Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
They Are Finally Met Up 2



Alexa menggandeng lengan anak anaknya menuruni tangga.


Anak anak nya berjalan penuh antusias menarik lengan Alexa agar langkahnya sedikit di percepat. Celotehan teriakan dan tawa mereka menggema diseisi rumah itu, mengalihkan perhatian semua orang.


Ken dan kedua orang tuanya yang asik ngobrol menengadahkan kepala mereka ke arah sumber suara kedua bocah itu.


Begitu berada ditangga terakhir Choco dan Snowie berlari menuju ruangan dimana daddynya berada.


"Daddy, Daddy..." teriak serentak Cho dan Snowie bersamaan.


Snowie dan Chocho terdiam bingung mencari sosok daddy mereka.


"Mom? Where is daddy mom?" tanya Snowie berbalik ke arah Alexa yang sudah berdiri dibelakang mereka.


Alexa kemudian kembali mengambil tempat duduk disamping Ken yang masih memasang wajah bingung akan kedua bocah yang semalam bertemu dengannya.


"Kalian gak ingin peluk daddy kalian?" tanya Alexa sambil menunjuk ke arah Ken.


"Mom, itu paman Ken. Apa paman juga daddy kita?" tanya Snowie yang memang lebih cerewet dari Chocho.


"Paman Ken? Kalian kenal paman Ken?" tanya Alexa sedikit heran.


"I was meet him before at Kfc," jawab Cho singkat.


"Yes, semalam papa ajak mereka makan Ayam goreng tak jauh dari sini," ucap Bond.


"Ooohh ya udah,sini sayang." ajak Alexa agar mereka mendekat.


"Dia daddy kalian yang selalu kalian tanyakan, dia sudah kembali," ujar Alexa.


Cho dan Wie berjalan perlahan mendekati Ken dengan wajah penuh seksama.


"Apa mereka anakku?" tanya Ken pelan.


"Ya, saat itu ternyata aku tengah hamil sayang. Mereka lah penyemangatku selama kamu nggak ada," ucap Alexa.


Ken memeluk Alexa erat. "Terimakasih, ini benar benar surprice yang luar biasa buatku, aku sungguh tak menyangka," ujar Ken dengan mata berkaca kaca.


"Yang kamu peluk seharusnya mereka. Lihat wajah mereka terlihat malu malu mendekatimu," ucap Alexa.


Ken melepaskan pelukannya dari Alexa kemudian menatap kedua bocah kembar dihadapannya, sambil berlutut Ken membuka kedua lengannya menyambut kedua anaknya kedalam pelukannya.


"Maaf karena daddy tidak mengenali kalian semalam," ucap Ken. Matanya sembab dan kemerahan menahan linangan air dipelupuk matanya.


"Wie juga nggak tau jika itu daddy," dengan begitu polos Snowie berucap sambil mengelap airmata diwajah Ken. "Please don't cry.


Chocho memberi buket bunga putih dari genggamannya ke tangan Ken. "Ini buat daddy," ucap Chocho.


"Ini juga buat daddy." Wie ikut memberi buket bunga nya ke tangan Ken.


Amelia menyaksikan mereka meneteskan airmata melihat pertemuan anak dan cucunya.


Sedangkan Hendry tersenyum begitu bahagianya.


"Anak daddy yang ganteng dan cantik, terimakasih bunganya. Daddy sangat senang, kalian adalah sebuah hadiah yang sangat berharga yang diberikan Tuhan buat daddy. Terimakasih, " Ken kembali memeluk erat kedua hatinya.


Ken duduk kembali ke kursinya sambil menarik kedua buah hatinya di atas pangkuannya.


"Nama kamu siapa?" tanya Ken ke Chocho.


"Nama ku Cotton Ball," ucap Chocho.


"Dan kamu?" tanya Ken ke Snowie.


"Aku Snow Ball, kata momie karena aku putih berkilau seperti salju," tukas Snowie.


Ken melirik ke Alexa dengan tatapan protes.


Nama macam apa ini? Apa dia nggak punya ide lain menamai anaknya?


"Itu nama panggilan ku buat mereka, Nama mereka Kenzhou Putra Husada dan Alexandria Putri Husada," jelas Alexa.


"Nama kalian sangat keren. Daddy menyukainya."


"Ya, kalian peluk oma opa sana, lihat oma mu tak henti hentinya menangis," ujar Ken melihat Amelia terus saja berlinangan airmata.


Cho dan Wie menuju ke arah Hendry.


"Opa," Wie dan Cho mencium tangan Hendry. "Apa opa sakit?" tanya Wie.


Amelia mendekati kursi suaminya sambil mengelus kepala kedua cucunya.


"Cho dan Wie nanti main ke rumah opa dan oma ya?" Amelia mengangguk. "Apa dirumah oma ada boneka?" tanya Wie,


"Nanti oma buatkan ruangan khusus untuk tempat bermain kalian. Akan ada banyak boneka yang lucu dan cantik disitu," ujar Amelia.


"Mom, Cho bisa main main ke rumah oma ya?" tanya Cho begitu bersemangat.


Alexa mengangguk. "Tentu saja boleh," kata Alexa.


Sementara Anak anak asik bercengkrama bersama oma opa mereka, Alexa membantu Ratih menyiapkan makan malam.


Bond, Rani dan Ken asik membahas kerjaan.


Sesekali Ken menarik Cho dan Wie ke pangkuannya, setelah mencium pipi mereka Ken baru melepaskan mereka untuk bermain lagi.


Teriakan, suara tawa yang renyah dan terkadang tangisan terdengar ditelinga Ken. Wajah ceria anak anaknya serta kedua orang tuanya membuat Ken teringat saat dirinya disekap Donita. Masa masa sepi saat berada divila. Tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa diam menatap ke lautan luas.


Gimana jika iblis itu datang dan menghancurkan semuanya lagi? Dia mampu melakukan apa pun, dia bisa saja nembawa mereka pergi dariku.


Ketakutan tiba tiba muncul dalam benak Ken.


"Pa, ma ayo makan," ajak Alexa.


Semua anggota keluarga sudah berada dimeja makan, tak terkecuali Snowie dan Chocho.


Hubungan kedua keluarga itu terjalin begitu akrab. Seperti tak ada lagi batasan diantara mereka. Setelah menetapkan tanggal pernikahan Alexa dan Ken, kedua orang tua Ken memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Snowie dan Chocho sudah berada dikamar tidur mereka.


"Bu, titip anak anak ya, aku antar mama papa Ken dulu," pamit Alexa.


"Baik lah, kalian hati dijalan. Kamu akan balik tidur sini bu. Pintu pagar jangan ditutup dulu," ujar Alexa.


Dalam perjalanan pulang Amelia bercerita panjang lebar soal Donita, sebisa mungkin Amelia akan membujuk Donita untuk menyerahkan dirinya ke pihak berwajib.


Ken dan Alexa kembali pulang kerumah dimana anak anak mereka berada.


-----


Sementara di suatu tempat, disebuah kota besar di china kota Shanghai.


Donita telah menghabis kan satu botol vodka. Pikiran nya dipenuhi kebencian, kebencian akan keluarga Husada.


Perasaan seperti dikhianati oleh keluarga Husada muncul begitu menerima telpon dari bawahannya di Jakarta.


Donita mengambil ponselnya kemudian kembali mendial nomor yang terakhir dihubunginya.


"Josh, segera eksekusi Alexa. Sebisa mungkin hindari bertemu dengan siapa pun. Bahkan jauhi kamera CCTV dimanapun kamu berada. Siap kan kedua rekan mu untuk terus pantau pintu keluar dan jalan keluar dari perumahan Alexa. Aku akan naik kan bayaran 10 kali lipat jika target telah tereksekusi." Jelas Donita.


"Baik Bos," jawab pria asing itu.


Alexa, saat itu jika kamu yang mengalami kecelakaan, mungkin aku nggak akan seperti ini.


Aku akan melakukan apapun untuk membuat mu menghilang dari muka bumi ini. Biar keluarga bodoh itu tau siapa yang mereka lawan.


"Hahaha," Donita terbahak bahak dengan cangkir kecil ditangannya. "Aku juga sangat bodoh, Rani itu ternyata anteknya Alexa. Dan aku sudah menyerahkan perusahan itu ke tangan mereka. Bodoh bodoh bodoh," teriak Donit kemudian melepar gelas yang ada dalam genggamannya.


Besok aku akan ke Jakarta, jika perlu aku akan membunuhnya langsung dengan kedua tangan ku.


Kebencian Donita membuatnya tak bisa lagi menikmati hidupnya. Bahkan Donita tak ingin mendengarkan Ayahnya sendiri. Pikirannya telah dibutakan oleh rasa benci.


Bersambung...