
Mobil sport hitam Ken melaju kencang menembus kesunyian malam, Alexa sudah sejak tadi sibuk bicara tanpa henti soal para penggemar wanita Ken. Ken hanya menanggapinya dengan senyuman..
"Kamu senyum aja? Aku bakal jadi bahan pembicaraan para karyawan dan dipelototin terus hanya karena aku jalan sama bos mereka," kata Alexa.
"Jika mereka membuatmu tidak nyaman dikantor, aku akan membuat mereka meninggalkan perusahan," kata Ken asal.
Alexa menghirup oksigen yang banyak untuk memenuhi rongga parunya, dada terasa sesak saat apa yang kita rasakan namun tak bisa dirasakan orang lain. Alexa mencoba menjelaskan lebih ringan agar bisa lebih dimengerti.
"Bisa kan nggak jemput aku dikantor?
Bisa kan pak Ken nggak pegang-pegang tangan ku dikantor?
Bisa kan aku tetap jadi karyawan normal bapak seperti karyawan lain?" Alexa berucap dengan mimik muka agak kesal.
"Oh ya by the way, pak Ken, apakah saat ini kita sedang dalam sebuah hubungan?" kata Alexa sambil menatap keseriusan di wajah Ken soal kata-katanya barusan.
"Aku hanya ingin hidup normal, hidup jauh dari masalah, hidup aman," lanjut Alexa
"Jadi apakah aku harus melamar mu secara resmi untuk jadi pacarku sekarang? Jika aku suka nya kamu gak mungkin kan yang aku pegang mereka!" kata Ken
"Sejak kapan kamu berniat pacaran dengan orang seperti aku?" tanya Alexa
"Memangnya kamu orang seperti apa? Aku nggak berpikir memiliki kriteria tertentu dengan wanita yang aku suka. Nggak ada yang bisa melarang aku jika aku menyukai kamu!" kata Ken.
Kamu tidak mengenaliku? Aku ini si kutu buku yang dulu tinggal dipanti asuhan dekat rumahmu. Dahulu aku tak berani berhadapan denganmu, aku selalu diam diam bersembunyi sambil menatap mu dari kejauhan. Aku yang selalu pingsan dan paling merepotkan diantara semua anak panti. Kamu pernah berkata, kamu menyukai gadis yang manja, gadis pemberani dan ceria, semua itu tidak ada padaku. Pikir Alexa mengenang masa kecilnya.
Suasana begitu tenang saat itu, Ken menatap ke arah Alexa yang sedang menatap keluar jendela, sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri
Apakah aku terlalu memaksanya?
Bagaimana mungkin obsesiku akan dirinya membuat aku menyakitinya.
"Maafkan aku, aku janji akan mengikuti keinginan mu. Aku nggak akan sembarangan melakukan apa pun yang bisa membuatmu merasa tidak nyaman," kata Ken begitu lembut.
"Kamu tidak salah kenapa harus minta maaf?" kata Alexa.
Aku yang terlalu naif, aku punya ketakutan-ketakutan ku sendiri, aku masih Alexa si gadis fobia. Apakah aku pantas menerima cinta mu? Pikir Alexa.
"Jadi maukah kamu jadi pacarku?" tanya Ken dengan wajah memelas dan memohon.
Alexa bengong menatap wajah Ken yang hampir seperti kelinci merindukan wortel, Alexa kemudian tertawa
"Hahaha I'cant handle this, is it bunny face or ?" kata Alexa.
"Apa kah itu artinya kamu bersedia?" tanya Ken sambil tersenyum menatap Alexa.
"Hmmm entahlah, apakah harus aku tolak?" jawab Alexa dengan wajah yang mulai merona.
"Aku akan menganggap kata-kata itu adalah ya," ujar Ken senang.
Alexa menatap pria keras kepala disampingnya, pria idaman yang telah lama mengisi relung kalbunya. Bahkan pria ini sekarang adalah kekasihnya.
Mobil hitam Ken memasuki halaman parkir sebuah restauran bergaya klasik di pinggiran kota Bogor. View perkotaan Jakarta dengan lampu temaram berkilau seperti bintang menambah suasana hangat dalam hati keduanya.
"Jadi kamu membawaku jauh-jauh kesini untuk melihat ini?" tanya Alexa setelah keluar dari mobil.
"Aku nggak sengaja menemukan tempat ini dua hari lalu sewaktu makan bersama para investor dari Jepang," ata Ken.
"Ini terlihat seperti lautan berlian." Raut wajah berbinar terpancar dari wajah Alexa
"Masuk yuk, emang kamu gak laper?" kata Ken.
Ken menggenggam tangan Alexa menuju sebuah gazebo yang tidak seberapa jauh dari tempat mereka berdiri.
-----
Seorang wanita berambut hitam dengan pakaian mewah melekat indah dibadannya memasuki gedung Permata Husada.
Langkahnya langsung menuju ke meja dua orang sekuriti yang berjaga dilobby, wanita dengan gaya manja bak seorang putri
"Pak saya mau ketemu Ken," kata Donita
"Apa mbak sudah buat janji temu?" tanya sekuriti itu.
"Nggak, saya rasa saya nggak perlu buat janji. Dia nggak bisa nolak jika saya mau ketemu," kata Donita begitu percaya diri.
"Tapi pak Ken belum ada diruangan nya, sepertinya pak Ken akan tiba datang agak siang hari ini," kata sekuriti.
"Bisa antar saya ke ruangan nya, biar saya menunggu disana," kata Donita.
"Maaf mbak kami nggak bisa sembarangan mengantar orang ke ruangan pak Ken," kata sekuriti menolak permintaan Donita.
Donita menghubungi Ken dari hp nya namun tak ada jawaban dari Ken.
Donita kemudian menghubungi Gugun
"Gun, aku mau ketemu Ken. Sekuriti ini tidak mengijinkan aku masuk. Dia di lantai berapa?" tanya Donita.
"Ken lagi nggak dikantornya mbak, dia di pabrik" jawab Gugun.
"Tapi barusan boss menginstruksikan saya untuk mengantar mbak Donita ke lantai 21 jika sudah tiba dikantor," kata Gugun lagi.
Selang beberapa saat Gugun sudah berdiri dihadapan Donita.
"Maaf mbak Donita, saya akan mengantar mbak ke ruangan mbak sekarang," kata Gugun.
Hufftt Ken. Sungut Donita kesal.
Donita mengikuti Gugun hingga lantai 21
"Steve nih titipan boss tadi," kata Gugun
"Oh ya mari mbak cantik," kata Steve
Steve Gugun dan Donita memasuki ruangan karyawan di lantai 21.
"Team kita kedatangan anggota baru. Perkenalkan namanya, siapa?" tanya Ken.
"Donita," jawab Gugun.
"Ya Donita sekarang adalah bagian dari tim 21, mohon kerjasama buat semuanya," kata Steve.
"Oh ya Donita di bagian apa pak?" tanya Zaky seorang karyawan disitu.
"Bagian apa?" tanya Steve ke Gugun.
"Tunggu aba-aba dari boss," kata Gugun berbisik.
"Jabatannya akan diinfokan lebih lanjut," kata Steve
"Donita kamu bisa duduk di tempat Leo, Leo bisa pindah di dekat Radyt," kata Steve.
Donita mengarah ke kursi Leo dan lansung mengambil alih kursinya.
"Hai Donita," sapa Shanen. Donita tak menggubris nya.
"Mbak Donita, bentar siang akan saya kabari jika pak Ken sudah disini. Soal posisi dan jabatan mbak, akan diinfokan lebih lanjut sebentar siang. Dan jika butuh apa-apa hubungi nomor saya saja. Saya permisi," kata Gugun yang berdiri disamping meja Donita.
"Saya mau menunggu Ken diruangan nya."
"Soal itu maaf mbak, saya tidak berani. Tidak boleh sembarang orang masuk ke sana tanpa izin pak Ken, ujar Gugun menjelaskan.
"Yaudah, cuusss," kata Donita Kesal.
Gugun keluar dari ruangan itu tanpa basa basi lagi.
Suasana begitu tegang sejak Donita berada diruangan itu, Alexa Lisa dan Shanen tak mengeluarkan satu kata pun dari mulut mereka.
Mata mereka hanya fokus pada pekerjaan mereka masing-masing hingga menjelang makan siang.
Donita sudah duduk dikursinya selama 3 jam sambil bermain game dari phonselnya. Alexa Lisa dan Shanen menatap jengah ke Donita yang terlihat begitu angkuh dan tak mau berbaur.
"Lex udah jam makan siang nih, kantin yuk," ajak Lisa
"Hayuk, jengah gue liat laptop mulu," kata Shanen sambil matanya memicing ke arah Donita.
Donita saat itu menempelkan phonselnya ke telinganya
"Ken, kamu dimana? Telpon aku kok nggak diangkat?" kata Donita manja.
"Buruan dong, aku mau ke ruangan kamu tapi nggak boleh," kata Donita dengan suara memelas nya.
Lisa yang saat itu sedang mengemas barang di meja nya langsung membelalakkan mata nya ke arah Alexa dan Shanen.
Saat itu Alexa hanya menatap Donita dengan perasaan jengkel dihatinya.
Siapa sih ni cewek? Sok manja banget ama pacar aku? Awas aja lo Ken! Pikir Alexa dalam hatinya.
"Ayuk buruan." Alexa menarik kedua lengan sahabatnya itu dengan cepat.
Saat dikantin perusahan ketiga wanita itu begosip panjang lebar tanpa fokus pada makanan mereka. Terlebih Alexa, dia manyun sambil protes tiap perkataan yang keluar dari mulut Lisa dan Shanen.
"Perepuan itu pasti pacarnya boss!" kata Shanen.
"Yang pastinya dia orang deketnya Boss, karena dia punya nomor hp pribadi boss, kata Lisa menambahi.
"Bisa aja itu sepupu nya boss," jawab Alexa.
"Boss cuma punya dua orang sepupu dan mereka laki laki semua," kata Lisa.
"Ya, Jodie dan Rashid sepupu boss," Shanen.
"Saat ulang tahun perusahan setahun lalu aku nggak liat gadis itu di foto keluarga boss, dia itu pasti wanita barunya boss," ucap Lisa.
"Apa boss sekarang sudah memiliki seseorang dalam hatinya?" kata Shanen.
"Gadis itu sama sekali nggak cocok dengan boss, dia nggak punya sopan santun," kata Alexa.
"Iya sih, tadi gue dicuekin," kata Shanen membenarkan ucapan Alexa.
"Heh lo bedua tau kan sifatnya boss, cocok aja jika punya pacar rada songong kayak sifat boss" kata Lisa sambil ketawa.
"Kata siapa?" Alexa menimpali.
"Wah, Lex kamu makin susah nih ngegebet si bos. Saingan lo beraaatt," ejek Lisa.
Raut wajah Alexa begitu lesu, dia seakan gak ingin dengar percakapan kedua sahabatnya itu lagi.
Berulang ulang suara dari phonsel Alexa berdering, panggilan masuk dari Ken yang tak ingin di angkatnya.
Suasana hatinya sangat buruk sejak kehadiran Donita.