
Pelukan mu selalu terasa hangat, apakah ini pantas buatku?
Apa aku layak mendapat cinta sebesar ini darimu?
Pelukan erat Ken lama kelamaan membuatnya terasa begitu sesak, Alexa mencoba melepaskan dirinya dari dekapan erat Ken.
"Ken, Please." Alexa melepaskan diri dari pelukan Ken.
"Sayang, ini luar biasa. Bagaimana kamu bisa berada disini?" Tanya Ken.
"A..aku, datang ke sini beberapa hari lalu." ucap Alexa gagap.
Ken, dia nggak tau aku Sasha. Bagaimana aku akan menjelaskan ini kepadanya?
Dengan senyuman Alexa berusaha mengalihkan percakapan.
Beberapa detik ibu Sukma muncul dari arah dalam.
"Nak Ken, wah tumben kamu disini hari ini." Sapa Ibu panti dengan nada terkejut sekaligus bahagia.
Ken menyapa Ibu panti mencium tangan kemudian memeluk nya.
"Ibu apa kabar?" Tanya Ken.
"Ibu sehat, kamu?" Tanya bu sukma.
"Aku juga sehat bu," jawab Ken.
"Maaf bu, hampir dua tahun aku nggak mampir kesini." Sejak beban perusahan dilimpahkaan ke aku, aku jadi nggak bisa ke mana-mana. Kesibukan menjadi sangat padat." Jelas Ken.
"Jadi Kalian sudah saling ketemu?" Tanya bu Sukma.
"Ya sudah bu, ini dia lagi di hadapan ku." Jawab Alexa asal.
"Oh ya, Ran.. ayo ajak anak anak ke ruang makan. Kalian juga yuk." Ajak bu Sukma.
Rani menuju ke halaman membubarkan beberapa anak anak laki laki yang masih asik bermain bola.
Jadi waktu dirumah sakit Alexa serius? Itu Ken Samuel Husada pria yang ada di majalah itu.
Wah daebak,, Ken itu benar benar pacar Alexa. Dia kenapa nggak ngomong ngomong sih, aku kan seharus nya sudah siap siap dengan pulpen dan kertas. Lumayan jika bisa dapat tanda tangan dari oppa Ken hihi.
"Ayo anak anak berhenti bermain, sekarang waktunya makan, ayo ayo. Kalau lama lama nanti nggak kebagian ayam goreng! Jangan lupa cuci tangan, cuci muka dan kaki dikamar mandi tuh kaki kalian hitam semua." Teriak Rani.
Beberapa anak anak ada yang langsung lari masuk ke dapur melalui pintu samping, dan beberapa lagi masih sibuk menggiring bola ke gawang yang sudah tidak ada penjaga gawang nya.
"Buruan, kalau nggak segera masuk nggak usah makan ya." Kata Rani jutek.
Aku kan pengen duduk manis di depan Ken, quality time aku dengan nya jadi berkurang. Rani mendumel dalam hatinya.
Rani menyusul masuk ke ruang makan bersama anak anak berharap dirinya akan duduk semeja dengan Ken, ternyata dia masih harus mengurus makan siang anak anak karena ibu sukma dan Alexa sedang mengatur sajian makan dimeja.
"Udah duduk yang bener, berani ada yang makan sambil main main ntar aku jewer." Kata Rani agak besar suara.
"Ihh kakak galak, nggak kayak ibu." Kata seorang anak lelaki disitu.
"Ibu kakak mau menjewer." Teriak seorang anak lagi.
"Ibu lain, aku juga lain. Kita kan beda orang jadi beda sifat." Kata Rani asal.
"Udah nak anak, makanya kalian dengarkan kak Rani biar nggak di jewer." Kata Ibu sukma pada 17 anak yang sudah duduk rapih di karpet merah tak jauh dari meja makan.
"Makan yang bener ya, nggak boleh berisik atau main main." Kata Rani lagi.
Suasana yang riuh dengan celotehan anak anak disertai bunyi sendok dan piring mengingatkan Ken saat saat dirinya masih seperti mereka.
Walau pun dirinya tak pernah kekurangan makan dirumah namun setiap hari dia akan datang ke sini hanya untuk makan bersama.
Sesekali Ken menatap ke arah Alexa yang sibuk membantu bu Sukma. Senyum Ken tak pernah hilang dari sudut bibirnya, terlihat jelas jika dirinya bahagia saat itu.
Sebuah berkah bisa bertemu dengan mu disini, nggak sabaran pengen peluk tapi suasana nggak memungkin kan.
"Bu, aku juga ingin makan dilantai seperti mereka." Kata Ken tiba tiba.
Bu sukma dan Alexa menatap Ken bersamaan.
Dia kenapa. Pikir Alexa.
"Oh baiklah, Sha pindahkan nasi dan piring ke karpet." Ibu sukma menunjuk ke karpet disamping anak anak.
Setelah nasi dan lauk terhidang di atas karpet Ken langsung pindah ke bawah.
Mereka berempat langsung duduk sila mengadap ke nasi dan lauk yang sudah terhidang. Sayur kangkung tumis, ayam penyet, dan tahu tempe sambal terasi.
"Hmmm, bu sangat lezat." Kata Ken sambil menambah sambel ke atas piringnya.
"Ini Sasha yang masak," kata bu Sukma sembari menuang air putih ke gelas masing masing.
"Dia benar benar hebat meracik sambal dan bumbu ungkep ayam." Lanjut bu Sukma.
Sasha???
Sasha...?
Ken mencoba mencerna kata bu Sukma.
"Rani juga membantu aku tadi bu." Kata Alexa merendahkan diri.
"Aku cuman bantu goreng doang." Kata Rani.
"Siapa yang masak bu?" Tanya Ken lagi.
"Ini Alexa yang racik, rapi aku yang menggoreng. Tuh sampai sampai aku terkena percikan minyak panas beberapa kali." Rani mencari cari perhatian
"Pokoknya nak Sasha dan Rani deh yang masak." Lanjut bu Sukma.
"Sasha." Panggil Ken.
Alexa langsung menatap ke arah Ken.
"Sasha Sasha Sasha." Ucap Ken berulang ulang.
Alexa adalah Sasha cinta masa kecilku?
Oh my God, kejutan apa lagi yang akan kau hadirkan hari ini Alexa?
"Sasha aku mau tambah nasi." Kata Ken menyodorkan piring ke Alexa.
Alexa mengambil piring Ken kemudian mengisinya dengan sesendok nasi.
"Sasha Ayamnya?" Lanjut Ken.
"Loh sekalian dong sama sambal, masa iya dikasi ayam nggak dikasi sambal, Sasha Sasha." Kata Ken yang terus menerus memanggil Alexa dengan panggilan Sasha.
Apa apaan sih? Apa dia mulai gila setelah mendengar nama ku Sasha? Yah itu lah diriku Sasha kecil yang suka merepotkan semua orang.
Raut wajah Alexa berubah menjadi murung.
Ayam ini jadi terasa hambar.
Suasana jadi canggung, bahkan untuk menatap Ken aku jadi nggak bisa.
Ken menyadari perubahan pada mimik wajah Alexa. Dan Rani pun menyadari hal itu.
"Pak Ken punya tangan? Nih ambil sendiri, nggak boleh suruh Alexa terus." Rani menyodorkan piring berisi ayam ke hadapan Ken.
Bu Sukma tertawa geli melihat tingkah Rani, sedangkan mata Ken menatap heran ke arah Rani yang jutek nya selangit.
"Nak Ken sudah biasa seperti itu Ran, sejak dulu dia suka gangguin Sasha namun dia lah yang paling perhatian dengan Sasha sejak kecil." Kata bu Sukma.
"Kamu nggak apa?" Tanya Rani ke Alexa.
"Udah Ran, nyantai aja." Jawab Alexa sambil tersenyum ikhlas.
"Aku tadi terus menerus memanggilnya seperti itu karena nama itu lebih enak di dengar lebih cocok untuk Alexa." Ken.
Ya, kamu bisa panggil aku apa aja, kini nggak ada masalah aku mau jadi siapa dimata kamu. Toh kamu sudah tau dan aku nggak bisa sembunyi lagi, aku tetaplah si gadis kecil yang penyakitan itu. Pikir Alexa.
Selesai makan Alexa dan Rani melanjutkan mencuci piring sedangkan Ken ngobrol dengan bu Sukma panjang lebar di teras depan.
"....."
"Bu kalau begitu, aku akan bawa Alexa dari sini." Kata Ken.
"Kenapa harus ijin ibu, jika Alexa mau kamu bisa bawa dia. Tapi ingat halalkan dia segera jadi isterimu sebelum timbul fitnah dan sinah." Pesan bu Sukma.
"Aku sih pengennya begitu, tapi seperti nya dia belum bersedia," Ken
"Kamu sudah menyukainya sejak kecil, kenapa tidak kamu ungkapkan kemudian lamar dia." Saran dari bu sukma.
"Apakah dia akan menerimaku." Tanya Ken.
"Ibu akan meyakinkan dia asalkan kamu janji satu hal pada ibu." Tawar bu sukma.
"Ih kok pakai tawar menawar sih bu?" Kata Ken tertawa.
"Jangan pernah menyakitinya, sudah cukup beban yang dipikulnya sejak kecil. Jangan ditambahi lagi dengan permasalah egois masing masing setelah berumah tangga." Kata bu Sukma.
"Yaa nggak mungkin lah bu, aku janji aku akan selalu melindunginya" Kata Ken.
Sementara di tempat cuci piring tangan Rani dan Alexa sangat lincah mencuci tumpukan piring kotor.
"Lex, dari tadi setelah Ken datang kamu kok keliatan uring uringan." Tanya Rani.
"Apa terlihat sejelas itu?" Alexa
"Hmm iya, kamu tau sendiri. Aku kesini mencari ibu ku namun yang aku temui malah masa lalu ku yang pahit. Jika jadi kamu apa kamu masih ingin denganku?" Lanjut Alexa.
"Ya aku ingin, emang kamu salah apa? Aku akan tetap menjadi teman kamu seberapa buruk pun masa lalu kamu." Kata Rani.
"Iya itu kamu, bagaimna dengan keluarga mu?" Tanya Alexa lagi.
Rani terdiam sejenak.
"Dari reaksi Ken tadi, dia terlihat benar benar tulus dengan mu." Kata Rani.
"Ya, apa dia masih akan tulus setelah dia tau diriku sebenarnya?" Alexa.
"Kamu jangan terlalu mengucilkan diri kamu seperti itu, nggak semau orang harus berpikiran sempit. Nggak semua orang peduli dengan masa lalu, disaat masa depan cerah menunggu mu didepan." Rani
"Harus optimis dong, jika kamu menyukai Ken biarkan dia yang memutuskan kamu pantas atau tidak menjadi pendamping dirinya." Lanjut Rani lagi.
Alexa terdiam.
Apa harus seperti itu?
Aku harus menutup mata akan semua masa laluku dan membuka mata untuk melihat masa depanku.
Kata kata Rani sedikit memberi pencerahan di hati Alexa. Rasa ragu yang berakar itu kini perlahan mulai melunak.
Bersambung...