
Alexa berbaring diatas ranjang berukuran sedang dengan alas bermotif boneka kodok berwarna hijau.
Setiap penjuru kamar terdapat poster boneka kodok tersebut, dan di atas bantal berderet beberapa boneka serupa dengan mimik berbeda beda.
Rani menyukai boneka ini.
Semua yang ada disini boneka yang sama.
Alexa bangun dari pembaringan nya menuju sebuah meja yang terdapat keramik hijau berbentuk boneka kodok yang sangat lucu.
Bahkan ada yang lucu seperti ini
Alexa mengusap boneka itu sambil tersenyum.
Rani memasuki kamar dengan membawa nampan berisi semangkok bubur ayam beserta telur rebus.
"Alexa kamu makan dulu ya." Kata Rani sambil menatap Alexa yang sedang mengelus guci keramik nya.
Rani melepas mangkok bubur tersebut diatas meja dekat dengan boneka keramik nya.
"Kenapa repot repot dibawa ke sini. Aku kan bisa makan diluar." Kata Alexa.
"Ibu nggak mau mengganggu istirahat kamu jadi katanya jangan membangun kan kamu, dia cuma menyuruhku mengantar ini ke sini." Kata Rani.
"Terimakasih." Kata Alexa.
"Karena kamu masih bangun sebaiknya kamu makan dulu." Kata Rani.
"Ya baik lah."
Alexa duduk dikursi yang ada di hadapannya, bubur yang masih panas satu persatu disendok masuk ke mulutnya.
Rani keluar kemuadian kembali lagi dengan segelas air putih di tangan nya.
"Aku bisa kok ambil sendiri air nya, kamu nggak usah melayaniku seperti ini. Aku kan jadi nggak enak." Kata Alex.
"Ya nggak pa'apa, lagian kamu belum tau dimana tempat airnya kan."
"Itu boneka keropi, bemberian ayahku. Sejak Ayah ku meninggal aku memutuskan untuk mengoleksi keropi. Biar aku tidak terlalu kangen dengan ayahku." Kata Rani.
"Oh ya? Boneka yang sangat lucu." Kata Alexa.
"Itu celengan pertama ku sejak aku usia 5 tahun. Tapi setelah ayah pergi aku tak ingin memecahkannya, isinya masih ada uang simpanan ku sejak kecil." Kata Rani lagi.
"Jadi boneka ini isi didalam nya uang?" Kata Alexa.
"Iya, aku selalu menyimpan dan menjaga benda itu dengan hati hati." Kata Rani.
"Oh ya Alex aku keluar dulu ya, jika kamu butuh apa apa panggil saja aku." Kata Rani.
"Baiklah Ran, terimakasih buburnya enak banget."
"Itu bubur jualan ibu, jam segini biasanya sudah banyak pelanggan. Jadi jika kamu butuh apa apa kamu tinggal panggil aja ya, kami di samping." Kata Rani kemudian meninggalkan ruangan itu.
Sudah sejam sejak Rani keluar dari ruangan itu, Alexa tidak berbuat apa apa. Rasa bosan membuat nya keluar dari kamar melewati ruang tengah menuju kios jualan ibu Rani.
Terdapat empat meja dikios kecil itu namun semua terisi oleh pengunjung.
Rani terlihat sibuk membagikan es teh manis pesanan para pengunjung kemudian membersih kan piring sisa makanan orang yang sudah selesai makan. Dia juga masih harus mencuci piring dan gelas bekas makanan, semua di atasinya dengan buru buru.
Sedangkan bu Idah terus berdiri di depan panci panas menyajikan pesanan bubur beberapa orang yang akan dibungkus.
"Bu Idah, saya dua porsi ya." Teriak seorang pengunjung yang baru saja tiba.
Warung bubur Ibu Idah sangat laris.
Sebaiknya aku membantu Rani membersih kan piring piring di meja.
Alexa mengangkat beberapa piring dan gelas ke dapur tempat Rani mencuci piring dan gelas.
"Alexa, kamu ngapain?! Ih biar aja aku yang kerjakan. kamu jangan lakukan itu." Rani
"Ah nggak apa apa dong Ran, aku cuman bantu bantu dikit. Kamu tau aku bete dan bosan dikamar. Jika ada yang aku kerjakan pasti akan lebih baik kan." Jawab Alexa.
"Tapi kamu kan belum ada istirahat." Kata Rani lagi.
"Aku nggak apa apa, malahan aku senang bisa bantu bantu kamu sambil berbincang bincang seperti ini." Alexa tersenyum kemudian kembali mengangkat mangkok dan gelas dimeja.
Bu Idah yang melihat Alexa ikut melarang Alexa melakukan hal itu, namun Alexa terus saja membantu mereka berdua yang saat itu tak bisa berbuat apa apa.
"Aku nggak pernah minta kamu melakukan ini loh." Kata Rani yang berdiri disamping Alexa yang sedang mencuci piring.
"Iya aku tau, aku sudah biasa hidup sendiri jadi aku sudah terbiasa melakukan hal ini." Kata Alexa.
Menjelang sore hari saat pelanggan mulai berkurang, Rani dan Alexa duduk di sebuah meja sambil menyantap ayam goreng yang baru saja di goreng bu Idah.
"Alexa kamu makan yang banyak, tuh wajah kamu sangat pucat terlihat seperti kekurangan gizi." Bu Idah nenambah kan sepotong lagi Ayam goreng ke piring Alexa.
Alexa langsung menghabiskan sepotong paha ayan yang diberikan bu Idah.
Rani menatap Alexa kagum.
"Perut kamu bisa menampung hingga tiga potong ayam?" Tanya Rani.
"Kata ibu aku pucat jadi harus makan banyak." Jawab Alexa tersenyum kemudian menghabiskan segelas air putih yang ada digelasnya.
"Makasih bu, semuanya enak. Bubur dan ayam yang sangat lezat." Kata Alexa ke ibu Idah.
Jam empat sore semua dagangan bu Idah sudah habis terjual.
Alexa dan Rani telah selesai membersihkan kios depan hingga ke dapur.
"Iya, terimakasih." Kata Alexa.
Setiap hari Alexa dan Rani bekeliling mencari cari rumah nya namun belum membuahkan hasil.
Ingatan Alexa akan masa lalunya masih samar, dengan berkiling seperti itu mungkin dia bisa mengingat lokasi dan letak rumah masa kecilnya.
Ibu.. Ayah.. Aku akan terus mencari kalian.
----
Sudah sebulan sejak kepergian Alexa.
Ken terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang sengaja sibuatnya untuk menyibukkan diri.
Sejak kepergian Alexa Ken menjadi seperti mesin yang selalu mengejar dead line. Setiap karyawan tidak diberikan istirahat sedikit pun. Pembuatan aplikasi yang tidak penting akan dikerjakan hanya untuk menghilangkan kejenuhannya setiap hari.
Gugun berdiri pintu menatap Ken yang terus menatap layar laptop miliknya.
"Boss." Gugun berulang ulang memanggil Ken.
Apakah sulit untuk mu mengirimi aku kata bahwa kamu baik baik saja.
Honey..
Ken mentap ke arah pintu dimana Gugun berdiri serta Steve di belakangnya.
"Kalian ngapain berdiri disitu?" Tanya Ken
"Dari tadi aku memanggil boss namun tak di gubris." Kata Gugun.
"Kamu kenapa?" Tatapan Ken mengarah ke Steve.
"Bukankah tadi kamu menyuruhku ke sini?" Tanya Steve.
"Oh iya, masuklah." Kata Ken dengan nada bicara kaku tak seperti Ken biasanya.
"Apa sudah ada hasil untuk hari ini?" Tanya Ken ke Steve.
"Belum, tak ada transaksi apa pun atas nama Alexa Corrina. Mulai dari data perbankan hingga daftar penerbangan pesawat dan daftar rumah sakit tidak ada tercantum satu pun nama Alexa." Jelas Steve.
"Apa mungkin dia telah membuat data diri palsu?" Pikir Ken Asal.
"Bos" Sela Gugun.
Ken menatap wajah Gugun datar.
"Ya." Jawab Ken singkat.
"Ada yang ingin bertemu bos." Kata Gugun ragu.
"Siapa?" Tanya Ken lagi.
"Seorang wanita paruh baya. Dia sudah dari tiga jam lalu menunggu di lobby." Gugun.
"Ada perlu apa dia?" Tanya Ken.
"Saya kurang tau bos, katanya dia ingin bicara langsung dengan bos. Dia dari London." Jelas Gugun.
London.. Keluarga Alexa?
"Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi? Cepat suru dia ke sini sekarang. Dan kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian." Kata Ken.
Gugun dan Steve berlalu dari ruangan Ken.
Beberapa menit kemudian seorang wanita paruh baya berwajah cantik dengan pakaian yang sangat elegan berdiri di depan Ken.
"Selamat Siang, anda pak Ken? Tanya Ibu itu.
"Iya betul, Ibu ada perlu apa." Jawab Ken.
Pria ini adalah Ken, pria yang selalu ada di wallpaper Alexa.
Ken menuntun wanita itu menuju sofa merah marun yang ada di ruangannya.
"Maaf jika saya mengganggu kesibukan anda hari ini." Kata wanita itu.
"Ah nggak apa." Jawab Ken singkat.
"Saya ke sini ingin tau keberadaan Alexa. Sudah sebulan aku terus menghubungi ponselnya namun tak pernah aktif. Saya rasa saya harus secara pribadi menghubungi anda. Mungkin pak Ken bisa membantu saya."
"Ibu siapanya Alexa? Setahu saya Alexa tidak memiliki satupun keluarga disini." Kata Ken.
"Oh ya maaf, saya Ratih Kumalasari. Anda bisa panggil saya tante Ratih seperti Alexa memanggil saya. Saya adalah wali asuh Alexa."
"Tante Ratih terimakasih karena sudah kesini menemui saya. Saya sudah mengirim email ke tante beberapa kali namun tak ada balasan. Saya juga saat ini sedang mencari Alexa tante." Jelas Ken dengan wajah bersalah.
Tangan tante Ratih menahan dasah nafasnya, dadanya seakan terpukul mendengar ucapan Ken.
"Saya baru saja mengecek email itu seminggu yang lalu dan langsung terbang ke sini. Saya pikir pasti telah terjadi sesuatu dengan Alexa." Kata Tante Ratih.
Bulir bulir airmata tertahan disudut mata tante Ratih. Air mata yang tadinya hampir menetes keluar tertahan saat melihat wajah Ken yang begitu tersiksa.
Anak ini, kehilangan Alexa membuatnya terlihat begitu menderita.
Nak cepatlah kembali..
Bersambung...