The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 43: SATU YANG BERHARGA (2)



Sesuatu telah menatapnya dengan tatapan yang tajam dan menekan.


“Apa aku terlihat semudah itu untuk dimanipulasi dan di cuci otak olehnya. Tidak, bahkan sekarang aku bisa membunuhnya jika aku mau. Tapi, karena dia telah bersumpah padaku dia tidak akan melibatkan apapun di sekitarku.”


Yohan menelan ludahnya, dia meremas erat ganggang pedangnya. Dia tidak pernah akan bisa terbiasa, melihat bahwa kekuatan semacam ini eksistensinya benar-benar ada, dan itu semua ada di dalam tubuh adiknya.


Saya menarik kembali tekanan aura saya. Yohan sendiri mencoba menerima dan fokus untuk tenang. Sementara Veronica sedikit canggung dengan situasi yang tidak seharusnya dia terlibat, malah menariknya.


“Jadi dengarkanlah penjelasanku Hyung. Dia tidak berbahaya dan letakkan kembali pedangmu. Aku tidak tahu darimana kamu mendapatkan pedang itu.”


“Saat mengetahui kamu tidak ada di kamar aku langsung mengambilnya dari tempat latihan.” Ya, dengan itu Yohan bergegas dengan memanipulasi kemampuan [King of Light] dan bergerak seperti cahaya dengan kecepatan tinggi. Ide ini keluar ketika dia tidak terima bahwa Heros bisa terbang menggunakan Aura Kabut Hitam miliknya.


’Bukankah itu curang?’


Saya menarik napas. “Veronica, sebaiknya kamu kembali saja besok jika ada yang ingin kamu katakan. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat.”


“Ah, sepertinya begitu. Kalau begitu sampai jumpa besok, bajingan kecil.” Veronica menghilang dengan cepat entah bagaimana dia melakukannya. Tapi, satu hal yang membuat saya tersinggung.


‘Bisakah dia berhenti memanggilku ‘Bajingan kecil’? Apa aku terlihat seperti itu dimatanya?’


Melihat Yohan telah menurunkan senjatanya, saya duduk kembali di kursi dan merentangkan lebar tangan saya. Yohan sedikit canggung dan telinganya memerah, dia tahu mengapa saya melakukan ini.


Tanpa lama, dia berjalan pada saya dan jatuh ke dalam pelukan saya.


“Maafkan aku karena membuatmu khawatir Hyung. Aku keluar hanya mencari udara, dan kebetulan Veronica muncul. Sebenarnya aku ingin memberitahumu. Tapi, aku tidak bisa. Kenapa? Yah, seperti yang terlihat tadi.”


Membuatnya dan Veronica berkelahi bukan ide yang baik, itu sebabnya saya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Namun, timing Yohan muncul sungguh kurang tepat.


“Aku juga minta maaf.”


Saya menggelengkan kepala saat memeluknya, saat kepala Yohan begitu dekat di antara lengan saya.


“Itu bukan salahmu Hyung. Kamu hanya, mencemaskanku. Dan sejujurnya sisimu itu menggemaskan untuk dilihat.”


“Ap— apa yang menggemaskan dariku?!”


Saya meletakkan dagu saya di atas mahkota kepalanya dan terkekeh mendengar Yohan gugup dan salah tingkah. Dia menolak di panggil menggemaskan dan berusaha mengalihkannya. Dan itu memancing Yohan lebih mengomel tentang sesuatu acak lainnya dengan nada suara bermasalah.


‘Ya... Ini baik-baik saja. Kami adalah saudara yang saling melekat dan tidak terpisahkan.’


Kami bercanda dan saling memperdebatkan hal-hal kecil yang unik di antara kami. Waktu untuk komunikasi seperti ini sangatlah langka. Hanya pada malam ini rasanya hanya dengan berbicara dan bercanda seperti ini kedekatan kami semakin berkembang.


Kemudian sampai saya tidak sadar bahwa saya telah tertidur ketika mendengar Yohan berbicara.


“Kamu tahu itu sedikit... Al?”


Apakah karena aroma menenangkan dari Yohan? Atau karena malam ini terasa sangat tenang?


Suara pedang telah di jatuhkan terdengar rendah. Tangan kosong Yohan meraih punggung adiknya dan memendam kepalanya semakin dalam pada pelukannya.


“Kamu tahu... Aku tidak mau hal buruk sampai terjadi lagi.”


Dia tahu lawan bicaranya telah tertidur dan tidak terganggu. Namun, dia tetap berkata.


“Kehilanganmu bagaikan kehilangan dunia ini, aku siap mengorbankan nyawaku jika demi dirimu. Jadi, tolong jangan membuatku khawatir berlebihan.”


Ada sedikit nada suram dalam kalimatnya berikutnya.


“Karena itu bisa membuatku gila.”


Setelah itu, dia mengangkat tubuh adiknya ke dalam pelukannya dan membawanya kembali untuk ke kamarnya. Bahkan tanpa menimbang pikiran dia tahu, tubuh adiknya sangat kurus sampai dia bisa saja menghancurkannya.


Ini bukan karena dia adalah seorang Paladin yang setiap saat melatih ototnya. Namun, karena dia tahu, belakangan ini adiknya lebih kesulitan daripada dirinya.


Yohan berjalan sambil memandang adiknya, kemudian dia memandang ke depan. Wajahnya dan ekspresinya jatuh dalam kesuraman.


Tidak, karena itu Yohan. Dia tidak keberatan jika harus di benci.


“Asalkan kamu aman, bahkan jika dunia membenciku, aku akan menanggungnya.”


Sisi mengerikan dari Yohan adalah dengan datar dan suramnya dia serius mengatakan pernyataannya.


Lalu jauh di dasar alam bawah sadar, sesuatu mendengarkan isi hatinya.


[‘Monarch of Diligent’ ...]


***


Beberapa hari telah berlalu dengan cepat. Seperti yang dijanjikan saya sering di undang untuk pergi ke tempat Claude dan begitu obrolan kami berlangsung terkadang membuat orang disekitar kami bisa menjadi gila karena tegang. Seperti dua iblis licik sedang berbincang.


Selama hari itu juga saya kadang-kadang melakukan eksperimen. Ini tentang item yang ada di dalam [Replica-Mass Pocket Dimension] batu-batu yang di kumpulkan oleh Sabnock ada di dalamnya.


Ada efek kegelapan dalam batunya. Saya menduga, ini pasti karena batu-batu yang di ambil ini berasal dari tanah kegelapan. Direktur Sarion dan Yohan sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan item yang telah di kutuk itu dalam bentuk material. Jadi tidak akan bisa.


Melewati beberapa tahapan, saya akhirnya dapat memecahkan masalah. Ternyata itu mudah, saya hanya mengikuti buku panduan manual dari monitor-nim. Monitor mengatakan saya hanya perlu menyucikan batu-batu itu dengan menyalurkan energi suci saya yang besar dan akhirnya inilah yang saya dapatkan.


*


- [White Steel Orichalcum] 3x


- [Mineral Tears Mithril] 4x


- [Holy Crystal Adamantium] 4x


- [Stone Diamond Mercury] 4x


*


Semua efek kegelapan telah di netralkan dan semua batu itu kini bersinar seperti perhiasan dan permata langka.


Ngomong-ngomong soal masalah ini juga. Lalu bagaimana saya akan memanfaatkan ini. Ini seperti saya menemukan harta karun tapi saya tidak tahu cara menggunakannya.


Saya teringat akan sesuatu. Sesuatu yang menakjubkan nan menyakitkan hati.


‘Ah... Saya tidak tahu bagaimana nilai mata uang di dunia ini?’


“Tunggu... Ini akibat saya karena tidak pernah keluar dan berbelanja. Sial, ada banyak yang harus saya lakukan dan pelajari jika harus beradaptasi semakin dalam dengan dunia ini.”


Untuk menilai sesuatu terkadang harus pada dasarnya terlebih dahulu. Tapi, saya sama sekali tidak terlalu tertarik dengan itu dan hampir melupakannya. Apa karena usia saya yang muda...?


Saya menggelengkan kepala lalu kemudian seseorang mengetuk pintu lalu membukanya, kepala berambut perak muncul.


“Al, apa kamu sudah selesai menggunakan lab ini?”


“Ah...”


Saya meminta izin pada mentor Priest untuk meminjamkan ruangan lab khusus digunakan dalam materi praktik ilmu seorang Priest yaitu kekuatan suci. Karena hari ini lab tidak digunakan jadi saya meminjamnya untuk menguji coba eksperimen saya terhadap batu tanah kegelapan.


“Ya, Hyung aku selesai.”


Setelah menjawab Yohan, kemudian juga satu kepala lagi muncul di bawah kepala Yohan.


“Saint Alvius...”


Heros ada disini juga dengan tawa kecilnya dia seperti senang melihatku. Saya tidak tahu, apa ini perasaan saya saja atau tidak. Rasanya mereka sangat lengket dengan saya akhir-akhir ini.


Menjawab Heros saya tersenyum dan menyapanya. “Halo senior. Kebetulan kalian berdua datang, masuklah.”