
Di tempat Cedric, seseorang mendatanginya.
“Tuan Cedric dimana Tuan Reich?”
“Ah, dia sudah mati.” dengan dinginnya Cedric melantunkan itu seperti mengatakan suatu kenistaan.
“Iya?”
“Dia mati. Apa kamu tuli?”
“B-begitu, baiklah.” sampai orang yang berbicara ini tidak bisa berkata-kata dan sedikit berpikir, apakah berita orang mati bisa setenang ini?
Tanpa basa-basi, Cedric yang merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh rekannya ini membuka mulutnya.
“Jadi ada laporan apa?”
Lalu mereka berdua berjalan sedikit ke sisi yang lebih sepi dari suara kebisingan dan memulai pembicaraan yang serius. Wajah Cedric seperti seseorang yang mempelajari semua yang dikatakan rekannya itu seperti sebuah penelitian.
“Terakhir, bagaimana langkah kita selanjutnya?”
“Apa lagi, karena Reich sudah mati tidak ada yang bisa mencegah kita. Setidaknya jalan kita sedikit di permudah. Lanjutkan tugas kalian dan terus tekan musuh-musuh kita. Setelah itu perintah dari Pangeran akan kita lakukan.”
“Bagaimana dengan mereka yang disandera?”
“Mereka akan baik-baik saja. Reich telah mati dan sihir yang diikat pada leher mereka telah hilang. Hanya tinggal bajingan gila itu sadar saja.”
“Apa kita akan berangkat sekarang untuk menjalankan operasi berikutnya?”
Untuk pertanyaan terakhir ini Cedric tidak menjawab secepatnya, melainkan dia melihat ke arah lain, pandangannya seperti mencari-cari sesuatu dan ketika dia menemukan apa yang dicari dia sedikit lega.
Veronica yang sedang diobati dan diperban lukanya duduk di atas batang pohon dengan rekan-rekannya yang masih sadar dan dibantu oleh kesatria yang membalut luka mereka.
Menyadari tatapan Cedric, Veronica melihatnya juga. Kemudian Cedric tersentak dan anehnya dia menjadi gugup dengan bunyi berdeham kecil.
Veronica mengirim sinyal dengan menggerakkan kepalanya dan dijawab Cedric dengan gelengan kepala.
Merasa kesal akan itu, Veronica mengerutkan keningnya dan karena tangan kanannya tidak melakukan apa-apa, itu terangkat dan memberi Cedric jari tengah.
Setidaknya dengan itu Cedric tertawa seperti orang yang kerasukan.
Veronica mendecikkan lidah dan berhenti melihatnya dengan gumaman kekesalan.
‘Aku harap bisa bertemu denganmu lagi di lain waktu. Karena saat bersamamu itu terasa menyenangkan dan hidup.’
Dengan itu Cedric memberi jawaban singkat. “Ya, kita lakukan.” lalu kemudian dia pergi bersama rekannya tanpa melakukan salam perpisahan dengan yang lain.
Sesaat Cedric pergi Veronica yang melihat dia pergi menghela napasnya.
Rekan di sebelahnya berbicara.
“Pemimpin kapan kita akan kembali.”
“Secepatnya. Kamu tahu jika bajingan kecil tidak akan suka menunggu lama, dan setelah perjalanan ini kita akan melakukan pekerjaan lagi. Itu merepotkan dan ingin sekali saja aku membuat bajingan kecil itu pingsan.”
Mengatakan isi hatinya di tempat ini membuat rekannya sedikit canggung dan terkekeh kecil. Jika dia membencinya kenapa mengikutinya? Setidaknya itu yang bisa dipikirkan ketika melihat tingkah Veronica.
“Kita sudah mendapatkan apa yang menjadi tugas kita dan juga, ada drop dari penyelesaian dungeon.”
“Apakah Pemimpin akan memberikan itu juga?”
“Ya, lagipula itu tidak berguna untukku.”
“Tapi bukankah jika dijual itu mahal.” rekannya bahkan sampai ragu-ragu untuk mengatakan itu saking tegangnya dia dihadapan Veronica.
“Yah, mungkin...” tidak ada waktu mengelak seakan dia setuju dengan itu dan menipu pikirannya sendiri.
Tidak, Veronica memiliki niat sendiri kenapa dia melakukan itu.
‘Bajingan kecil akan senang jika aku memberikan hadiah. Karena aku rasa aku sudah menggunakan banyak kekuatan dan tidak mungkin aku bisa menghadap di depannya dengan tenang.’
Dia hanya tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika sudah kembali nanti.
***
Ketika saya terbangun saya melihat interior dinding yang tua, dengan diri saya terbaring di ranjang di selimuti oleh kain yang kusut dan aroma yang bisa menjelaskan tempat ini.
“Saint Alvius kamu sudah bangun?”
Suara tegas dan serak datang masuk di telinga. Saya menoleh untuk menemukannya, jika tidak salah namanya adalah Roy dan di sampingnya ada juga Theo.
Dua Paladin ini apakah sejak tadi ada disini menemani saya?
Ini memalukan untuk dikatakan. Saya bangkit dari tidur saya dengan keadaan migrain hebat menyengat di dalam kepala saya dan pergerakan tubuh saya menjadi lemas dan sedikit tidak bertenaga.
Lalu Roy yang duduk di kursi sebelah ranjang memberi saya segelas air putih.
“Saint minumlah.”
Sejenak saya tidak menerimanya, namun melihat keadaan ini saya mengambilnya dari tangan Roy dan meminumnya perlahan.
“Terima kasih.” ucap saya dan Roy mengambil gelas air yang kosong dari tangan saya dan meletakkan kembali ke meja.
“Apakah anda masih tidak enak badan? Apakah sebaiknya kita berhenti disini dan kembali?”
Mengingat itu. Sepertinya saya bisa dengan jelas mengangkat kenangan itu di dalam kepala saya mengapa saya menjadi seperti ini.
Itu ketika monitor mengeluarkan reaksi tiba-tiba. Menggunakan kekuatan untuk menyembuhkan anak-anak panti asuhan sudah bisa dikatakan menguras kekuatan sihir karena bagaimanapun penyakit yang di derita mereka tidaklah penyakit ringan, melainkan ganas.
Kemudian pesan dari Veronica muncul ketika keadaannya terdesak. Untuk membayangkannya saja mudah, kemungkinan dia disana sedang kesulitan. Tapi, apakah keadaannya sampai membuatnya menguras energi orang lain.
Saat dia pulang nanti saya rasa perlu sedikit menceramahinya.
Marah juga tidak berarti, jika keadaannya sampai membuatnya bertindak mengeluarkan kartu truftnya, itu artinya kehidupan dan kematiannya dipertaruhkan.
“Kita lanjutkan saja ini.”
“Tapi, keadaan anda kurang baik.”
Itu nada lembut yang datang dari Roy, wajahnya begitu mencemaskan keadaan saya, saya heran dan ingin bertanya mengapa dia begitu memperhatikan saya. Di samping itu, Theo di sebelahnya mengangguk setuju dengan opini Roy.
Berpikir untuk ini saya merasa sedikit menyebalkan.
“Ini panti yang ke berapa?”
“Ini terakhir.”
“Lihat. Jadi mari selesaikan dan pulang.”
Segera saya beranjak dari ranjang dan keluar bersama kedua orang ini. Di sana saya masih melihat satu ruangan dengan pintu terbuka lebar yang mana para anak-anak berkumpul dan saat mereka melihat saya...
Itu menjadi suasana yang sedikit canggung dan tegang. Tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka dan hanya bisa menarik baju bawah mereka dan meremas tangan mereka sendiri.
Mengapa? Apakah saya menakutkan?
Saya tidak peduli dan masuk ke dalam. Kemudian saya memulai kembali tugas untuk menyembuhkan dan menyentuh dahinya.
Sekali lagi saya memfokuskan energi saya untuk mentranfernya ke dalam tubuh anak-anak.
‘Ini sulit. Karena saya masih belum benar-benar merasa baikkan setelah pingsan, perasaan berat memberi saya teror pusing.’
Saya mengernyitkan mata perih.
“Saint anda tidak perlu memaksakan diri.” kata dari pengurus panti asuhan, kali ini di tempat ini ada dua pengurus, satu pria dan wanita yang paruh baya.
Diam-diam saya menatapnya dan menjawabnya. “Tidak apa, apakah ini anak yang terakhir.”
“Ah, di sebelah sana adalah anak terakhir. Dia sedikit kesulitan dan usianya baru beranjak remaja jadi untuk sakit baginya itu sangat membuat anak-anak lain yang menganggapnya seorang kakak sedih.”
“Jadi karena itu...”
“Ya?”
“Tidak. Saya akan menyembuhkannya.”
Mendatanginya. Anak dengan usia sekitar sekolah menengah pertama terbaring sakit dengan wajah yang terlihat menderita.
Itu adalah penyakit yang sama dengan lainnya. Namun mengapa dia nampak lebih menderita.
Satu hal yang bisa saya pastikan, urat di tangan dan lehernya menjadi hitam. Anak ini meronta tidak tenang seolah mengalami mimpi buruk terkelam.
Dan anak-anak...
“Tuan Theo tolong bawa anak-anak untuk tidak melihat ini sebagai tontonan.”
Saya langsung memerintahkan Paladin Theo untuk membawa anak-anak kecil itu dari sini. Bagaimanapun melihat ini adalah sesuatu yang tidak akan bisa dikatakan sebagai pembawa kesenangan. Ini adalah mimpi buruk.
“Kakak, kakak Ray...”
Namun ada satu yang masih bisa bertahan untuk tetap berada di sisinya.
“Kamu tahu ini bukan tontonan, kamu harus menjauh dari sini.”
“Tidak! Kakak Ray, dia akan...”
“Aku akan menyelamatkannya jadi berhentilah menangis.”
Pertama-tama ini sedikit berbeda dengan yang lain. Kenapa? Padahal Appraisal menilai penyakit yang sama.
[Melaporkan. Keadaan abnormal dalam kemampuan di dalam tubuh pasien. Inti kekuatan sihir di dalam tubuh pasien kacau dan menyebar ke seluruh tubuh pada sumber penyakit.]
Yang keluar dari suara monitor benar-benar mengkhawatirkan. Saya sedikit merengutkan dahi, ini akan menjadi masalah jika tidak ditangani.
Pelan saya menghela napas kemudian melirik pada Paladin Roy dan dia segera membantu saya dengan memegangi tubuh anak ini yang meronta kesakitan.
Disaat saya akan melakukannya tiba-tiba...
“J-jangan sembuhkan aku!!”
Saya terkejut. Tidak, kali ini benar-benar tanpa sebuah gimmick yang dibuat. Jadi saya melihat anak ini, meskipun kesakitan luar biasa dia rasakan dia bisa membuka mulutnya.
Anak-anak lain yang mendengar itu, yang masih ada di dekat pintu keluar sana menangis dengan isakkan.
“Kenapa kamu tidak ingin disembuhkan?”
Tidak ada respon, hanya erangan sakit yang bisa saya dengar.
“Kamu akan mati jika tidak segera disembuhkan, apakah kamu yakin dengan itu?”
Meskipun kata-kata saya terdengar tidak punya hati, namun ini tulus.
“Anak-anak sedang menunggumu.”
Melirik ke arah anak-anak saya ingin sekali pergi dari sini untuk mencari ketenangan. Saya benci suara tangisan mereka yang terlalu lama ini.
Kemudian saya mendekat ke arah telinga anak ini dan berbisik kepadanya. Untuk bisa membujuknya ini adalah caranya...
“Jika tidak ingin mati maka diamlah. Aku akan mendengarkan keluhanmu nanti dan seluruh alasannya. Kamu tahu, aku ingin tahu rahasia panti asuhan. Bekerja samalah denganku dan akan kupastikan untuk menjamin hidupmu.”
...Kebusukan adalah yang mana tidak bisa diperlihatkan pada siapapun.
Setidaknya yang mengetahui kebusukan itu harus tetap hidup dan dimanfaatkan dengan baik.
Anak ini adalah ladang penghasilan kedua saya.