
Pagi hari yang cerah, suara langkah sepatu bergantian berbunyi memburu lajunya sang waktu. Ketika memasuki halaman sebuah gedung langkah itu semakin melambat dan tak berirama seakan ada keraguan disana.
Otak si empunya langkah seperti ingin menghentikan sang waktu.
Oh god, please. Seandainya aku bisa menyuruh seseorang menggantikan aku hari ini, aku ingin tidur seharian. Aku males banget ke kantor hari ini god. Pikir Alexa.
Alexa mempercepat lagi langkah kakinya saat dilihat jam di tangan nya sudah pukul 07.23.
Saat Alexa masuk ke ruangannya, semua orang berada di situ termasuk Steve yang sedang memberikan pengumuman.
"Kamu terlambat Alexa?" tanya Steve.
"Oh enggak kok pak, aku tepat waktu" Jawab Alexa percaya diri.
"Baiklah, kita akan ke ruangan meeting sekarang. Beberapa orang yang akan melakukan presentasenya hari ini bisa lebih dulu, dan kita semua berhak menjadi juri untuk apa yang mereka kerja kan. Jika akan complain dan atau memberikan saran jangan lupa berikan juga alasan yang tepat. Ok tim?" kata Steve menjelas kan.
"Oh ya, hari ini hadir beberapa investor yang akan melakukan kerja sama dengan perusahan kita, mereka dari Jepang jadi kita harus tunjuk kan kualitas kita. Lets go," Steve mengakhiri breafing singkatnya.
Alexa menuju ke meja nya untuk mengantar tas dan laptopnya kemudian menuju Ruang meeting bersama Lisa, Shanen, dan Leo.
Di ruangan meeting mereka berempat duduk dikursi bagian belakang, ujung paling kanan.
Alexa duduk bersandar dengan kedua kaki nya diulur kan kedepan terlihat seperti hampir rebahan.
"Alex lo ngantuk? udah dari tadi gue perhatiin lo nguap mulu, sekarang rebahan. Tar lo malah ngorok lagi disitu," kata Lisa.
"Aku nggak bisa tidur semalam Lis, bad mood banget jadi nggak bisa tidur, mata baru pejam sebentar eh udah pagi," jelas Alexa.
"Kemaren lo juga kayak gitu, tapi sekarang kenapa malah makin parah bad mood lo? Lagi PMS ya?" tanya Lisa yang duduk tepat di samping nya.
"Udahan deh kalian ngobrolnya, tuh Boss udah dateng. Alex duduk yang lurus," kata Shanen mengingatkan.
Alexa merubah gaya duduknya, dia menegakkan punggung nya kemudian mengampil pulpen dari tangan Lisa dan mulai di main main kan di jemarinya.
"Seneng kan lo pada bisa cuci mata," kata Lisa dengan volume suara kecil
"Yah lumayan bisa lihat langsung pak Ken sambil menghayal sementara di peluk dan di cium ama doski," jawab Shanen dengan suara tak kalah pelan.
"Shanen." Alexa memberikan selembar tissue ke tangan Shanen.
"Buat apa Lex?" tanya Shanen.
"Yah buat lap iler kamu," jawab Alexa.
Lisa yang saat itu tertawa langsung menutup mulutnya karena Ken menatap ke arah mereka.
Gugun yang saat itu sedang melakukan kata kata sambutan kemudian mengundang Ken untuk jadi pembicara.
Ken mulai membahas proyek kerjasama nya dengan investor dari Jepang dalam pembuatan game AR versi terbaru yang disesuaikan dengan produk smartphone terbaru yang akan segera di launching.
"Setiap karyawan yang bisa membuat patch game terbaru akan mendapatkan bonus deal senilai 300 juta rupiah. Entah itu hasil cipta perorangan atau perkelompok 1 game terbaik akan dinilai 300 juta, game terbaik ke dua senilai 200 juta dan terbaik ke tiga 100 juta. Pengumuman pemenang dan penerimaan hadiah beberapa bulan kedepan bersamaan dengan launching smart phone terbaru kita," kata Ken sambil sesekali mata nya menatap ke arah Alexa.
Ken begitu berwibawa menjelaskan secara singkat pambuatan game terbaru dan soal kerjasamanya dengan perusahan gaming dari Jepang, sehingga setiap karyawan yang berada diruangan itu saat itu langsung bersemangat ingin membuat game terbaik dengan iming-iming hadiah besar.
"Wah seru nih," ucap Alexa yang asik memainkan pulpen dijari jarinya. "Ayok kita buat tim?" kata Alexa lagi.
"Ayok," ucap Lisa ikut bersemangat.
"By the way kalian sadar gak sih, sejak awal berdiri di depan mata pak Ken selalu ke sini?" kata Shanen.
"Lo bener-bener baper yah, khayalan lo jadi kenyataan, akhir nya bos mau menatap lo," canda Lisa.
"Sumpeh, coba deh lo perhatikan baik-baik," kata Shanen begitu yakin dengan perkataannya.
"Kayak nya dia lagi melirik ke Alex deh," ucap Lisa asal.
"Loh kok aku? ngaco deh kalian," Alex kemudian memajukan kepalanya seakan memperhatikan ke arah mana mata pak Ken tertuju.
"Leo menurut lo bos lagi melirik ke siapa hayo?" tanya Shanen ke Leo yang duduk di sampingnya.
"Ke Alex sih" Jawab Leo singkat.
Apa Ken mengenaliku? Gaya aku hari ini berbeda 360 derajat dari yang kemarin. Apa dia masih mengenaliku? Oh my god malu nya.
Pikir Alexa.
Tangan Alexa merogoh kantong coatnya dan mengeluarkan sebuah kaca mata hitam kemudian memakainya.
Lagi lagi Ken melirik ke Alexa dan terbatuk saat melihat Alexa mengenakan kacamata hitam.
"Biarin lah, sakit mataku Lis," kata Alexa tak perduli.
Meeting sudah berlangsung hampir 1 jam, selesai rekan mereka presentase Ken dan para investor terlebih dahulu meninggal kan ruang meeting.
Begitu sampai dimeja nya, Alexa merebahkan kepalanya dimeja sambil membayangkan sosok mengagumkan yang selalu ingin digapainya.
Ken, apakah kamu mengenaliku? Apakah kamu mengenaliku hari ini? Kamu mengenaliku yang kemarin? Kamu mengenali gadis panti itu? Pikir Alexa menerawang jauh ke masa silamnya.
-----
Gadis berbaju merah itu..
Apakah dia sedang menghindariku?
Seharian raut wajah Alexa mengisi benak Ken, gadis lucu yang sudah dua hari ini menghindari dirinya.
Gugun masuk membawa ipad berisi beberapa data perusahan yang diminta Ken.
"Boss ini data yang boss minta," kata Gugun dengan beberapa file ditangannya.
"Yah, letak disitu. Besok saya cek," kata Ken yang sibuk dengan laptop nya.
"Gun, gimana? Apa perkembangan terbaru dari lantai 21?" tanya Ken.
"Masih seperti biasa, tadi pagi boss sudah lihat mereka saat meeting," jawab Gugun cuek.
"Apa nggak ada yang lain?" Ken memastikan.
"Nggak Boss," jawab gugun yakin.
"Sini berikan daftar karyawan baru," ucap Ken.
"Oh iya boss, Steve baru merekrut nya sekitar 2 minggu yang lalu," ucap Gugun.
Ken membaca data diri Alexa, latar belakang pendidikan dan keluarga.
"Aku mau ke lantai 21 sekarang," kata Ken bersiap dengan jas ditangannya.
"Tapi Steve lagi di ruangan pak Ridwan, mereka lagi membahas dana pengadaan beberapa alat komputer," jelas Gugun.
Ken mengambil hp nya kemudian menelpon Steve.
"Buruan balik ke ruangan kamu sekarang, aku mau ke situ," kata Ken sambil melihat jam ditangan nya yang sudah menunjukan pukul 16.40.
Ken buru-buru turun ke ruangan Steve di lantai 21, sementara si Steve belum berada di tempatnya.
Ken membuka tirai penutup kaca untuk melihat ke ruangan karyawan, namun terhalang sekat pembatas meja. Steve yang sudah berdiri di depan pintu kemudian masuk dan berdiri di samping Ken ikut melihat ke arah mata Ken tertuju.
"Bos lagi cari apa?" tanya Steve.
"Lagi nyari kamu," jawab Ken yang tetap menatap ke arah ruangan karyawan mencari sosok karyawan baru itu.
"Kok tumben?" tanya Steve lagi.
"Aku bosan liat Gugun mulu tiap hari, aku mau liat kamu bentar doang," mata Ken terus menyimak ke arah ruangan karyawan.
"Tuh siapa?" tanya Ken saat Alexa berdiri dari meja nya dan bersiap siap untuk pulang.
"Namanya Alexa, dia dari Oxford, jurusan terbaik tahun lalu. Aku sudah mengirim datanya ke email Bos waktu Boss di Jepang tapi nggak di gubris," jelas Steve.
"Apa nggak ada yang mencurigakan dengan dirinya? Apa aku pernah mengenalnya? Atau dia seorang mata2 dari perusahan lain?" tanya Ken.
"Boss, udah deh. Dia sudah dua minggu disini dan nggak ada data kita yang hilang. Pekerjaan nya juga bagus. Lagian gadis cantik mah bebas ngapain ajaaa," kata Steve sambil tersenyum ikut melihat Alexa dari balik jendela kaca diruangannya.
Mata keduanya terus mengikuti arah Alexa berjalan sampai tubuh Alexa hilang memasuki lift..
"Bos ingat peraturan, dilarang berhubungan antara sesama karyawan," Steve mengingat kan.
"Emang aku karyawan disini?" kata Ken tersenyum kemudian keluar dari ruangan Steve.
"Oh ya kalau ada waktu malam ini kita ngumpul2 di tempat biasa," kata Ken lagi setelah berada diluar pintu.
Steve mengiayakan kemudian membenahi ruangan nya sebulum dirinya ikut meninggalkan ruangan itu.
Bersambung...