
Pagi hari dirumah orang tua Ken.
tok tok tok
"Ken, kamu nggak sarapan?" Suara mama Ken membangunkan anak semata wayang nya.
"Iya ma, ini aku mandi dulu." Jawab Ken setelah mamanya membangunkannya.
"Ya udah buruan, papa sudah menunggu dibawah." Kata mama Amelia
"Iya ma," Ken berjalan gontai menuju kamar mandi.
Hari ini aku harus bicara serius dengan papa..
Ken bergegas mandi dan keluar menuju ruang makan.
Papa nya sudah menunggu, dengan sepiring oat meal dihadapannya. Wajah papa seperti biasa, tanpa ekspresi dan datar.
"Pagi pa." Sapa Ken.
"Hmm pagi." Jawab Papa Hendry dengan suara berat khasnya.
Papanya mulai memasukan sesendok oatmeal ke dalam mulutnya, sedangkan Ken masih sibuk mengolesi selai kacang kedalam roti miliknya.
"Pa, papa mau ngomong apa ke Ken." Tanya Ken membuka percakapan terlebih dahulu.
"Ken juga mau ngomong sesuatu yang penting dengan papa." Lanjut Ken serius hingga menimbulkan mimik heran diwajah papa dan mamanya.
"Kok tumben, hal penting apa yang ingin kamu bahas nak?" Tanya mama Amel.
"Yang ingin papa bicarakan adalah soal ulang tahun perusahan bulan depan." Jawab papa.
"Ya, kenapa dengan ulang tahun perusahan pa?" Tanya Ken dengan mulut yang penuh makanan.
"Papa ingin merayakan secara besar besaran." Jawab papa Henry.
"Tapi pa, ini kan ulang tahun perusahan ke 39, bukan nya mega partynya akan diadakan tahun depan pas perusahan genap berusia 40 tahun." Kata Ken.
"Tahun depan akan kita rayakan lagi." Ucap Ayah Ken.
Ken terdiam mendengar keputusan Ayahnya, mengingat sebulan merupakan waktu yang singkat untuk menyiapkan acara besar perusahan.
"Kerahkan semua kemampuan dan sumberdaya perusahan untuk hal ini, jika perlu papa akan menurun kan bantuan kalau kamu merasa tidak mampu." Kata papa.
"Terserah papa aja Ken nurut aja, jika menurut papa ini yang terbaik." Kata Ken.
"Ya udah sekarang kamu mau ngomong apa? Tadi katanya mau ngomong." Kata Mama Amel.
Ken menatap wajah kedua orang tuanya. Mimik wajah curiga terpancar dari wajah papanya yang agak garang.
"Pa, Ken ingin mengenalkan seseorang." Ken terdiam sejenak.
"Wanita?" Mama Amel dengan senyuman lembutnya.
"Waahh anak mama, tadinya mama berpikir untuk mengenalkan mu dengan anak teman teman mama, tapi ternyata kamu sudah punya calon kamu sendiri." Kata mama.
Sorot wajah papa masih tanpa ekspresi, papa pasti akan menyelidiki Alexa sebelum memberikan restu padaku. Aku harus deal dealan nih kayaknya.Pikir Ken.
"Siapa wanita itu?" Tanya Papa datar.
Suasana menjadi agak tegang, mama Amel menatap protes ke arah papa.
"Namanya Alexa Corinna." Jawab Ken singkat.
Aku harus mencari cara.. Pikir Ken.
"Jadi wanita itu?" Tanya papa.
Ken menatap ke arah papanya.
Wanita itu? Apa papa sudah tau mengenai Alexa? Batin Ken.
"Jadi papa sudah tau." Kata Ken.
"Papa nggak pernah mempermasalahkan apa pun asal wanita itu tidak merugikan perusahan." Kata papa lagi.
"Mama juga sudah tau soal Alexa." Tanya Ken.
"Mama tau, dan mama pikir kamu hanya bersenang senang dengan nya. Mama nggak nyangka kamu akan membawanya dalam percakapan keluarga kita." Kata mama.
"Aku akan menikahinya ma." Kata Ken.
Papa menatap ke arah Ken.
Wajah serius anak nya menandakan bahwa hal ini harus lebih serius dibahas.
"Kirim kan riwayat anak itu dan selidiki latar belakangnya." Kata Papa pada mama Amel.
"Pa, namanya Alexa, aku menyukai Alexa, dan hanya akan menikahinya." Kata Ken dengan nada agak menekan.
"Siapa pun wanita yang akan kamu nikahi tidak akan papa permasalahkan selama itu tidak merugikan perusahan, ingat itu!" Kata papa Henry.
"Aku sudah menjalankan perusahan dengan sangat baik seperti yang papa minta, aku tidak pernah membantah setiap kemauan papa, bisa kah kali ini papa menuruti permintaanku?" Tanya Ken.
"Wanita yang akan kamu nikahi akan mencerminkan wajah penerus perusahan kita kelak, jika kamu sembarangan memilih bukankah itu juga merupakan suatu kerugian kedepannya." Kata Papa.
"Papa akan mencari seseorang yang lebih layak yang bisa menjadi pendukung ekonomi perusahan sebagai pasangan hidup mu." Papa Henry kemudian berdiri meninggalkan meja makan.
"Pa, bukan nya papa sudah mengatakan akan merestui asalkan itu tidak merugikan perusahan?" Teriak Ken pada papanya yang telah berlalu dari ruangan itu.
Ken terduduk menatap piring yang sudah kosong dihadapannya.
"Sayang, mama akan mencoba membujuk papamu. Kamu bisa siap siap ke kantor sekarang. Nanti kita akan membahas masalah ini lagi setelah papa mu lebih tenang." Kata Mama meninggalkan Ken menuju ke ruang baca suaminya.
Mama Amel berjalan perlahan mendekati papa yang duduk menatap keluar jendela, kaca mata tebal dan rambut putih suaminya menandakan umur yang sudah tak muda lagi.
Dirinya tau dibalik sifat keras suaminya ada tersimpan kelembutan dan kasih sayang didalamnya.
"Pa, minum obat papa dulu ya." Mama mengambil beberapa pil didalam tempat obat suaminya itu.
"Ma, apa anak dari panti itu bisa membuat anak kita bahagia?" Tanya papa.
"Pa, latar belakang anak itu masih simpang siur. Donita sudah membantu mama menyelidikinya, sebentar lagi kita akan tau." Jawab mama.
"Anak perempuan William begitu tergila gila pada anak kita, William pasti akan melakukan apapun untuk mengikuti keinginan anaknya." Kata Papa dengan perasaan cemas.
"Pa, Mama rasa Ken akan meninggalkan wanita itu setelah mengetahui latar belakangnya. Kita Akan mencari kekurangan nya agar Ken bisa melupakan wanita panti itu." Kata Mama Amel.
"Anak itu sangat malang, seandainya anak perempuan William tak begitu kekeh dengan anak kita, mungkin papa akan merestui hubungan mereka." Kata papa kemudian.
"Pa, papa ingat kan hutang hutang keluarga kita dengan keluarga William?" Mama Amel mengingatkan.
"Iyaa ma." Jawab papa.
"Siang nanti Donita akan ke sini, semalam dia menelpon mama, katanya ada hal penting yang ingin dia katakan." Kata mama Amel.
"Ya udah, mama urus hal ini dengan hati hati, kita nggak harus membuat anak kita kecewa dengan keputusan kita yang terburu buru."
"Baik pa." Kata mama Amel.
"Paa, Maa, Ken berangkat ya" Panggil Ken dari luar ruangan.
Mama keluar dari ruang baca suaminya ke arah Ken yang sudah rapih mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna senada.
"Ma, Ken jalan dulu." Kata Ken setelah diteras rumah.
"Ya sayang, hati hati dijalan." Jawab Mama.
Donita adalah wanita yang paling pantas untukmu nak, jika kamu bisa menikahinya maka raksasa bisnis real estate bisa kamu kuasai.
Mama akan bantu kamu menjadi seorang pengusaha terhebat di dunia.
Mama Amel melambaikan tangan pada Ken yang telah berlalu melewati pagar dengan mobil hitam miliknya. Tanpa disadari segudang rencana dalam pikiran seorang Amelia Wijaya akan menghancurkan kehidupan putranya dan perusahan.
Bersambung...