The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 64: LADANG KEBUSUKAN (4)



"Apa?! Pelelangan perbudakan ada di tempat ini?"


Ketika Claude mendengar pesan itu dari mulut saya, aura di sekitarnya berubah drastis dan mencekam. Dia benar-benar terlihat sangat marah dengan meremas kertas di tangannya.


Nyatanya hal itu terjadi tepat di wilayahnya. Jika sampai berita ini tersebar di luar perbatasan maka nama Kerajaan Harvellion yang menyatakan bahwa tempat ini adalah tempat suci dan aman. Kenyataannya hukum disini seperti di permainkan.


Claude tidak menerimanya.


"Segera lakukan investigasi."


Jean Jacques yang menerima perintah itu segera mengangguk dan pergi.


Melakukan pekerjaan itu langsung sepertinya dia benar-benar akan disibukkan. Mengerahkan segala tingkat keamanan akan sedikit risih tapi itu berguna untuk memberi perlawanan.


Tapi investigasi? Apakah dia yakin?


Bukankah ini berhubungan dengan para bawahan Ratu?


Saya rasa Claude memiliki rencananya sendiri kenapa dia tidak langsung menyerang dan menghancurkan mereka.


Disini saya belum selesai.


"Yang mulia. Kemarin adalah hari dimana aku melakukan pekerjaan amal. Kamu tahu?"


Claude tidak menjawab. Tapi mengapa dia tersentak begitu saya mengatakannya? Tingkah Claude sedikit aneh seperti tegang.


Ah, dia sudah tahu rupanya.


Apakah dia diam-diam juga menyuruh orang mengawasi saya? Entah kenapa saya sedikit takut.


Ya, mengesampingkan itu, "Bagaimana menurutmu apakah panti asuhan benar-benar tidak ikut serta untuk menerima dana dari sistem pemerintahan Kerajaan?"


"Apa yang kamu katakan Saint, tidak seperti yang kamu kira. Pihak Kerajaan ikut berinvestasi pada panti asuhan kepada anak-anak yang tidak memiliki apapun. Dan bukankah Gereja juga melakukan hal serupa seperti menyumbang sejumlah dana untuk diberikan kepada setiap panti setiap tahunnya."


Sudah dapat diduga apa yang saya pikirkan benar dan jawaban Claude semakin membuat yakin.


Saya menghela napas benar-benar malas. Tidak ingin terlibat dengan apapun namun apapun yang terlibat dengan saya seakan tidak pernah masalah kecil tetapi masalah besar.


Huft, tidak, tidak. Saya tidak boleh pesimis disini. Pekerjaan saya masih banyak.


"Sepertinya ada yang salah dengan panti asuhan. Maukah kamu menyelidikinya juga. Jika tidak, apakah perlu aku menghancurkan mereka saja?"


"Itu tidak sulit. Tapi kenapa?"


"Mereka menggunakan anak-anak itu untuk keuntungan mereka." dan betapa menyebalkan harus mengatakan ini "Sepertinya anak-anak panti juga ada hubungan dengan Pelelangan perbudakan untuk di jadikan objek penelitian."


Mata Claude tidak menyembunyikan api kemarahannya mendengar itu dan tiba-tiba saja dia menghentak keras meja kerjanya. Lalu ekspresinya mengeras dengan urat pita di lehernya naik saat giginya menggertak.


"Beraninya melakukan itu di tempatku."


Ya, saya sudah bisa menebak jawaban itu juga akan memancing emosinya.


"Saint, kapan kamu akan berangkat ke tempat Dwarf?"


Berpikir sebentar kemudian saya menjawabnya. "Mungkin dua atau tiga hari. Ah, aku juga mendengar kabar jika Raid kali ini berakhir dengan baik."


Claude terduduk kembali dengan tawa pahit.


"Benar. Sepertinya itu termasuk rencana yang paling bijak karena ada dalang dibalik itu semua."


Dengan menyeruput teh di cangkir saya tetap tenang mendengarnya.


Lihat, apa yang saya katakan sebelumnya pasti akan menimbulkan tangkapan yang baik ketika pancing telah di lempar. Tidak terpikir jika ada dalang dibalik ini semua dengan memanfaatkan monster dungeon.


Bodoh mengatakan untuk terlibat dengan monster. Dulu saya juga mengatakan hal ini, tapi saya katakan sekali lagi di tempat yang berbeda.


"Manusia lebih iblis daripada iblis itu sendiri. Bukankah begitu, yang mulia?"


Melihat seringai saya yang dingin Claude mendengus dengan senyuman gila.


'Itu benar, inilah kenapa aku menyukai tindakan darimu Saint Alvius. Semua yang kamu rencakan selalu berjalan dengan baik dan juga mengerikan.'


Bukan saya saja yang berpikir untuk saling menggunakan. Tapi Claude juga berpikir menggunakan saya adalah sebuah keuntungan besar. Membawanya sampai ke tahap dimana dia tidak akan lagi membutuhkan saya adalah sesuatu yang tidak bisa saya bayangkan.


Haha, pahit untuk mengatakan. Saat itu terjadi, apakah dia akan membunuhku ketika aku sudah tidak berguna.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan Saint?"


"Tidak ada."


Masalah ini bukan seharusnya saya mengurusnya. Bayangkan jika anak usia 8 ikut serta dalam kasus ini apa yang akan dipikirkan publik. Sebaiknya serahkan pada yang berkenan. Saya tersenyum pada Claude dan dia mengambil itu.


"Haha, baiklah serahkan sisanya padaku. Jadi kali ini apa yang kamu inginkan?"


Cepat tanggap adalah hal yang saya suka darinya. "Ada satu anak yang tinggal di panti asuhan dan aku ingin anak itu bekerja untukku."


"Hm, dari distrik mana?"


"Barat."


"Baiklah aku akan melakukannya."


Claude yang kembali menulis dokumen terhenti sejenak kemudian dia sadar akan sesuatu yang lupa dia katakan.


'Apakah ada alasan kenapa Saint menginginkan seorang anak? Tidak, jika itu dia aku rasa apa yang aku pikirkan sedikit berbeda.'


"Hm, tidak ada yang penting. Anak itu hanya berguna untuk saya gunakan itu saja."


Kemudian pertanyaan Claude semakin dalam.


"Berapa usia anak itu?"


"Mungkin..." jika tidak salah dia sekitar usia anak sekolah menengah pertama. Jadi... "13 kalau tidak salah."


"Jenis kelamin?"


Eh? Mengapa dia bertanya tentang jenis kelamin? Apakah itu penting?


Dari sorot mata Claude sepertinya dia sangat serius. Kemungkinan ini memang penting untuk mengetahui yang mana anak yang saya incar bukankah begitu. Lagipula tidak ada hal yang menarik dari anak itu selain apa yang akan saya gunakan darinya. Itu adalah bakatnya.


Saya menyeruput teh lalu menjawabnya.


"Perempuan."


Pada detik itu saya bisa mendengar suara pena patah.


Seperti pengambilan keputusan yang kritis, Claude segera membuang pena yang patah dan bertingkah acuh tak acuh seperti tidak ada lagi yang ingin dia katakan.


‘Apakah itu tipe Saint? Pertama pembunuh itu dan sekarang ini? Apakah dia suka wanita yang lebih tua?’


Setidaknya ada sedikit konflik dalam pikirannya.


Tapi tidak ada respon lebih lanjut dari sosok yang dia bicarakan itu. Sangat santai dan datar. Memang itu gambarannya jadi bisa dipahami dengan baik. Lalu untuk apa melanjutkannya, Claude bekerja kembali.


Kemudian terlalu banyak pencernaan dalam pikiran seseorang membuka mulutnya terlebih dahulu.


Itu saya.


“Itu akan sulit meskipun untuk kamu sendirian yang mulia. Apakah kamu yakin?”


Ketika saya tidak ada disini nanti untuk pergi ke tempat Dwarf dia akan sendirian. Meskipun ada Jean Jacques. Pria itu hanyalah ciri khas dari kata Loyal, jadi berada di dekat Claude adalah tugas.


Claude diam-diam melirik saya seperti saya adalah kertas ujian yang sulit dipelajari.


Ya, seperti itulah dia nanti. Dia tidak akan bisa menemukan ketenangannya.


Khawatir dengan apa yang akan dia lakukan itu membuat saya berpikir apakah ini benar-benar baik dilakukan.


“Apakah kamu mencemaskanku?”


“Jujur, iya.”


“Mengapa?”


“Kita rekan.”


Benar, itulah hubungan kita. Tidak lebih dan kurang. Jika semua sudah terpenuhi maka kita akan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Bukankah itu perjanjiannya. Saya bisa saja di bunuh olehnya saat dia tahu saya akan berkhianat.


Tetapi setitik pun saya tidak berpikir mengkhianatinya. Malahan saya pikir menggunakan namanya benar-benar berguna.


“Lalu, apakah kamu pergi ke tempat dwarf memakan waktu lama?”


“Tidak tahu. Melihat sikap dwarf hanya dari sejarah saja tidak akan membuatku mempelajari mereka. Eksistensi lama. Seperti apakah mereka?”


“Kenapa kamu terlalu mencemaskan sesuatu yang tidak penting. Apakah perlu aku juga ikut dan segera menyelesaikannya.”


Saya tidak menjawabnya, sebagai gantinya saya menatapnya dingin.


Apakah serius dia mengatakan itu dengan wajah datar dan senyum tipis itu.


Tidak, itulah kepribadiannya. Ini seperti saya sedang berhadapan dengan seorang dosen literatur yang ketat yang akan siap memberikan nilai bawah jika saya menunjukkan keganjilan walau sedikit. Jadi berat jika dia ikut.


“Tidak perlu. Jika kamu ikut maka yang akan kamu lakukan tidak berjalan lancar nantinya.”


“....”


Disana juga Claude masih menatap saya tertarik dengan tatapan sayu. Semakin dalam saya mengenalnya dan merasakan tatapan, seolah saya melihat dasar jurang yang gelap walaupun matanya berkilauan.


“Jadi sebaiknya kamu lakukan tugas kamu dan selesaikan secepatnya.”


“Padahal aku ingin kamu juga hadir.”


“Tidak. Itu akan sulit dan aku tidak bisa menjanjikannya.”


Ada tawa jahat kecil dari Claude. “Jika kamu pergi kamu akan melewatkan bagian yang menyenangkan.”


Saya membalasnya santai dengan senyuman meskipun ada perasaan dingin aneh yang sekilas saya rasakan.


“Maka aku harap bisa melihatnya sebentar lalu pergi.”


“Kehehehe, kamu benar-benar tidak terduga Saint.”


Bagaimanapun itulah saya