Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Everything Gonna be Okay



Setelah proses yang lumayan panjang, pengalihan saham perusahan PH.corp akhirnya berada di tangan Alexa. Rani berhasil mengakuisisi 30% saham Donita menjadi milik Alexa, hingga Alexa bisa menduduki jabatan sebagai CEO sementara menunggu keputusan bersama dewan direksi soal kehadiran Ken.


Alexa mulai menjalankan kembali produksi perusahan setelah sempat vacum selama kurang lebih dua tahun.


Beberapa karyawan yang telah di PHK diminta kembali ke perusahan termasuk Steve, Lisa dan Shanen. Tim cyber lantai 21 dibentuk kembali seperti sediakala.


Senin pagi itu, sebulan setelah diresmikan Alexa sebagai CEO, Alexa mulai berkantor diruangan yang dahulu nya digunakan Ken. Setelah sedikit renofasi ruangan itu terlihat jauh lebih bersih dan fresh dari sebelum nya. Ruangan yang sudah setahun lebih tidak digunakan, kini telah kembali rapih dan siap menjadi tempat Alexa berkutat dengan berbagai macam pekerjaan yang sudah matang terencana dalam otak nya.


Alexa menyandarkan punggung disandaran kursi empuk diruangan itu.


Tangan nya mengelus pegangan kursi yang terlihat baru dan kinclong yang didudukinya.


Ken, suatu saat, saat kau kembali.. aku sudah bukan Alexa yang lemah seperti dulu lagi, tak ada alasan bagi orang tuamu untuk menolakku.


Dan seandainya kamu tak kembali lagi, aku tidak menyesalinya, aku sudah melakukan segala yang terbaik buat mu.


Lamun Alexa terhenti oleh suara ketukan pintu dari sekertaris barunya bernama Adinda.


"Tok tok tok"


Setelah suara ketukan pintu, sekertaris nya membuka pintu dan berdiri di hadapan Alexa.


"Bu file kontrak kerjasama dengan grup Maspin apa bisa dikirim sekarang?" tanya Adinda mengingatkan.


"Ya Din, File nya sudah aku tanda tangan semalam. Lima menit lagi kita ke PT. Maspin," jawab Alexa ramah


"Ibu yang mengantar langsung?" tanya Dinda lagi.


"Ya, saya ingin ke sana sendiri dan membahas kerja sama yang mereka tawarkan kemaren," kata Alexa yakin.


"Tapi bu! Nilai perusahan itu terlalu kecil," ucap Dinda.


"Aku tau, perusahan itu jauh dibawah standar perusahan kita. Tapi untuk saat ini, hanya mereka yang mau bersedia bekerja sama dengan kita. Perusahan itu memang terlihat murah, tapi produk mereka mampu merambah hingga ke pelosok pelosok desa." Alexa sudah memegang beberapa file yang ada di atas mejanya. "Perusahan kita cukup membuat system seperti robot ke peralatan rumah tangga, setiap orang pasti merasa kebih mudah berada didapur ditengah kesibukan sehari hari," ucap Alexa.


"Rancangan ibu pasti akan berhasil." Dinda mengangkat kedua jempolnya begitu mendengar penjelasan Alexa. "Aku suka," ucap Dinda lagi dengan senyum lebar di bibirnya.


"Udah udah, ayuk kamu akan terus berdiri senyum disitu?" ucap Alexa sambil berjalan meninggalkan ruangan.


"Siap, Dinda segera menyusul." Setelah mengunci pintu ruangan itu, Dinda bergegas menyusul Alexa yang sudah berdiri didepan lift.


Pekerjaan mereka hari itu berjalan sesuai dengan perkiraan Alexa. Perusahan Maspin begitu puas dengan hasil presentasi yang dilakukan Alexa sebelum tanda tangan.


Dan hingga beberapa bulan kemudian PH corp telah menjalin kembali kerja samanya dengan beberapa perusahan yang sebelumnya telah vacum. Perusan mulai merambah naik perlahan.


********


Sedangkan disuatu pulau paling timur Indonesia, disebuah kota kecil, Ken dan Gugun tengah menunggu seorang dokter dipoliklinik rumah sakit.


Dokter Restu spesialis terapi tiba pukul delapan pagi itu.


Karena tak banyak pasien fisioterapi saat itu, Ken menjadi pasien pertama yang dipanggil perawat saat itu.


"Ken," teriak seorang perawat dengan suara yang agak nyaring.


Ken bergegas mendorong kursi roda dengan kedua tangannya. Gugun mengikuti Ken dari belakang memasuki ruangan fisioterapi berukuran 4 x 6 meter itu.


"Pagi Dok," sapa Ken begitu melihat dokter Restu sudah standby diruangan yang sudah tidak asing baginya.


"Pagi juga," sapa dokter restu. "Hmmmm, jika sudah bisa mulai berjalan kenapa masih harus dengan kursi roda?" kata dokter Restu sambil menggeleng kan kepalanya.


Ken hanya tersenyum menatap dokter Restu yang menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aku capek mendorong dorongnya kesana kemari Dok, makanya ku biarkan saja dia dengan kursi kesayangannya itu," ucap Gugun dengan nada ketus.


"Nahh, pak Ken seharusnya sudah membiasakan melangkah sedikit demi sedikit dengan menggunakan tongkat, setidaknya dalam sehari harus mencoba menggerakkan kakinya perlahan," saran Dokter Restu.


Ken masih berdiam tak menggubris perkataan dokter Restu.


"Dok, apakah ada yang salah dengan pak Ken?" tanya Gugun.


"Ohh, pak Ken penyembuhannya sangat normal. Tak ada kendala selama terapinya. Soal penyembuhannya mungkin bisa dikembalikan lagi ke pak Ken sendiri," ucap Dokter.


"Maksud Dokter?" tanya Gugun.


Gugun menatap menyidik Ken.


"Aku sudah bilang kan, aku butuh beberapa minggu lagi baru siap berjalan," ucap Ken datar.


"Jadi? Lu?" Gugun menatap Ken sarkastik.


"Apa?" kata Ken begitu melihat mimik Gugun.


"Sudah sudah, sebaik nya kita mulai berlatih lagi sekarang. Atau mau berantem dulu juga boleh." Dokter Restu menyelah pertengkaran ringan kedua pria dihadapannya.


Dokter Restu menarik tangan Ken untuk bangkit dari kursinya.


Ken memegang tangan dokter Restu berdiri dari kursinya kemudian melangkah perlahan menuju stage tempat latihannya.


"Tuh kan lo bisa jalan?" kata Gugun.


"Emang gue udah bisa jalan!" jawab Ken cuek.


"Jadi beberapa hari ini lu nipu gue?" tanya Gugun.


Ken mengangguk anggukkan kepalanya senang.


"Ah gila, kalau tau gitu, dari tadi dah gue buang ini kursi roda lu, ..." celetuk Gugun sambil memukul kecil kursi roda dihadapannya. Gugun terus mengomel gak jelas sembari melihat Ken berlatih.


Bahkan Ken sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan dititian yang sudah disiapkan disamping badannya.


Ken dapat terus berjalan selama lima menit tanpa menggunakan alat bantu.


"Jika sudah bisa jalan seperti ini kenapa masih harus menggunakan kursi roda?" tanya Dokter Restu basa basi.


"Maaf Dok, saya hanya ingin memberi kejutan kepada teman saya ini," jawab ken.


"Kejutan? Lu pikir enak gendong lu turun dari mobil naik ke kursi itu barusan?" celetuk Gugun.


"Hahaa, bukan nya tadi lu begitu lembut ke aku? Sekarang kok jadi marah marah? Lu gak seneng ya liat gue jalan?" tanya Ken.


Gugun berdiam tak merespon dengan mimik kesal, namun sebenarnya perasaannya begitu bersyukur melihat sahabatnya sudah sembuh.


"Jadi ini adalah terapi terakhir pak Ken, untuk pemulihan, pak Ken sudah bisa melatih terus berjalan dirumah. Akan lebih baik lagi jika pak Ken juga melatih berlari lari kecil setiap pagi," ucap Dokter.


"Baik Dok," Ken memeluk dokter Restu. "Terimakasih sudah membantu saya beberapa bulan ini," ucap Ken.


"Saya senang jika pasien saya yang paling ganteng ini bisa kembali beraktivitas seperti dulu lagi," jawab dokter Restu hangat.


Setelah berbincang beberapa patah kata, Ken dan Gugun keluar dari ruangan dokter Restu. Ken melangkah keluar tanpa menggunakan kursi rodanya lagi. Walau langkahnya masih pelan namun setiap saraf motorik ditubuhnya sudah bisa berfungsi dengan baik.


"Maaf Gun, karena kamu sibuk kerja. Jadi aku adakan terapi tambahan dengan dokter Restu secara diam diam," jelas Ken dalam perjalanan pulang.


"It's ok," ucap Gugun singkat.


"Makasih karna kamu aku bisa sembuh sekarang," kata Ken lagi.


"Iya," jawaban Gugun singkat.


"Kamu adalah, ..." ucapan Ken terhenti saat mendengar isak tangis.


"Hiks, hiks." Tangis gugun yang berusaha di tahannya.


"Lok kok mewek?" tanya Ken heran.


"Aku senang, akhirnya aku bisa lega sekarang. Aku bisa pulang sekarang." Gugun menjawab terbata bata.


Ken memeluk Gugun sahabat yang beberapa tahun ini menemaninya.


Sahabat yang selalu setia disisinya. Dalam masa terkelam Ken, Gugun selalu ada disisinya menemani dan mendukungnya. Menjadi apa ada nya dan tetap saling percaya.


Arti seoarang sahabat yang sesungguhnya yang tak bisa digantikan dengan hal indah apapun didunia ini.


Bersambung...