sayang gimana kabar oma?" Bicara Ken melalui ponselnya.
"Kata dokter oma masih harus dirawat, lambung nya masih belum bisa mencerna makanan keras jadi harus infus biar ada suply makanan dan gizi yang masuk." Jelas Alexa.
"Jadi, aku jemput kamu sekarang?" Tanya Ken dari telpon.
"Nggak usah sayang, aku akan nginap disini malam ini. Tadi ibu pulang ke Bogor untuk mengambil beberapa pakaian dan keperluan mandi." Jawab Alexa.
"Atau aku ke situ menemani kamu?" Tanya Ken lagi.
"Ihh nggak usah, kamu istirahat noh. Dua minggu lagi acara ulang tahun perusahan. Jika kamu kurang istirahat kamu juga bisa sakit." Ucap Alexa.
"Baiklah, tapi kalau kamu butuh apa apa telpon aku aja ya." Ucap Ken.
"Iya iya." Jawab Alexa.
Mobil Ken langsung melaju menuju kediaman orang tuanya, rumah besar nan mewah yang hanya dihuni ayah dan ibunya nya itu begitu terlihat sepi. Ken memasuki halaman rumah mewah itu karena pintu pagar memang sudah terbuka lebar menanti kehadiarannya.
Ken keluar dari mobilnya berjalan menuju ruang makan dimana mama dan papa nya berada.
"Ma, Pa.." Sapa Ken.
"Sini nak, makan dulu." Ucap mama Amel sembari mengambilkan piring buat Ken.
Ken menyambut piring dari tangan mama kemudian mengisinya dengan lauk kesukaannya yang sudah terhidang di atas meja.
Ken mulai menikmati makanan nya, sedangkan papa sudah selesai melahap sepiring nasi dan lauk dihadapan nya.
"Gimana persiapan ulang tahun perusahan?" Tanya Papa Henry.
"Sudah rampung 80 persen pa." Ucap Ken dengan makanan penuh dalam mulutnya.
"Bik Dar, ambilkan beberapa undangan biru dari meja bapak." Ucap papa Henry pada asisten rumah tangga yang berada disitu.
Bik Darsih bergerak menuju ruang kerja papa Henry kemudian kembali dengan beberapa undangan berwarna biru ditangannya.
Ken membaca beberapa undangan itu.
"Pa, bukannya ulangtahun perusahan itu tanggal 28? Kenapa disini jadi tanggal 23?" Ucap Ken kaget.
"Ya, papa sengaja memajukannya selama 5 hari." Jawab papa Henry seenaknya.
"Papa taukan persiapan sisa dua puluh persen itu sudah Ken perhitung semua. Kenapa papa malah seenaknya memajukan tanggal?" Ucap Ken agak marah.
"Ken, papa lihat waktu mu masih begitu santai. Kamu masih sempat sempatnya berpacaran dikantor dan mengantar jemput si anak panti nggak jelas asal usulnya itu." Ucapan papa keluar begitu saja dari mulutnya.
Sesaat Ken menjadi sangat marah mendengar ucapan papanya. Ken berdiam menahan emosi dalam batinnya, dia menarik nafas mencoba berpikiran terbuka pada kedua orang tuanya itu.
Segitu hinakah Alexa dimata kalian? Aku mencintai dan menghormati wanita itu namun dimata kalian dia tidak ada apa apanya. Tidak bisa kah kalian menerima nya sebagai wanita yang aku sayangi tanpa melihat asal usulnya?
"Papa jangan bawa bawa Alexa dalam hal ini, dia tidak ada sangkut pautnya dalam acara perusahan?" Jawab Ken dengan nada suara yang lebih baik.
"Nama si gadis yang gak jelas asal usul nya itu adalah Alexa, dan anak kalian ini sangat mencintai gadis itu. Jika kalian tidak bisa menerimanya cobalah menghargai keputusan ku." Ucap Ken lagi.
Wajah papa Henry mulai memerah, pemikiran Ken dan cinta buta Ken pada Alexa membuatnya sangat marah.
"Anak bodoh, sampai kapan pun papa nggak akan pernah merestui hubungan kalian." Ucap papa Henry marah.
"Dan sampai kapan pun, aku hanya akan mencintai Alexa pa." Jawab Ken.
Papa Henry memukul meja dihadapannya.
"Tanggal 23 papa akan mengumumkan pertunangan mu dengan Donita di acara ulang tahun perusahan. Dan keputusan papa sudah bulat, nggak bisa diubah." Ucap papa Henry marah dan meninggalkan ruangan makan itu.
"Oh jadi kalian sudah lama merencanakan ini? Kalian tidak sedikitpun menghargai perasaan dan keputusanku. Aku sudah besar, apa kalian yang harus memutuskan dengan siapa aku menikah?" Ucapan Ken terdengar hingga ke telinga papanya yang terus berlalu meninggalkan ruangan itu.
Mama Amel yang menyaksikan pertengkaran pertama antara suami dan anaknya itu, mama Amel menatap ke arah Ken dengan penuh kecewa.
"Tidak ada orang tua yang akan membiarkan anak nya terperosok ke dalam jurang. Alexa itu sudah membawa pengaruh buruk buat mu." Ucap mama Amel kemudian memberikan kliping berisi beberapa koran tentang pembunuhan dan pemerkosaan keluarga Alexa pemberian Donita.
"Ingat penyakit jantung papa mu, jangan begitu keras terhadapnya." Ucap mama Amel lagi kemudian beranjak dari situ menyusul papa Henry.
Malam itu pikiran Ken menjadi begitu galau dan sedih.
Alexa, dia tidak bersalah apapun. Aku nggak bisa hidup tanpa dirinya, jika dirinya tak ada disamping ku aku lebih baik mati.
---
ting tong.. ting tong.
Dengan Handuk basah yang masih menempel di kepala dan badannya Alexa segera menuju ke arah pintu.
"Ken, jam segini kamu sudah disini?" Tanya Alexa.
"Tadi aku dari rumah papa. Pagi segini mama pasti sudah membangun kan aku. Aku nggak sempat sarapan aku langsung ke sini." Ucap Ken.
"Pengen buatkan sarapan untuk kamu sayang." Ken melewati Alex menuju dapur dengan tentengan kantong belanjaannya.
Alexa menatap Ken.
"Kamu kenapa? Kok wajah mu letih begitu sayang." Alexa mendekati Ken.
Wajah Ken makin terlihat berubah saat dirinya menatap ke arah Alexa.
Alexa mendekati Ken kemudian memeluknya. Alexa tau ada sesuatu dalam benak prianya itu.
"Kamu punya masalah?" Tanya Alexa lagi.
Aku nggak mingkin memberitahunya masalahku, mana mungkin aku mengatakan kalau orang tuaku menentang hubungan kami. Bagai mana bisa orang tua ku menilai Alexa begitu hina karena kejadian pahit dimasa lalu nya. Pikir Ken.
Ken menggeleng menahan tangis.
"Papaku terlalu egois sayang, dia ingin mengatur hidupku dan perusahan. Sebulan yang lalu dia tiba tiba memutuskan merayakan ulang tahun perusahan secara besar besaran. Semalam dia telah memajukan tanggal 28 menjadi tanggal 23 Juni dan itu tinggal tujuh hari lagi." Ucap Ken menutupi pertengkaran asli antara dirinya dan papanya.
"Jadi muka kamu cemberut karena masalah ini?" Ucap Alexa sambil kedua tangan nya memegang pipi Ken.
Dalam jarak yang begitu dekat wajah keduanya saling menatap. Cinta yang begitu besar terlihat dari tatapan keduanya. Alexa terus memperhatikan wajah Ken, kepedihan terpancar dari mata nya saat itu.
"Aku hanya mencintai mu dan hanya akan menikahi dirimu." Ucapan itu keluar begitu saja dari Ken.
Alexa mengangguk.
"I know, and i love you too with all my live." Ucap Alexa.
Jika hanya masalah kantor kamu tidak akan sesedih ini sayang, apa mungkin orang tua mu menentang hubungan kita?
Ciuman hangat Ken mendarat dibibir merah merekah Alexa. Ciuman sederhana itu berubah menjadi semakin menantang, lidah Ken menerobos makin ke dalam dan mulai memainkan lidahnya disana. Lembut lidah nya menyisir setiap inci ruang dalam mulut Alexa hingga bernafas menjadi begitu sulit bagi keduanya.
Alexa melingkarkan tangannya ke pinggang Ken, tubuhnya terasa mundur perlahan hingga tersandar dimeja dapur. Ken mengangkat tubuh mungil itu ke atas meja.
Beep beep beep beep. Suara rice cooker terus saja berbunyi mengganggu aktivitas keduanya.
Tangan Ken bergerak ke arah rice cooker mencari tombol off disana.
Alexa menghentikan permainannya saat itu.
"Tombol nya di atas sayang." Ucap Alexa menatap wajah Ken.
Ken telah berhasil memencet tombol dirice cooker itu kemudian ponselnya bergetar.
"Gugun, dia selalu ada diantara aktivitas hot kita." Ucap Ken.
"Di angkat saja." Ucap Alexa.
"Ya Gun," jawab Ken.
"Donita, mengirim beberapa party organiser bos. Bagai mana dengan yang sudah kita pesan?" Tanya Gugun.
"Acara ulang tahun sudah dimajukan ke tanggal 23 satu minggu dari sekarang, biar mereka yang mengurus semuanya. Itu atas perintah papa Henry." Jawab Ken.
"Trus bagai mana dengan yang sudah kita pesan?" Tanya Gugun.
"Cancel mereka dan bayar saja sesuai kesepakatan." Jawab Ken.
"Baiklah." Kata Gugun kemudian menutup telponya.
Ken menatap ke Alexa yang masih berada diposisinya di atas meja.
"Sayang kamu ngapain ada diatas meja dengan handuk dibadanmu?" Tanya Ken.
"Kamu bisa nggak bergeser aku jadi nggak bisa turun." Jawab Alexa dengan rona merah diwajahnya.
"Ohhh." Ken tersenyum jail melihat Alexa berlalu dari dapur menuju ruang gantinya.
Bersambung...