
“Hei, monitor, apakah ada yang salah dengan emosiku?”
Perasaan yang tidak bisa di gambarkan meskipun telah melihat kematian setiap orang.
[Melaporkan. Tidak ditemukan adanya kelainan mental. Secara keseluruhan tubuh anda bekerja secara normal.]
“Apa ada kemungkinan tubuh ini sensitif terhadap perasaan yang dihasilkan?”
Secara internal jiwa dalam tubuh dalam kondisi aslinya. Akan tetapi, kapan? Sejak kapan melihat darah menjadi sebuah kebiasaan bagiku?
Penolakan terjadi di atas pergolakan batin.
[Melaporkan. Antara Material Body dan Spiritual Body keduanya kompleks dan melekat sesuai konteks takdir. Tidak ada kemungkinan tersebut.]
“...Begitu.”
Kerena ini sejak awal bukan tubuh asli, saya pikir itu akan memungkinkan. Jika reinkarnasi saya tidak sempurna.
Tidak, jiwa saya telah melewati batas alam kehidupan dan kematian. Jadi alasan itu cukup jelas jika saya dan tubuh ini sudah terikat.
Tetapi, saya seolah menyangkalnya.
Melihat tangan-tangan saya yang masih kecil membuat saya berpikir jika emosi yang sekarang saya rasakan terkait oleh usia tubuh ini yang masih muda. Namun monitor menjelaskan itu tidak terjadi.
Lalu mengapa... Bahkan setelah melihat orang lain mati tepat di depan mata perasaan saya tidak terasa aneh sedikitpun.
“Tenang dan damai.”
Mungkinkah ini yang di namakan kepuasan batin.
Kepala saya bergerak untuk menolak pernyataan ini.
Ini adalah keputusan yang menurut saya pantas dilakukan. Ada banyak kesalahan yang telah di perbuat orang-orang itu dan bahkan hukuman seperti ini mungkin tidak cukup. Jika memaafkan mereka, di masa depan nanti entah apa yang akan mereka perbuat lagi. Dendam? Dan mungkin skema yang diciptakan orang lain untuk menggulirkan kami.
Masa depan seperti itu tidak ada di dalam jangka panjang saya dan itu akan semakin menambah beban pekerjaan saya nantinya.
Saya mengangguk dan meremas tangan.
“Benar, ini adalah hal yang tepat. Jadi tidak perlu di pikirkan lagi.”
Bagaikan sihir yang terasa mustahil untuk di raih oleh manusia biasa. Keputusan ini juga mustahil diraih tanpa memandang sesuatu dan menilainya secara objektif.
Pintu Penjara Bawah Tanah terbuka dengan nada berderit dan suara seseorang keluar.
“Kamu menunggu.”
“Ya.”
Karena tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi jika saya pergi sendiri berkeliaran di taman istana yang bagaikan penuh ranjau ini.
“Apakah sudah selesai?”
“Sempurna.”
Kenapa terasa seolah dia puas melakukannya. Padahal barusan dia membunuh manusia. Sungguh hebat untuk orang yang hatinya sudah dingin sejak dulu.
“Jika tidak ada yang ingin kamu tunjukkan aku akan pergi.”
“Eh? Sudah mau pergi? Kenapa buru-buru sekali?”
Apa yang pria gila ini bicarakan?
“Kamu tidak lupa besok aku harus pergi, bukan?”
Ada tawa gurau yang memperlihatkan jelas dia mengerti itu namun sengaja seolah-olah tidak tahu.
“Aku tidak lupa, haha. Hanya, aku ingin sedikit menghabiskan waktu denganmu Saint.”
“Kemunculan nona Ray dan juga pertunjukkan hukuman tahanan ini masih belum cukup? Bukankah sejak awal itu urusanku ada disini.”
“Ini dan itu berbeda.”
Raut wajah saya menjadi datar dalam sekejap. Claude dengan mudah mengatakan dengan candaan ringan namun dalam perspektif saya, untuk disebut tujuan bukankah itu terlalu jelas. Mendeskripsikan orang ini tidak cukup dengan satu kata saja.
“Yah... Karena saat aku bersamamu waktu yang kuhabiskan terasa sangat cepat.”
Saya tidak bisa mengatakan apapun untuk situasi ini. Kami hanya berjalan memandang ke depan.
Itu bisa di mengerti kenapa dia begitu tertarik dengan setiap tindakan yang saya keluarkan.
“Terkadang membuatku penasaran. Saint, kamu ini siapa?”
“...!”
Tidak ada jawaban yang jelas. Ini bukan spekulasi perhitungan atau memprediksinya untuk menjadi subyek baru. Claude benar-benar mencari secara nyata adanya kemungkinan itu.
Memang saya sangat terkejut bahkan kaget sampai membuat jantung saya sejenak berdegup. Namun saya tidak terlalu menunjukannya jika saya melakukannya maka dia akan semakin curiga.
“Aku siapa? Menurutmu jika aku bukanlah aku, maka siapa aku? Aku akan menyerahkannya pada pemikiranmu, yang mulia.”
“Begitu, aku mengerti. Maaf jika aku meragukanmu.”
“Tidak. Pertama kali kita menjalin hubungan dekat ini bukan di dasarkan pada kepercayaan atau keyakinan. Jadi tidak perlu merasa bersalah. Jika kamu mau lakukan penyelidikan atau investigasi terkait tentangku.”
“Bolehkah?” ada semangat di balik nadanya. Terbukti jika dia memang berniat melakukannya namun menahan dirinya sampai sekarang.
Claude tidak ingin hubungan antara kami kacau hanya karena rasa penasarannya semata. Padahal dia Wizard kelas atas maka seharusnya itu mudah untuknya.
“Yah... jika kamu sampai bermain-main dengan orang disekitarku. Kamu akan tahu apa yang terjadi selanjutnya.” Ada nada kelam dalam volume suara saya.
Dan sampai dia melakukannya karena alasan itu. Dia jelas melanggar arti dari kerja sama kami untuk masa depan yang dia inginkan.
Menyentuh saya tidak cukup dan menambahkan daftar lainnya dari orang disekitar saya. Ambisi Claude tidak main-main dan itu mengerikan.
“Hahaha, jika itu terjadi aku akan repot. Jadi aku akan berhenti. Bahkan setiap orang memiliki satu atau dua rahasia yang ingin mereka simpan, benarkan.”
“Ya. Kamu cukup memahaminya yang mulia.”
Masalahnya adalah perselisihan antara kami nanti terjadi maka tidak akan ada hal baik.
“Aku harap kamu benar-benar bisa kembali dengan cepat.”
“Aku akan berusaha yang mulia.”
“Kamu akan melakukannya?”
“Ya, itu permintaanmu. Aku pikir tidak ada salahnya mengusahakannya.”
“Kehehe, kamu baik sekali Saint. Aku akan memberimu koin.”
...Sepertinya dia sudah menguasainya, cara membuat saya merasa lebih baik.
Setelah menyadarinya, Claude mengantar saya sampai ke gerbang depan istana dan kereta saya sudah ada disana menunggu. Paladin Roy dan Paladin Theo bergegas begitu melihat saya dan memberikan hormat pada Claude.
“Kalau begitu aku pergi.”
“Ya. Kembalilah dengan selamat. Dan pastikan untuk datang kemari setelah kamu sampai.”
Saya tidak menjawabnya beberapa detik. Namun saya membalasnya singkat.
“...Ya.”
Mungkin Claude sadar akan hal ini dia tersenyum dengan suara ******* ringan.
“Tidak perlu memaksakan diri. Aku senang jika kamu mengusahakannya.”
“Aku mengerti. Terima kasih sudah mengantarku sampai sini. Sampai jumpa yang mulia.”
“Ya. Semoga perjalananmu menyenangkan.”
Tidak ada kata-kata lagi yang kami berdua tinggalkan. Seolah memang menetap disana kami berdua bahkan tidak saling menatap untuk memandang kepergian kami.
Kereta bergerak dengan suara milik kuda yang unik.
Sesaat Claude berbalik, ekspresinya telah hilang.
Tidak ada apapun di dalam matanya, tidak ada arti kehidupan di matanya. Meskipun dunia kejam padanya, itu terasa dialah yang menolak keberadaan dunia ini sendiri.
‘Aku lelah.’
Kesendirian yang alami.
Bahkan iblis yang melihatnya tahu, meskipun dia terlihat kesepian, setidaknya dia terlihat sangat bahagia dengan fakta itu.