The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 81: ELDER OF DWARF



Tetapi, Alih-alih dia merasa senang, nampaknya Mouris juga menyadari ini lebih jelas daripada apa yang orang lain pikirkan.


Mungkin Dwarf bisa hidup selama ratusan tahun, tetapi sampai kapan mereka terus bersembunyi? Mouris tahu, cepat atau lambat hingga waktunya tiba mereka akan berinteraksi kepada dunia luar.


Celah dinding ini hanya bersifat sementara dan tidak mutlak.


July saja paham, dunia ini sudah tidak bertahan lama dan kekuatannya pasti juga merasakannya. Karena dia adalah Dryad.


“Tapi, manusia yang masuk ke tempat Dwarf... Ck.”


Ada decikan lidah datang dari Mouris. Meskipun suara mesinnya keras namun suara decikan lidahnya bisa kami dengar. Mungkin ini intuisi tajam kami yang mengidentifikasi kebencian murni. Namun, alih-alih kesal saya bertanya.


“Seperti yang tuan Mouris katakan kalau kota Tenstheon tidak memakai sistem pemerintah yang berdaulat. Namun, bagaimana dengan kepemimpinannya? Apakah mungkin tuan Mouris adalah yang bisa saya sebut sebagai pemimpin, alias Raja di sini?”


“Hm, pertanyaan bagus untuk anak kecil sepertimu.”


Urat dahi saya naik seketika akibat tersinggung dengan fakta licik itu, tapi saya bersabar dan bertahan dengan senyuman manis.


“Tidak seperti kalian yang memakai Raja atau pemimpin suatu negara besar. Kami para Dwarf hanya memakai unsur kepemimpinan yang di dasarkan oleh yang bertanggung jawab utuh terhadap kota ini. Tidak ada Raja, hanya para Elder.”


Elder of Dwarf. Kata itu saja sudah membuktikan bahwa kota ini berhasil sejauh ini berkat adanya keberadaan mereka dalam mempertahankan kebijakan mereka secara lama. Sejarah mungkin berubah bagi ras lain, namun Dwarf tidak akan mau merubah konteks yang mereka susun sejak zaman pendiri mereka.


“Saya menghormatinya, tuan Mouris.”


Dan Mouris adalah salah satu dari Elder tersebut. Ini artinya yang akan kami temui tidak lain adalah para Elder lainnya yang penting.


Ah, bahkan sejak masuk ke Kota saja kami sudah mendapatkan pandangan tidak enak oleh rakyat kota ini. Perasaanku mengatakan berhadapan dengan para Elder akan sedikit sulit.


“Kita sampai.”


Mouris mematikan mesin kendaraannya dan melompat turun. Di depan kami ada gedung bangunan yang lebih mirip seperti sebuah serikat. Ini didirikan seakan-akan untuk tujuan kami datang sebagai diplomat.


Kami semua masuk menaiki tangga yang tidak begitu panjang dan pintu terbuka lebar begitu Mouris berada di ambang batas pintu.


Dan tepat setelah pintu terbuka, suasana kelam menyelimuti seisi aula. Meja yang di pajang bundar dan masing-masing tempat duduk hanya tinggal satu yang kosong sementara orang yang tersisa disitu menatap kami dengan sangat tajam.


Tekanan ini...


Saya dengan kecut menyeringai.


Ini seolah mereka benar-benar memperlihatkan pada kami bahwa di tempat ini, di tanah ini. Kami harus mengetahui tempat kami sendiri dan tidak boleh bersikap arogan.


Mouris yang berjalan ke kursi yang kosong mengisinya dan duduk. Detik itu juga para Elder ada di depan kami.


“Salam putri Dryad.”


July langsung mengangkat rendah tangannya dan para Elder yang menunduk kembali duduk lagi.


Kemudian July berbalik dan berbicara.


[Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian disini, karena sesuai janji aku hanya mengantarkan kalian. Sisanya, aku tidak bisa ikut campur. Benarkan, Saint kecil?]


“Ya, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak.”


July mengangguk ringan kemudian dia menghilang bersama dengan angin sekitar.


Suasana mulai naik kembali saat July menghilang.


Pada detik itu juga salah satu dari Elder, yang duduk paling tengah membuka suaranya yang berat dan seolah memberi penekanan, dia berkata.


“Yang bukan perwakilan harap keluar dari sini.”


Ini sedikit membuat terkejut namun saya sudah menduganya. Jadi saya menoleh ke arah semua orang di belakang dan mengangguk.


Yohan datang ke arah saya dan menepuk pundak saya. “Jika ada sesuatu yang buruk segera panggil aku.” kemudian dia berbalik lagi dan meninggalkan aula bersama yang lainnya.


Ya, ini sudah baik. Lagipula jika saya dalam bahaya monitor akan memberikan peringatan pada para Prophet yang tentunya seizin saya. Namun, saya kira saya tidak akan menggunakan monitor untuk pemberitahuan tersebut.


Sebab inilah medan perang saya sendiri.


Saya tersenyum, meskipun sangat gugup anehnya saya tetap merasa sangat antusias.


‘Baiklah, waktunya bekerja.’


Memberi semangat pada diri saya sendiri, saya berbalik ke para Elder dan optimis mendatangi mereka.


“Salam para Elder. Saya Saint Alvius Raven perwakilan dari Kerajaan Suci Harvellion. Saya dengan tulus menyatakan ingin bekerja sama dengan para Dwarf.”


Tidak ada hal buruk yang bisa lebih buruk dari kegagalan dalam negosiasi. Jadi mari kita keluarkan semuanya sekaligus hingga ada busa di mulut semua orang. Karena lawan saya adalah mereka yang memiliki nilai persenjataan militer terkuat yang pernah ada.


....


Setelah saya memperkenalkan diri tatapan para Elder Dwarf sama sekali tidak berubah, malahan mereka menatap dengan pandangan dingin dan acuh tak acuh.


Mengerti kenapa mereka menatap seperti itu saya hanya bisa tersenyum kecut. Ya, tentu ini tidak terduga jika dari sekian banyak dari kami kenapa malah anak kecil yang ditinggalkan disini dan menyatakan dirinya sebagai perwakilan. Itu gila.


Satu-satunya Elder Dwarf yang pertama membuka mulut adalah dia yang memakai penutup mata di satu sisi mata kirinya.


“Apa ini sebuah lelucon? Nak jika kau ingin bermain disini bukanlah tempat yang tepat.”


Hanya tatapan yang dia berikan pada saya dan tanpa energi yang menekan namun perasaan kelam menyelubungi diri saya seolah memberitahu bahwa mereka adalah ancaman.


Tidak perlu dipikir lagi, walau sekali lihat itu sudah jelas, mereka tidak bermain-main.


“Salam Elder, mungkin kurang sopan saya berkata begini namun itulah kenyataannya. Sebagai perwakilan dan hak berbicara oleh satu-satunya pewaris Kerajaan Suci Harvellion ras manusia. Dan saya minta maaf tapi bisakah kesampingkan fakta bahwa usia saya masih sangat muda?”


Itu adalah kalimat permisi yang bisa saya katakan sesopan mungkin. Disini saya tidaklah menguji namun sayalah yang diuji. Jika saya bertingkah seperti kehilangan ketenangan atau memperlihatkan kelemahan, sata tamat.


“Cukup Helgam, biarkan dia berbicara terlebih dahulu. Masalah identitas atau lainnya kita kaitkan nanti, jika kau meragukan apa yang di bawa oleh Dryad maka itu artinya kau menghinanya.”


Sepertinya pria bermata satu itu bernama Helgam. Dia memiliki kepribadian agak keras jadi dia susah menerima kenyataan jika tidak berjalan sesuai yang dia perkirakan.


Sesuai yang saya kira, sementara Elder Helgam memiliki sifat keras kepala. Yang lainnya terlihat tenang.


“Nak katakan, kami disini untuk melakukan apa yang diinginkan oleh putri Dryad, kami menghormati beliau dan semua yang dia lakukan untuk kami jadi aku juga ingin melihat apa yang telah menjadi keputusannya itu.”


Lalu untuk tambahan seseorang menanggapi jawaban dari Elder yang menjawab keras kepala Elder Helgam. Dia memakai zirah lengan yang kokoh di tangannya dan memiliki perawakan sedikit lebih condong di bagian perut.


“Gruazi benar, jadi cepat selesaikan ini dan kembali ke pekerjaan kita. Helgam, tahan sedikit ekspresimu.”


Dan Elder bernama Gruazi itu mengangguk setuju dengannya.


Sementara saya berdiri memandang para Elder Dwarf. Yang lainnya sedang berdiskusi tentang perbedaan satu sama lain.


“Mouris ini juga untukmu, jadi bersikaplah sopan dan tenang.”


Saya sedikit tertarik dengan Elder Mouris sebagai objek berikutnya dan melihat Elder Gruazi menyinggungnya. Lalu Elder Mouris menggembungkan pipinya dan menyilangkan lengannya seakan dia menahan amarah.


Benar, dia adalah pria keras kepala sebelum bertemu dengan Elder Helgam. Selain keras kepala Elder Mouris juga sombong dan arogan. Saya berterima kasih karena Elder Gruazi memarahinya.


“Hentikan kalian semua.”


Lalu ditengah itu semua keributan di antara mereka berempat menjadi kesunyian dalam sekejap mata.