The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 98: PIECE OF LIGHT (2)



Insting saya berkata untuk lari, kemana? Tidak ada tempat bagi saya untuk melarikan diri atau menjauh. Saya merapatkan gigi saya dan melepaskan perisai yang tebal membungkus diri saya.


[Percuma, merusak benda ini sama seperti menghancurkan kaca yang tipis.]


Cakar Astaroth yang di penuhi energi eter menghancurkan perisai yang tebal yang saat ini bisa saya ciptakan dengan kekuatan saya. Seringai yang tajam berada di sudut bibir Astaroth, dia menikmati ini semua.


[Aku ingin merasakan jantungmu.]


Tatapan mata saya tidak bisa beralih ke arah lain. Cakar yang di selimuti oleh asap kegelapan ada di tangannya yang siap menggali ke dalam dada saya.


Tidak ada pilihan, saya akan menggunakannya, berkah dari Gabriel.


Tiba-tiba seseorang mendorong tubuh saya ketika saya hendak melepaskan segel di tangan saya.


“Saint!”


Itu adalah Edgar yang siap menerima serangan milik Astaroth menggantikan saya.


“Bodoh!”


Segera detik itu saya mengulurkan tangan padanya dan melapisi tubuh Edgar dengan perisai tebal menggantikan saya. Saya tidak masalah terkapar di tanah, sekarang itu tidak penting. Yang penting...


[Sesuai perkiraan.]


Mata Astaroth tidak melepaskan pandangan pada saya. Dia tersenyum sangat lebar seakan rencananya berjalan lancar. Pada detik itu saya sadar jika yang selama ini dia incar bukan saya, melainkan menggunakan saya sebagai alat pemancingnya.


[Tidak akan ada yang ingin Saint kecil mati. Jika dia mati maka semuanya akan berakhir, itu yang kalian pikirkan, bukan? Sayang sekali.]


Pelindung yang menyelimuti Edgar perlahan-lahan retak dan kemudian itu hancur berkeping-keping. Ekspresi saya kaku sampai membuat saya berteriak kencang.


“Hentikan!!”


Cakar yang sudah memecahkan pelindung dengan begitu mudahnya telah menembus ke dalam dada Edgar. Rahang semua orang jatuh ke tanah, darah bercucuran turun dari dada Edgar, dimana saya bisa melihat cakar tangan Astaroth telah menerkam jantung miliknya dalam genggamannya.


“Tidak... Bajingan!!”


Veronica yang melompat ke tengah menebas ke udara memaksa Astaroth melompat mundur di atas kami dengan memegang jantung di tangannya. Begitu dia menjauh di atas, Veronica menjatuhkan senjatanya dan merangkul tubuh Edgar.


“Edgar!”


Saya segera berdiri dan duduk di dekat tubuh Edgar yang terbaring di pelukan Veronica. Tanpa mengatakan kalimat lagi saya menyalurkan kekuatan suci saya pada luka di dadanya. Benar, ini adalah tindakan bodoh dan paling bodoh yang saya lakukan. Dia telah kehilangan jantungnya lalu apa yang bisa saya sembuhkan.


“Pemimpin... Maafkan saya.”


“Bodoh, apa yang kau katakan! Bertahanlah!”


“Haha... Entahlah apa aku bisa bertahan tanpa jantung di dalam tubuhku.”


Air mata Veronica sudah jatuh sejak dia memutuskan menerkam Astaroth demi melepaskan Edgar. Jiwa pemimpinnya runtuh ketika dia memperlihatkan emosi yang tidak pernah ada sebelumnya. Jauh di masa dia tidak pernah melepaskan topeng Shadownya, dia adalah wanita berhati dingin.


“Pemimpin adalah wanita paling rapuh di dunia ini... Aku tahu... Setiap rekan yang kehilangan nyawanya yang pertama berduka adalah pemimpin.”


Pandangan Edgar menatap ke atas. Tapi, saya tahu jika dia tidak menatap Veronica, saya atau siapapun. Pandangan yang sudah tidak bisa melihat siapapun lagi di sana hanya kosong dan tidak berlanskap.


“Saint...”


Saya menggenggam tangannya saat gerakan jarinya seperti mencari-cari.


“Apapun pilihan pemimpin, aku mohon jangan salahkan dia, tapi tolong bantu dia untuk membenarkannya.” napasnya mulai terhenti di setiap detik dia berbicara. Bibir yang tidak goyah sedikit pun dan tetap tersenyum adalah satu-satunya obat penenang bagi mereka yang berduka.


“Aku sangat suka nama yang pemimpin berikan daripada namaku sendiri...”


Raut wajah Veronica membeku ketika dia mendengarnya sendiri. Bibirnya naik turun untuk mencari pembenaran dalam pemilihan kata yang tepat. Dan pilihannya membuat mulutnya terangkat.


“Moss...” tepat di lantunkannya dengan sangat lembut.


Mendengar panggilan itu dari mulut Veronica, ekspresi Moss, Edgar menjadi bergetar dan air mata turun dari pelipisnya.


“Ya, pemimpin... Terima kasih untuk segalanya.”


Edgar tersenyum dengan mata tertutup. Tidak ada dari kami yang tahu jika dia akan menutup matanya untuk selamanya.


Veronica menggertakkan giginya dengan sangat rapat, dia meletakkan tangan Edgar dalam keadaan terbaring di lantai dan mengangkat pedangnya kembali, dia pun berdiri. Saya yang melihatnya mengelap air matanya dengan kasar, dan mendengar suaranya yang berat.


“Tidak ada waktu untuk bersedih, bukan. Kalau begitu mari kita selesaikan ini.”


Mengayunkan pedangnya hingga mengeluarkan suara berdenging hebat Veronica maju dengan menghempaskan tanah dan kembali ke medan perang melawan Astaroth dengan kecepatan miliknya.


Bagi dirinya bawahannya adalah keluarganya terlepas dari asosiasi yang dia punya, dia tidak pernah mendiskriminasi mereka sama sekali. Terutama Edgar. Pria yang selalu bisa mencairkan suasana di kala situasi sedang berat atau terdesak dan orang yang paling rasional dalam mengambil situasi.


Yah, meskipun dia pria yang sedikit sentrik karena sifatnya yang aktif itu di nilai sebagai kelebihan miliknya.


Dan orang yang berhasil membawa Edgar dari keputusasaan itu adalah Veronica.


Edgar yang dulunya adalah budak dan hidup terkekang dalam sangkar perbudakan para bangsawan berhasil lepas dari rantai yang mengikatnya ketika Veronica menjalankan misinya membasmi bangsawan yang seperti virus bagi masyarakat.


Pada saat itulah Edgar yang melihat Veronica sebagai penyelamat serta keinginan kuat untuk balas budi membuatnya mengikuti Veronica sampai di [Underground] dan berhasil mencapai tahap menjadi bawahan Veronica secara langsung serta menjadi kaki tangannya.


Kehilangan orang yang seperti itu sama seperti kehilangan separuh jiwanya.


Ku-guguguh!!


Puncak gelombang meledak-ledak secara kondusif dalam serangan membabi buta dari pihak Veronica. Sepertinya dia sangat marah sehingga secara implisit dia tidak sadar jika dirinya di telan oleh emosi yang menyangkal tentang siapa yang dia lawan sekarang.


“Kembalikan jantung Edgar, ****** sialan!!”


Bilah pedang yang di selimuti energi suci milik saya memekik dengan keras di udara menyebabkan ledakan percikan beruntun setiap serangannya mencapai Astaroth. Meskipun dia tidak bisa terbang, namun tahap Skill [Speed Reverse] dan juga [Phantom Fantasy] membuatnya bisa menginjak udara sebagai batu loncatannya dengan gesekan pada gerakan kecepatan yang hampir mustahil diikuti oleh mata telanjang.


[Apa kau menginginkan ini, gadis muda? Jika kau ingin maka ambilah.]


Membuat Veronica berhenti menyerangnya secara percuma dan melempar jantung Edgar dalam genggamannya ke atas, itu kelemahan Veronica dalam reaksi. Astaroth menyeringai melihat Veronica meraih ke arah jantung yang dia lempar. Cakar yang meluap energi kegelapan menargetkan dadanya.


“Si bodoh itu.”


Saya memanjangkan rantai yang mengikat kutukan Heros sebelumnya ke arah tubuh Veronica dan menariknya cepat.


[Huh?]


Itu membuat keduanya terkejut saat melihat Veronica menghilang dari udara dan berada di darat dengan tidak rapi.


“Apa yang—!”


Veronica menoleh pada saya. Ketika ekspresi saya memperlihatkan jawaban Veronica langsung surut dan tekanan emosinya menurun dengan jelas.


“Maaf... Aku...”


“Jika ingin fokus maka jangan bertindak gegabah. Lihatlah...” saya melihat ke arah Astaroth yang kembali membawa jantung Edgar bersamanya. “Dia tidak akan melepaskan jantungnya dengan mudah, jadi jangan termakan tipuannya.”


Astaroth bukanlah iblis tipuan melainkan hawa nafsu. Tetapi, mungkin sudah jadi ciri khas iblis yang selalu bisa memakai tipu muslihat.


Saya melepaskan rantai yang menjerat Veronica. Meskipun hanya ini yang bisa dilakukan rantai ini, karena masih belum dalam tahap sempurna. Saya berhasil membangunkan Gabriel dan Samael namun belum dengan dua Prophet saya yang lain yang tidak memiliki pengikut.


[Sepertinya kau masih memiliki banyak trik yang tersembunyi, Saint.]


“Ya, sayang sekali. Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu mengetahui semua trik ini sebelum aku berhasil mengalahkanmu.”


[Anak yang arogan. Tapi, aku suka dengan anak yang optimis sepertimu. Kalau begitu mari lihat seberapa banyak trik yang kau punya.]


Tiba-tiba jantung Edgar di tangannya menghilang entah kemana dan Astaroth mengangkat kedua tangannya ke langit. Partikel hitam di sekitar muncul dan berkumpul di atas kepalanya menjadi satu kesatuan sampai membesar seperti matahari gelap buatan.


Sambaran petir di sebabkan percikan partikel menyapu aula dengan riak yang menghancurkan.


[Mari lihat, apa kau bisa menahan ini dan melindungi semuanya.]


Wajah Astaroth memerah dalam kegembiraan meluap. Energi yang di tampung ke dalam bola partikel besar di atas kepalanya menjadi semakin besar setiap detiknya. Seberapa besar kekuatan sihir yang di sedot ke dalam sana. Melihat itu bisa membuat semua orang jatuh dalam putus asa.


“Aku rasa ini sudah cukup. Bertarung habis-habisan bukanlah gayaku. Namun, melihatmu semakin membuatku yakin, jika aku harus mengalahkanmu sekarang.”


Semua anggota Shadow yang tersisa melompat ke belakang saya dan Veronica. Mereka tahu jika bola partikel yang luar biasa besar itu dijatuhkan maka tidak terhindarkan kita semua akan musnah dalam sekejap.


Keputusan ini memang berat karena saya sendiri takut jika tidak bisa bertahan karena menguras kekuatan sihir. Tapi, selama saya bisa mengalahkannya saya tidak memiliki pilihan lain. Kemudian saya melangkah maju.


Melihat saya maju Astaroth senang tersenyum lebar.


“Seharusnya kamu tahu, jika kekuatan saya adalah lawan buruk bagimu juga.”


[Tahap transformasi ‘Archangel’ telah dimulai!]


Saya melepaskan seluruh Status milik saya yang tersimpan dan menciptakan sayap yang merobek punggung saya dan lingkaran yang bersinar di atas kepala saya.


Aktivasi dalam tahap perubahan Archangel tidak berlangsung lama jadi saya ingin mengakhiri ini secepat mungkin.


[Kekuatan ini! Dan aroma busuk ini!]


Benar, memang seharusnya dia menyadarinya dan betapa beruntungnya jika yang berhasil untuk pertama kali di bangunkan adalah Gabriel. Kerutan dahi Astaroth tertekuk ke bawah ketika merasakan aura yang membuatnya nostalgia sampai lidahnya berteriak.


[Gabriel!!!]


Setelah melepas Status tahap transformasi Archangel saya melepaskan segel dari tanda kudus di tangan saya yang merupakan berkah dari kebangkitan Gabriel.


[Artefak Suci Kuno ‘Annihilation Sword Purification’ telah di aktifkan!]


Sebuah pedang muncul di genggaman tangan saya dengan cemerlang dan kemungkinan besar bayang-bayang Gabriel berada di dalam retina Astaroth saat melihat saya.


[Menjijikan! Energi dan aura yang menjijikan ini! Gabriel!]


Partikel yang meluap-luap yang siap meledak itu berhasil di jatuhkan dari atas Astaroth pada saya. Gerakan kecil yang mampu menelan apa saja yang di lewatinya membuat merinding, tetapi saya memilih mengangkat pedang ke atas dengan tenang.


“Senjata ini hanya bisa digunakan sekali.”


Bilah pedang menyala terang dan memancarkan energi yang begitu besar. Kemudian saya mengarahkan ujung bilah suci tepat ke tengah bola raksasa yang menuju kami.


“Hancurkan, Gabriel!”


Gu-gugugugus!!!


Suara yang memekikkan telinga. Dari dalam bilah pedang suci menembakkan energi yang begitu besar ke arah bola raksasa tepat di tengah.


[Kugh! Lagi-lagi, kau menghalangiku Gabriel!]


Lawan dari Astaroth adalah Gabriel. Jujur saya akan takut seandainya jika Gabriel tidak bangun ketika lawannya adalah Astaroth, entah bagaimana saya bisa mengalahkannya. Astaroth sedang di perlihatkan perang suci dan jahat di dalam kepalanya, dimana dia kalah telak dari Gabriel.


Pancaran energi suci dari bilah pedang suci Gabriel melahap bola partikel raksasa dan berusaha menembusnya. Perlawanan kuat di antara energi besar menghancurkan seisi ruangan. Lalu saya menyalurkan tangan ke arah anggota di belakang dan melindungi mereka.


Saya mengepakkan sayap dan menekan gelombang serangan milik Astaroth lalu kemudian berhasil menembus ke dalamnya. Hancurnya bola partike membuat saya dapat melihat bersih ekspresi mengeras Astaroth dan bergegas terbang ke arahnya dengan pancaran pedang suci Gabriel.


[Jangan mendekat— Kagh!!]


Suara daging robek bisa di terdengar jelas di telinga. Pedang suci yang menusuk jantung Astaroth dan membakar habis dirinya dengan pancaran energi penyucian.


[Sialan kau... Gabriel.]


Sampai dia tidak berbekas bahkan tidak menjadi abu.