
Sore baru saja berganti malam, kendaraan yang lalu lalang masih ramai. Getar getir rasa dalam dada, antara rasa percaya dan tidak dirinya sudah menemui titik terang keberadaan orangtuanya.
Saat mobil yang dikendarai Rani berhenti tepat di depan SMA Bina Nusantara.
"Alexa, kita sudah sampai." Kata Rani.
Alexa terdiam seribu bahasa, tanpa beranjak dari posisi duduknya Alexa mengarah ke dimana terdapat pertigaan.
Akhirnya aku berada disini, setelah 18 tahun akhirnya aku kembali. Tempat ini sungguh tidak asing.
Alexa menatap ke Gedung SMA, gedung berlantai dua di samping kirinya.
"Yuk turun." Ajak Rani.
Alexa keluar dari mobil kemudian berjalan beberapa meter di belakang mobil Rani.
Alexa berdiri tepat didepan bangunan SD Bina Nusantara.
Bangunan SDnya tak berubah sama sekali, masih seperti dulu. Hanya saja pagar dan pohon pohon disini yang berubah.
"Apakah disini?" Tanya Rani.
Alexa mengangguk kemudian mengarah kan pandangannya ke pertigaan di ujung jalan.
"Sekitar seratus meter dari sini ada pertigaan, disitulah rumahku." Kata Alexa.
"Berarti yang itu dong."
Rani menunjuk ke pertigaan jalan dimana mata Alexa tertuju.
"Ya udah, buruan kalo gitu." Ajak Rani.
Rani mendorong Alexa naik kemobilnya.
Rani sudah siap berada dibalik kemudi, tangan Alexa tiba tiba memegang lengan Rani.
"Aku takut Ran." Kata Alexa.
"Apa yang kamu takuti." Tanya Rani.
"Aku takut jika mereka tidak menerima aku atau tidak mengenaliku." Alexa.
"Apa pun yang akan terjadi setidak nya pencarian kamu sudah berhasil, dan kamu harus bangga. Upaya kamu sudah begitu besar hingga kamu bisa tiba disini sendirian. Apa kamu akan menyerah?" Kata Rani dengan penuh semangat.
Alexa mengangguk lagi pertanda setuju dengan yang dikatakan Rani.
"Tenang aja, ada aku." Lanjut Rani.
Mobil nya melaju perlahan, sekitar dua menit mereka sudah tiba dipertigaan tersebut.
Mata Alexa tertuju ke sebuah rumah yang terletak di seberang jalan.
Rumah berpagar putih setinggi dua meter itu terus ditatap Alexa dengan seksama.
Apakah itu rumahku dulu? Walau pun berbeda jauh dari yang ada dalam ingatanku tapi aku yakin disitulah tempatnya.
"Apakah rumah yang itu?" Tanya Rani.
"Ya sepertinya itu, walaupun beda tapi aku yakin posisi rumah ku ada disitu." Jawab Alexa ragu.
Rani memarkir mobil mereka didepan rumah tersebut.
Keringat sebesar bulir jagung mulai mengalir membasahi pelipis dan tengkuk Alexa.
"Apa kamu yakin Alex." Kata Rani kemudian menyusul Alexa keluar dari mobilnya.
Alexa melangkah menuju depan pintu pagar yang tertutup rapat mencoba mengintip ke dalam halaman rumah.
"Kita nggak bisa lihat apa apa, pagarnya terlalu tinggi." Kata Rani.
Alexa mengetuk pintu pagar yang terbuat dari stainless tersebut namun tak mendapat respon sedikitpun dari dalam.
Selama hampir setengah jam Alexa berulang kali mengetok pintu pagar tersebut namun masih belum ada respon dari dalam rumah.
"Apakah tidak ada orang didalam." Tanya Alexa pada Rani yang sedang mencari celah kecil dari pagar itu untuk melihat ke dalam.
"Ya sepertinya tidak ada orang didalam, tapi lampunya nyala." Rani menunjuk cahaya lampu dari bawah pagar.
"Kita bisa kembali lagi ke sini besok pagi." Kata Rani.
Alexa dan Rani langsung meninggalkan Rumah itu, tak banyak kata yang keluar dari mulut Alexa.
Dirinya hanya berharap semoga bisa secepatnya bertemu Ayah dan Ibunya.
Waktu sudah hampir jam sepuluh malam saat mereka tiba dirumah.
"Ibu, Buu.." Panggil Rani pada Ibunya.
"Sepertinya Ibu sudah tertidur Ran." Kata Alex.
Rani mengintip dikamar ibunya yang sudah tertidur lelap.
"Bakso ibu masukin kulkas aja, biar dipanasin besok." Kata Rani.
"Oke." Jawab Alexa singkat.
"Mandi gih sono trus tidur biar ada tenaga buat besok." Kata Rani.
"Makasih ya Ran kamu sudah menemaniku hari ini." Alexa.
Pagi pagi awal Alexa terbangun karena mimpinya, bukan sebuah mimpi yang buruk. Dalam mimpinya Alexa bersama Ayah dan Ibunya dalam sebuah jamuan makan yang mewah, ulang tahun dari sahabat ayahnya.
Berbagai macam makanan terhidang dimeja dengan dekorasi bunga bunga yang indah disetiap sudut ruangan.
Ayah Ibu apakah kalian tau betapa bahagianya aku pagi ini? Aku bisa melihat sosok kalian berdua walau hanya dalam mimpi.
Pagi itu Alexa langsung menuju ke dapur dimana bu Idah sudah sibuk dengan bubur dan rempah di atas wajan.
"Bu bisa aku bantu?" Tanya Alex.
"Nak Alex sudah bangun, ini baru jam setengah lima. Kok tumben?" Tanya Bu Idah.
"Entah lah bu, setelah terbangun aku nggak bisa tertidur lagi. Oh ya, maaf semalam kami pulang agak telat, bakso ibu sudah saya taru dikulkas." Kata Alexa sambil mengupas bawang merah yang berada di atas meja.
"Sudah ibu makan nak,tadi sudah ibu panasin." Kata Bu idah.
"Bu, semalam aku sudah menemukan rumah orangtuaku." Kata Alexa.
"Jadi kamu sudah bertemu kedua orangtua kamu?" Tanya Bu Idah.
"Belum bu, rumah itu kosong nggak ada orang." Alexa.
"Maksudnya rumah itu rumah kosong atau rumah nya lagi kosong?" Tanya Bu Idah penasaran.
"Rumahnya lagi kosong bu, penghuninya lagi tidak berada disitu. Saya akan kembali lagi ke rumah itu pagi ini" Jelas Alexa.
"Di jalan mana posisinya?" Tanya bu Idah.
"Saya belum tau itu jalan apa, tapi ternyata letaknya tak jauh dari sini. hanya sekitar dua kilo meter dari sini." Kata Alexa.
"Alhamdulillah ya nak, Allah memang mengirim mu ke sini pasti ada sebabnya, Dia pasti akan selalu mempermudah jalan mu." Kata Bu Idah.
"Terimakasih bu. Aamiin." Jawab Alexa.
"Bu mataku perih, apakah mengupas bisa membuat orang menangis?" Tanya Alexa.
Rani dengan suara tawa nya menuju dapur.
"Hahahaa... bawang merah itu pasti terharu mendengar cerita mu barusan." Ledek Rani.
"Maksudnya apa? Nggak nyambung kamu Ran, bawang merah nya terharu trus bikin aku nangis gitu?" Tanya Alexa.
"Hahaaa lo pasti masih mimpi, sono gih balik tudur." Ejek Alexa sambil nengucek matanya.
"Ehhh nak Alex, jangan dikucek. Tangan kamu bekas pegang bawang ntar makin perih." Kata Bu Idah.
Alexa memejamkan matanya menuju kamar mandi sambil terus diketawain Rani.
"Kamu disini gak bantuin ibu?" Tanya Alexa begitu berada di kamar.
Matanya yang merah akibat menangis masih membuat Rani tertawa.
"Ibu mengusirku dari dapur."
"Oh ya, jam berapa kita balik ke rumah itu?" Tanya Rani.
"Aku akan ke sana jam sembilan pagi ini. Aku bisa pergi sendiri, kamu nggak usah ikut, kamu bantu ibu aja. Kasihan ibu nggak ada yang bantu." Kata Alexa.
"Tapi kamu?" Tanya Alexa.
"Aku harus memberanikan diri ke sana sendiri. Aku hanya merasa harus dengar sendiri tentang kejadian masa lalu yang selalu menjadi mimpi buruk buatku selama ini. Aku nggak nyaman aja jika kamu berada disana." Jelas Alexa.
"Baiklah, apa pun yang terjadi aku akan selalu mendukung mu." Kata Rani.
Jam delapan tiga puluh Alexa sudah siap kembali ke rumah itu. Alexa pamit pada bu Idah dan Rani.
"Kamu yakin akan ke sana sendiri?" Tanya bu Idah.
"Iya bu, aku yakin." Kata Alexa.
"Akan lebih baik jika Rani menemani kamu nak." Kata bu Idah lagi.
"Aku bisa kok sendiri." Alexa.
"Baiklah, apapun yang terjadi, kamu ketemu mereka atau pun tidak, kamu harus kembali ke sini mengabari kami. Rumah ini adalah Rumah kamu juga." Kata Bu Idah.
"Mana HP ibu." Pinta Rani.
Bu idah memberikan HP jadulnya ke tangan Rani.
"Nih, kamu pegang hp ibu, jika kamu butuh apa apa kamu telpon aku, aku akan ke sana menjemput kamu." Kata Rani.
Alexa mengambil HP yang diberikan Rani ke tangannya.
"Kalian nggak usah khawatir, berita baik ataupun buruk, aku akan langsung mengabari kalian." Kata Alexa.
Saat itu Rani mengantar Alexa ke depan rumah kemudian menyetop sebuah angkot.
"Pak anter temanku ke jalan pahlawan simpang tiga pertama ya." Kata Rani pada sopir angkot itu.
"Baik neng." Jawab si sopir.
Mobil angkot biru itu melaju meninggalkan Rani yang masih berdiri cemas dipinggir jalan menatap hingga angkot itu menghilang melewati tikungan.
Bersambung...