The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 49: SESUATU YANG DI NANTI



“Hei, bajingan kecil. Apakah si Dryad itu menghubungimu?”


“Tidak. Kurasa dia akan segera menghubungiku.”


Sudah dua hari tidak ada berita yang datang dari July, itu membuat Veronica seakan dia yang khawatir daripada orang lain. Diam-diam Veronica mengambil matanya untuk menggoda dan memancing saya dengan cekikikan menghina.


“...Tidakkah kamu berpikir dia mungkin menipumu?”


“Tidak, dia tidak menipuku.”


Reaksi itu menghancurkan imajinasinya yang gagal untuk membuat saya marah.


“Bagaimana kamu bisa yakin dengan itu?”


Lalu dia berganti menjadi pertanyaan yang terheran.


“Aku merasakannya. Saat ini dia sedang melakukan tugasnya.”


“Benarkah?”


“Mhm.”


Memikirkannya sejak dulu. Veronica penasaran bagaimana bisa seorang anak kecil memiliki kekuatan sebesar itu. Lalu dengan sebuah pertanyaan yang menjadi maksud ‘mengerti’ seolah benar anak ini mungkin bisa merasakannya karena sebuah ikatan.


‘Tunggu, bukankah itu...?!’


Veronica segera memeluk dirinya sendiri dengan wajah menjijikkan melihat saya.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi, maaf aku tidak tertarik melihat tubuhmu.”


“Apa?!” merasa terhina dengan itu Veronica memekik kesal.


“Lagipula aku tidak bisa melihat langsung, aku hanya merasakannya saja dalam hatiku. Tidak lebih. Jadi hilangkan khayalan anehmu.”


“Cih, kamu tidak seru sekali.”


“Eh? Apa kamu baru saja ingin mengajakku bercanda?”


“Lupakan!”


Meludahkan itu Veronica menyilangkan tangan sombong dan menghentakkan kakinya beberapa kali. Saat dia kehilangan kata lagi dia akan menghentakkan kakinya seperti itu, adalah kebiasaan yang dia sendiri tidak sadar.


Dan benar saja, dia memang sengaja ingin membuat suatu gurauan kecil untuk mengganggu saya namun karena dia malu dia mendecikan lidah seolah malas lagi.


Kenapa dia ingin bercanda dengan saya?


“Dari tadi apa yang kamu lamunkan?”


Berganti tujuan untuk suatu kehadirannya disini, Veronica serius bertanya.


“Aku tidak melakukan apapun.”


“Karena itu, itu aneh jika kamu tidak melakukan apapun.”


Saya meliriknya kecut.


‘Apa yang wanita ini bicarakan? Jujur ketika aku bergerak dia akan marah dan ini aku diam dia juga tidak suka? Aku tidak paham.’


Sejak tadi saya hanya selesai dari pelajaran saya dan pergi untuk duduk menikmati hari di taman dan bersantai sejenak. Tapi, dia muncul dan tiba-tiba membuat gurauan aneh. Bukankah yang aneh adalah dia.


Saya menatapnya dengan menaikkan alis kanan saya dan membuang napas menyudahinya.


Lagipula Veronica tidak salah.


“Lalu kenapa kamu disini? Apakah kamu tidak ada pekerjaan?”


“Hei, bajingan apa pertanyaanmu itu tulus? Apa kamu lupa aku sekarang bekerja untuk siapa?”


“Ingatlah aku tidak akan membayarmu.”


“Aku tidak minta dari anak kecil!”


Untuk sesaat Veronica menggaruk belakang kepalanya tanpa mengoceh. Meskipun dia bersikap kasar atas perilakunya, dia sama sekali tidak pernah menunjukkan bahwa semua yang dikatakannya sia-sia. Dia wanita penuh landasan ke depan.


Kami bertukar pandang untuk detik ini, ada kerutan di dahinya dan Veronica membuka mulutnya.


“Hei, apa ada masalah?”


Dia dengan tenang duduk di sebelah saya dengan kakinya disilangkan. Dia memandang ke depan, entah apa yang saat ini dia pikirkan. Kami berdua tidak saling menatap lagi.


“Tidak ada.”


“Begitukah...”


“Apakah aku harus terlihat bermasalah?”


“Kekosongan apa itu...”


Anehnya saya terkekeh dengan itu.


Meskipun terkadang dia selalu saja kasar dan sombong. Apalagi dia selalu memanggil saya dengan sebutan ‘Bajingan kecil’. Untuk saat ini kami hanya membicarakan sesuatu yang normal.


Apakah seorang assassin pada awalnya seperti ini?


Saya ingin bertanya. Tapi saya tahan karena takut mengusik perihal masalah pribadinya dan membuka luka.


Lalu untuk sejenak mulut saya berbicara dengan slogan hidup.


“Hei, aku juga menanggung dosamu, ingat.”


Veronica melebarkan matanya segera dan mencari wajah saya. Hanya ekspresi tenang dari saya yang bisa dia lihat dengan jelas. Mengatakan ini mungkin terdengar aneh, tapi bukankah itu yang ingin dia dengar sejak pertama kami bertemu.


Mungkin Veronica menebak-nebak, apakah itu wajah poker yang dia pasang saat ini?


Mengabaikan pikirannya itu, Veronica menjawab dengan nada rendah.


“Ya, aku tahu.”


Untuk itu Veronica menggemeretakkan giginya. “Apakah terlalu berat?”


“Tidak sama sekali. Ini lebih baik seratus kali daripada harus menghunuskan pedang, kamu tahu.”


Pertama adalah untuk yang selama ini Veronica cari, saya mengangkat kepala melihat langit.


“Mungkin sekarang aku tidak bisa menggajimu. Tetapi, aku berjanji akan memberikan bayaran yang setimpal dengan kerja kerasmu.”


Ekspresi Veronica terjatuh ketika dia mengigit bibirnya. Dia berpikir, apa semua dosa sejak awal bisa di bagikan dengan mudah?


Tangannya berlumuran darah bahkan sebelum mengenal saya. Apakah karena dia terlalu awal memulai menjadi pembunuh? Tidak, ini bukan soal cepat atau lambat.


Pendirian miliknya yang telah merubah konsep personalitasnya untuk memerankan peran seorang Anti-hero dan memberikan kelangsungan hidup alih-alih sebagai bayangan.


Ada alasan di balik semua pencapaiannya.


Veronica menghembuskan napas yang menjadi uap di udara.


“Apakah menurutmu aku kuat?”


“Benar. Jika tidak aku tidak akan merekrutmu.”


“Haha, apa-apaan itu.” kemudian dia terkekeh membungkuk lalu meregangkan tubuhnya.


Tak lama setelah itu dengan ‘Guguguh’ pusaran angin topan, July si Dryad muncul di depan kami dan membawa berita bagus. Begini katanya.


[Para dwarf setuju bertemu denganmu. Tapi, kamu harus pergi ke desa dwarf untuk melakukan interaksi lebih. Dwarf tidak mau mengunjungi manusia jika bukan untuk kerja sama. Itulah kata Kepala Ketua Dwarf.]


“Begitu saja sudah cukup, terima kasih kerja kerasmu July.”


July mengangguk dengan elegan.


Disusul dengan kemunculan July, seseorang dari jauh berteriak memanggil saya.


“Al!”


Itu Yohan. Lalu di sampingnya yang tak mau kalah, ada Heros yang melambaikan tangannya dengan wajah cerah.


Ya, mereka akan selalu seperti itu. Tidak hanya mereka berdua. Perlahan dan pasti, hubungan ini akan membawa perubahan besar nantinya pada semua orang.


‘Apakah itu layak untuk dinanti?’


Entahlah. Saya meringankan leher saya dan melirik satu-satu pada teman-teman ini.


Membuat saya tersenyum sendiri dan menyadari sesuatu.


‘Mungkin... Hanya kemungkinan, tapi itu layak untuk di nanti.’


...Kenyataan yang akan saya dan yang lain hadapi bukan sebatas satu atau dua hal mudah.


Pikiran itu terkadang menjadi tempat seberkas cahaya tinggal namun hanya singgah untuk sementara.


Dan saat itu sudah menjadi bagian dari diri saya karena bekas yang ditinggalkan. Setidaknya biarkan saya tertawa keras jika ada kesempatan sendirian. Karena pada saat ini bagian itu sudah membuat saya menjadi pribadi yang bahagia bahkan jika ratusan luka di tunjukkan pada saya.


Entah itu untuk memperlihatkan seberapa kejamnya dunia ini, seberapa keras reinkarnasi ini terlalui, walau ada mata jahat yang mengawasi. Tatapan itu akan saya tatap kembali dengan mengorbankan nilai takdir.


Lalu kemudian...


Jika pada saat 'itu' tiba nanti.


...Biarkan aku menghilang dengan caraku sendiri.