The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 28: BERSINARNYA CAHAYA PEMBURU (2)



Yohan mengerti. Bahkan tanpa bisa dekat dengan adiknya. Bahkan tanpa bisa jelas melihat wajah adiknya. Dia tahu ekspresi apa yang sedang dipasang Alvius ketika mengirim semua pesan itu. Dia kesakitan...


Yohan putus asa antara melihat pada Alvius dan memperhatikan Heros yang berjuang sendirian.


Heros tahu alasannya mengapa dia tidak diperbolehkan menggunakan skill tersebut.


Skill [Darkness Festival]. Ketika dia membunuh para monster saat itulah dia meninggalkan jejak pada mayat mereka. Dengan jejak itu saja sudah cukup untuk mengaktifkan kemampuan ini. Saat skill diaktifkan Heros bisa menggunakan mayat dari monster yang selama ini dia bunuh dan menggerakannya menjadi pasukannya.


Alvius tahu, skill ini tidak hanya berbahaya namun untuk Heros sendiri ini berbahaya. Karena saat itulah energinya akan terkuras habis dan dia bisa dalam keadaan sekarat. Dan yang terburuk adalah, Heros akan menjadi gila.


Seperti yang anda ketahui. Heros memiliki kutukan pada tubuhnya. Jika dia lengah sedikit maka dia bisa menjadi mode ‘Berserker’. Dan skill ini bisa menjadi pemicu itu sendiri.


Bahkan untuk Alvius dia tidak mau bertaruh apapun keadaannya.


Yohan telah memutuskan dia akan mengakhiri ini dan maju.


“Hei, bisakah aku meminjam pedangmu sebentar.”


Heros yang mendengar itu tiba-tiba terdiam sesaat ketika menyerang monster di depannya dan menoleh kebelakang dengan wajah tersenyum kecut.


“Apa kau sudah tidak waras?”


“Tidak, aku masih waras.” dan dijawab Yohan dengan nada seperti mengolok.


“Kalau begitu apa kau tidak melihat ini satu-satunya senjataku. Dan jika aku memberikannya padamu aku akan mati disini!” Bersamaan mendorong tubuh monster ke belakang Heros menjawabnya sangat kesal.


“Karena itu pinjamkan sebentar.”


Pita emosi Heros putus dan segera dia menggunakan ledakan eter untuk menghancurkan musuh di depannya dan melompat mundur ke belakang menggunakan kabut hitam.


Heros menuntut dengan emosi. “Bajingan ini. Baiklah silahkan!”


Heros melempar pedangnya ke udara dan di tangkap oleh Yohan.


“Terima kasih.” dia mencengkeram erat pedangnya dan mengangkatnya tinggi ke atas dengan kedua tangannya.


[Skill ‘King of Light (L)’ telah diaktifkan!]


Kemudian sinar terang keluar deras pada bilahnya sekali lagi. Dan terus mengalir keluar tanpa batasan dan meraung ke atas langit sekitar 10 meter di udara.


[‘Monarch of Diligent’ berkata itu berlebihan!]


Melihat pesan itu Yohan tersenyum ringan. “Aku tahu. Tapi, ini adalah yang terakhir.”


Pancaran cahaya yang cemerlang meledak kuat dengan gelombangnya yang tidak beraturan. Kekuatan sihir yang luar biasa melahap udara sekitar dan angin badai menerbangkan segalanya. Yohan melotot dan dengan ganas dia berteriak.


“King of Light!”


Pancaran sinar telah dijatuhkan.


Sasasasah!


Dengan semburan sinar energi suci ratusan monster dalam sekejap telah di sapu dan membakar mereka hingga menjadi abu.


Heros tiba di tempat saya dengan menggunakan kabut hitamnya dan membawa Yohan di tangannya.


“Hyung!”


Saya bergegas ke arahnya saat Heros meletakkan tubuh Yohan ke tanah. Saya mempelajari keadaan Yohan yang terluka dan beruntung dia masih bernapas. Ini adalah akibat dari menggunakan terlalu banyak kekuatan sihir.


Sekarang Yohan sedang dalam masa pemulihan.


‘Dia harus segera di obati.’


Saya berjongkok dan mengulurkan tangan kepada Yohan.


Sesaat kemudian Heros mencengkeram tangan saya.


“Hentikan Alvius, apa yang kamu lakukan?”


“Tentu saja aku akan menyembuhkannya.”


“Apa kamu tidak waras?! Kamu menggunakan banyak kekuatan saat kami bertarung dan sekarang kamu akan menggunakan kekuatanmu lagi. Itu tidak bisa, kamu akan membebani dirimu sendiri.”


Saya segera menepis tangannya dan ketenangan dalam diri saya telah hilang. Diri saya dikuasai oleh amarah dan kekesalan akibat diri saya tidak kompeten dalam situasi ini.


“Jika aku tidak melakukannya Hyung akan...”


“Dia akan baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat. Dan luka dalamnya tidak telalu parah.”


Heros berusaha meyakinkan saya. Membuat saya merasa malu karena dihadapkan dalam perasaan gelap sama sekali bukan jalan keluar yang tepat untuk masalah ini. Sekarang adalah dimana keadaan tidak menguntungkan kami bekerja.


Yohan tidak sadarkan diri. Dan—


Heros bangkit dari tempat ini dan segera saya memegangi tangannya.


“Ini masih belum berakhir mereka tidak memberi kita istirahat atau berpikir.”


Saya terdiam dalam kengerian apa yang telah dia katakan. Mata saya hanya bisa melihat pupil merah milik Heros yang terlihat sama sekali tidak ragu mengambil tindakan ini. Dia tidak ragu...


Itulah mengapa saya selalu tidak bisa tenang jika berhadapan dengannya


“Apa kamu akan mengorbankan diri sendiri lagi? Bukankah aku katakan untuk tidak melakukan itu.”


“Alvius, jika kamu mengizinkanku menggunakan—”


“Itu tidak akan terjadi!” saat paham apa yang akan dia katakan selanjutnya saya berteriak kesal. “Jangan pernah sekalipun berpikir untuk menggunakan kekuatan itu tanpa sepengetahuanku. Kamu tidak boleh, selamanya tidak boleh menggunakannya.”


Amarah saya menguasai diri saya. Bukan karena saya marah pada Heros, atau bahkan kepada Yohan yang tidak sadarkan diri. Namun, fakta bahwa ini adalah kesalahan saya sendiri saya marah kepada diri ini. Heros berkata demikian nyatanya dia sama sekali tidak peduli pada dirinya sendiri itu yang membuat saya merasa bersalah.


Heros hanya diam. Dia juga sadar bahwa meskipun tidak ada jalan keluar lain, tanda yang dia tinggalkan bisa menjadi senjata pamungkas. Tapi satu-satunya orang yang bisa membantunya mengaktifkan itu tidak menginginkannya. Apapun yang terjadi.


Heros hanya bisa merenung karena telah tertelan oleh kepercayaannya sendiri


Skill di dalam diri saya ketika melihat para Prophet saya seperti ini menjadi sedih dan tenggelam dalam emosi penyesalan.


Lutut saya kaku bahkan saya tidak punya kekuatan banyak yang tersisa sekarang.


Saya mengaktifkan Appraisal dan melihat teritori medan pertempuran.


Jumlah monster yang dinilai Appraisal berkurang drastis.


[6.720.]


Meskipun jumlahnya masih empat digit tetap saja kontribusi kedua orang ini membuahkan hasil.


Orang-orang disekitar saya mulai mempertanyakan keadaan ini. Dan juga ada yang...


“Meskipun ada Saint kita sama sekali tidak bisa apa-apa!”


“Mungkin rumor itu benar nyatanya.”


“Apa maksudmu Saint ini palsu?”


Pembicaraan kelam yang membuat saya semakin merinding dan telinga saya begitu gatal karena mendengar ocehan konyol mereka. Saya segera berdiri dan melirik ke arah mereka dengan dingin.


“Jika kalian merasa bisa menyelesaikan masalah ini, silahkan maju dan hadapi mereka lalu kita bisa keluar dari sini.”


“Apa?” kata seseorang yang sepertinya tidak terima apa yang saya katakan.


“Karena itu... Jika kalian tidak mau melakukan apapun diam dan lihat saja dasar bajingan!” penuh perasaan hawa dingin dan hasrat membunuh dalam tubuh saya. “Atau aku akan melempar kalian untuk menjadi makanan mereka.”


Setelah menekan mereka dan membuat takut akhirnya mereka menjadi tidak bisa berbicara buruk lagi. Kemudian saya menghubungi monitor.


‘Monitor aku akan pergi bisakah perkirakan kapan aku akan bertahan?’


[Mustahil!]


Itu adalah jawaban yang belum pernah saya dengar selama ini.


‘Kalau begitu katakan apa yang harus aku lakukan?’


[Mustahil! Perintah itu hanya akan menyebabkan kerusakan fatal pada tubuh anda.]


Selama ini monitor tidak pernah menolak saya dan bekerja maksimal. Tidak, dia hanya tahu apa yang terbaik untuk saya.


“Aku akan menggunakan skill milik Yohan.”


[Anda tidak bisa!]


“Bagaimana milik Heros?”


[Sinkronisasi anda belum sempurna. Skill milik Heros De Charita belum bisa disalin.]


Sial. Jika monitor mengatakan itu lalu bagaimana jalan ini?


“Aku tetap akan maju, bantu aku.”


[Anda bisa. Namun anda harus mengorbankan beberapa hal. Apakah anda yakin?]


“Tentu. Jika tidak maka sejak awal aku tidak akan hidup di dunia ini.”


Kemudian dengan suara kebisingan keras di dalam kepala monitor berbisik dan memberitahu segala cara yang bisa saya lakukan untuk mengakhiri kisah mengerikan ini dan membawa kami semua keluar dari tempat mengerikan ini atau dungeon, namanya.


“Gunakan alternatif kedua.”


[Apa anda yakin?]


‘Ya.’