The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 23: DECEPTION EYE (2)



“Direktur ini gawat!”


“Ada apa Clitch?”


Clitch yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Direktur Sarion sampai membuat Sarion meliriknya dengan satu alisnya tertarik.


Clitch ingat kejadian sama dimana dia juga menerobos seenaknya tanpa mengetuk dan membuat kehebohan sendiri. Clitch sadar dan menjadi panik sendiri, dia pun mengetuk pintu dua kali ketukan meskipun sudah menerobos masuk.


“Maaf Direktur.”


“Tidak apa. Ada apa sampai kamu tergesa-gesa?”


“Apa anda belum mendengar kabarnya? Ini lihatlah Direktur.”


Clitch memberikan koran harian yang biasa di jual di kota untuk sebuah informasi dan berita di kalangan masyarakat. Ini umum menceritakan kebenaran dari suatu kejadian yang telah terjadi sebenarnya.


Direktur Sarion mengambil koran itu dan terkejut.


“Ini...”


“Bagaimana ini Direktur, sekarang masyarakat mempertanyakan berita itu padahal hari ini Upacara akan segera dimulai.”


“Ini tidak boleh terjadi. Lalu bagaimana persiapannya?”


“Persiapannya beres, namun karena berita ini banyak Priest kebingungan. Saya telah memberi tugas pada para Paladin bahwa sementara ini mereka berjaga bersama pelajar Paladin di dekat tempat acara akan dimulai.”


“Pemikiran bagus, terima kasih Clitch sudah bertindak. Masalah ini terlihat sangat serius. Kita tidak boleh membiarkan adanya hal buruk terjadi dan perketat keamanan jaga-jaga agar tidak ada penyusup.”


Mata Direktur memasang antisipasi yang keras. “Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi.”


“Baik!” Clitch pun pergi meninggalkan ruangan setelah menerima perintah.


Masalah yang datang kali ini terasa lebih berat untuknya menangani ini sendirian. Tidak, lebih tepatnya dia tidak bisa menganggap bahwa masalah ini bisa di atasi dengan mudah.


Selain tidak ada bukti yang konkrit namun jika berita ini sudah tersebar di seluruh negeri maka...


‘Bahkan saya sendirian tidak bisa mencegah adanya perpecahan...’


... Sarion memahami konflik ini lebih baik dari siapapun. Dari sekian banyaknya konflik, baru kali ini dia mendapatkan kasus seperti ini.


Sarion melirik kembali pada judul yang tertulis di koran pada halaman depan dengan huruf kapital yang besar dan menarik perhatian. Dia mengerutkan kening dalam-dalam.


— Saint Baru telah Bangkit, Negeri Barat Kembali Bersinar! Kerajaan Voslandia Kembali Berjaya!


Bangkitnya Saint pada negeri yang lain.


Tidak mungkin, itu tidak seharusnya terjadi.


Sarion memejamkan matanya kuat-kuat dan meremas jari-jarinya, lalu ekspresinya menjadi mengeras dalam kegugupan.


Berita itu mengguncangnya dalam hak kebenaran. Sekarang dirinya mempertanyakan dimana letak kebenaran tersebut. Dia tidak pernah salah dalam prediksi dan itu jelas dibenarkan dengan kemunculan Saint Alvius.


Cukup dengan alasan itu bisa membuatnya tenang. Tapi ini, tiba-tiba dia harus dijatuhkan oleh kebenaran lain.


Saint tidak pernah ada dua.


Di dunia ini hanya ada satu Saint dan tidak akan pernah ada yang kedua.


Dirinya telah pensiun dan menyerahkan gelarnya kepada satu-satunya sosok yang pantas menerimanya. Lalu apa ini? Saint kedua...


Sarion mengambil koran berita utama dan meremas kuat dan ********** menjadi tidak berbentuk rapi lagi kemudian membuangnya penuh kekesalan. Dia menekan pelipisnya kuat-kuat seolah-olah dia migrain.


“Skema apalagi yang kalian persiapkan... Keluarga Royal!”


Dia sudah bisa menduga dalang dari semua peristiwa ini. Benar, Kerajaan Voslandia dan Kerajaan Suci Harvellion lalu dua negara lainnya juga telah membentuk persatuan aliansi jadi besar kemungkinan bahwa ini adalah skenario jahat yang dilakukan keluarga kerajaan.


Tidak ada dalang lain selain yang dipikirkan Sarion.


Sarion menggigit giginya dengan geram. “Mereka mencoba menghancurkan Gereja Suci Lindon secara perlahan dengan mengadu domba melawan Katedral di Kerajaan tetangga!” dia telah lama mengaktifkan mata yang bisa melihat segalanya itu yang tajam seperti bilah.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Konflik ini harus segera di benarkan. Jika begini, maka masyarakat akan...”


Sarion menghela napas keras. Daripada memikirkan itu, dia telah bisa membayangkan seperti apa reaksi dari korban itu sendiri.


“Kehormatan Gereja sedang di permainkan...”


***


Berita itu telah tersebar kemana-mana hingga satu Kerajaan ini tahu tentang itu. Meskipun begitu para rakyat sudah berkumpul di lapangan Gereja Suci Lindon.


Acara akan segera dimulai dan ini tidak lain adalah acara yang penting yang harus di hormati selama puluhan tahun.


Tetapi, itu tidak membuat rakyat yang bimbang bertanya-tanya.


“Apakah berita itu benar?”


“Aku tidak tahu.”


Mereka tepat melihat ke arah anak kecil yang baru keluar dari kuil Gereja dengan jubahnya yang berkibar megah. Dan berjalan dengan Direktur Sarion disisinya, dia tidak lain adalah bintang utama dalam acara ini.


Sarion di sebelah saya berbicara dengan nada rendah.


“Apa kamu tidak yakin baik-baik saja?”


Mendengar itu membuat saya jatuh dalam menjawabnya secara spontan.


“Tentu. Kita sudah sejauh ini dalam acara dan dengan ini kita bisa mengakhirinya.”


Melihat bagaimana reaksi masyarakat sekarang pada saya. Canggung, gugup, bingung, dan cemas menjadi satu dalam diri mereka. Bagi mereka mempertanyakan fakta itu adalah suatu bentuk dosa karena Saint adalah wakil yang dikirim oleh dewa. Tetapi, mereka masih memiliki hak untuk setidaknya mengetahui kebenaran itu.


Kebenaran apa saya asli atau tidak. Benar-benar konyol.


“Saya tidak peduli pada berita itu. Saya hanya perlu melakukan tugas saya untuk membungkam mulut mereka dengan apa yang ada di depan mereka.”


Tetap saja, saya tidak bisa tinggal diam atau berusaha tenang. Tidak hanya masyarakat dari Kerajaan sendiri yang hadir disini namun mereka yang dari negeri tetangga juga menyempatkan waktu untuk datang.


Dan kemudian mendengar berita itu, tentu saja siapa yang tidak kebingungan.


“Saya hanya akan memenuhi tanggung jawab sebagai seorang Saint. Kerajaan Voslandia sangat jauh dari sini jadi kesampingkan mereka dan biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau.” saya diam-diam melirik Sarion. “Keyakinan... Biarkan masyarakat yang memilih dimana mereka harus bepihak. Itulah hak mereka.”


“Kamu benar-benar... Haa... Baiklah lakukan sesukamu.”


Saya tersenyum dan mengalihkan perhatian ke arah lain sambil berjalan bersama Sarion untuk menuruni tangga kuil. Disitu saya melihat Yohan dan juga Heros sedang melakukan tugasnya sebagai penjaga di sekitar bersama senior mereka.


Kadang mereka juga melihat ke arah saya. Sepertinya mereka sangat khawatir dengan keadaan saya setelah jatuhnya berita itu.


Saya berterima kasih karena ada orang yang masih berpihak kepada saya meskipun hanya segelintir jumlahnya. Juga....


Tanpa saya melihat ke atas bangunan kuil, saya bisa merasakan bahwa assassin itu datang lagi dan kali ini dia hanya mengawasi saya dengan sangat antusias — Saya bisa merasakan tekanan tatapannya.


Kami berada di bawah dan sekarang Sarion meninggalkan sisi saya dan menjauh. Kali ini adalah tugas saya tepat di tengah semua pengunjung yang datang dengan berdoa dan harapan.


Bisa terdengar suara bisikan mereka yang saling ragu satu sama lain dan resah bagaimana ini akan berjalan.


Itu memancing saya untuk berbicara. “Sekarang saya akan memulai pemberian berkah.” saya tersenyum rendah dan memesang raut wajah sedih dengan menurunkan pandangan ke bawah.


“Saya tahu bahwa ada berita tidak enak tentang saya. Namun, saya harap kalian memaklumi itu untuk hari ini saja dan tolong panjatkanlah doa bersama demi kelancaran hidup bersama.”


Para masyarakat mulai perlahan tersentuh dan lagi melihat anak kecil yang adalah Saint dengan raut wajah sangat menyedihkan tentu saja membuat mereka ingin menghasinani anak yang malang itu.


Sarion di posisi lain melihat ini bergumam ‘Dia memang anak yang licik.’ pelan.


Yohan hanya tersenyum kecut.


Sementara Heros juga ikut tersentuh dan bersimpati padanya.


Saya tertawa dalam hati dengan suara jahat saya. Sungguh beruntung bisa menggerakan hati mereka semudah itu.


Kemudian saya merentangkan tangan ke depan dan mulai merapalkan doa dan harapan. “Wahai dewi yang melindungi bumi, wahai dewa yang membuat langit dan angkasa. Sebagai bentuk sukacita, kami panjatkan doa ini dan berharap agar dunia ini segera di murnikan. Tolong berkahilah kami para manusia untuk menjadi makhluk yang kuat dan tabah.”


Saya merentangkan tangan ke atas langit dan mengaktifkan kekuatan sihir suci saya. Bersamaan dengan suara kerlipan, bola-bola cahaya berkumpul di antara tangan saya dan semakin lama semakin membesar.


“Aku berikan berkah pada kalian.”


Lalu cahaya itu terbang ke udara dan meledak dengan suara yang lembut dan kristal-kristal cahaya menyebar bagaikan desiran ombak melingkar dan jatuh di atas kepala semua orang.


Semua orang yang telah menyatukan tangan selama ini dan memohonkan doa telah melihat keajaiban itu di depan mata mereka. Inilah sihir suci itu, sihir yang tidak lain adalah lambang dari lahirnya Saint.


Tidak hanya itu saja. Sihir suci itu tidak hanya sebagai objek untuk mencerahkan mereka. Namun, itu memiliki sebuah efek yaitu menyembuhkan mereka yang sakit atau yang lumpuh.


[Melaporkan. Anda menggunakan begitu banyak kekuatan suci untuk semua orang!]


Datangnya pesan dari monitor membuat tubuh saya langsung memucat. Pusing ringan melanda seperti saya kehilangan darah dalam diri saya.


Inilah tanggung jawab saya.


Yohan pada tempatnya yang juga mendapatkan Blessing cemas meski berada jauh dari tempat itu.


Heros merasakan bahwa kekuatan suci perlahan tercerna ke dalam tubuhnya. Dia merasakan kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


Sarion yang duduk di tempat lain bertenda merasa bangga dan senang karena acara berjalan lancar. Dan orang-orang juga tampaknya telah melupakan fakta berita itu walaupun sebentar.


Dan assassin yang selalu mengawasi pusat ini, tepatnya di atas kuil hanya terdiam dengan tenang.


Tapi, mengapa mereka tidak menyadarinya.


Gugugugu guncangan hebat!


[Melaporkan. Aktivitas tidak normal! Keberadaan berbahaya!]


Bahwa di atas langit ada yang mengawasi mereka.