Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Coming Home 2



Pintu pagar didorong dengan paksa oleh seorang pria tua yang puluhan tahun sudah ikut keluarga Husada.


Pria itu mendekat menatap siapa pria yang baru saja mengklakson mobilnya berulang ulang di depan rumah larut malam seperti itu.


Mata pria tua itu terbelalak begitu yang dilihat jelas sosok tuan muda Ken yang berada di hadapannya.


"Tuan, apakah aku nggak salah lihat ini? Tuan kecil Ken?" sapaan akrab pak Adil pada Ken sejak kecil. "Tuan kecil kemana aja selama ini? Semua orang khawatir sama tuan," ucap pak Adil sambil ikut berjalan masuk mengikuti Ken.


"Aku dari jauh pak, maaf sudah buat bapak khawatir." Ken terus berjalan masuk menuju puntu masuk.


"Tuan baik baik saja? syukur alhamdulillah ya Allah." Pak Adil terus berucap disamping Ken.


"Tuan lewat samping aja, pintu depan sudah dikunci nyonya," ajak pak Adil.


"Baiklah, apa mama sudah tidur pak?" tanya Ken.


"Tuan dan nyonya jam segini pasti sudah dikamar, kondisi tuan akhir akhir ini kurang baik. Untung Den tiba sebelum tuan dan nyonya berangkat ke Singapore lagi," ucap pak Adil.


Ken sudah berada didalam rumah, suasana sepi dan tenang didalam rumah. Suara pak Adil yang terbata dan bersemangat membuat ruangan itu menjadi riuh. Bu Darsiah istri pak Adil ikut terbangun dan berteriak histeris melihat Ken berada diruangn itu.


Tangisan bu Darsiah akhirnya membangunkan kedua orangtua Ken.


"Shhhttt. Bu Dar tenang dulu. kalau nangis gitu nanti mama dan papa bangun loh," kata Ken sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Aku hanya merasa senang sekali , mama dan papa tuan Ken sudah ber...," ucap bu Dar kemudian terhenti karena nyonya nya sudah berdiri didepan pintu.


"Ma," ken mendekati mamanya yang masih terdiam menatap kepulangan anaknya itu.


"Mama berpikir kamu nggak akan pernah kembali ke sini lagi. Kamu pasti sengaja pergi menjauhi kami, iya kan?" kata mama Amel dengan mata berkaca kaca.


"Mama kok ngomong gitu? Buktinya begitu aku kembali, aku langsung ke sini!" kata Ken sambil memeluk mamanya yang masih terdiam di depan pintu.


"Mana Donita?" tanya mama Amel sambil melirik mencari ke arah pintu.


"Donita? Mama tanya Donita ke Ken? Seharusnya Ken yang tanya soal Donita ke mama." Ken menatap mamanya penuh heran .


"Ya sudah sekarang kamu tengok papamu dulu, dia terus saja sakit sakitan sejak kepergian kamu," kata mama Amel sambil menarik tangan Ken memasuki kamar.


"Pa, papa tidur?" tanya Ken setengah berbisik.


"Papa mu sejak tadi belum tidur, kami sedang berbincang bincang kemudian bu Darsi berteriak begitu kencang," kata Mama Amel.


"Papa marah sama Ken?" tanya Ken lagi.


Papa Hendry masih berdiam menatap putranya. Dirinya memegang sandaran tempat tidur mencoba untuk duduk. dengan sekuat tenaga Hendry mencoba mendorong dirinya untuk duduk dan bersandar disandaran tempat tidur.


"Pa, papa baring aja," Ken mecoba membantu papanya yang mencoba untuk duduk. "Nggak usah maksa untuk duduk," ucap Ken.


"Anak keras kepala. Kalau malam itu kamu nggak meninggalkan aula dan mengejar perempuan itu, mungkin semua ini nggak akan terjadi," ucap Hendry datar.


"Pa, sebelum nya Ken minta maaf. Karena Ken sudah menyusah kan papa dan mama. Apalagi papa sampai sakit seperti ini." Ucapan Ken terdengar begitu serius. Tangan nya menggenggam tangan papanya. "Jika papa tau siapa Donita sebenarnya papa pasti nggak akan memaksa aku menikahinya malam itu," ucap Ken.


Ken berdiam sejenak.


"Kenapa dengan Donita, apa dia baik baik saja?" tanya mama Amel.


"Apa? Donita? Tapi mana mungkin Donita seperti itu? Selama ini dia sudah mama anggap seperti anak mama sendiri," ucap mama Amel.


"Pa, percayalah pada Ken. Ken nggak bisa megulas balik satu persatu kejahatan yang dilakukan Donita kepada kita, Ken akan langsung berurusan dengan polisi," jelas Ken.


Mama dan papa terdiam sejenak.


"Jadi dimana Donita sekarang? Papanya juga sedang mencarinya." Mama Amel terlihat risau akan Donita.


"Ken akan mengumpulkan bukti kejahatan Donita dan membawanya ke jeruji besi," ucap Ken.


"Selama kamu sakit, papa mu sakit, dia lah yang menjaga perusahan dengan baik," kata mama Amel masih dengan pembelaan pada Donita.


"Pa coba papa pikirkan secara logika, beberapa bulan terakahir sebelum ulang tahun perusahan Donita ternyata dengan diam diam mengambil alih beberapa saham dari pemegang saham minoritas perusahan. Dan apa ibu lupa saat ibu di Brisbane, Donita berusaha membujuk ibu menyerahkan saham ibu kepadanya? Dengan sifat Donita yang manja itu, nggak mungkin dia bisa menjalankan perusahan. Bahkan perusahan sudah dibuatnya bangrut selama Ken disekapnya diAusie. Dia menunggu ibu menyerahkan saham 10% ibu, kemudian menikahiku yang cacat kemudian dia akan mengambil alih seluruh perusahan dan menendang kita keluar ke jalanan," jelas Ken.


Hendry terdiam sambil menarik nafas panjang mendengar setiap penjelasan Ken, dirinya merasa bersalah dan takut jika pada kenyataannya dirinya ikut andil dalam menjatuhkan perusahan. Perusahan yang begitu dibanggakannya, perusahan yang sangat dijaganya segenap jiwa dan raganya.


Melihat Hendry duduk mematung, Amelia duduk dipinggiran ranjang disamping suaminya duduk bersandar. "Pa, sudahlah jangan dipikirkan lagi. Sekarang anakmu sudah pulang, dia akan mengurus semuanya dengan baik dan kembali seperti sedia kala. Papa hanya perlu fokus pada kesembuhan papa," ucap Amelia.


"Ya pa, sekarang Ken sudah pulang. Biar Ken yang menjaga kalian," Ken duduk mendekat disamping papanya. "Oh ya pa, ma. Ken akan jujur satu hal dengan kalian," Ucap Ken ragu.


Hendry mengangguk menatap putranya yang sudah seharusnya menjadi orang yang paling dipercayainya saat ini.


"Sebenarnya Ken sudah menikahi Alexa, Alexa adalah istri Ken pa. Dua hari sebelum acara ulang tahun perusahan Ken sudah menikahinya. Itu lah alasan Ken mengejar Alexa malam itu, dia pasti kecewa mendengar pengumuman papa soal pertunangan. Tadinya Ken ingin memperkenalkan Alexa pada kalian malam itu, tapi..." Ken terdiam sejenak. "Sekarang Ken harus mencarinya dan memperkenalkannya kepada kalian, Ken tak tau Dia berada dimana." Mimik kesedihan terpancar dari wajah Ken, saat kemudian tangan Hendry menggenggam tangan anaknya.


"Alexa ada, dia nggak pernah jauh dari kamu. Info yang papa dapat, dia terus mencari kamu dirumah kamu. Hampir setiap malam dia mengunjungi rumah kosong itu. Dia sempat menghilang beberapa saat, tapi saat ini dia sudah kembali lagi," ucap Hendry sambil menepuk nepuk tangan anaknya.


"Dimana Alexa sekarang pa? Ken akan pergi menemuinya," kata Ken begitu antusias.


"Papa nggak pernah tau dimana dia tinggal, tapi dia ada diperusahan kamu. Sekarang ini dia yang menjalankan perusahan kamu dengan baik," ucap Hendry. "Besok pagi kamu bisa temui Alexa dan bawa menatu papa itu kesini."


"Benarkah pa?" Ken memeluk papanya.


"Sekarang pergilah ke kamar kamu dan istirahat," Hendry mencoba membenarkan cara duduknya. "Pinggang papa mulai pegal ini. Besok kita lanjutkan lagi pembahasan kita," ucap Hendry dengan suara lemah.


"Baiklah pa, Ken ke kamar Ken dulu. Ma Pa, istrahatlah. Ken keluar," ucap Ken kemudian meninggalkan kamar itu.


Amelia yang sedari tadi berdiam diri langsung membantu suaminya berbaring dengan wajah agak cemberut.


"Kamu kenapa ma?" tanya Hendry.


"Apa papa serius ingin bertemu wanita itu?" Tanya Amelia.


"Wanita mana ma?"


"Alexa lah, siapa lagi?" kata Amelia ketus.


"Ma, coba mama pikir. Selama tiga tahun perusahan dipegang Donita, perusahan sudah hampir bangkrut dan bahkan sudah bangrut karena hutang perusahan tiap bulan meningkat. Donita tidak melakukan apa apa diperusahan. Dia hanya mengandalkan sepupunya si menejer keuangan gak jelas itu untuk menjalankan perusahan. Tapi ma, begitu perusahan ditangan Alexa, dalam beberapa bulan saja perusahan sudah kembali berjalan, karyawan yang tadinya sudah di PHK ditarik kembali untuk bekerja. Hutang gaji karyawan yang menumpuk sudah diselesaikan. Apa alasan papa untuk menolak gadis itu? Dan saat William mencoba menjual saham ke orang lain, Alexa lah yang menyelamatkan perusahan. Sekarang papa mengerti kenapa ada orang yang mau membeli saham perusahan bangkrut dengan harga mahal. Dia adalah istri anakmu. Papa akan merestui hubungan mereka!" ujar Hendry panjang lebar.


Amelia hanya berdiam diri mendengar keputusan suaminya.


Dalam benaknya, Amelia masih terus memikirkan Donita yang belum jelas keberadaannya. Donita yang sudah dianggapnya seperti putri kandungnya.


Bersambung...