The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 83: ELDER OF DWARF (3)



Para Elder terkejut dengan aura dari energi yang jelas tidak asing bagi mereka. Saat ini wajah poker hampir mustahil mereka pertahankan saat ekspresi kaget itu menyelami raut wajah mereka.


Bagaimana saya bisa melakukan ini?


Jawabannya sederhana, karena berkat July, Samael bangun dan kekuatannya bisa aku salin berkat kerja keras monitor. Mungkin sinkronisasi saya dengan July masih dalam tahap pertumbuhan, namun tidak dengan atribut July yang dengan alami masuk ke tubuh saya saat peningkatan Prophet miliknya dalam sekejap mencapai angka 100%.


Itu untungnya saya memiliki July jadi saat ini yang berada di hadapan para Elder bukan hanya anak kecil.


Bahwa fakta July sudah memilih anak kecil seperti saya sebagai orang yang dia ikuti.


Kenyataan itu saja sudah cukup membuat Elder dipusingkan dengan itu dan apalagi bahwa seharusnya hal yang mustahil menjadi tidak mustahil lagi saat kekuatan July si Dryad jelas nampak dan muncul di depan mereka.


Saya menyilangkan kaki dan membuka mulut.


“Seperti yang kita lihat, kekuatan dan daya hancur dari pedang itu saja sudah membuatku kagum. Terima kasih untuk uji coba bahannya tuan Elder. Saya kini percaya bahwa saya semakin menginginkan untuk bekerja sama dengan kalian.”


Sangat di sayangkan jika pada akhirnya harus berjalan seperti ini.


“Tunggu, apa dari awal ini rencanamu nak?!” Elder Mouris dengan wajah paniknya menjadi kehilangan ketenangan. Dimana Elder Mouris yang gila yang menyambut kami tadi, itu sudah tidak ada.


“Rencana awal adalah melakukan segalanya dengan memberikan penghormatan dan rasa menjunjung tinggi nilai dari keberadaan para Dwarf yang tercatat dalam sejarah. Namun kalian sendiri yang mengubah rencana itu dan membuat saya beralih ke rencana cadangan.”


Alis Elder Mouris turun dan bibirnya menjadi mengeluh.


“Sebenarnya ada berapa rencanamu nak?”


Ringan saya mengangkat pundak. “Siapa yang tahu...”


Elder Mouris menggertakan giginya sedangkan Elder Gruazi dan Vergo nampak cemas, tapi berbeda dengan Elder Helgam yang bungkam namun tatapan satu matanya tetap ada di sana dengan arogan.


“Bercampur dengan kekerasan adalah hal yang di luar rencana. Tapi selagi kita masih bisa berdiskusi seperti ini siapa yang masalah, benarkan.”


Sistem kota industri Tenstheon bisa dikatakan relatif sederhana namun yang membuat itu ketat dan berat kemungkinan adalah dari pihak Elder.


Hukum disini tidak akan berpengaruh dengan hukum di luar sana. Dunia sedang mempertaruhkan hidup di luar sana namun jika hukum publik milik kota Tenstheon bercampur dengan dunia luar, maka mereka akan jadi bahan tertawaan.


“Jadi katakan, para Elder-nim. Adakah dari kalian yang akan menerima bentuk negosiasi saya ini setelah saya mengatakan satu atau dua fakta yang menarik.”


Ada aura dari tatapan Elder yang duduk di tengah dan dia juga memberi jawaban ringan.


“Mari dengarkan.”


“Pilihan bijak.”


Dan kemudian seolah saya sedang berperang sendirian. Kali ini adalah perang verbal yang tidak asing bagi saya. Yang merupakan keahlian saya dalam bidang ini jadi saya percaya diri dan membuka suara.


“Aku ingin bertanya pada kalian, benarkah sejarah bahwa ras lainnya membenci ras manusia karena alasan kami manusia tamak?”


“Sejarah yang tertulis adalah bentuk filosofi yang di cetak secara umum dan itu berumur sekitar ratusan tahun. Bahkan kami tidak mengerti satupun dari isi filosofi tersebut.”


Jawaban datang langsung dan tanpa ragu dari bibir tua Elder Gruazi.


“Anda berbohong.”


Elder Gruazi terkejut dan terbelalak.


“Apa maksudmu?”


“Yang saya katakan adalah apakah kalian membenci manusia karena alasan kami tamak, bukan karena sejarah lainnya yang kalian tidak ketahui setelah mengurung diri di tempat ini.”


Saya tidak segan menambahkan kata agresif di dalam kalimat saya. Lantunan nada untuk membeberkan ketegangan di sekitar saya.


“Sejarah para Dwarf dan ras lainnya berbeda satu sama lain. Mengapa bisa demikian? Ada satu hal untuk itu. Kalian menyembunyikan fakta yang tidak kami para manusia ketahui, benarkan.”


Semua Elder terdiam. Saat tidak ada respon, satu dan dua Elder yang menanggapi menampar kuat meja dan dengan ekspresi marah. Elder Mouris dan Vergo yang duduk bersebelahan seolah tidak menerimanya.


“Apa maksudmu itu?!”


“Apa yang sebenarnya kau incar nak?! Tidak mungkin ada hal yang seperti itu!”


Datangnya narasi mereka sedikit memberikan tekanan balik. Saya pikir ada dari mereka yang tidak setuju dengan opini pribadi saya namun yang muncul hanya dua dari mereka. Elder Gruazi sedikit pucat, Elder Helgam diam dan anehnya tenang disana, begitu juga Elder yang di tengah.


“Tenanglah tuan Elder, ini bukan berarti saya menginterogasi anda sekalian. Kenapa kalian begitu panik?”


Setidaknya saya bisa tersenyum dengan mudah sebelum saya merasakan kemenangan saya sendiri.


Hubungan antar ras lainnya dan ras manusia memang renggang. Saat saya membaca semua buku sejarah mereka semua untuk menambah wawasan agar bisa bekerja sama dan mencari kelemahan mereka hanya ada satu yang tidak saya pahami.


Dalam konteks dari satu buku sejarah yang bertuliskan sebuah dialog lama.


“Kenapa kalian pergi, setidaknya bertahan lebih baik. Menelan ludah sendiri lebih baik, dan setidaknya meminum darah sesama sendiri lebih baik dari pada jiwa kalian hilang ke arah kegelapan dan akhirnya hampa.”


Dari semua buku hanya satu dialog itu yang tidak saya pahami maknanya namun saya bisa mengerti sedikitnya tentang apa yang penulis itu rasakan waktu menulis sajak itu.


Hanya satu yang bisa saya pastikan setelah menelan penuh kalimat itu dan saat ini bisa saya katakan di tempat ini dengan berani.


“Kalian sejak awal memang berencana meninggalkan ras manusia sendirian.”


Para Elder tertegun dan terdiam mematung. Seolah hampa wajah Elder Mouris dan Vergo memucat dan mereka jatuh di kursi mereka kembali.


Saya mendengus ketika Elder Gruazi masih bersikeras mempertahankan rasionalnya.


“Fakta pertama, ada rumor yang mengatakan kalian diam-diam melakukan perdagangan gelap kepada ras manusia dengan meraup keuntungan tertentu.”


Informasi dari Veronica yang kenyataannya bukanlah lagi rumor setelah saya memastikan dengan mengirim para Shadow untuk melakukan penyelidikan penuh tentang Dwarf.


Ternyata benar, ada jejak yang mengatakan bahwa ras Dwarf pernah berinteraksi dengan manusia tanpa diketahui publik.


“Fakta kedua, kalian tahu ini apa?” saya menunjukan Kantong Dimensi seperti saya memegang ekor tikus dengan jijik.


“Itu Kantong Dimensi, bukan.”


“Benar, saya beri anda nilai seratus tuan Vergo.”


“A-ah terima kasih.” Vergo haus akan pujian dan setelah itu Mouris menyikunya.


“Kenapa dengan Kantong Dimensi itu?” lalu Mouris menambahkan itu dengan nada ragu-ragu.


“Pertanyaan bagus.”


Saya melempar Kantong Dimensi milik saya pada Mouris dan Mouris menangkapnya dengan kedua tangannya yang labil.


Vergo dan Mouris langsung meneliti apakah ada hal aneh dari Kantong Dimensi tersebut dengan sangat penuh hati-hati.


“Tidak ada yang mencurigakan.”


Saya menyeringai lebar disertai mata saya yang terbelalak lebar, dan saya menaikkan nada suara saya dengan keras.


“Fakta ketiga! Itu adalah drop item milik iblis.”


Pada saat itu juga Kantong Dimensi di tangan Mouris dia lempar begitu saja ke tengah meja tanpa dia sadari itu sudah menjelaskan semua teka-teki yang tidak kita pahami.


Semua wajah dari ketiga Elder memucat dan menjadi panas. Ada yang gugup, panik, bimbang, dan juga ada yang berusaha tenang. Itu hebat karena mereka menunjukkan keberagaman dari perbedaan sifat masing-masing.


“Bagaimana menurut anda, apakah fakta itu sudah bisa anda pahami, wahai Elder-nim?”


Setelah itu mencapai telinga mereka tidak ada dari mereka para Elder yang bisa memberikan tanggapan. Seharusnya disini Elder Helgam emosi dan meledak karena kata-kata saya tidak sopan namun dia masih duduk, dia seperti anjing yang dilatih dengan baik oleh pemiliknya.


Detik itu juga suara terkekeh membuat keheningan pecah.


“Kehehe.”


Lalu kemudian itu berubah menjadi tawa yang keras seperti dia melolong layaknya serigala.


“Hahahahaha!!”


“Orlos...”


Elder yang ada di tengah telah tertawa seperti orang gila yang sudah benar-benar kehilangan kewarasannya. Tidak tahu sampai kapan dia tertawa, Elder lainnya hanya bingung untuk memberi tanggapan.


“Menarik! Kau anak yang menarik!”


Haruskah saya tersenyum terlebih dahulu sebelum mengira ini hal baik.


“Apa saya lulus?”


“Hahaha. Benar, kau lulus nak.”


Itulah kata dari Elder Orlos yang selama ini saya ketahui mengerikan namun nyatanya dialah yang paling bermain dengan wajah poker.


“Jadi apakah fakta itu benar, Elder-nim?”


Sudut bibir Elder Orlos tertarik ke atas membentuk senyum samping.


“Benar.”


“Orlos...” Elder Gruazi terlabak dan menekan kepalanya dengan kuat.


“Kenapa Gruazi dia anak yang cerdas yang bisa mengasumsikan itu semua sendirian bahkan dia tidak gemetar berdiri di hadapan kita sembari membongkar kedok kita. Dia patut mendapatkan apresiasi.”


Tanpa menyangkal itu jawaban spontanitas yang paling jujur yang bisa saya temukan. Padahal fakta itu berkaitan dengan sejarah reputasi ras mereka namun Elder Orlos sama sekali tidak menyembunyikan apapun.


Helgam disana menghela napas seperti dia memang tahu bahwa Elder Orlos akan mengatakan itu. Gruazi sedikit tidak puas dengan itu, dan Mouris serta Vergo juga masih bingung dan cemas tidak tahu harus merespon bagaimana.


Kemudian Elder Orlos melanjutkan dengan serius.


“Tapi, kau tahu. Kami para Dwarf juga punya alasan sendiri kenapa kami melakukannya.”


“Dan apa itu?” tanya saya.


“Untuk kelangsungan hidup ras kami.”


Yang rela membuang rekan yang berbeda ras. Rela melepas semua bentuk ikatan yang telah lama di dirajut. Ternyata alasannya sederhana. Semua itu demi keluarga mereka sendiri.


Walaupun mereka berdiri di atas api, walau mereka di terjang badai. Mereka akan tetap berdiri di antara rasnya sendiri dan mengambil konsekuensi berupa perpecahan.