The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 68: SATU YANG PERLU DIPERHATIKAN (3)



“Baiklah anak-anak waktunya kembali.”


Pengurus wanita segera mengakhiri ini dengan ketepatan waktu agar tidak menimbulkan kecurigaan dan menggiring anak-anak keluar ruangan.


Tetapi sebelum itu terjadi saya angkat suara.


“Permisi, bisakah saya bicara dengan gadis ini sebentar?”


Ada teror di mata para pengurus.


“Eh, kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat anda tidak nyaman Saint?”


Menyimpulkan itu membuat reaksi anak yang saya hentikan untuk pergi mengalami tekanan besar.


“Tidak.” saya menggeleng untuk memberi kepastian. “Karena saya pikir dia lebih tua ditempat ini jadi saya ingin mengobrol sebentar. Ah, jangan khawatir saya tidak berbicara aneh. Ini hanya mengenai keadaannya. Karena waktu itu dialah yang paling parah di antara yang lain. Saya harap anda mengizinkan saya untuk berbicara dan memeriksanya juga.” di akhir, saya tersenyum sangat lembut.


Menjatuhkan moralitas itu tidak mudah ketika berusaha menyamakan tingkatan rasional secara implisit dengan memakan harga diri sendiri. Tapi itu sepadan dengan apa yang akan saya dapatkan jadi saya tidak merasa kehilangan apapun.


Itu cukup digunakan sebagai senjata yang tidak akan tumpang tindih.


Jadi begini...


“Baiklah.”


...Mereka tidak akan bisa menolaknya.


Pengurus wanita itu secara realistis menanggapi positif. Tapi saya yakin dia tidak begitu. Itu juga sudah masuk dalam kompilasinya secara keseluruhan jika mereka telah menyiapkan skenario terburuk yang pernah ada. Dimana saya akan melakukan hal semacam ini.


Dan tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Tentu saja, pengurus pria mengangguk ramah dan mereka keluar dari ruangan dan menutup pintu.


Disini ketika hanya ada kami berdua, saya bisa mendengar suara ******* napas yang berat keluar.


“Duduklah.”


Memberikan saya tatapan antisipasi kecurigaan, namun dia tetap menurut dan duduk di kursi di depan saya.


Kami saling memandang untuk sesaat mungkin karena tegang dan gugup dia tidak membuka mulutnya seolah dia sengaja mengunci bibirnya rapat agar tidak membocorkan situasi.


“Apakah boleh bicara tidak formal?”


“Eh? Ah! I-iya silahkan.”


Ada kegagapan di balik suaranya tapi dia berhasil melewati tahap pertama dengan baik.


Saya rasa perlu izin untuk menanyakan itu karena usia kami berbeda dan dia lebih tua dari saya, setidaknya saya ingin kesenjangan di antara usia kami tidak membatasi apa yang akan terjadi di masa depan. Maksudnya saya tidak mau memanggilnya ‘Kakak’ tanpa alasan.


“Apakah aku harus bilang sudah lama tidak bertemu? Atau apa kabar?”


“Ya? Ah...!”


Sengaja suara saat itu mengalami kecelakaan macet.


“Tidak apa santai saja. Tolong jangan lihat aku sebagai orang jahat.”


“T-tidak...”


“Apa bisa kita mulai dari perkenalan? Namaku Alvius Raven, silahkan panggil dengan sebutan yang membuat kamu nyaman.”


“B-baiklah, Saint...”


Saya menyuruhnya menyebut nama saya tapi yang muncul adalah gelar saya. Ya, dalam bisni semua berjalan secara bertahap dari fase ke fase, tidak semua akan berjalan langsung ke tahap final dan sukses secara besaran.


Menolak menggunakan kalkulasi pemandangan ke depan. Karena ada baiknya melihat kemana jangka panjang akan timbul secara menggembirakan.


Tapi saya tidak mengharapkan itu akan berjalan baik.


“N-namaku, Raina Yvina. A-anak-anak memanggilku kakak Ray dari sebutan kedua namaku. T-tolong panggil saja seperti itu.”


Bukankah itu nama pria jika di artikan. Seharusnya saya menggunakan kapital untuk huruf belakang nama panggilannya karena saya tidak mau disalahpahami jika nanti saya tidak sengaja menyentuh identitas gender miliknya. Itu akan merepotkan.


“Baiklah, nona Ray. Senang bertemu denganmu.”


Kemudian mendengar jawaban saya datang dengan acara ramah tamah, Raina mengangguk ringan dengan kegugupan tak tertahankan.


Tetapi, saya tidak ingin berlama-lama. Waktu kami untuk berdua terbatas.


Sebelum kedua pengurus itu datang dan mengganggu waktu rapat saya yang penting, saya memulai pembukaan.


“Jadi, bagaimana dengan tawaranku sebelumnya, nona Ray.”.


“A-ah, apa?”


Sekarang saya benar-benar tidak tahu apakah dia sengaja terlihat bodoh dan tidak paham apa maksud yang saya katakan. Memberikan jawaban tidak mengerti... Baiklah, saya memahami isi konteks tersebut.


“Aku tidak punya banyak yang ingin dibicarakan, jadi akan langsung ke intinya. Nona Ray, maukah kamu bekerja sama denganku?”


Memungkinkan jika benar ada yang menekannya sebelumnya jadi tanpa perlu hati-hati saya melepaskan kalimat. Tenang saja saya tidak memikirkan adanya penyadap di sekitar jadi itu aman.


Sementara dia harus bisa berbicara dengan leluasa tanpa khawatir. Prediksi saya salah.


Saat itu wajahnya benar-benar diliputi keputusasaan terdalam yang pernah dia lihat. Ada wajah gelap dan tangannya gemetar.


“Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa tiba-tiba aku memberikan penawaran seperti ini. Tapi, satu hal yang bisa kamu dapatkan sebagai keuntungan, akan aku berikan padamu apapun yang saat ini kamu pikirkan.”


Kosakata yang dingin keluar dari mulut saya. Sementara saya memikirkan kata-kata itu dengan sempurna seperti seorang yang sedang melakukan rekrutmen casting di dunia industri.


Saya tidak paham. Apakah cara saya melakukan Scout tidak begitu baik? Maka saya akui, saya tidak memiliki pengalaman. Tapi, sebagai seseorang yang lama hidup juga, saya berkali-kali pernah melihat hal serupa sebelumnya jadi saya yakin dengan itu.


“M-mengapa?”


Dan muncul reaksi sebagaimana timbal balik yang negatif.


Saya tersenyum agar suasananya tidak tegang dan memberatkan pihak sebelah.


“Apakah tidak ada yang kamu inginkan?”


“T-tidak itu...”


“Mungkin berat mengatakannya. Tapi, bukankah dulu itu kamu yang mengatakannya.”


“...? Apa?”


“Jika kamu ingin mati.”


Wajah Raina jatuh dan turun. Terjun untuk murung sudah bukan sesuatu lagi seperti trauma ketakutan. Dia sadar dia pernah mengatakan itu dan mengakui hanya melihat ekspresi kelamnya.


Lalu saya mengubah subjek secepatnya segera dia jatuh.


“Bukankah kamu ingin keluar dari sini?”


“T-tidak, i-itu tidak bisa...”


“Kenapa?”


Sejauh ini saya mungkin bisa menebak apa yang akan selanjutnya dia katakan dan menggantikannya.


“Anak-anak huh?”


Raina terkejut terkesiap. Reaksinya berbeda dari sebelumnya dia tidak tahu jika kesadarannya seolah terbaca dengan mudah seperti dia berhadapan dengan seorang penyihir level atas yang mengajukan pertanyaan sebagan intropekstor.


Raina mengangguk. Tapi dia tidak jatuh kali ini.


Maka benar apa yang telah saya bisa bayangkan.


“Lalu apakah ada alasan kenapa kamu menolak?” saya menyeruput teh yang belum habis dan sudah dingin dari cangkir lalu meletakkannya lagi.


“J-jika aku pergi anak-anak akan...”


“Jika kamu menjabat tangan saya keuntungan yang bisa kamu dapatkan termasuk yang kamu inginkan.”


“I-itu buruk. P-pengurus panti tidak semudah itu. M-mereka akan melakukan sesuatu pada anak-anak.”


Ya, tidak bisa dihindari bagaimana wajah anak-anak tadi. Layaknya boneka yang sudah di modifikasi layaknya objek 3D dari masa depan. Itu mengingatkan saya dengan film sci-fi barat.


Ini tidak mudah. Saya sendiri bisa memahami kemana arah pembicaraan Raina.


“Baiklah aku tidak akan memaksa lagi dengan pertanyaan yang bahkan membuat kamu tertekan.”


Saya bangkit. Untuk ini mungkin tidak akan ada lain kali. Namun sekarang bukan waktunya untuk ini, banyak pekerjaan lagi yang harus saya lakukan. Jadi nanti saya akan mengabari Claude saja.


Akhir-akhir ini saya lebih suka menyerahkan pekerjaan kepadanya.


Entah kenapa saya seperti bajingan gangster yang merampok dengan ancaman.


“Aku akan pergi sekarang karena ada banyak hal yang harus aku lakukan.”


Saya berjalan ke arah pintu dan sedikit melanjutkan.


“Namun, ingatlah. Jika kamu benar-benar melepaskan kesempatan ini. Aku harap kamu tidak akan menyesalinya seumur hidup. Bahkan dalam kematianmu.”


Kemudian sesuatu menggenggam tangan saya.


“A-anak-anak...”


Ada wajah tekanan yang menyedihkan yang bisa digambarkan dari Raina sekarang.


“J-jika aku menerima. A-apakah anak-anak akan baik-baik saja?”


Sebelum saya menjawab benar. Saya dengan dingin menatap ke arah matanya yang gemetar itu dari sini.


“Aku tidak bisa menjanjikannya...”


Saya melepaskan tangan yang menggenggam pergelangan saya dan membuka pintu.


“...Tapi, aku bisa memastikannya.”


Lalu dengan sedikit tersenyum kepadanya di situ saya sudah bisa melihat para pengurus datang dengan kedua Paladin pengawal saya.


Itu adalah kabar baik. Saya berpura-pura dengan sedikit terhibur dan tertawa kecil kepada Raina.


“Anda sudah sehat. Saya harap anda tidak perlu khawatir lagi. Karena akan ada sosok yang akan dikirim dewa pada anda.”


Dengan mengeraskan nada saya para pengurus menatap seolah pengikut keagamaan setia dan memasang raut terharu dan bahkan menyatukan kedua tangannya layaknya berdo'a.


Gila.


Setelah itu saya pergi di dampingi dengan dua Paladin saya.


‘Yah... Aku harap dia mengerti maksudku.’