
Siang itu diruang meeting karyawan produksi, Alexa membahas tuntas apa yang akan mereka lakukan selama seminggu kedepan. Pak Juan diminta ikut bekerja sama membantu Alexa, dengan mendukung karyawan produksi mencapai target deadline mereka minggu ini. Pencapaian produksi di pabrik, bekerjasama dengan departemen keuangan dan departemen pemasaran adalah tugas dari karyawan produksi.
Selesai dari ruang meeting semua kembali ke meja masing masing dengan wajah datar dan tak berani mengeluarkan satu kata pun dari mulut mereka. Rasa jengkel dan kesal menyelimuti hati setiap karyawan yang ada di situ kecuali pak Juan.
"Alexa, kamu sangat luar biasa. Aku pasti akan selalu mendukung mu," ucap pak Juan dengan senyum cerah khas nya pada semua wanita.
Beberapa wanita yang melihat sikap pak Juan pada Alexa langsung menatapnya sinis.
"Pak, saya masih sibuk. Jika bapak sudah selelaai bicara bapak bisa kembali ke ruangan bapak," kata Alexa tegas.
"Baiklah, tapi nanti pulang kantor bisakah aku akan mengantar mu pulang?" tanya pak Juan dengan suara berbisik. Saat itu jarak wajah pak Juan dengan wajah Alexa tak kurang dari 10 cm, hingga membuat Alexa harus memundurkan kepalanya beberapa centi ke belakang.
"Pak, kita lagi dikantor, bisa kah bapak lebih sopan sedikit?" kata Alexa.
"Oke oke, kalau begitu sampai ketemu nanti sore," ucap pak Juan kemudian berlalu meninggalkan Alexa yang masih mematung.
Apakah kerjaan pria itu hanya mengejar ngejar wanita disini?
Alexa bergidik menatap beberapa karyawan yang masih menatap marah ke wajah nya.
Alexa menuju meja paling kiri yang sebelumnya diberikan flash disk.
"Mana flas saya? Apa job desk kalian sudah ditransfer kesitu?" tanya Alexa.
"Maaf, belum," ucap wanita itu kemudian memasukkan kutex pink yang baru saja disematjan di jari jarinya.
Wanita itu langsung meraba lacinya mencari flash disk yang diberikan Alexa tadi. "Saya akan mengunduhnya sekarang," kata wanita itu santai.
"Jadi, warna warna di jari jari mu itu lebih penting, kamu ke kantor ini untuk bekerja atau nyalon?" tanya Alexa marah. "Cepat kerjakan sekarang dan antar ke meja saya," ucap Alex.
Huffftty, orang orang ini tak ada yang serius bekerja. Bagaimana mungkin aku bekerja membangun perusahan ini bersama orang orang malas seperti ini. O my god, apa seluruh kantor emang seperti ini?
Beberapa saat kemudian wanita itu datang membawakan flash disk seperti yang diminta Alexa.
Alexa langsung mengerjakan pembagian pembagian tugas bagi setiap karyawan yang berjumlah sebelas orang disitu.
"Girls sudah aku share tugas kalian masing masing, saya harap sabtu nanti semua nya harus selesai. Dan Rekha,'besok suruh anak anak lapangan untuk meeting disini jam sembilan pagi'" ucap Alexa. Terdengar suara beberapa karyawan yang protes dengan kerjaan baru mereka, namun Alexa tak peduli.
"Jika sabtu tidak selesai maka ajukan surat pengunduran diri kalian di meja pak Juan," ucap Alex tegas.
"Dih, pak Juan aja gak pernah perintah perintah kami seperti itu," ucap seorang karyawan mengeluh dengan suara pelan namun terdengar begitu jelas ditelinga Alexa.
"Jika ada yang protes silahkan hubungi pak Juan dan, pekerjaannya biar pak Juan yang selesaikan," ucap Alexa.
Tanpa sadar pak Juan sudah berdiri dibelakang Alexa dengan heran.
"Kok jadi saya yang kerjakan? Siapa yang ingin menyuruh pekerjaannya diselesaikan saya tadi?" tanya pak Juan.
Setiap karyawan diruangan itu langsung menunduk dan mulai mengerjakan tugas mereka masing masing melihat wajah menyelidik pak Juan.
Seminggu berlalu Alexa manjadi seorang karyawan yang over protected diperusahan itu. Julukan karyawan killer telah melekat di belakang namanya mengalahkan bu Sintya. Tak heran Alexa menjadi begitu akrab dengan bu Sintya yang merupakan seorang menejer pemasaran. Bu Sintya adalah satu satunya karyawan yang benar benar bekerja untuk kemajuan perusahan, hingga membuat keduanya menjadi akrab. Tim pemasaran dibawah pimpinan bu Sintya selalu menjadi departemen terbaik di perusahan itu.
Setelah beberapa bulan bekerja penuh ketekunan, kinerja Rani, Alexa dan bu Sintya mulai menunjukkan hasil. Pendapatan perusahan meningkat, permintaan pasar meningkat dan produksi barang pun semakin bertambah.
Alexa yang tadinya dijuluki si killer kini malah mulai mendapat pujian baik dari beberapa karyawan. Kecuali diruangannya, semua rekan karyawan diruangannya begitu membencinya karena pak Juan menaruh perhatian lebih pada Alexa.
Pak Juan mulai menunjukkan sikap peduli dan lembut pada Alexa. Pak Juan yang tadinya tak peduli dengan segala hal, kini telah berubah total.
Bahkan Pak Juan mulai bekerja lebih giat dari sebelumnya.
Memasuki bulan ke lima Alexa dan Rani di perusahan itu, harga saham melonjak naik. Perusahan yang tadinya hampir bangkrut kini beranjak naik menduduki jajaran elit dibursa saham. Nama Rani sebagai Direktur GS meroket dikalangan pengusaha pengusaha muda di Indonesia.
Wajah Rani mulai terpajang dibeberapa majalah bisnis yang ada di Indonesia. Dengan julukan Rockie Women of the year membuat Rani begitu dikenal semua orang dari kalangan bisnis.
Siang itu, mobil Rani sengaja berhenti tepat didepan kantor. Alexa yang baru saja akan keluar dari lobby terhenti ketika mendengar suara Rani berteriak memanggil nama nya.
"Sha," teriak Rani.
"Ya," Alexa berbalik arah menuju ke suara Rani berada.
"Bareng yuk," ajak Rani.
"Kamu mau pulang makan dirumah, kamu mau ikut?," tanya Alexa.
"Tadi papamu menelpon, dia menyuruh ku makan siang bersama dirumah," jelas Rani.
"Ohh, pantesan ibu tadi menanyakan kamu di telpon. Ya udah aku bareng kamu deh," ucap Alexa kemudian berjalan memasuki mobil Rani.
"Pasti ada yang ingin dibahas papa," kata Alexa begitu masuk ke dalam mobil.
"Ya, pasti mengenai PH. Tadi om ada singgung sedikit soal itu," kata Rani.
"Hmm, ya. keahlian om menjebol data perusahan tak kalah hebat dengan kamu," ucap Rani sambil tersenyum lebar pada wajahnya.
"Rani, dia itu dosenku di kampus, mana mungkin aku bisa lebih hebat dari dia? Jika bukan dia, aku mungkin sudah mengambil jurusan sastra waktu itu," kata Alexa.
"Buat apa sastra? Kamu ingin jadi penulis novel? atau waktu itu kamu berniat menjadi pujangga? hehehe," ucap Rani sambil terkekeh.
"Sudah Ran, jangan bahas masalah pak Juan, aku jengah dengan kata kata mutiara yang tiba dimejaku setiap hari," kata Rani.
"Dia pikir kata katanya bisa membuatku terhibur, padahal aku ingin muntah, ueekk." Alexa mengajukan kekesalannya terhadap pak Juan.
"Awas loh, jelek jelek kan dia tar jatuh cinta lo," ejek Rani.
"Dih, gak bakal. Aku kan masih menunggu ayahnya anak anak," ucap Alexa datar.
"Yaaahh, sudah hampir tiga tahun. Kamu masih setia seperti ini. Apa kamu gak bosan?" tanya Rani.
"Bosan? Bukan hanya tiga tahun, tapi aku sudah menunggunya sejak kecil mana mungkin aku bosan, aku tau waktu pasti akan mempertemukan kami kembali, seperti sebelum sebelum nya. Aku yakin dia akan kembali," ucap Alex yakin.
Rani menatap keseriusan pada wajah Alexa.
Sambil menatap ke luar jendela wajah Alexa terlihat penuh harap waktu akan mengembalikan suaminya ke pelukannya lagi.
Mobil terus melaju menuju rumah dimana Alexa dan kedua orang tuanya tinggal.
Tiinn tiinnn.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Alexa, sekuriti sudah membukakan gerbang rumahnya kemudian mempersilahkan mereka masuk.
Alexa dan Rani berjalan beriringan memasuki rumah Alexa, begitu tiba di ruangan tengah anak anak berlarian menuju dekapan Alexa.
"Mommieeee," teriak Choco dan Sisie sambil berlari mendekati Alexa.
"Duh anak mommiee, udah makan sayang?" tanya Alexa sambil memeluk keduanya.
Anak anak itu berbicara mengadu ngoceh dengan suara tak jelas yang hanya dapat dipahami oleh ibu mereka.
"Ooohh, kalian ya. Jadi endma udah bobo ya? haha." Alexa tertawa dengan kedua buah jatinya seakan paham dengan yang diucapkan mereka.
Setelah memeluk dan menyapa si kembar, Rani langsung menuju ruang tengah meninggalkan Alexa dan anak anak yang masih asik bermain.
"Siang Oom," sapa Rani.
"Rani sudah disini," ucap pa Bond begitu Rani tiba di Ruangan itu.
"Iya oom," kata Rani.
"Bu, meja makan sudah siap belum?" teriak pak Bond.
"Oom, apa kita sudah bisa bergerak sekarang?" tanya Rani memulai pembicaraan.
"Apa Alexa sudah siap? Karena nantinya dia yang akan menjadi direktur di PH sesuai keinginan nya. Kalian harus menggbungkan kedua perusahan," ucap pak Bond.
"Pa, jika kita menggabungkan kedua perusahan berarti GS harus rela berada di bawah perusahan PH, para dewan direksi pasti tidak akan setuju mengingat PH yang sekarang sudah jatuh. Tentunya yang mengakuisisi yang harus memegang kendali," kata Alexa.
"Ya iya, emang harus seperti itu," jawab pak Bond.
"Nggak pa, itu artinya nama PH akan hilang. Dan aku gak mau itu, aku ingin mempertahankan nama PH pa," jelas Alexa.
Pak Bond terdiam sejenak, dia mengerti apa yang ada dalam pikiran anaknya itu. Alexa tak ingin kehilangan perusahan itu.
"Apa kamu sudah siap tampil sekarang?" tanya pak Bond.
"Rani akan mulai mencari jalur masuk ke sana," kata Alexa.
"Hubungi langsung pak William, dua hari lagi pak William akan bertolak ke china. Sepertinya dia berencana menjual saham nya di China demi menyelamatkan PH, dan jika itu terjadi maka hubungan kedua keluargaa itu akan semakin erat," jelas pak Bond.
"Sasha mengerti maksud papa," Alexa menimpali.
"Ya sudah kalau kalian mengerti, segera temui pak William dikediamannya. Lakukan negosiasi, papa rasa William itu akan tertarik dengan reputasi Rani saat ini. Papa rasa Wiliam akan melepas 30% saham nya ke tangan Rani," jelas pak Bond.
"Apa Oom yakin?" tanya Rani.
"Oom yakin 70%, justru Rani akan menjadi penyelamat nya saat ini. Karena saat ini tak ada satupun pengusaha yang berani mengambil resiko membeli perusahan itu," jelas pak Bond lagi.
"Ya udah, Rani akan menemui pak William di kediamannya sore ini," ucap Rani.
Bersambung...