
Suatu hari saya pernah berpikir bahwa hari seperti ini akan tiba. Sebuah eksistensi yang seharusnya tidak diperbolehkan berurusan dengan dunia para makhluk fana. Waktu tersebut setidaknya telah semakin dekat.
Tidak ada yang menyangka jika itu akan secepat ini.
“Apa maksud dari surat tadi?”
Tanya Yohan. Yah, bahkan jika dka bertanya pada saya, entah jawaban apa yang bisa saya berikan. Kemungkinan ini sebuah tes yang di tujukkan secara tidak langsung, mengatakan jika itu ‘Undangan’. Dengan nama [Queen Night 25].
“Apa kau tidak melihat jika surat itu datang untuk mengundang kita.”
Veronica merasakan firasat terburuk sejak menerima surat itu dan menggigit jarinya. Mendengarkan jawaban Veronica kesadaran semua party di desak untuk merasakan perasaan cemas akan sebuah teror ini.
Sedangkan para Elder sedang berdiskusi seperti benar-benar ribut tentang masalah ini. Jadi saya tidak menginterupsi ke arah mereka.
Saya memandang ke atas langit. Membayangkan bagaimana bisa gerbang sebesar itu jatuh dari langit. Padahal July mengatakan jika kekuasaan ras Dwarf berada di bawah naungannya, dia pun menciptakan sebuah medan pelindung yang menjauhkan ras Dwarf dari dunia luar secara konseptual. Tapi itu bukan berarti bertahan selamanya, July juga memiliki batasannya.
Sejauh yang saya tahu adalah semacam tempat yang seharusnya tidak menerima benda apapun masuk.
Tetapi, bahkan hanya dengan gerbang itu saja sudah membuat sadar jika musuh memang memiliki kuasa sebesar itu sampai bisa menembus medan di dalam tempat ini.
Langit sedang bergemuruh, sudah dari beberapa jam yang lalu memancarkan kilat merah yang mengerikan. Bumi pun berguncang ringan. Kami tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir.
“July, bagaimana situasi saat ini?”
Saya mendekat ke arah July dan bertanya. Meskipun tanpa July menjawab, ekspresinya sangat pahit sehingga saya tahu keadaannya.
[Aku tidak tahu. Untuk sekarang adalah masa yang tidak akan pernah bisa siapapun bisa memprediksi. Termasuk diriku.]
Pernyataan July membuat tekanan dalam diri saya. Kalimat yang bahkan dia sendiri tidak bisa melihat jauh ke depan, seorang entitas terlama memilih untuk tidak memprediksi masa yang sudah jelas terlihat bahwa hanya keburukan yang akan datang.
Dari belakang suara langkah kaki mendekat kepada saya, para party berkumpul semua. Saya membuka mulut saya dan bicara.
“Jika kita pergi maka maka tempat ini akan hancur, mungkin setidaknya secara 70% kemungkinannya. Jika kita tinggal, maka kita hanya bisa mengurangi 1% saja.”
Kira-kira seperti itu jika menghitungnya secara cermat bagaimana situasi sekarang. Jujur meskipun ras Dwarf adalah ahli pemasok senjata tingkat tinggi tapi tenaga kekuatan tempur mereka sangat sedikit. Dengan hitungan mundur saja tempat ini cepat atau lambat akan hancur.
[Aku sarankan agar kalian pergi dari sini, tidak perlu terlibat dalam masalah dimana kalian tidak seharusnya berada. Untuk urusan sebelumnya sepertinya harus di batalkan.]
“Itu tidak menjamin semuanya July.”
July menatap saya dengan bingung.
“Apa kamu tidak merasakannya?”
July pun semakin bertanya-tanya tentang apa yang saya maksud. Kemudian dia mencoba untuk merasakan sesuatu di wilayah dimana dia membuat pembatas antar dimensi sudah terkontrakdisi. Lalu dia menjadi merinding dan sadar akan itu, wajahnya menjadi panik.
“Kita tidak bisa keluar dari sini. Dimensi ini sudah di kuasai oleh musuh dan juga ada dominasi yang memancarkan energi besar yang menutupi tempat ini seperti sebuah tudung. Dan itu menolak apa yang masuk dan apa yang keluar dari tempat ini.”
Merasa tidak mungkin, July juga tidak tahu bagaimana bisa ada sesuatu yang mendominasi dimensinya sampai membuat dia tidak merasakannya dengan jelas.
Semua orang menjadi tidak tahu arah lagi. Saya juga seperti itu, hal ini mencerminkan seberapa kuat musuh kami. Namun saya berusaha untuk tenang dan tidak bimbang.
“Untuk sekarang mari kita pikirkan jalan keluar lain. Sepertinya tidak mungkin juga kita keluar dari tempat ini, otoritas July sudah tidak bisa digunakan untuk membuka portal keluar karena adanya penolakan...”
“Jadi satu-satunya pilihan...”
Saya mengangguk menanggapi Veronica.
“Kita akan bertarung dan mengalahkan pemilik gerbang itu agar kita bisa pulang.”
Dekat disini wajah semua orang sama terkejutnya terutama para party. Itu tentu saja.
“Al, itu berbahaya.” Yohan dengan ekspresi cemasnya merasa jatuh saat melihat saya dengan tatapan kasih sayang seorang kakak yang ingin menjaga adiknya.
“Hyung... Kita tidak punya pilihan. Bagaimana kita bisa keluar dari sini?”
“Pasti ada jalan keluar lain selain kita harus bertarung, Al.”
Saya menggeleng sederhana. “Tidak ada Hyung. Sama sekali tidak ada.”
Yohan menggigit giginya dengan sangat rapat dan kemudian dia memalingkan kepalanya. Tidak ada jawaban. Dia hanya menggenggam ganggang pedangnya yang ada di dekat saku celananya.
Para Elder yang mengetahui hal ini mendekat.
“Nak, kau tidak perlu sampai sejauh itu, ini adalah masalah ras kami. Biarkan kami melindungi kalian agar kalian bisa pulang dengan damai.” ucap Elder Orlos.
Tentu saja dia akan mengatakan itu jika saya menjadi dirinya. Masalah yang tidak perlu untuk pihak luar ikut campur? Seperti itulah pikiran para Elder yang bisa saya baca sekarang.
“Elder, ini sudah bukan tentang masalah milik siapa. Ini tentang kehidupan kami juga yang terkurung di tempat ini dan tidak bisa kembali. Mungkin mudah mengatakan kalian sendiri akan menyelesaikan situasi ini. Namun, bagaimana caranya?”
Saya tidak berniat menyinggung atau berkata dingin yang ambigu. Saya hanya mengatakan fakta dimana situasi yang kami hadapi tidak semudah yang mereka bisa bayangkan.
“Kami... Akan mengusahakan yang terbaik.” jawab dan tanggapan penuh keraguan dari Elder Orlos.
Elder yang lain memiliki wajah tidak mampu untuk memberikan jawaban yang pasti dan menjanjikan. Elder Helgam juga sama. Dia pria tua yang seharusnya galak dan arogan kini hanya menunduk murung.
“Itu tidak akan menyelesaikan semuanya. Jika kami bersembunyi, lalu kalian berperang sendiri, kemudian kalian mati. Bukankah itu sama saja.”
“A-Al... Kamu terlalu berlebihan...” Yohan buru-buru datang dan tegang dengan situasi yang saya hadapi dimana berbicara dengan pemimpin tempat ini. Itu tidak sopan. Mungkin ini pikirnya.
“Lebih baik sekarang kita satukan kekuatan kita. Bersembunyi tidak akan menyelesaikan apapun. Dan sekarang bukan waktunya untuk mendebatkan hal ini lagi atau menyepakati hal ini.”
“Apa maksudmu nak?”
“Sekarang berikan teman-temanku senjata kelas atas yang kalian miliki sekarang.”
Saya mengulurkan tangan saya seperti meminta sesuatu kepada para Elder. Jika dilihat dari sudut pandang orang-orang dewasa dimana hanya saya yang masih seperti anak ayam. Saya seperti meminta permen pada paman saya dengan wajah serius.
Yohan yang pucat langsung gelagapan. “Al...!”
“Apa Hyung?”
“I-itu tidak bagus, kamu harus melihat tata kramamu. Bicaralah dengan sopan dan baik!”
“Aku sudah sangat sopan Hyung.”
“Al...”
Ini tidak bagus untuk jantungnya karena selalu terkejut, wajah yang memilih siap meledak dengan air mata. Saya menepuk Yohan untuk tenang dan di sampingnya Heros juga menepuk pundaknya dan mengangguk santai.
Dengan ragu-ragu para Elder saling menatap. Elder Gruazi berkata dengan nada yang tertekan.
“Kami tidak masalah dengan itu. Tapi...”
“Jangan khawatirkan masalah biaya. Anggap saja sebagai hutang dan nanti akan saya bayar.”
Kemudian Elder Orlos menambahkan dengan maksud untuk memperjelas apa yang tidak bisa dikatakan Elder Gruazi.
“Tidak nak, maksudnya apakah kau bisa menggunakan pedang? Dengan tubuh kecil...” tampak nyata Elder Orlos mengira saya yang akan menggunakan pedang, sebesar itu?
“Ah... Jangan khawatir, bukan saya, berikan saja pada rekan saya. Saya tidak memerlukan senjata.”
Itu bukan lelucon jadi ekspresi saya jatuh saat entah kenapa saya seperti di remehkan.
Tidak memberikan kami banyak waktu, sesuatu mulai merusak suasana disini.
Gu-gugugu!!
Langit seolah siap untuk jatuh kapan saja dengan suara yang menggelegar di atas ujung awan sana. Gelombang sihir di sekitar yang tadinya ringan kini terasa sangat berat. Jika bukan karena dominasi yang masih ada milik July, saya yakin tempat ini akan kehilangan stabilitasnya.
Akibat huru-hara di sekitar sudah tidak banyak memberikan kami cukup banyak, kami langsung menyingkatnya.
“Kami akan segera menyiapkannya.”
Termasuk Elder Mouris dan Elder Vergo yang berangkat ke tempat persenjataan dengan berlari cepat di temani dengan beberapa anggota milik Veronica.
“Apa rencanamu nak?” tanya Elder Orlos kepada saya dengan tatapan agak meragukan dan gaya siap untuk bertempur.
“Sebenarnya saya sendiri tidak tahu. Yang jelas sekarang adalah sepertinya kalian yang menjadi incarannya. Itu cukup membuatku berpikir apa alasan musuh kali ini. Karena itu, lebih baik para Elder pertahankan sisi ini.”
“Itu bukan strategi nak. Bagaimana bisa kami menyerahkan hal mengerikan ini kepada pihak luar.”
“Ini bukan masalah pihak luar atau bukan, Elder, anda terlalu munafik.” dengan suara dingin saya langsung menatap pada mata tajam Elder Orlos. Dan melanjutkan. “Lihatlah di sekelilingmu...”
Pemandangan yang selalu dia saksikan entah itu di medan perang atau bukan. Atau mungkin masalah terkait perubahan musim yang tidak menentu yang mengakibatkan gudang pangan mereka berkurang. Wajah para penduduk asli Kota Industri Tenstheon di liputi kekhawatiran dan rasa putus asa.
“Apa anda yakin ingin meninggalkan mereka di saat seperti ini? Anda berlima? Bayangkan bagaimana tidak ada pemimpin di tempat ini dan tujuan kita sama dimana kita harus mengalahkan musuh kita. Itu hanya akan menjadi candaan, Elder Orlos yang bijak.”
Elder Orlos membuka lebar matanya dan wajahnya menjadi memanas. Itu pernyataan yang mengguncang dan benar adanya. Namun, dirinya yang sebagai seorang pendekar, seorang ahli seni kerajinan, dan juga seorang ketua yang sangat di hormati.
Dirinya yang sebagai orang yang selalu mengayunkan pedang demi kedamaian kini perlu di pertanyakan. Fondalisme apa yang dia inginkan? Apa dengan dirinya pergi ke medan terdepan perang akan menjawab semuanya? Apa semua itu akan membawa perdamaian?
Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan itu, menjadi bilah yang menusuk dirinya sendiri.
“Jangan pikir menyelesaikan semua dengan mengorbankan diri anda, Elder. Menetap disini juga bukan pilihan terburuk. Lihat... Karena sepertinya kita kedatangan tamu lebih awal.”
Beberapa detik itu juga, gerbang besar yang megah terbuka dengan ujung yang sangat kecil namun jika di lihat dari dekat terbukanya ukuran gerbang sudah setara dengan bagian tengah jalan masuk ke kota.
Dan kemudian para monster iblis muncul dari pintu masuk. Mereka merayap, merangkak, terbang, dan menyusup ke dalam kota.
“Aku merasa bahwa gerbang itu, adalah dungeon.”
Serbuan monster mendatangi kami. Saya langsung berteriak saat semua orang secara insting sudah dalam posisi mereka masing-masing.
“Semua angkat pedang kalian! Kita ada di medan perang, ini adalah Dungeon Break, musuh utama ada di dalam gerbang. Kita utamakan keselamatan yang lain!”
Elder Orlos mengangkat pedang besarnya dan menurunkan helm besinya. Lalu di susul oleh suara deritan pedang yang di tarik dari sarungnya datang dari para party.
Srat-srarat!!
Dan yang membuka pertempuran pertama dengan hanya uluran tangan ke depan, telah menghancurkan belasan monster iblis hanya dengan sulur akar tajam seperti tombak kerucut yang datang dari bawah tanah.
[Kalian anak nakal. Tidak boleh ada yang masuk kesini tanpa izin dari pemiliknya.]
Suara yang kelam dengan nada yang di hiasi oleh cahaya kehijauan menari-nari di sekitar. July mulai beraksi.