
Mentari pagi bersinar cerah menembus kaca jendela kendaraan yang ditumpangi Alexa.
Hangat cahaya nya masuk melalui celah jendela angkot yang melaju perlahan menuju alamat yang yang akan dituju.
Setiba di simpang tiga pertama jalan pahlawan, sopir angkot menghentikan kendaraannya.
"Neng kita sudah sampai." Kata sopir tersebut.
"Oh iya terimakasih pak."
Setelah membayar angkot sebanyak sepuluh ribu rupiah, Alexa mendekati pintu pagar putih setinggi dua meter yang masih tertutup rapat.
Alexa kembali mengetok pintu pagar itu beberapa kali namun tak ada jawaban. Selang beberapa menit Alexa berjongkok didepan pintu itu sambil menatap seorang penjual sayur yang dikerumuni beberapa pembeli.
Apa sebaiknya aku bertanya pada ibu ibu itu?
Alexa melangkah menuju sudat jalan dimana motor sayur itu diparkir dengan dikerumuni wanita wanita paruh baya.
"Pagi bu, permisi saya mau tanya." Kata Alexa pada seorang wanita berdaster dihadapannya.
"Iya dek, ada apa?" Jawab ibu itu.
"Dari tadi saya mengetok tapi nggak ada respon dari dalam rumah itu, dimana pemilik rumah itu ya?" Tanya Alexa sambil menunjuk rumah yang berada di belakang nya.
"Oh rumah itu pemiliknya sekarang tinggal di Bandung, biasanya akan datang ke sini seminggu sekali saja. Itu pun tidak tentu hari apa dia ke sini. Tapi dek ada penjaga rumah yang biasa menjaga dan membersihkan rumah itu, adek bisa tunggu, mungkin sebentar lagi penjaga rumah nya datang." Kata Ibu itu.
"Baik lah bu, terimakasih." Kata Alexa kemudian kembali ke depan pintu pagar itu lagi.
Sudah tiga jam Alexa menunggu didepan pagar putih itu. Sedikit pun tak ada niat dalam hatinya untuk menyerah atau kembali pulang.
Saat seorang nenek mendekati pagar dengan kunci gembok ditangannya, Alexa melompat dari posisi jongkoknya ke arah si nenek.
"Nek, selamat siang." Sapa Alexa sambil memegang paha kakinya yang hampir mati rasa akibat berjongkok.
"Nek, saya sedari tadi menunggu nenek disini." Kata Alexa lagi.
Nenek Mengernyitkan matanya yang sudah mulai rabun ke arah Alexa.
"Neng geulis siapa?" Tanya si nenek sambil terus mencoba membuka kunci pintu pagar tersebut.
"Nek, saya Alexa, saya datang dari Jakarta. Ada yang ingin saya tanyakan ke nenek. Saya ke sini mencari keluarga saya." Kata Alexa terputus putus.
Nenek sudah berhasil membuka kunci pagar kemudian memasuki halaman menuju dapur melalui pintu samping.
Alexa menahan langkahnya tak ingin memasuki halaman rumah itu tanpa seijin nenek.
"Masuk sini neng, duduknya disini aja ya." Nenek mengajak Alexa duduk di teras dapur tanpa membuka pintu masuk kedalam dapur.
"Ya Ada keperluan apa?" Tanya Nenek.
"Saya mau tanya pemilik rumah ini nek, dimana saya bisa bertemu dengan mereka?" Tanya Alexa.
"Tuan dan Nyonya sekarang berada di Bandung, Tuan sekarang tugas di Bandung jadi Nyonya ikut ke sana." Nenek
"Saya bisa minta nomor telepon mereka yang bisa di hubungi?"
"Waduh Neng, nenek nggak punya nomor HP mereka. Biasanya Nyonya yang akan menghubungi saya disini setiap hari melalui telpon rumah. Nenek mah nggak punya HP neng. Jawab Nenek.
"Kalau saya minta alamat rumah mereka di Bandung bisa nggak Nek?" Tanya Alexa.
"Alamat mereka di Bandung Nenek juga nggak tau, tugas nenek hanya menjaga rumah disini. Nenek nggak pernah ke Bandung neng. Memangnya neng ada perlu apa sama Tuan dan Nyonya?" Nenek
"Saya lagi mencari pemilik rumah ini, mungkin mereka adalah orangtua saya." Nada bicara Alexa agak ragu.
"Oh masa iya? Tuan dan Nyonya Gunawan berusaia sekitar tiga puluhan tahun, nggak mungkin mereka orang tua neng. Anak mereka yang pertama baru berusia lima tahun." Nenek membuka pintu dapur mengambilkan Alexa segelas air putih.
"Terimakasih Nek." Kata Alexa setelah menghabiskan seluruh isi dalam gelas di genggamannya.
"Nek, apakah nenek sudah lama ikut Tuan dan Nyonya dirumah ini?" Tanya Alexa sekedar mencari info pemilik sebelumnya.
"Sejak Tuan dan Nyonya nikah saya sudah kerja disini, bersih bersi dan nyuci baju.Suami saya meninggal enam tahun yang lalu sejak itulah saya sudah bekerja disini. Walau saya bukan asli dari kampung sini tapi disini lah mata pencarian ku sekarang." Curhat si nenek.
Alexa menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. Pikiran yang tadinya berkecamuk karena akan bertemu dengan orang tuanya kini berubah menjadi perasaan kecewa, hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan yang terjadi. Alexa bersandar lunglai dikursi tempatnya duduk.
"Menurut yang nyonya cerita.." Nenek mulai membuka pembicaraan.
Alexa mersandar sambil mendengar setiap kata kata yang keluar dari mulut nenek.
"Dulu tuan dan Nyonya membeli rumah ini dari rekannya dengan harga murah, karena kata orang disekitar sini tanah dan rumah ini banyak penghuninya. Setiap orang yang tinggal dirumah ini akan kena sial. Menurut cerita dari suami saya, dahulu ada satu keluarga yang meninggal disini karena dibunuh. Kalau menurut cerita tetangga saya beda lagi neng, katanya si suami dibunuh dan istri bersama anak perempuannya diperkosa. Setap cerita mereka beda beda versi namun tuan dan nyonya langsung mengandung anak pertama setelah tinggal dirumah ini. Ini rumah keberuntungan buat mereka." Nenek bercerita panjang dan lebar mengeanai sejarah rumah itu setelah ditinggali oleh majikannya.
Alexa yang sedari tadi menyandarkan punggungnya disandaran kursi kini duduk tegak menatap nenek yang berbicara terus menerus soal Tuan dan Nyonya rumah itu.
Alexa kembali teringat akan mimpinya.
Mimpi menakutkan yang setiap malam menghampiri tidurnya, mimpi yang hanya terdapat tangisan dan kertakan gigi didalamnya.
Mimpi yang membuatnya ingin mencari tau makna dibalik mimpi tersebut.
Ibu dan anak diperkosa, suaminya nya dibunuh?
Suara ledakan dalam mimpi saya itu suara tembakan, itu semua kenyataan. Dan jika ada anak perempuan kecil diperkosa itu berarti diriku?!
Tidak mungkin semua ini tidak mungkin..
Dalam kalut Alexa keluar dari halaman rumah itu, sambil menatap kearah dekat pintu masuk dimana bunga bougenvile pernah tumbuh disitu.
Alexa melangkahkan kakinya menuju rumah bu Idah dan Rani tempatnya bernaung saat ini.
Sepenggal kenangan masa kecilnya terngiang jelas dalam ingatannya. Seiring dengan langkah kakinya mengayun, ingatan pahit Alexa akan masa lalunya terbayang dalam ingatannya.
Alexa kini sadar begitu pahit kenangan yang kini dia gali kembali. Kenangan seorang anak yang menjadi saksi mata atas kematian Ayahnya dan pemerkosaan ibunya. Bagaimana anak sekecil itu bisa mengalami kejadian keji seperti itu?
Kenangan bawah sadarnya telah membuang jauh kenangan pahit itu dari pikirannya, kini setelah dirinya kembali ke rumah itu semuanya kembali terungkap.
Bukankah sebuah hal baik selama ini aku melupakan kejadian itu?
Jika Ayahku dan Ibuku sudah meninggal berarti aku memang hanyalah sebatang kara sejak awal.
Akhirnya aku sendirian menghadapi kenyataan pahit itu.
Bagaimana aku bisa menghadapi Ken?
Aku seorang gadis kotor, aku tak pantas untuk dirinya.
Dengan begitu banyak pikiran dalam benak Alexa, tanpa sadar dia telah berjalan kaki sejauh dua kilometer, kepalanya mulai terasa berat, pandangan nya mulai kabur. Tiga puluh meter sebelum tiba di rumah bu Idah, Alexa jatuh pingsan dipinggir jalan.
Beberapa orang yang berada di dekat warung bu Idah berteriak meminta tolong, termasuk bu Idah datang menghampiri Alexa.
"Alexa" Teriak bu Idah.
"Ibu kenal wanita ini?" Kata seorang pembeli yang berada disitu saat itu.
"Rani, Ran.. Nak Alexa pingsan Ran." Teriak bu Idah pada rani yang masih sibuk melayani pelanggan didalam kedainya.
Rani berlari menghampiri Alexa.
"Alexa..."
Rani segera membawa Alexa ke rumah sakit terdekat dengan pick up miliknya.
Bersambung...