Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Coming Home



Menjelang malam hari, pesawat yang ditumpangi Ken dan Gugun mendarat diBandara Udara Internasional Sukarno Hatta. Ken dan Gugun yang saat itu tak satupun membawa bagasi, langsung keluar menuju pintu keluar di terminal C bandara.


"Kamu akan langsung ke rumah orang tua mu? Kamu pasti merindukan mereka," ucap Ken pada Gugun.


"Sekarang kamu akan ke mana?" tanya Ken.


"Aku akan ke aparetemen Jojo, sekarang aku butuh mobil," ucap Ken.


"Aku masih harus mengawasimu, aku ikut." Gugun langsung berjalan terlebih dahulu menuju sebuah taxi dan membukakan pintu taxi untuk Ken.


"Yang tadi siang pengen buru buru terbang ke sini alasan kangen keluarga siapa hayo?" tanya Ken yang akhirnya ikut masuk dimobil yang sama dengan Gugun.


"Kalau kamu sudah aman, sudah dirumah dan sudah ketemu keluarga mu baru aku merasa tenang," kata Gugun.


"Pak, Jalan Karang Anyar," ucap Ken pada sopir taxi didepan kemudi.


"Uuuggghhhh, segarnya ibukota Jakarta. Aku seperti baru saja datang ke hutan rimbanya Indonesia, aku suka sekali aroma asap kendaraan ini," ucap Gugun sambil menarik nafas panjang menghirup udara diluar jendela mobil. Saat jalanan rada padat kendaraan dan lampu kelap kelip mobil begitu meriah, Gugun berkali kali mengeluarkan kepalanya keluar jendela sambil terus menghirup udara diluar jendela.


"Polusi Gun, tutup jendelanya," pinta Ken yang tak peduli dengan suasana dijalanan padat saat itu.


Ken hanya ingin segera sampai ditempat yang ingin ditujunya.


"Kenapa nggak pulang ambil mobil dirumahmu saja?" tanya Gugun basa basi.


"Kemaren jojo baru saja membeli mobil sport baru, aku pengen mencobanya," kata Ken santai.


"Dia sudah banyak membantu kita saat dimerauke. Mobil, rumah dan keperluan bulanan kita, semua dari dia. Sekarang kamu pulang dan ingin mengambil mobil barunya, pasti dia akan langsung mengomel," kata Gugun.


"Gak usah hiraukan omelannya, nanti juga dia capek sendiri," jawab Ken.


Taxi yang ditumpangi Ken terus melaju menuju rumah Jojo sepupu Ken.


Setelah mendapat kunci mobil, Ken langsung menuju ke Apartemen Alexa.


"Kamu akan langsung ke kantor?" tanya Gugun.


"Nggak, aku hanya melintas," jawab Ken sambil memperlambat laju kendaraannya pas didepan kantor PH.


"Aku penasaran dengan si Rani yang memebeli saham perusahan. Aku nggak sabaran ingin bertemu dengannya," ucap Gugun.


"Seperti kata Jojo, perusahan memang sedikit terguncang sejak aku pergi. Tapi semuanya baik baik saja. Si Rani itu hanyalah salahseorang yang beruntung bisa mendapatkan sahamnya," ucap Ken.


"Ya wajar dia yang dapat, dia mebeli saham pak Willy dengan harga diatas standar," kata Gugun.


Sesaat kemudian mobil Ken sudah berhenti didepan apartemen yang dahulu dihuni Alexa.


Begitu keluar dari mobil, Ken langsung menatap ke arah jendela beberapa lantai diatas yang dahulunya adalah kamar Alexa.


Ken memberanikan diri untuk masuk ke dalam apartemen itu. Rasa kangen yang begitu besar membuatnya melajukan langkah ke dalam aparetemen menuju kamar Alexa.


Langkah Ken berhenti didepan pintu kamar Alexa. Beberapa kali ketukan namun tak ada jawaban sedikitpun.


Ken menuju ke ruangan security di lantai satu ingin mengetahui lebih jelas penghuni dikamar 302.


"Siang Pak," sapa Ken ke seorang security yang berjaga disitu.


"Ya siang, ada perlu apa?" tanya security itu.


"Penghuni kamar 302 atas nama Alexa apa masih stay disini?" tanya Ken.


"Saya nggak bisa memberikan info ke bapak siapa saja penghuni disini. Tapi setahu saya kamar 302 sudah lebih dari dua tahun kosong."


"Baiklah pak, terimakasih," ucap Ken kemudian meninggalkan gedung itu.


Ken melajukan kendaraan menuju Bogor ke rumah oma Anna. Berharap akan segera bertemu Alexa, namun kenyataan rumah yang didatangi nya juga kosong gak ada penghuni.


"Besok kamu balik lagi ke sini. Rumah ini tidak terlihat seperti sudah ditinggalkan. Rumput disini masih terlihat jejak mobil. Artinya masih sering dikunjungi," kata Gugun.


"Apa oma Anna sudah nggak tinggal disini? Tapi oma kan nggak mungkin kemana mana," dumel Ken pelan.


"Gimana kalau kita makan dulu trus kita kembali mencari mereka?" kata Gugun sambil mengelus ngelus perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.


"Ya, sudah hampir jam sembilan, kita cari makan dekat sini." Ken kembali masuk ke mobil hendak mencari rumah makan terdekat.


"Kita cari yang cepat aja, biar nggak mengantri lama," kata Gugun.


"Yaudah lu mau KFC? tuh ada yang dekat,"


"Hmmm boleh lah, ayam goreng kfc double extra sambal dan kentang goreng," saut Gugun.


"Hayuk, aku juga kangen makanan junk food yang satu itu." Ken memutar kendaraan menyebrang ke arah berlawanan menuju rumah makan yang berlogo warna merah.


Gugun masuk memesan beberapa dua porsi ayam dan kentang.


Sementara Ken telah mengambil kursi di sudut ruangan yang jauh dari tempat orang lalu lalang.


Perhatian Ken tertuju ke sepasang anak kembar yang asik saling melempar dan menendang bola. Matanya terus menatap tingkah kedua bocah kecil yang lucu, tanpa sadar dirinya ikut tersenyum melihat keceriaan mereka.


"Napa lu, senyam senyum sendiri?" tanya Gugun dengan nampan berisi ayam dalam genggamannya.


"Nggak kenapa napa." Ken menarik seporsi ayam dari nampan yang sudah diletakkan Gugun diatas meja.


Ken menikmati ayam dihadapannya sambil terus menyaksikan kedua bocah kembar nan lucu itu berjarak beberapa meter didepannya.


"Choo," teriak seorang pria paruh baya pada bocah lelaki yang asik bermain.


"Yaa, endpa?" jawab bocah lelaki itu.


"Udahan ya mainnya? Nanti momy nyariin loh!" ucap pria itu dengan dialeg yang kurang jelas. "Wie, ayo ajak abangmu pulang," lanjut pria itu.


"Apa sih yang lu liatin disana dari tadi?" tanya Gugun.


"Aku melihat bocah kembar itu, mereka begitu lucu." Ken.


Mata Gugun mencari arah dimana mata Ken tertuju.


"Kembar? tau dari mana mereka kembar? Jelas jelas mereka terlihat berbeda," ucap Gugun.


"Aku yakin mereka kembar. Kembar kon identik." Ken menggeser piring dihadapannya. "Ya udah, aku cuci tangan dulu," kata Ken.


Ken berjalan menuju wastafel tak jauh dari tempat anak anak itu bermain. Usai mencuci tangan ken samperin bocah perempuan yang sibuk memasang sepatu pada kakinya.


Melihat anak itu kewalahan Ken langsung mendekati membantu memakaikan sepatu dikakinya.


"Hai girl, bisa paman bantu?" tanya Ken sambil berjongkok dedepan gadis kecil itu.


"Paman siapa? Kami nggak kenal paman, momie melarang kamu bicara dengan orang asing," ucap Chocho tiba tiba dari belakang diikuti anggukan kepala dari Snowie.


"Paman hanya ingin membantu adik kamu memakai sepatunya," jelas Ken.


"Wie, biar abang yang pakaikan sepatu wie," tawar Chocho pada adiknya.


"Emang abang bisa? Nggak apa apa, paman bantu Wie. Abang aja susah pakai sepatu sendiri," ucap Snowie yang rada cadel.


"Tapi ..." Chocho tak bisa mengelak karena Snowie sudah memberikan sepatunya pada Ken.


Selesai memakaikan sepatu Snowie, Ken menawarkan diri memakaikan sepatu Chocho.


"Nama paman siapa?" tanya Chocho.


"Paman Ken," ucap Ken sembari mengikat tali disebatu Chocho.


"Ken lagi Ken lagi," Ucap Snowie ceplas ceplos.


"Emang kenapa dengan nama Ken?" tanya Ken.


"Wie sering dengar momie, endma, dan aunty membahas nama itu," ucap Snowie dengan mimik yang begitu menggemaskan.


"Ayuk Wie, endpa sudah mencari kita. Paman Ken kami tinggal dulu ya, babay." Chocho dan snowie menuju ke meja dimana grandpa mereka menunggu. Sedangkan Ken pergi dari situ menuju keluar dari gedung itu.


"Demen banget lu sama anak anak itu," ucap Gugun begitu Ken masuk ke dalam mobil.


"Aku cuman membantu sedikit anak anak lucu itu."


"Sekarang kita kemana?" tanya Gugun.


"Antar aku ke rumah mama, saat ini aku hanya bisa pergi ke sana," kata Ken.


"Ya udah," Mobil Ken kembali melaju menyusuri keramain pinggiran kota Jakarta menuju ke rumah orang tuanya.


Rumah yang sudah tiga tak pernah dikunjunginya itu terliahat agak remang dari luar pagar. Lampu didepan teras agak redup dan ruangan didalam rumah tampak tidak menyalakan lampu.


Mobil Ken berhenti sejenak didepan gerbang, sambil membunyikan klaksonnya berulang ulang.


"Apa nggak ada orang?" tanya Gugun.


"Ada, itu ada yang berlari dari samping rumah," kata Ken.


"Gak usah anter masuk, lu langsung pulang aja dan istirahat dirumah," ucap Ken sambil membuka pintu mobil.


"Hubungi aja jika butuh sesuatu," kata Gugun.


Ingat Gun, lu harus berhati hati. Jangan keluar sendirian atau berkeliaran dulu. Sebelum kita membuat laporan polisi kamu masih harus sembunyi, ok?" ucap Ken.


"Ok, bye." Gugun meninggalkan Ken yang sudah berjalan masuk ke halaman rumahnya.


Rumah itu kini menjadi sepi dan begitu usang seperti tidak berpenghuni dan tak pernah dirawat.


Bersambung...