
Dua bulan telah berlalu namun Alexa masih belum menemukan keberadaan Ken. Alexa sudah sempat nekat mendatangi rumah orang tua Ken dan kafe dari sepupu Ken bernama Jojo namun tidak menemukan seorang pun disana.
Memasuki minggu ke 16 usia kandungan Alexa perutnya tampak semakin besar, jauh lebih besar dari kehamilan normal pada wanita umumnya.
Anak anak tumbuh sehat dan kuat didalam perutnya.
Dengan membawa perut yang semakin berat, tak mungkin Alexa bisa kesana kemari mencari Ken. Lagian selain keluarga nya, tak ada yang tau soal kehamilannya, dirinya takut jika terjadi apa apa dengan anak anaknya.
Siang itu dengan ditemani mang Kasim Alexa kembali mendatangi rumah mewah milik Ken. Hampir setiap dua hari Alexa datang mengunjungi rumah itu. Rumah yang seperti sudah berbulan bulan tidak diurus. Rumput tumbuh semakin tinggi di sela sela bunga yang dahulunya terawat indah, serta daun kuning kemuning berserakan di hingga ke halaman parkirnya.
Sayang, tak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiran ku kamu meninggalkanku. Aku tau kamu berada disuata tempat tak berdaya untuk kembali ke sisiku..
Setelah berdiri beberapa jam Alexa memutuskan masuk ke mobilnya.
"Mang kita pulang," ucap Alexa datar.
"Baik Non," jawab mang Kasim kemudian memutar balik kemudi mobilnya meninggalkan rumah Ken.
"Mang, aku kepingin sop ayam Mc.Doland, kita singgah sebentar ya," ucap Alexa setelah melihat rumah makan cepat saji itu pada radius 300 meter didepan.
Mobil mang Kasim mengantri dibelakang lima buah mobil di drive thrue rumah makan itu. Sambil menunggu, Alexa mencoba membuka laptop sekedar melihat lihat hal baru apa yang dilakukan orang yang memegang email pak Hendry.
Beberapa saat sebuah telpon masuk ke ponsel Alexa.
Lisa..
"Ya halo Lis," sapa Alexa pada sahabat yang sudah seminggu terakhir tak pernah bertemu dengan nya.
"Lex, aku punya sebuah kabar buat kamu. Aku nggak tau apakah gal ini dapat membantu kamu," ucap Lisa.
"Ya hal apa itu Lisa?" tanya Alexa penasaran.
"Dalam dua minggu terakhir, sudah dua kali aku bertemu Donita. Seprtinya dia baru dari ruangan menejer keuangan," kata Alexa.
"Benarkah," tanya Alexa.
"Ya, dan menurut Steve, kemungkinan Donita akan segera menjadi pemegang saham utama jika saudara pak Hendry dan Bu Amelia menjual saham perusahan padanya," jelas Lisa.
"Ya, aku sudah mencurigai hal ini sejak dua bulan yang lalu. Donita, mungkin dia tau dimana Ken berada. Aku akan menemuinya," ucap Alexa.
"Tapi Lex, kamu harus berhati, wanita itu begitu sulit ditebak," ucap Lisa mengingatkan.
"Makasih Lis," ucap Alexa.
"Sama sama, yaudah aku akan kembali bekerja. Nanti aku info kan lagi jika ada berita baru," ucap Lisa kemudian mengakhiri panggilan telponnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Donita, aku melupakan Donita selama ini. Oh My God, apa niat Donita dengan mengejar setiap pemegang saham, menejer keuangan perusahan Ken adalah adik dari istrinya Pak Andi adik dari Pak Hendry. Donita sedang berusaha merebut perusahan dari tangan Ken.
"Non, non, non Sasha mau pesan apa?" mang Kasim membuyarkan lamunan Alexa.
"Ya ya mang Kasim, mang bungkuskan burger 10 buat bik asih dan pekerja pekerja dirumah," kata Alexa.
"Baik Non," jawab mang Kasim.
Alexa kembali ke rumah dengan beberapa barang belanjaan dan cemilan yang bisa dimakan nya saat lapar, maklum wanita hamil ini jadi sering sekali lapar mengingat semua makanan yang masuk ke perutnya dikonsumsi oleh tiga orang.
Beberapa hari berlalu Alexa masih terus berpikir bagaimana caranya bertemu Donita, ponsel, email dan rumahnya tidak ada jejak dirinya. Beberapa detektif yang disewa Alexa sudah bergerak maksimal namun sepertinya, trik Donita sudah direncanakan dengan begitu matang.
Bagaimana ini? Bagaimana jika Donita tau aku sedang mengandung anak Ken? Perusahan sudah diincarnya, kalau dia tau anak ini bisa jadi dia akan mengincar ku sekarang. Sebaiknya aku...
Irama lembut musik klasik melantun lembut diruangan kamar tidur Alexa, suara panggilan telpon dari ibu Ratih tak lebih besar dari suara musik dalam kamarnya.
"Tok tok tok,"
"Non," bik Asih sudah berdiri didalam kamar Alexa.
"Ya bik," sahut Alexa yang sedang asik menatap game pada laptopnya.
"Bik matikan aja biar Sasha telpon dari ponsel Sasha aja." Alexa kemudian beranjak dari kursinya meraih ponsel di atas meja dekat ranjangnya kemudian mengcilkan volume musik yang lumayan besar itu.
Setelah sekali pencet nada sambung yang sedang menghubungkan sudah terdengar.
"Bu, maaf Sasha nggak dengar bunyi hp Sasha."
"Kamu sudah makan nak? tanya bu Ratih.
"Sudah bu," jawab Sasha.
"Ya baik lah, ibu hanya ingin mengecek kamu nak, jaga kesehatan kamu dan cucu cucu ibu ya," ucap bu Ratih yang hampir saja menutup telponnya.
"Bu," sela Alexa.
"Ya nak," jawab bu Ratih.
"Sasha akan nyusul ibu ke London. Tiga atau emapat hari setelah dapat surat bepergian dari dokter Sasha akan langsung pesan tiket," ucap Sasha panjang lebar.
"Bagus lah nak, kalau kamu disini ibu bisa tenang. Dan lagipula papa mu tak henti bertanya kapan kamu bisa datang," kata bu Ratih.
"Iya bu, ibu tunggu aja kabar Sasha beberapa hari lagi,"
"Ya udah kalau gitu nak, kamu istirahat gih. Jangan lupa minum susumu sebelum tidur ya," kata bu Ratih mengingatkan.
Hingga beberapa hari kemudian setelah Alexa mendapatkan surat ijin dari dokter untuk wanita hamil bepergian, Alexa langsung terbang menuju London. Kota yang selama hampir dua tahun ditinggalkannya.
----
Malam itu pukul delapan malam Alexa tiba di bandara internasional London. Ibu dan Papanya sudah menunggu Alexa didepan pintu penjemputan.
Alexa keluar pintu arrival sambil menarik sebuah koper silver.
Mata nya berkeliling mencari keberadaan ibu dan papanya.
"Nak, Sasha" bu Ratih beberapa kali berteriak sambil mengangkat tangan agar anaknya itu melihatnya.
Mata Alexa tertuju ke wanita berbaju coklat muda yang tak lain adalah ibunya.
"Bu," Alexa menghampiri memeluk ibunya kemudian papanya.
"My doughter how is your feeling, finally you back here," sapa papa nya.
"I know pa, i know someday i will be back here. But i event dont know, the day a arraived here my ,mom and papa will pick me up," ucap Alexa agak bercanda dengan papanya.
"Sudah ayo pulang, cucu cucu ibu butuh istirahat," uca bu Ratih berhegas menari koper Alexa.
"Ibu mu lebih protected for you by now doughter, be carefull," ucap papa dalam bahasa yang bercampur antara english dan bahasa.
"Haha, pa i know, maybe shes loves me becouse waiting for her grandson and granddaughter," ucap Alexa memelas.
"Tentu saja ibu menyayangimu dan anak anakmu, ibu hanya merasa harus menjadi nenek yang lebih baik, ibu gak ingin cucu cucu ibu kekurangan kasih sayang," jelas bu Ratih panjang lebar.
"Iyaa sekarang Sasha sudah disini, bukan kah ibu senang," ucap Alexa berjalan disamping ibunya sambil memeluk ibunya.
Mereka berjalan menuju parkiran dimana mobil papanya berada.
"Sha apa ngidam mu masih?" tanya bu Ratih setelah berada didalam mobil.
"Masih dikit bu, masih agak mulai jika ada aroma makanan lain. Kata dokter usia kandingan di atas empat bulan ngidam ku sudah berkurang," ucap Alexa bangga. "Tapi kata dokter bisa juga lebih dari empat bulan bahkan ada ngidam sampai sembilan bulan."
"Ok, ibu akan buatkan sop hangat untuk mu, papa mu juga termasuk penggemar sop," kata bu Ratih.
Setelah berkendara lebih dari 15 menit, mereka akhirnya tiba dikediaman ibu dan papanya. Suasana rumah yang masih sama seperti dua tahun yang lalu sebelum Alexa pulang ke Indonesia. Hanya bedanya, sekarang rumah ini lebih nyaman, ada ibu dan papa disisinya. Alexa lebih merasa kembali ke rumah.
Bersambung...