The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 70: ANTARA DELUSI DAN PRINSIP (2)



Kerumunan tidak membiarkan saya pergi. Sepertinya pria jangkung ini memiliki nama Edgar di belakangnya jadi saya membiarkannya melakukan apa yang sedang dia lakukan padanya.


Hanya... Saya tenang di gendong olehnya.


Tidak. Saya hanya tidak bisa menahan rasa malu ini selamanya.


Tanpa berlama-lama lagi seseorang mencabut saya dari tangan Edgar dan pindah kubu.


“Hei apakah dia benar-benar Saint? Tidak mungkin dia semanis ini. Biarkan aku menyuapinya biskuit.”


Lalu biskuit datang dari tangan wanita ini. Biskuit dengan coklat di atasnya. Ah, choci chip persegi. Hanya itu yang bisa saya lihat dari yang dia lakukan. Tapi, wanita ini tidak memberikan secara cuma-cuma.


Dia beraninya menyuapi saya dan berkata ‘Ah’ menyuruh saya membuka mulut.


Meredam kekesalan ini benar-benar butuh kebesaran hati yang luar biasa. Jika unsur atribut saya menyala pasti saya sudah membakat semua yang ada disini sekalian.


Melihat reaksi yang lain saya hanya bisa pasrah dan mencoba tenang menerima dengan baik.


Sejujurnya saya berpikir ini tidak buruk, jadi saya menanggapi dengan membuka mulut.


“Ah...”


Kerenyahan biskuit bisa di dengar ketika masuk ke dalam mulut saya yang hancur saat mengunyahnya. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana teksturnya, tapi ini enak.


“Kyaa, manis sekali.”


Baiklah nona anda menang. Jika lain kali ini terjadi ketika saya dewasa saya pasti memotong upah anda sebagai Penambang dan membuat anda resign terlebih dulu.


Kemudian ini berlanjut dan biskuit terus di masukkan ke dalam mulut saya seperti mulut saua terbuat dari brankas dimensi.


Bajingan ini berapa banyak biskuit yang mereka punya.


Tidak hanya itu, yang lain dengan gurauan berani menawari saya anggur wine.


Saat itu jiwa saya seakan bangkit dan ingin mengambil gelas dan meneguknya. Tapi pikiran dalam saya berusaha menghentikan saya sebelum terlambat.


“Hei, apa kamu mau mati hah! Memberikan anak kecil wine dasar gila. Jangan beri dia minuman bodoh, kita beri dia permen anggur saja.”


Itu sama nona keduanya memabukkan.


Saya menghela napas panjang di tangan saya ada anak anjing yang kebingungan sementara saya duduk nyaman di pangkuan wanita ini dan terus berganti lagi di kubu lain beberapa kali seperti saya adalah boneka porselen.


Disitu saya melihat Veronica.


Ah... Tertawalah kamu bajingan. Selesai dari sini kamu tamat.


Dan ini berlangsung selama satu jam penuh.


Pada detik itu akhirnya Veronica turun tangan dengan melemparkan pisau ke arah meja. Semua orang diam seketika. Tapi wajah Veronica menjadi aneh. Dia menahan tawa dan juga berusaha untuk tidak tertawa disaat bersamaan. Jika mau dia bisa meledakkan busa mulutnya.


“H-hei lepaskan dia. Dia kesini, pfft.. Dia kesini untuk urusan.”


Dengan lembut orang yang menggendong saya menurunkan saya dengan bunyi ‘Hup’ dan dengan ringan kaki saya menyentuh lantai lagi.


Saat pipi saya penuh dengan makanan ringan di mulut, saya berusaha mengunyah mereka terlebih dahulu sebelum angkat mulut.


Bahkan belum saya mengatakan apapun, suasana segera berubah.


Suara meja di rapikan terdengar berantakan. Semua orang berdiri berbaria dan detik itu juga semua berlutut bahkan termasuk Veronica di depan saya.


“Kami memyambut kedatangan Saint mulia!”


“Ya. Angkat kepala kalian dan berdirilah.”


Menyudahi salam kehormatan ini. Ada senyum di wajah semua orang seakan mereka terbahagiakan hanya dengan ini.


“Dimana orang yang terluka?”


“Apa?”


“Itulah alasan aku datang ke tempat ini. Aku ingin menjenguk orang-orang yang terluka dan mengobati mereka.”


Veronica sedikit bingung dan acuh sejenak. Dia berpaling untuk memindai sekitar dan sekarang dia mencapai kesimpulan.


“Mereka di lantai atas. Tapi tunggu, apa maksud kamu mengobati mereka?”


Apa yang orang ini katakan?


Kerutan muncul di alis saya ketika saya mendengar komentar Veronica. Tapi tidak hanya itu, kritik mulai berjatuhan. Dan itu di mulai dari pria jangkung, Edgar.


“Permisi Saint. Mungkin ini terdengar tidak sopan. Tapi, kami tidak membutuhkan hal semacam itu.”


Apa?


Sekali lagi saya merasa ada perasaan aneh dengan kalimatnya.


Dengan ekspresi dingin dan senyuman Edgar melanjutkan seolah dia sudah hampa di sana.


“Kami tidak butuh yang namanya pengobatan.”


Sungguh suatu yang tidak terduga.


“Kami mantan Shadow. Meskipun kami sudah tidak beraktivitas sebagai Shadow. Tetap prinsip kami masih kami junjung tinggi. Pasalnya yaitu, ‘Setiap luka kami adalah ciri dan bentuk kerja keras kami. Tidak peduli sebesar apa luka itu, bahkan kematian sekalipun.’ begitu.”


Jadi jika saya campur tangan itu artinya etis saya dipertanyakan utuh. Menurut yang Edgar katakan adalah bahwa saya tidak perlu ikut campur dengan dalih prinsip yang telah mereka bangun sejak masa fondasi mereka.


“Kami akan membiarkan luka kami sembuh sendiri meskipun itu menyakitkan. Luka ini adalah kebanggaan kami jadi...”


Sementara Edgar berbicara yang lain setuju dengan mengangguk bahkan tertawa seperti ini rutinitas biasa yang wajar.


Dimana letak moralitas bisa dikatakan normal, disisi ini itu sebaliknya. Mereka tidak segan membuangnya jika diperlukan. Tapi, sungguhkah itu sesuai fatamorgana yang mereka lihat.


Tidak... Kehidupan itulah yang membuat mereka tetap hidup.


Shadow yang dipimpin Veronica, lebih bebas dari yang lain.


“Apa yang kamu katakan?”


“Ya?”


Sasasasah!!


[Melaporkan. Kekuatan sihir dilepaskan tanpa arah!]


Ledakan kekuatan sihir keluar meraung dari tubuh saya. Percikan debu api naik sampai puncak dan gelombang angin menyapu semua barang di tempat ini bahkan yang terberat.


“H-Hei bajingan kecil apa yang kamu lakukan?!”


“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu katakan tadi huh?”


Faktanya itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa kalian banggakan. Saya bisa menghormati, tapi tidak dengan hal gila.


Kehilangan akal karena tekanan kemarahan saya membuat ledakan tidak normal pada kekuatan sihir saya yang seolah lepas kendali. Meskipun sengaja, ini terlalu kuat di tahan mereka.


Saya menurunkan tekanan secepatnya.


“Kalian bekerja di bawahku. Aku mengkui jiwa patriotisme kalian yang kalian banggakan. Cukup membuat terkesan. Tapi, sadarlah itu tidak berguna bahkan di hadapanku.”


Berikutnya kata-kata saya menjadi sangat dingin layaknya sihir bertekanan tinggi hingga membuat mereka kelam.


“Mati atau tidak. Terluka atau tidak. Jika kalian bekerja di bawahku kalian tidak diizinkan sekalipun memiliki pikiran seperti itu. Pekerjaan kalian sebagai Shadow berakhir. Namun aku tidak mempermasalahkan selama kalian giat bekerja.”


Lalu melanjutkannya dengan memberikan penekanan pada kalimat saya seseorang bahkan ada yang menelan ludah sendiri.


Bahkan sejak masa saya menjadi kontraktor saya dengan ketat tetap mempertahankan kinerja saya apapun yang terjadi.


Itu karena semakin peradaban berkembang nilai kontraktor seperti saya akan relatif cepat, mudah tersingkir.


“Hidup kalian tidak mudah jadi aku mengulurkan tangan. Tapi kalian menolak.”


Tentu saja bahkan Veronica tidak punya hak menolak. Secara memberinya kewajiban saya tetap memberikan keringanan padanya.


Dan dia berhak untuk berkata tidak.


“Veronica...”


Ketika saya menyebutnya dia langsung terkesiap.


Bukankah ini seperti seorang pekerja yang siap dimarahi oleh pimpinannya.


“Aku menghormati prinsipmu. Tapi jujur aku tidak suka. Jadi ubah itu meskipun hanya satu atau dua baris kata, atau bahkan huruf.”


Ada ketegangan di raut wajahnya namun dia tidak menjawab dan tidak ada rasa menyesal sama sekali.


Itu cukup. Bagi saya mengatakannya sudah membuat rangsangan pada pemikirannya untuk sedikit dirombak, kemana arah logikanya berjalan.


“Hei, kamu. Antar aku ke tempat yang terluka.”


Edgar terkejap dan melirik yang lain. “T-tapi...”


“Apa kamu tidak dengar?”


“B-baik.”


Saya di pandu oleh Edgar. Kemudian Veronica yang ingin mengikuti segera saya hentikan.


“Kamu tetap disini dan istirahatlah. Aku sudah bilang padamu itu tapi kamu tidak mendengarkan.”


Veronica terdiam sesaat ada sedikit kegugupan dimatanya.


Saya menajamkan sedikit retina tidak tertarik menatapnya. “Terkadang aku berpikir bahwa, aku tidak suka seseorang yang tidak menurut.”


Anak anjing di tangan saya bahkan terkesiap.


Melanjutkan jalan saya di pandu Edgar. Suasana ruangan yang awalnya ramai ini berubah menjadi hampa dan dingin hanya dalam beberapa menit saja.


Di lorong lantai atas Edgar ragu-ragu membuka mulutnya.


“A-anu Saint... Aku tahu ini kurang sopan. Tapi, tolong jangan menekan Pemimpin seperti itu. Dia adalah yang telah membantu kami semua.”


“Aku tahu bahkan tanpa kamu mengatakannya.”


Jika tidak maka kenapa aku repot-repot menanggung beban yang sama dengannya.


Ini adalah sebuah taruhan yang berupa win-win jadi kami sama-sama di untungkan. Selama itu berlaku, bagi saya Veronica adalah karakter penting yang saya butuhkan.


“Jika itu Saint yang mengatakannya entah kenapa aku jadi lega.”


“Syukur kalau begitu.”


“Ahaha... Disini kamar mereka yang terluka.”


“Buka pintunya.”


Begitu Edgar memutar ganggang pintu dan membukanya saya melihat kamar dengan 8 ranjang saling berhadapan dan di atas kasur ada beberapa yang terluka, bisa di bilang yang cukup parah dari sekian banyak Shadow.


Saya sempat memindai Edgar dan dia mengalamk cedera dan luka-luka ringan. Tapi dia juga perlu pengobatan.


“Kalau begitu aku akan meninggalkan kamu—”


“Kamu mau kemana? Kamu juga perlu di obati jadi duduk dengan tenang disana.”


“Baik.”


Dengan cepat dia duduk dan patuh di atas kursi bulat kecil dengan tetap menegakkan punggungnya.


Saya meletakkan anak anjing ke lantai agar dia bisa berkeliaran sebentar.


“Mereka semua cukup parah.”


Memindai mereka satu-satu memang cukup, Appraisal tidaklah menipu.


Luka sayat besar, beberapa ligamen pecah, organ dalam tertusuk, jantung lemah, pernapasan membran pada paru-paru lemah dan ada kotoran darah menumpuk dan menggumpal akibat racun.


Semua luka fatal dan itu secara signifikan telah dipastikan.


Ah, jika tidak diatasi dengan cepat mereka akan mati.


Saya langsung memulai metode penyembuhan biasa saya di mulai dari ranjang barisan pertama.


Kekuatan sihir saya cukup setidaknya untuk menyembuhkan mereka. Ini tidak seperti saya akan memanaskan terlebih dahuli tenaga dalam saya saat menyembuhkan anak-anak panti asuhan.


Skala ini tidak jauh dari kata lumayan normal. Semaksimal mungkin saya berharap bisa menyelamatkan mereka dari rasa sakit ini.


Edgar yang hanya duduk tenang di sana memandang dengan terkagum dan wajahnya berbinar-binar. Jika itu dia saya yakin dia akan terkejut sampai pingsan ketika saya menggunakan kekuatan saya yang lain.


Kekuatan sihir saya perlahan-lahan diserap. Sebagai aliran dan sirkuit yang datang yang mengalir di sekitar nadi mereka itu cukup mentransfer kesucian saya ke dalamnya dan mendominasi.


Sinergi kekuatan suci berbeda dengan sihir. Tentu saya mengakui sihir itu kuat. Tapi, seorang Saint adalah pengecualian.


Jadi berbeda dengan Priest. Saint istimewa dan hanya seorang saja yang mampu melakukan sihir tingkat legenda seperti ini. Layaknya membangkitkan orang yang mati.


Saya menghirup dan membuang napas ketika saya merasa telah cukup menyembuhkan mereka.


“Mereka sudah sehat. Sekarang mereka sedang dalam pemulihan, dalam dua atau tiga hari mereka pasti bisa beraktivitas seperti sedia kala.”


Ada tepuk tangan kecil kekaguman datang disisi Edgar. Saya meliriknya dan mendekatinya.


“Giliranmu.”


Saya mengulurkan tangan dan mendalami uluran tangan saya, Edgar meletakkan kepalan tangannya di atas telapak tangan saya.


‘Apakah dia anjing?’


Tidak, anjing saya cukup satu.


Kekuatan sihir saya mengeluarkan sirkuit terang dan lingkaran lapisan sihir menguasai untuk menjangkau seluruh tubuhnya dari dalam.


“Waah...”


Dengan bunyi menakjubkan itu matanya berkilauan dan bibirnya melebar.


“Sudah. Jika kamu merasa ada gejala lain katakan saja sebelum aku pergi.”


“Tidak ada sama sekali. Terima kasih banyak.”


Sigap Edgar berdiri dan menundukkan kepala. Tanpa sadar tangan saya ingin mengelus kepalanya. Dasar anak ini.


Masalah lainnya adalah...


[‘Clarity Shadowless, Veronica Vrada’ Mempertanyakan prinsipnya!]


Ah, sialan.