The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 67: SATU YANG PERLU DIPERHATIKAN (2)



“Ngomong-ngomong apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat? Pakaianmu hari ini sedikit...”


Sedikit formal?


“Ya, aku akan pergi dan sekarang aku sedang menunggu kereta siap.”


“Kemana?”


“Panti asuhan.”


Ekspresi Veronica langsung menjadi gelap dan kecut. Saya rasa tahu apa yang dipikirkannya — apakah akhirnya dunia kiamat? Seorang Saint tiba-tiba pergi ke rumah panti itu tidak bisa dibayangkan.


“Apakah dunia kiamat?”


Tentu dia akan mengatakan itu. Namun, seperti yang dia lihat dunia masih tenang.


“Disana ada sesuatu yang harus aku lakukan. Tidak seperti aku membuang nilai moralku dan bertindak layaknya orang suci. Ya, meskipun aku orang suci dan akan seperti itu di mata orang lain.”


Reputasi saya sekarang masih bisa dibilang sedang salam posisi aman dalam pencapaian di mata publik. Menyeimbangkannya dengan kegiatan yang telah saya lakukan selama ini. Cukup membuat saya berpikir, ini tidak akan berlangsung lama sampai reputasi saya hancur dimata publik.


Ya, resiko seperti itu sudah dalam prediksi saya selama ini.


Memungkinkan untuk saya bersiap-siap kapanpun nilai saya jatuh. Sampai saat titik itu terjadi akan ada persimpangan yang besar terjadi.


Kemudian beberapa saat kemudian Paladin Roy datang bersama Paladin Theo.


“Saint, keretanya sudah siap.”


“Ya.”


Saya langsung berdiri dan melihat Veronica sebelum pergi.


“Simpan semua ini dan titipkan pada Yohan Hyung. Jika aku kembali aku akan mengurusnya.”


“Ya, aku tahu.”


Meskipun hari ini Veronica datang dengan kabar gembira dan membawa banyak hadiah barupa material sekarang saya tidak bisa langsung mengurusnya jadi akan saya lakukan setelah urusan yang lain selesai terlebih dahulu.


Selain itu ini adalah bagian yang penting juga dibandingkan dengan mengurus material. Jadi saya menyisihkannya.


“Setelah mengantar itu pada Yohan Hyung, Istirahatlah sampai aku memanggilmu. Kamu sudah lebih dari cukup melakukan tugasmu. ”


Dengan membawa anak anjing di pelukan dan berjalan mengikuti para Paladin yang mengawal saya hari ini. Setelah saya pergi, Veronica juga pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


Ada masa dimana timnya, mantan dari asosiasi yang dia bangun mengalami luka akibat dungeon raid. Mereka butuh banyak istirahat meskipun mereka pikir tidak membutuhkannya.


Karena, berbeda dengan tim Veronica yang mengurus dungeon tingkat-A-. Tim lainnya yang mengurus dungeon tingkat-B, terlibat serius dengan pertempuran di dalamnya.


Mereka tidak memiliki kondisi dimana bisa keluar masuk seenaknya di dalam dungeon. Begitu mereka masuk mereka akan terkurung.


Dan lagi menurut laporan yang saya terima. Tim B tidak hanya melawan monster, tapi boss monster [Gargoyle] dan juga [Spriggan] dua raksasa itu cukup sulit ditangani jika tim Penambang milik mantan Shadow tidak ikut terlibat.


“Padahal aku harus menjenguk mereka juga. Ah... Ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan.”


Saya yang merasakan dilema besar hanya bisa bergumam menyandarkan kepala di tembok kaca kereta dan merasakan getaran roda jalanan.


Sementara kereta berjalan.


Hampir saya tidak tahu waktu dan tidak menyadari, saya telah sampai di tujuan.


Tempat yang bisa dengan mudah ditangkap oleh mata hanya sekali ingat jika kamu tersesat nanti.


Rumah besar panti asuhan dengan warna cat merah dan hitam gelap pada tembok. Dan pagar kayu di sisi kiri bangunan untuk memagari tanah rerumputan mereka. Dan yang paling bisa menangkap mata adalah lambang panti tersebut memiliki desain hati dan kehidupan.


Mungkin bagi mereka itu adalah suatu bentuk kasih sayang dan ketulusan. Tapi saya tidak bisa memindai pemandangan selain sesuatu yang suram.


Lalu saya turun dari kereta. Tetapi, bahkan sebelum saya bisa merasakan tanah pada pijakan pertama seseorang bergegas keluar dan mendobrak pintu utama.


“Ah, Saint!”


Dengan wajah tegang dan senyum yang seolah dipaksakan.


Sekilas saya tahu bahwasanya saya tidak sedang di sambut dengan baik.


Tapi apa? Saya yang hendak mengerang berusaha yang terbaik untuk memasang wajah poker.


“Salam tuan dan nyonya.”


Mereka adalah pengurus panti disini. Sebelumnya kami pernah bertemu jadi perkenalan kami berakhir disini.


“Saya tidak menyangka anda akan datang Saint, bagaimana jika anda masuk, kami akan menyediakan camilan ringan.”


“...Ya.” tanpa berkata apa-apa lagi spontan jawaban saya keluar.


Anak yang paling tua juga ada dan dialah karakter utama mengapa saya datang.


Tapi, entah berapa kali saya harus terbiasa? Dimana melihat wajah mereka tidak pernah bisa tersenyum dan murung dalam keadaan gelap.


Itu seperti saya sedang melihat-lihat rumah hantu yang akan saya masuki kemudian melihat hasil dari wajah orang lain...


Bukankah itu artinya kita tahu, seperti apa tempat ini.


Setelah mempersilahkan saya masuk dan membuat saya duduk di ruang tamu di sofa ringan namun alasnya agak sedikit kasar dan tidak bisa di katakan jika ini sofa berkualitas.


Tidak ada yang menemani saya. Paladin Roy dan Theo berjaga di depan pintu sesuai arahan yang saya berikan pada mereka. Anak-anak sedang bermain di ruangan lain jadi saya sendiri menunggu camilan yang akan mereka bawakan.


Kemudian. Tidak lama mereka, pengurus panti asuhan pria dan wanita paruh baya datang dengan membawa plate perak di atasnya ada cangkir dan juga teko keramik hias, lalu piring di atasnya ada biskuit.


Saat mereka meletakkan semua itu di atas meja mereka sedikit canggung dan ragu-ragu. Pengurus yang pria dengan aneh menatap saya lalu mengalihkannya dengan cepat, dan pengurus wanita menyeduhkan teh dengan penuh kehati-hatian.


Disini saya tersenyum lembut menanggapi mereka yang ramah terhadap saya layaknya tuan rumah.


Pada saat mereka menyajikannya saya berbicara. “Bagaimana kabar anak-anak? Saya kemari dengan alasan menjenguk mereka, jadi kalian tidak perlu sampai repot-repot.”


Dan jawaban datang dari pengurus pria “Ah! Tidak Saint, ini sama sekali tidak merepotkan. Saint sudah baik dan perhatian terhadap tempat ini. Tidak ada lagi bentuk terima kasih yang bisa kami berikan selain menjamu anda dengan benar kali ini.”


“Itu benar Saint. Tolong terima jamuan kami meskipun terlihat sederhana.”


Dan di sambung oleh pengurus wanita. Keduanya meninggalkan kesan tersenyum.


Saya hanya bisa tersenyum dan tersenyun meskipun akan dianggap bodoh dan aneh.


Benar-benar patut untuk diberi sedikit pujian jika mereka tidak bergerak dan memilih waktu yang tepat setelah saya selesai berkunjung. Mungkin itu yang mereka pikirkan.


Cepat selesaikan dan pergi dari sini.


Tidak buruk untuk sekedar menjamu tamu dengan baik. Meski terkadang dibutuhkan keberanian besar menahan sifat penuh kesiagaan dalam melihat musuh yang sulit di tangani.


“Jika boleh saya ingin bertemu dengan mereka yang saya sembuhkan.”


Sedikit tidak terduga. Kemungkinan respon saya sedikit terbuka dan membuat mereka terkesiap.


“Tentu Saint! Kami akan memanggil mereka.”


Sesuai yang telah di tulis dalam skenario semua berjalan dengan baik. Saint datang dan anak-anak tidak ada yang berkurang sedikitpun. Jadi dia tidak curiga terhadap mereka dan akan segera pergi dari sini.


Sepertinya itulah yang saat ini mereka sedang pikirkan.


Pengurus pria menggosok tangannya dan pergi dengan senyuman bersama pengurus wanita. Retina saya mengikuti punggung mereka sejenak sebelum beralih pada cangkir teh dan menyeruputnya.


Untungnya saya tidak berpikir ini akan ada racun.


Bahkan setelah beberapa saat saya menunggu layaknya seseorang yang membuat janji temu dengan spesialis di lobi, seseorang mengetuk pintu dengan sopan dan masuk tanpa ada jawaban.


Lalu dua orang dewasa masuk, itu para pengurus. Dan di belakang mereka ada kaki-kaki kecil dan tubuh mungil mengikuti seperti anak itik yang cemberut. Apa selama beberapa menit sebelumnya mereka disiksa?


Saya tidak bisa memikirkan kemungkinan lain mengapa mereka terlihat jenuh.


Bukankah saya telah menyembuhkan penyakit mereka, namun meski begitu wajah mereka lebih nampak tidak sehat sama sekali. Dan ada apa dengan menit sebelumnya hingga penampilan mereka berbeda dengan lainnya. Maksudku, mereka sedikit dirapikan.


“Saint mereka adalah anak-anak yang anda sembuhkan.”


Di awali suara pengurus wanita sebagai pembuka, anak-anak maju. Bahkan yang remaja itu juga ada.


“Terima kasih banyak, Saint!”


Itu tulus untuk mereka katakan dengan tundukan kepala sopan. Saya berdiri dan merespon dengan ramah.


“Saya senang kalian semua sehat dan baik-baik saja.”


Disitu kata-kata ini terbuka ada hentakan dalam tubuh kecil setiap anak.


Dari pertama kali anak-anak disini ternyata lebih dewasa daripada yang saya perkirakan. Mereka bisa menahan perasaan ketakutan di dalam diri mereka.


Saya tersenyum lagi dan saya memandang anak remaja yang saya ingin lihat perlahan mencuri pandang dengan saya, ketika kami bertatapan dia sedikit ketakutan.


“Mulai sekarang kalian sudah sehat jadi saya berharap kalian bisa banyak makan, tidur dan bermain. Jangan kelelahan dan banyak bekerja lagi.”


“Ya!”


Serentak jawaban muncul dengan tegas seperti mereka tidak benar-benar memunculkan itu secara improvisasi melainkan sejak awal ada narasi tentang itu. Nada, suara dan bahkan gimmik mereka sama. Saya disini tidak hanya melihat anak-anak.


Seolah saya sedang berdiri di depan lusinan boneka hidup.