Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Planing



Sinar mentari cerah menembus tirai satin pastel dikamar Alexa, cuaca yang cerah dan tenang.


Sinar matahari pagi? Ken? Pikiran Alexa kembali ke kejadian nya semalam.


Oh ya Ken dia disini. Alexa membuka matanya lurus langsung ke wajah Ken yang berada didepannya.


Aku masih dalam dekapan Ken, apa dia menontonku tidur seperti ini sepanjang malam? Pikir Alexa


"Morning Honey," sapa Ken kemudian mendarat kan kecupan di jidat Alexa.


"Morning too." Alexa memeluk Ken kemudian membalikkan badan menghadap ke arah jendela nya yang silau di tembus cahaya mentari.


"Jam berapa sekarang?" tanya Alexa sambil meraih ponsel dinakas samping tempat tidurnya.


"Jam delapan," jawab Ken.


"Jam delapan? Honey inikan sudah jauh dari kata terlambat. Aku..! alarm ku nggak membangunkanku?" Alexa beranjak dari dekapan Ken.


"Maaf tadi aku sengaja mematikan alarm kamu. Kamu terlihat begitu nyenyak, aku nggak tega mengganggu tidur mu," ucap Ken.


"Lagian tadi aku sudah telpon Steve, aku bilang aja kamu ada survey ke kantor cabang hingga siang," kata Ken santai.


"Hmmm"


Enak juga punya pacar boss. Tapi bukan begini caranya, pekerjaan ku sudah sangat banyak menunggu.


Alexa menuju ruangan tempat lemari dan baju-bajunya berada. Alexa meraih jubah handuk kemudian menyerahkan ke Ken.


"Abis mandi kita langsung ngantor, aku masih mengerjakan design tokoh game bersama Lisa, Shanen dan Leo. Pagi ini kami uji coba grafis jadi harus ngantor sekarang," kata Alexa menjelaskan.


"Ok. As well as you want my lady," kata Ken mengiyakan seperti yang dikatakan Alexa.


Untung aja sudah jam segini, gak ada karyawan yang mondar mandir diparkiran kantor. Aku bisa leluasa turun dari mobil Ken. Pikir Alexa


-----


Alexa melangkahkan kaki nya memasuki ruangan IT dan menuju ke meja dan kursi nya.


"Morning Lisa," sapa Alexa.


"Loh, cepet banget survey lo Lex," kata Lisa.


"Ya, aku bosan berada disana jadi pengen buru-buru balik kantor," jawab Alexa.


"Gimana ujicoba game kita? jika tinggal finnishing nya aja bisa kita lakukan dirumah," kata Alex.


Alexa menatap ke arah Donita yang kebingungan didepan laptopnya.


"Tuh kenapa?" tanya Alexa menunjuk ke arah Donita di ujung ruangan.


"Pak Steve menyuruh nya merancang baju zirah dan kimono-kimono ala Jepang tapi dia kebingungan dengan laptop nya," jelas Lisa seakan tak peduli dengan yang dilakukan Donita.


"Sepertinya Pak Steve harus lebih bersabar menjadi guru si gadis manja itu," kata Alexa terkikik.


Setiap orang sibuk dengan tugas nya masing-masing seakan tak peduli dengan keadaan disekitar mereka. Hanya suara ketukan tuts laptop dan komputer yang berburu berganti dengan suara jarum detik didinding.


Tak terasa sudah jam 12 siang


"Hari ini makan siang kita ditraktir CEO," ucap Steve tiba tiba dengan suara agak besar memecah keheningan diruangan itu.


Seketika itu masuk beberapa orang pelayan dengan apron sebuah rumah makan ternama membagi bagikan makanan kotak di depan meja masing-masing karyawan.


"Setelah jam makan siang kita ada meeting di lantai 22. Langsung ngumpul disana ya," lanjut Steve kemudian meninggalkan ruangan itu.


Sementara itu diruangan Ken, Gugun terus menginterogasi Ken. Steve yang baru saja tiba disitu ikut menyimak pembicaraan kedua sahabatnya itu.


"Bos dari mana semalam? Sama siapa? Kenapa bisa terlambat?" tanya Gugun dengan pertanyaan beruntun dalam otaknya.


"Apaan sih lo Gun, gak harus tiap detail kehidupan privasiku kamu harus tau!" kata Ken.


"Boss masih pakai baju kemaren, bos dari mana sih? Biasanya Bos akan pulang mandi jika abis keluyuran malam. Tapi ini? Bos kok berubah sih?" tanya Gugun polos.


"He? lo kepo banget sih akhir-akhir ini? lo mau gue pindahin ke kantor cabang china, mau?" Ancam Ken tak menghiraukan Gugun.


"Emang bos bisa hidup tanpa aku? Baju yang bos pakai aku yang pesan. Makanan yang bos makan aku yang belikan. Bahkan cewek yang bos ajak kencan aku yang telpon," kata Gugun.


"Nah lo? Hahahaa," suara Steve tiba tiba muncul dari pintu kemudian tertawa


"Iya betul juga, nagapain kamu yang ngurus aku? Jika aku menikah, istriku yang akan mengurus diriku. Iya kan?" Ken ikut tertawa bersama Steve.


Gugun terkesima melihat Ken tertawa dengan suara besar. Sungguh di luar dugaan melihat pemandangan indah di wajah boss.


"Steve, apa kamu mengetahui sesuatu? Sekarang dia menjadi agak aneh. Apa ada alien yang menyambetnya?" tanya Gugun tapi malah terdengar seperti Celoteh di telinga Ken.


Bukan alien tapi Alexa.


Pikir Ken sambil mengingat gadisnya itu, gadis yang akhir akhir ini selalu memenuhi benak nya.


"Lo kenapa? Galau?" tanya Ken pada Steve saat melihat gwrak gerik Steve yang beda dari biasanya.


"Elo enak, cewek-cewek yang pada deketin lo. Nah gue, mau nembak aja susah. entah harus ngomong apa," kata Steve


"Tinggal bilang i love you aja kok repot," kata Gugun singkat.


"Hahaha betul, tinggal ucap trus liat reaksinya. Udah, gampang kan?" kata Ken.


"Boss ketawa lagi?" kata Gugun menunjuk ke arah Ken yang masih tersenyum lebar.


"Gun, tar lagi kamu akan pesan 1 ticket pesawat ke China, mau ga?" ancam Ken lagi.


Mereka bercanda dan tertawa hingga lewat jam makan siang.


Para karyawan sudah menunggu diruang meeting baru ketiganya tiba.


Alexa Lisa dan Shanen sedang berbisik-bisik soal rencana mereka hang out malam ini.


Steve datang dan duduk disebuah kursi kosong disamping Alexa.


"Pak Steve," sapa Alexa sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Alexa kamu apa kabar?" tanya Steve.


"Baik pak," jawab Alexa singkat.


Sedangkan didepan pak Ken memulai rapat membahas soal game yang harus sudah rampung sebelum launching bulan depan. Mata Ken selalu tertuju ke arah Alexa dan Steve.


Ngapain tu bocah di samping Alexa senyum-senyum gak jelas, jadi gadis yang ditaksirnya selama ini adalah Alexa? Pikir Ken


Sesekali Alexa dan Ken saling melempar senyum,


pandangan Ken tak bisa lepas dari Alexa walau kadang dia harus menatap ke arah lain untuk mengurangi kecurigaan karyawan lain.


Lisa dan Shanen menyadari jika mata pak Ken sedang mengarah ke Alexa dan Steve.


"Gue curiga bos naksir Alexa," bisik Lisa ke Shanen.


"Iya sih, dia kok salting begitu? Dari tadi seperti orang gak fokus," kata Shanen.


"Hmmm, lo liat tu bahkan mata Donita mengarah ke sini," Lisa menunjuk ke arah Donita yang duduk sendirian beberapa meter dari kursi mereka.


Hingga rapat selesai Steve masih berada disitu.


"Alexa lo punya waktu malam ini?" tanya Steve.


"Hmm, ya ada apa pak?" tanya Alexa sambil menatap ke arah Lisa.


"Aku mau ajak kamu makan," ucap Steve.


"Aku sudah duluan mengajaknya pak, kami sudah punya rencana kami malam ini. Pak Steve nggak boleh gagalkan rencana kami," kata Lisa dengan nada suara agak besar.


"Maksud aku, aku mau traktir kalian. Aku bersedia ikut dalam rencana kalian, jadi pengawal ataupun jadi sopir kalian juga boleh," kata Steve salah tingkah.


Kok jadi ngomong gini sih? Pikir Steve.


Lisa berpikir sejenak kemudian memberikan jawaban.


"Baiklah, bapak boleh ikut tapi nggak boleh macam-macam," kata Lisa ketus.


Macam-macam? Apa maksudnya? Emang aku penjahat? Wanita yang aku incar anteng-anteng aja kok malah gadis cerewet ini yang bawel. Pikir Steve.


"Baiklah, sepulang kantor aku tunggu di depan," kata Steve.


Gak apalah, untuk mendekati Alexa aku harus dekati juga temen nya. Pikir Steve.


"Bapak jemput kami di rumahku aja," kata Lisa lagi.


Iiihhhh resek banget sih ini cewek, kok bisa ada karyawans seperti ini di kantorku ! Batin Steve.


"Baiklah, aku jemput kalian di?" tanya Steve.


"Permata biru block B no 40" kata Lisa.


"Bisa minta no HP mu?" tanya Steve lagi.


"Ada di jurnal karyawan, bapak ambil aja disitu," kata Lisa jutek.


Ken yang berdiri tak jauh dari situ hampir tertawa melihat tingkah Steve.


Alexa Lisa dan Shanen langsung keluar dari ruangan meeting begitu menyadari Ken sedang menatap ke arah mereka.


Bersambung...