Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
I'm Going Home



Malam itu dirumah kontrakan kecil yang dipinggiran kota M,


Gugun mencoba membahas soal kepulangan mereka ke Jakarta. Ken terlihat enggan merespon pembicaraan Gugun. Dirinya terus saja mengunyah cemilan yang ada dihadapannya.


"Ken..." panggil Gugun dengan suara agak besar. "Jadi kamu akan terus disini? kamu nggak ingin kembali ke Jakarta?" ucap Gugun.


"Aku nggak ingin membahas itu, belum waktunya kita balik. Aku belum siap," jawab Ken.


"Jadi kapan? Kamu sudah sembuh dan sudah bisa berjalan lagi, ngapain kita berlama lama dikota kecil ini?!" ucap Gugun tanpa sedikitpun diGubris Ken.


Ken berdiri dari kursinya menuju ke sudut ruangan dimana terdapat dispenser. Segelas berisi air putih langsung diteguk Ken.


"Aku takut," ucap Ken singkat.


"Takut kenapa? Apa yang kamu takutkan?" kata Gugun heran. Pria dihadapannya itu belum pernah menjadi begitu tak percaya seperti itu.


"Aku takut untuk kembali, aku sudah meninggalkan mereka terlalu lama," ucap Ken.


"Mereka siapa yang kamu maksud?" tanya Gugun.


"Alexa." Jemari Ken meremas erat gelas yang masih berada dalam genggamannya. "Untuk menyebut nama itu saja aku hampir tak mampu, bagaimana aku bisa menemuinya?" ucap Ken.


"Bukankah selama ini kamu bertahan untuknya? Kenapa begitu kamu sembuh kamu malah akan mundur?" kata Gugun.


"Aku hanya belum siap, aku belum siap jika aku kembali dan menyaksikan semua sudah berubah. Apa Alexa masih menunggu ku?" Ken duduk kembali ke kursi tak jauh dari tempatnya berdiri. "Apa dia marah karena aku sudah pergi terlalu lama? Sudah hampir empat tahun," ucap Ken disertai desah nafas penuh khawatir.


"Dan bagaimana jika Alexa sekarang masih saja khawatir akan dirimu? Apa kamu akan membuatnya terus khawatir?" Ucap Gugun.


Ken menggelengkan kepalanya.


"Perusahan sudah dikuasai Donita, saat ini aku bukan siapa-lagi. Bagaimana aku sanggup untuk kembali?" ucap Ken penuh kepasrahan.


"Aku pikir kamu berusaha sembuh untuk meraih apa yang sebelumnya adalah milikmu, ternyata kamu sembuh hanya untuk terus bersembunyi disini?" Gugun kemudian beranjak dari sofa yang didudukinya menuju kamarnya.


"Aku hanya butuh waktu, apa kamu pernah tau gimana rasanya saat berada diposisiku?" suara Ken menjadi agak besar karena Gugun sudah hampir berada dipintu kamarnya.


"Kamu adalah pemilik saham mayoritas diperusahan mu, seandainya Donita sudah membeli semua saham direksi, kamu masih tetap berhak memimpin perusahan itu. Perusahan itu masih tetap milik keluarga mu!" teriak Gugun dari depan pintu kamar.


"Bagaimana jika ibuku juga sudah menyerahkan saham ke atas nama Donita?" tanya Ken ragu.


"Maka kamu kembalilah untuk Alexa, aku yakin dia masih menunggu mu." Gugun berusaha meyakin kan sahabatnya itu.


"Aku belum bisa mengambil keputusan saat ini," ucap Ken mengakhiri percakapan. Dia berjalan menuju teras rumah sambil menyulut sebatang rokok dijemarinya. Sebotol bir dari kulkas berhasil diteguknya.


Sasha, semoga dirimu baik baik saja..


Aku sangat merindukan mu.


Jika aku kembali, aku harus menjadi lebih kuat dari sebelumnya, aku harus melindungimu.


Tanpa sadar beberapa botol bir yang sudah kosong sudah berderet diatas meja. Ken dengan perasaan gundah nya malam itu membuatnya enggan menuju kamar tidurnya. Bayangan Alexa terus saja menghampirinya. Rasa rindu sekaligus rasa bersalahnya membuatnya tak bisa memutuskan apa yang harus diperbuatnya saat itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Sudah pukul empat, Sebaiknya aku masak untuk Gugun. Dia berangkat kerja awal pagi ini.


Ken menuju ke dapur melihat bahan makanan yang bisa dikelolanya untuk dijadikan sarapan pagi itu.


"Aku buatkan tumisan brokoli dan ayam stim kesukaan Gugun," ucap Ken pelan sambil mulai mengolah bahan bahan yang sudah ada didepannya. Tangan Ken lincah mengaduk bahan makanan didalam wajan hingga menjadi menu yang siap untuk disantap.


Jam enam pagi Gugun hendak keluar dari kamarnya.


Aroma lezat masakan begitu menggugah begitu pintu terbuka, tanpa dipandu langkah Gugun langsung bergerak menuju meja makan.


Tumben pria itu masak pagi pagi gini?


Gugun mencomot sepotong ayam yang masih hangat diatas meja. Ken mendekat menuju meja makan menyodorkan sebuah piring ke arah Gugun.


Gugun menyendok nasi ke atas piringnya beserta beberapa potong ayam.


"Nggak mandi dulu?" tanya Ken datar.


"Makan dulu, jarang dimasakkan begini. mending makan sebelum dingin," ucap Gugun sambil mengunyah makanan dimulutnya. "Hmmmm, nice..Rasanya sama persis seperti buatan ibuku. Pasti kamu menaruh jahe lebih kan?" Puji Gugun.


"Aku masak seperti menu yang biasa kamu buat," Ken berdiam sejenak. "Apa kamu merindukan ibumu?" tanya Ken.


Gugun mengangguk sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


Aku terlalu egois, aku tak memikirkan sahabatku ini.


Gugun menatap Ken kurang mengerti.


"Jadi kamu belum tidur?"


Ken mengiyakan. "Kamu bisa pesan tiket kapan saja, kita akan kembali ke Jakarta," kata Ken.


Gugun meneguk cepat air putih digelasnya "Benarkah? kamu seriuskan?" ucap Gigun dengan senyum senang diwajahnya.


"Jadi kamu pikir aku bohong? Ya sudah kalau kamu masih betah disini. Kita gak jadi pulang,"


"No no, aku akan pesan ticket secepat nya, siang ini aku akan beres beres barang kita," kata Gugun begitu bersemangat.


"Barang? barang bagus apa yang bisa kamu bawa dari sini?" tanya Ken.


"Baiklah siang ini aku akan mencari ticket, kitaaaa pulaaaaaang," sorak Gugun penuh semangat.


Ken ikut tersenyum melihat Gugun yang begitu gembira.


Siang itu setelah memberi surat resign dari perusahan express dimana beberapa bulan Gugun bekerja, Gugun langsung menuju sebuah travel tak jauh dari tempatnya bekerja.


Dua buah ticket beratas namakan Ken dan Gugun sudah dikantongi Gugun.


Setiba dirumah kecil itu Ken sedang berlari lari kecil dihalamn kecil didepan rumah.


"Ken, ayok," ajak Gugun.


"Ayok kemana?" tanya Ken sambil terus berlari melatih otot otot kakinya.


"Kita ke bandara sekarang." Gugun masuk ke dalam rumah dengan sedikit terburu buru.


Ken yang masih merasa bingung menyusul Gugun dari belakang meminta penjelasannya.


"Kita akan kemana?" tanya Ken yang masih kurang jelas maksud kata kata terakhir Gugun.


"Buruan mandi, kita akan ke bandara. Boarding nya sekitar dua jam lagi," ucap Gugun.


"Jadi kita akan ke Jakarta sekarang?" tanya Ken


"Iya sekarang, kita kan gak perlu membawa apapun, ..."


"Tapi aku baru menyetujui akan balik ke Jakarta tadi pagi. Dan siangnya kamu langsung memesan ticket?" Suara Ken agak besar dan penuh tekanan.


"Ya benar, aku nggak ingin sedikitpun berlama lama di tempat ini. Jika bisa berangkat hari ini kenapa nggak?" Gugun menarik sebuah handuk dari gantungan kemudian melemparkan handuk itu ke Gugun. "Ayok sana mandi, atau kita akan ketinggalan pesawat," ucap Gugun sambil mendorong Ken menuju kamar mandi.


"Bukan main, aku bahkan belum sepenuhnya pulih tiba tiba sudah ada ticket disini."


Sambil mengguyur tubuhnya, ken masih terus berpikir. Kenyataan nya dia mengambil keputusan itu pagi tadi saat dalam keadaan pengaruh alkohol, dan saat ini dia sudah harus pulang ke Jakarta, tempat belum sepenuhnya siap didatanginya.


---------


Langkah Ken begitu lambat dan berat saat hendak memasuki bandara Mopah, bandara yang terletak dipaling barat negara Indonesia itu.


Tapi begitu melihat pria disampingnya begitu bersemangat dan antusias membuat Ken terpaksa harus melajukan langkahnya mengikuti Gugun yang sudah melaju terlebih dulu lima meter didepannya.


"Gila, Gue bahkan gak cukuran tadi. Gaya gue dah kayak gembel, dan baju aja gak distrika." dumel Ken dengan wajah kesal.


"Aku harus buru buru pesan ticket dong sebelum ada yang berubah pikiran, by the way kamu masih ganteng, masih terlihat seperti Ken yang dulu walaupun agak sedikit kumel" jawab Gugun sambil sedikit cekikikan.


"Setiba di Jakarta, gimana kalau ada wartawan? Maksud aku belum siap ya seperti itu, aku..." Ken mengusap kepalanya yang agak sedikit berantakan.


Gugun tiba tiba menyodorkan sepasang kacamata hitam ke arah Ken.


"Pakai itu, saat ini gak ada yang akan mengenali lu lagi," ucap Gugun saat sedang check in ticket disebuah counter maskapai swasta.


"Huffftttt"


Ken membuang nafas panjang.


Pandangannya menatap ke sebuah pesawat yang sudah terparkir di apron bandara.


Ya sekarang atau pun nanti memang sama saja, aku tetap harus kembali. Mungkin lebih cepat lebih baik sebelum semuanya terlambat.


Begitu selesai checkin sebuan announcer dari pengeras suara mulai memanggil para penumpang pesawat TailsAir naik ke pesawat.


Ken akhirnya siap, dirinya mantap melangkahkan kakinya untuk pulang, menemui orang orang terkasihnya dirumah.


Bersambung...