
Sinar matahari mulai meninggalkan ufuk barat, cahaya lembayung senja berubah menjadi temaram berganti dengan sinar bulan yang menghiasi langit malam.
Dari teras apartemen Alexa menatap ke arah jalanan didepan apartemennya, sambil menyaksikan sinar bulan purnama malam itu Alexa menunggu mobil Ken yang akan datang makan malam bersamanya malam itu.
Sosok seorang pria berbaju hitam berdiri disamping pagar apartemen Alexa persis seperti Pria yang mengikutinya saat berada disupermarket sore itu.
Serangkaian kejadian yang terjadi akhir akhir ini menunjukkan jika diri Alexa sedang dalam bahaya. Penguntit, teror, dan ancaman mengikuti dirinya dimana pun dia berada.
Aku harus tenang, aku bisa mengatasi hal ini. Tante Amel atau pun Imelda, aku tak akan membiarkan kalian berhasil.
Sebuah cahaya mobil datang dari arah barat membuat pria berjacket hitam itu berlari ke samping mini van berwarna abu abu kemudian masuk ke dalam mini van itu.
Alexa bergegas mengambil kamera LDR dari dalam lemari miliknya kemudian mencoba mengambil gambar dari mobil mini van tersebut.
Itu mobil Ken.
Lampu mobil Ken masih menyala sehingga Alexa bisa leluasa mengambil gambar dan plat mobil mini van tersebut.
Beberapa saat kemudian
Tok tok tok
Alexa melepas kameranya kemudain berjalan menuju arah pintu.
"Sayang," sambut Alexa sambil memeluk Ken saat berada didepan pintu.
Kecupan Ken mendarat lembut didahi Alexa.
"Aku baru dari kantor langsung ke sini jadi belum sempat mandi, boleh kan aku mandi disini?" tanya Ken.
"Ya udah kamu mandi gih, aku mau panasin sotonya dulu," kata Alexa sambil menarik tangan Ken masuk kedalam.
Alexa menuju ruang gantinya mengambil sebuah jubah mandi berwarna putih kemudian memberikannya kepada Ken.
Alexa menarik lengan Ken mengarah ke kamar mandi.
"Buruan mandi sana, perutku sudah menunggumu sedari tadi," ucap Alexa
"Kamu kan bisa makan duluan, nagapain menunggu," ucap Ken kemudian menutup pintu kamar mandi dari dalam.
Hidangan sudah tersaji dengan rapih diatas meja siap untuk dilahap. Menu soto yang dipelajari dari ibu Ida semasa di Bandung memang tak diragukan kelesatannya. Aroma lezatnya memenuhi seantero ruangan apartmen Alexa.
"Hmmm, wangi," suara Ken dari arah pintu kamar mandi.
"Ayuk sini," ajak Alexa.
"Hmm ini pasti enak banget." Ken menarik sebuah kursi dihadapan Alexa.
Satu mangkok soto sudah terhidang diahadapan Ken.
Ken mulai mengaduk isi dalam mangkoknya melihat isi dari dalam mangkoknya kemudian menyeruput sesendok kuah yang masih panas itu.
"Kamu bener bisa masak ini?" tanya Ken kagum.
Alexa mengangguk sambil sibuk mengaduk soto dalam mangkoknya.
Hmmm, sejak siang aku belum makan. Perut ku sudah keroncongan dari tadi.
Pikiran Alexa hanya fokus pada makanan yang masih panas dalam mangkoknya.
"Calon istri idaman," ucap Ken sambil perlahan menghabiskan makanannya.
Alexa menatap Ken ketika mendengar perkataan Ken barusan.
Aku nggak akan melepaskan kamu Ken, aku akan membuat ibumu menerimaku bagaimana pun caranya.
"Hmm, kok diem mulu dari tadi?" tanya Ken di sela sela makannya.
"Nggak pa'apa, aku hanya lagi menikmati soto ini." Alexa terus menatap wajah Ken, dada bidang nya tersingkap dibalik jubah mandinya.
"Apa kamu lagi marah soal kejadian tadi siang?" tanya Ken.
Alexa menggeleng.
"Aku sudah melupakan hal itu," ucap Alexa.
"Aku ambilkan baju ya?" Alexa berjalan menuju ruang gantinya setelah menghabiskan semangkok soto dihadapannya.
"Aku pakai ini aja, nggak apa kok sayang," ucap Ken sambil memegang jubah mandi yang masih melekat dibadannya.
"Berbahaya? Piyama ini bisa makan orang?" tanya Ken.
Alexa menyerahkan piyama itu ke tangan Ken.
"Aku nggak bisa liat kamu setengah telanjang begitu, ntar aku yang akan memakan kamu," ucap Alexa datar.
"Hmm, hanya ada kita berdua disini, bebas jika memang aku harus telanjang," ucap Ken.
"Pink?" tanya Ken lagi.
"Hanya ada warna pink, itu bahan kaos jadi dibadan kamu akan agak ketat." Kata Alexa kemudian menuju ke meja makan membereskan bekas makanan mereka.
Ken langsung mengenakan piyama yang diberikan Alexa kemudian menuju ke dapur dimana Alexa berada.
"Sini aku bantu," ucap Ken ditengah kesibukan mencuci piring Alexa.
"Gak banyak kok, aku bisa kerjakan sendiri," Alexa melanjutkan kerjaannya.
Sebuah tangan tiba tiba melingkar di pinggang Alexa.
"I love you," bisik Ken.
Gerakan mencuci piring Alexa jadi melambat, kecupan di belakang telinga menjalar hingga ke leher Alexa membuyarkan fokus Alexa.
"Aku masih cu..." Wajah Alexa ditarik ke samping, pagutan lembut mendarat dikedua bibir merekahnya.
Badan Alexa perlahan berbalik ke arah Ken.
Pria dengan setelan pink plus gambar hello kitty besar di bagian dadanya merangkul erat tubuh Alexa.
"Sayang maafkan soal yang tadi siang, apa kamu masih ngambek soal itu?" bisik Ken ditengah aksi permainan lidah nya ditelinga Alexa.
"Kamu tau aku hanya mencintai dirimu, aku mencintai Sasha gadis kecil itu dan hingga aku tua nanti hanya akan mencintai dirimu," bisik Ken lagi.
"Aku mohon menikahlah dengan ku sayang, please jangan menolakku lagi." Ucap Ken pelan.
Ken menatap kedalam mata kekasihnya dengan jarak yang paling dekat. Suasana hening selama beberapa saat.
"Please," Ken dengan wajah memohon menatap lekat wajah Alexa.
Kilau bening dalam mata Alexa semakin menjadi kemudian menetes keluar dari pelupuk matanya, dengan gerakan mengangguk Alexa menjawab permohonan Ken.
"Aku bersedia, aku bersedia menikah dengan mu," ucap Alexa dengan suara beratnya seperti akan menangis.
Ken langsung memeluk dan mengangkat badan Alexa berputar beberapa putaran, hingga berada di soffa ruangan depan. Tangan ken meraih selembar tissue yang berada diatas meja.
"Aku sangat bahagia sekarang ini tapi, coba lihat dirimu, kamu menangis seperti sedang dimarahi," ucap Ken.
"Aku menangis karena aku bahagia, aku sempat berpikir kamu akan menyerah terhadap diriku setelah tidak direstui kedua orang tuamu," ucap Alexa pelan.
Ken menatap wajah Alexa menyelidik maksud dari kata kata Alexa barusan.
"Apa ibuku datang menemui mu, apa kamu sudah bertemu ibuku?" tanya Ken dengan tatapan tegas dan panik.
Alexa hanya mengangguk.
Aku tak bisa merahasiakan pertemuan ku dengan ibumu, asalkan kamu tau ibu mu tak pernah sedikitpun menyukai diriku.
"Apa yang dikatakan ibuku?" tanya Ken lagi dengan nada suara yang agak marah.
"Ibu mu pikir aku adalah salah satu dari wanita mainan kamu, dia menyuruhku meninggalkan mu..., setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya. Jadi jangan menyalah kan ibumu," ucap Alexa.
Ma, pa, selama ini aku sudah menjadi anak baik bagi kalian. Kalian merenggut semua cita cita dan masa muda ku sesuai keinginan kalian. Setiap apa yang aku suka pasti kalian akan menentangnya. Aku berani pastikan, kali ini aku tak akan mengikuti cara kalian lagi.
"Sayang, aku akan mengurus masalah ini. Aku minta maaf jika ibuku sudah menyakiti hati kamu," kata Ken.
"Aku tau ibu mu hanya khawatir akan masa depanmu, dia belum mengenal diriku jadi mungin menurut nya aku gadis yang tak pantas untuk anaknya," Kata Alexa lagi.
"Umur ku sudah lebih dari dewasa untuk memutuskan pilihan hidupku peraturan dirumah itu malah akan membuat terikat." Ken.
"Kamu mau janji padaku kamu akan membicarakan hal ini secara baik baik dengan mereka? Aku tak ingin diriku hanya menjadi masalah didalam keluargamu.." Alexa merangkul pundak Ken.
Ken mengangguk kemudian membelai rambut Alexa.
"Kamu harus parcaya padaku," kata Ken kemudian kembali memeluk Alexa.
Bersambung...