
Pada saat itu juga, ketika dia tersenyum bisa saya ketahui. Ah, dia adalah puncak dari kata ‘Keindahan’.
Pangeran Mahkota Claude La Zariel.
Akibat terlalu tepaku pada paras kecantikan dan ketampanannya membuat saya lupa dan segera menunduk hormat, “Salam yang mulia pangeran mahkota, terima kasih karena sudah mengundang saya.” saya mendongak dan melihat lagi.
Padahal ini adalah kedua kalinya kami bertemu tapi saya tidak menyangka jika Claude memiliki kharisma yang anggun. Bisa dikatakan dia terlahir seperti Lion King sejati.
“Tidak perlu terlalu kaku seperti itu, anda bisa santai Saint. Silahkan duduk.”
Yah, bagaimana saya tidak gugup jika berada di depan calon raja masa depan.
Sesuai yang dia katakan saya duduk di sofa dan kami saling berhadapan satu sama lain. Tanpa basa-basi saya langsung membuka mulut.
“Ada banyak yang ingin saya katakan. Yang pertama adalah mengapa anda mengundang saya? Ini tidak hanya sebuah pesta kecil dimana saya dan anda minum teh bersama dan mengobrol ringan, kan?”
Claude terkikik “Anda benar-benar tidak sabaran. Ah, ngomong-ngomong bolehkah saya berbicara kasual dengan anda. Anda juga bisa melakukannya jadi tidak perlu ada formalitas disini, saya sedikit kurang nyaman.”
Apakah itu hal yang pantas untuk dikatakan dan dilakukan kepada seorang raja masa depan? Saya tidak tahu tentang etika namun saya bukan orang yang kehilangan rasa hormat kepada orang yang lebih tua dari saya.
Tapi, karena ini adalah perintah darinya saya mengikuti sesuai kemauannya, lagipula saya juga berpikir demikian.
“Baiklah jika itu yang and— maksudku kamu inginkan pangeran.”
Claude menyeringai dan mengedipkan mata emasnya. “Ya, terima kasih pengertiannya.”
Untuk sejenak saya mengira bahwa saya sedang di landa suatu perasaan yang aneh, ketika dia bersikap manis anehnya saya merasa tergerak untuk sesaat. Ini pasti kekuatan pesona dari seorang penyihir, sialan.
“Jadi, kamu ingin mengatakan apa?”
Dengan batuk ringan saya kembali dalam kesadaran dan berbicara. “Benar... Kenapa kamu mengundang saya pangeran? Apa ini semacam rencanamu untuk balas dendam?”
“Hmm... Balas dendam? Mengapa kamu berpikir begitu?”
“Karena aku melakukan tindakan seperti menyuruh dan memerintah keluarga royal waktu di dalam dungeon.”
Setidaknya sejauh ini hanya itu yang bisa dijadikan alasan yang sebenarnya. Jika ini juga bukan pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Claude dalam diam menatap saya seperti saya adalah objek karya pahatan. Dia mengobservasi saya.
“Kamu tidak salah. Memang benar jika itu bisa dijadikan alasan, namun aku tidak sedingin itu memikirkan kesalahan dari tindakan yang kamu lakukan waktu itu. Itu adalah keputusan yang tepat.”
“Jika benar begitu, mengapa tidak sejak awal kamu melakukannya?”
“Mhm... Kenapa?” dia menaikkan pandangannya ke atas sembari memikirkan apa alasannya, kemudian dia menyatakannya dengan nada suram dengan seringai kecil liciknya. “Kenapa aku harus melakukannya.”
Langsung seringai pahit muncul di sudut bibir saya mendengar jawabannya. Haha, kenapa tidak. Dia ternyata murni seorang yang telah kehilangan akal sehatnya.
Dasar psikopat gila!
“Mungkin bagi seorang Saint ada 1000 alasan dan cara dalam melakukan tindakan heroik. Tapi, bagi saya tidak. Mengapa saya harus melakukan tindakan heroik terhadap seseorang yang tidak bernilai bagi saya.”
Dia tidak memandang manusia sebagai manusia, semua yang ada di hadapannya hanyalah alat. Jika tidak berguna maka dia bisa kapan saja membuangnya.
“Saya tidak dendam atau marah terhadap tindakanmu waktu di dungeon. Saya berpikir sepertinya itu akan menarik karena itu saya melakukan peran saya. Dan benar, saya melihat sesuatu yang menarik saat mengikuti rencanamu.”
Tidak perlu dilihat lebih dekat, Jean Jacques yang dari tadi berdiri tepat di dekat pintu menjaga perjamuan kami memasang ekspresi suram. Meskipun dia seorang komandan, jika di depan Claude, dia bukanlah apa-apa.
Saya terdiam dan pandangan saya ke bawah. Sementara Claude melanjutkan dengan pentuturannya yang benar-benar mengerikan.
“Memang benar dunia ini akan hancur kita asumsikan seperti itu. Lalu kenapa manusia menyelamatkan manusia? Terkadang itu yang membuatku bingung, dan lagi semua manusia adalah sederajat entah status sosial kita apa, namun jika sudah berada di medan perang. Manusia hanyalah sampah yang pada akhirnya membusuk ketika menjadi mayat.”
Ada tawa dan cekikikan pada nada suaranya dan dia masih melanjutkan.
“Kamu sendiri juga melihatnya waktu di dungeon bagaimana manusia ketakutan hanya karena berada di dungeon. Yah, saya tidak menyalahkan. Namun, apakah kamu tidak kesal saat mereka berbicara bahwa kamu tidak berguna dan lagi tentang rumor buruk tentangmu.”
Sejujurnya dia benar. Siapapun jika sudah di hadapkan dalam keputusan dan kesadaran masing-masing menurut kepercayaan mereka pasti itulah yang dianggap benar. Rumor buruk tentang saya yang palsu sedikit membuat saya tersinggung. Kemudian...
“Apa kamu benar-benar seseorang yang dibutuhkan dunia ini?”
Apakah dia bertanya? Atau itu semacam hinaan?
Dalam diam yang lama dan Claude sudah tidak berbicara. Saya tertawa, saya tertawa sampai keras seperti saya bisa menahan perut saya yang sakit.
“Hahahahaha!!”
Jean Jacques melirik saya dengan tatapan aneh. Dan seperti yang diharapkan dari orang yang sudah gila, bahkan saat saya tertawa dia hanya tersenyum menanggapi.
Bukankah ini menarik, bagaimana tidak ternyata dari pertama saya berada di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa memahami apa yang saya rasakan. Seolah saya sedang melihat cerminan diri saya sendiri.
“Menarik! Haruskah kita lanjutkan dengan minum teh dan beberapa cemilan, yang mulia.”
Orang gila yang lebih gila, sedang berhadapan satu sama lain.
....
Perbincangan mulai menjadi lebih menarik ketika seseorang baru mencoba lebih mengakrabkan diri. Siapa tahu, bisa akrab dengan orang yang memiliki kepribadian yang sama, bukanlah kebetulan belaka.
“Apakah ada hal yang membuatmu begitu gembira hingga tertawa Saint?”
“Tidak...” saya mengelap air mata bahagia saya, “Ini bukanlah hal yang membuat saya gembira yang mulia. Untuk sesaat tadi aku berpikir betapa kamu sangat serius sehingga aku tidak bisa menahan diri, maafkan kelancangaku.”
“Tidak, tidak masalah selagi kamu senang Saint.”
“Ah, begitukah. Kalau begitu terima kasih atas perhatiannya.”
Kami tertawa bersama dan membicarakan semua yang ada di dalam diri kami seolah itu semua adalah hal yang lumrah. Kemudian saat itu kami berdua saling menatap untuk beberapa detik di ruangan ini menjadi senyap dan hening. Lalu yang pertama berbicara yang mengubah suasana suram ini.
“Jika boleh tahu, apakah kamu memang berniat untuk mengundangku dengan basa-basi seperti ini?”
“Hm, kamu benar. Ada alasan utama kenapa aku mengundangmu.” dia menaikkan tangannya seolah mengundang saya dan menyatakan dengan serius, “Saint, kenapa kita tidak bekerja sama.”
“Bekerja sama? Seperti apa?”
Saat Claude menjadi sedikit serius dalam pembicaraan saya hanya bisa penasaran tentang ini. Kemudian dia berbicara seperti ini adalah sebuah bentuk kerja sama.
“Ada sesuatu yang aku inginkan darimu.”
Hm? Tunggu, apa?
“M-maksudnya?” tiba-tiba saja saya menjadi gugup saat membaca raut wajahnya.
“Aku menginginkanmu Saint.”
Apa?! Apa yang pria ini katakan dengan wajah tanpa rasa bersalah dan dengan santai mengatakan seolah itu adalah kebiasaan.
Lihatlah! Bahkan Jean Jacques sendiri ternganga mulutnya terbuka lebar dan matanya seperti akan segera keluar dari tempatnya.
Pertama saya mencoba tenang. Mungkin, saya dan Jean Jacques disini sedikit salah paham tentang maksudnya.
“Y-yang mulia, sejujurnya aku tidak paham. Apa yang bisa saya berikan?”
“Hm? Yang aku maksud adalah aku menginginkanmu dalam hal kekuatan.”
Ah...
Kemudian Claude yang akhirnya menangkap apa yang selama ini saya pikirkan dan Jean Jacques pikirkan salah, dia kemudian tertawa.
“Haha... Memangnya apa yang kamu pikir aku inginkan.”
Jujur saya merasa malu sendiri. Karena itu adalah salahmu! Jangan gunakan wajah sialan itu saat mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang salah paham bajingan!
Baiklah sekarang itu adalah itu. Kembali ke topik utama saya membuka mulut dengan serius ketika mengetahui unsur maknanya.
“Kenapa kamu menginginkan kekuatanku? Bukankah kamu sebagai seorang ‘Wizard’ adalah hal langkah di benua ini dan kamu yang dikatakan sebagai anak jenius berbakat. Apa sebenarnya niatmu?”
“Jangan terlalu serius seperti itu, Saint. Aku sungguh tidak ada maksud lain. Hanya kita gunakan ini sebagai membentuk kerja sama kontrak. Aku menginginkan kekuatanmu dan sebagai gantinya kamu bisa memanfaatkanku. Bukankan itu tawaran yang sangat menarik.”
Apa dia sama sekali tidak punya harga diri ketika mengatakan saya bisa memanfaatkannya.
Ya, sebenarnya itu tidak terlalu buruk untuk sebuah perjanjian kontrak. Masalahnya adalah kenapa dia ingin kekuatan saya, apa yang sebenarnya dia rencanakan? Padahal dia sendiri sudah kuat sebagai seorang Wizard di usia muda.
Tapi, dilihat seperti apapun jika saya bertanya dia tidak akan menjawabnya, saya yakin itu.
Saya menghela napas dan berbicara dengan merengut, “Apa yang bisa menjadi keuntungan untuk kedua belah pihak?”
“Keuntungannya. Aku bisa mencapai tujuanku. Sedangkan untukmu, apapun yang bisa menjadi kemungkinan kamu memanfaatkanku.”
“Benarkah hanya itu? Kamu tidak menyuruhku untuk membuang nyawaku setelah melihat kejadian di dungeon kan?”
“Haha, tentu tidak. Apakah aku terlihat sekejam itu?”
Ya, itulah kamu.
Kesampingkan tujuan apa yang ingin dia capai. Sedangkan jika saya membuat kontrak dengannya dan memanfaatkan namanya bukankah keuntungan yang saya dapatkan jauh lebih banyak ketimbang keuntungan pribadinya. Claude La Zariel, bukan seorang pangeran biasa, melainkan calon penguasa negeri ini.
Saya menyeringai melihat sebuah kesempatan besar ini datang bagaikan sumber jackpot.