
Malam itu, pada pergerakan telah lama di atur dan ditunggu.
Claude memimpin satu pasukan penuh.
Dan menghancurkan area Perbudakan dan juga menangkap semua tersangka yang bertanggung jawab termasuk pemimpin pelelangan budak tengah malam.
Pada malam itu bangunan tersembunyi dimana mereka semua bersembunyi ternyata melibatkan para bangsawan yang bersangkutan. Claude yang tidak tahan ingin menghancurkan mereka mampu menahan dirinya pada akhirnya.
Ini karena dia menanti acara lebih menarik dari itu dan memilih membakar seluruh tempat sel dan ruang bawah tanah yang mengurung anak-anak berpotensi dan juga semua dagangan telah disita oleh pihak istana.
Seluruh tersangka telah dipenjarakan di istana.
Claude mampu meredam itu semua dalam satu malam. Dia melebihi pada batas anak diusianya. Tentu dia ahli dalam siasat tapi dia melakukannya dengan sengaja tanpa ada strategi tertentu. Bahkan menyerang langsung dan menghancurkan malam lelang.
Semua itu demi satu orang yang dia pilih untuk melihat reaksinya.
Kemudian, satu per satu bangsawan yang memusuhinya mulai menampakkan taring mereka.
Penyebab atas tindakan ini telah merugikan banyak bangsawan. Ratu yang diketahui ikut terlibat memilih menutup mulut seakan tidak tahu menahu tentang insiden tersebut. Itu karena Dewan Petinggi di sekitarnya telah membuat keputusan tersebut.
Benar. Membuang bidak yang tidak berguna adalah strategi utamanya.
Claude memprediksi pergerakan mereka dan mulai beraksi.
Di masa itu, dia sudah lama menantikan ini untuk terjadi.
Lalu, keesokan hari di mana kejadian tersebut meledak publik telah di buat terdiam kembali. Berita tentang insiden ini telah di tutup rapat. Ya, mengetahui alasannya itu mudah. Bahwasanya negara aristokrasi ternama dan dipenuhi perdamaiam ternyata negeri kotor yang bergerak di belakang layar.
Atas nama pemimpin masa depan Kerajaan ini, nilai keburukan ini tidak boleh sampai di ketahui massal.
“Hm, tentu karena itu adalah aib...”
Ketika mendengar cerita itu langsung turun dari mulut Direktur Sarion. Saya tidak langsung bereaksi. Bukannya tidak terkejut. Tapi, lebih dari itu bahkan saya hampir tidak mampu untuk berkata-kata.
Diri dalam saya seakan mau berteriak pada tindakan Claude yang tiba-tiba itu. Dan lagi insiden itu terjadi pada malam dimana saya dengan nyaman tertidur.
“Ugh, bagaimanapun jika masalah ini selesai dengan bagus, maka baiklah...”
...Saya pun segera mulai terbiasa dan dengan cepat menerima ketenangan batin.
Mungkinkah Claude berpikir jika dia tidak lagi memiliki banyak waktu? Padahal dia bisa melakukan itu secara bertahap tapi dia melakukan semuanya sekaligus.
Sebenarnya sejauh mana perkiraan dan persiapan Claude?
Semakin kesini saya semakin merasa merinding jika harus benar-benar berurusan dengannya. Dia tidak segan akan melakukan apapun yang dia mau selama tujuannya tercapai. Konflik kali ini tidaklah kecil.
Tapi, bukankah ini menjadi kejadian yang sedikit sentrik. Secara Claude melakukannya dengan atau tanpa argumen untuk mendapatkan persetujuan para eksekutif istana.
“Apa mungkin rencananya tidak hanya....?!”
Tidak, tidak, coba sedikit optimis. Jika itu benar maka ada banyak hal yang bisa saya dapatkan di balik rencananya. Tapi, jika saya salah sedikit mengambil langkah itu akan membuat kerugian terbesar dan mengganggu jalannya reputasi saya bahkan sebelum saya bisa lulus dari sini.
“Saint Alvius...?”
“....!”
Bisa-bisanya saya tenggelam dalam pikiran saya sementara saya berada di diruangan Direktur Sarion.
“Ya?”
“Selain dari berita yang aku katakan itu tepat terjadi setelah Paladin melakukan penyelidikan. Tentu kami tidak melakukan itu diam-diam. Tidak... Lebih dari itu, seolah kami memang diizinkan untuk menyelidikinya.”
Direktur Sarion sekarang sedang bingung pada tindakan sikap yang diperlihatkan istana padanya.
Agar Gereja juga bisa melihat, sisi dimana tidak hanya mereka yang memiliki tragedi yang disembunyikan. Maka pihak istana juga melakukan hal serupa.
Pria itu memang licik dan cerdik.
“Tidak perlu bingung Direktur. Penyidik sudah melalukan tugas dengan baik. Para petinggi Gereja juga tidak bergerak akibat tindakan anda. Lalu kenapa anda bingung?”
“Hm... Keduanya sama-sama memiliki rahasia, kah?”
“Benar. Jika Cla— Pangeran Mahkota sudah bersusah payah menutup mulut publik agar tidak membocorkan masalah insiden dungeon tempat kita. Bukankah kita harus melakukan hal serupa, demi menutup aib di belakang tindakan bangsawan yang tercela.”
Direktur Sarion yang duduk di atas mejanya jarinya mengetuk-ketuk meja. Dia juga memiliki pemikirannya sendiri dalam pembenaran ini.
“Ya. Jika itu yang terbaik. Lagi pula bangsawan tidak bergerak untuk mengganggu kita lagi. Tapi, aku benar-benar bingung dengan tindakan Pangeran. Mengapa dia melakukan semua ini?”
Dan dia juga punya hak untuk merasa gelisah dan ragu. Tidak heran juga mengapa dia bersikap waspada seperti ini.
Mendengar istana bergerak saja itu bisa membuat Gereja sedikit tertekan. Takutnya ada perselisihan yang dipimpin keluarga Royal untuk menjatuhkan tempat ini.
Yang lebih penting... Direktur Sarion tidak tahu tentang ini.
Saya menyeruput teh dan menjawabnya dengan sedikit sarkastik.
“Haha, tidak perlu antisipasi seperti itu. Selama mereka tidak mengganggu kita, penghuni disini akan aman.”
“Ya, itu benar.”
Terlebih lagi itu tidak akan mengganggu dimana saya hidup. Harus berapa banyak saya berterima kasih pada Claude yang memberikan kenyamanan dan keamanan ketat disini agar bangsawan tidak berani menyentuh tempat ini.
Seolah-olah saya bangga pada anak didik saya sendiri.
“Ah, berbicara tentang kasus ini. Saya lupa jika ada surat untukmu Saint.”
“Hm...?”
Ada surat di atas meja milik Direktur Sarion. Begitu saya mendekat untuk mengambilnya, ada lambang istana. Lebih tepatnya cap segel milik Claude secara personal. Tapi, mengapa dia mengirim surat.
Saya perlahan membuka surat itu diam-diam sementara Direktur Sarion bekerja di depan dokumennya.
Bukankah Claude bisa mengantar kesatria untuk menyampaikan pesannya.
“Hah?”
Dan ketika saya membuka surat dan membacanya. Raut wajah saya membeku dan kaku kemudian jatuh menjadi datar dan alis saya berkedut.
Apa yang dia katakan?
- Teruntuk Saint Alvius, Saya merindukan anda, bisakah anda datang kemari, ini penting ^^.
Reflek saya meremas kertas di tangan saya dan merobeknya.
“Dasar gila.”
Direktur Sarion sampai terkejut melihat saya merobek kertas dari keluarga Royal.
Ya, betapa beraninya. Tapi saya tidak peduli dan tidak ragu merobeknya.
Bahkan dalam situasi ini dia masih bisa saja mengirim pesan seperti ini. Tanpa memikirkan lebih dalam saya setidaknya bisa sedikit menebak dan menerka apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan ini.
Ini membuat saya berpikir dua kali, apakah harus pergi atau tidak?