The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 93: DISASTER (2)



Di dalam kastil iblis memang sangat luas. Akibat gerakan Ular Gorgon bekas jejak kehidupannya masih ada di sekitar jalanan sepanjang pintu keluar yang lalu terlempar.


Kemudian tidak lagi meninggalkan jejak. Monster dengan sayap dan wujud layaknya kelelawar meremas kedua tubuh kecil di bagian kedua cakarnya.


“Lepaskan bajingan!”


Berusaha keras dari jeratan cakar monster Yohan berontak dengan hasil yang tidak ada.


“Sialan!”


Dengan suara kemarahan setelah Yohan, Heros dengan aura hitam kepekatan mencoba melukai cakar monster meskipun sedikit sama sekali tidak berhasil.


Tetapi, setelah aula di dalam telah tertutup dan seolah memang di perintahkan mencengkeram mereka berdua agat tidak mengganggu perintah tuannya. Monster itu membanting kedua tubuh muda ke tanah dengan hentakan yang kuat.


Bagaikan terombang-ambing di udara yang hendak menghancurkan tubuh mereka hanya dengan tekanan kejatuhan. Yohan berhasil mendarat dengan selamat dengan bantuan Heros menaiki kabut tebal hitamnya.


“Terima kasih.” katanya. Meskipun tidak ada ketulusan yang berarti Yohan tetap harus mengatakannya karena kewajiban.


Tidak menghiraukan. Keduanya langsung pada posisi siap bertarung. Monster yang terbang rendah di depan mereka memekik dengan suara seperti tenggorokannya tercekik, itu menyebalkan.


“Kita harus segera bergabung lagi dengan Alvius. Di dalam adalah berita buruk. Jika tidak...”


“Aku tahu, sialan. Tapi, kurasa makhluk ini tidak akan membiarkan aku mendekati adikku.”


“Kita bisa membunuhnya.”


“Kita bisa, tetapi...” kata yang Yohan katakan terhenti di situ. Matanya terletak pada pedangnya dan juga dalam retinanya dia bisa melihat kemampuan-kemampuannya yang luar biasa. Berpikir tentang keselamatan adiknya dia tahu dia tidak bisa berlebihan. Kerutan di dahinya mengekspresikan, dirinya harus menahan kekuatan sihirnya.


Heros tahu apa yang di pikirkan Yohan, karena apapun itu pria ini pasti memikirkan adiknya lebih dari siapapun di situasi ini. Jika dia berlebihan dia pasti takut menguras kekuatan milik adiknya dan berakhir secara tidak langsung memberikan dampak pada adiknya.


Alasan itu cukup untuknya berpikir ingin melindungi adiknya apapun resikonya.


Bibir Heros naik seperti hendak mengatakan sesuatu, namun itu tertutup rapat.


Daripada kata-katanya melukai seseorang, dia memilih mengangkat pedangnya ke atas dan berkata.


“Kau tenangkan pikiranmu dan cari cara agar bisa masuk ke dalam lagi. Biarkan aku yang mengurus makhluk ini.” itu di nyatakan dan menyadari perkataan omong kosong ini mata Heros nampak menyala lebih merah dari biasanya.


“Kau...!” Yohan kaget saat menyadarinya, bahkan aura yang tadinya tidak ada, sekarang kabut hitam yang kuat menyelimuti tubuh Heros seperti ekor hantu.


“Aku akan melakukan semampuku.”


Jelas menyadari standard dari level musuhnya meskipun begitu dia tetap tidak memperlihatkan ketakutan. Kemudian Heros menginjak tanah dan melompat ke udara, dia dengan bebas bisa mengudara sekarang seperti seekor makhlul astral.


Pedang yang berasal dari tempat Dwarf, bilahnya di selimuti eter gelap yang kuat.


Saat dia menebasnya di udara, suara ‘Tsu-sususu!’ kuat membelah udara dan membentuk lintang bulan sabit dengan ayunan energi besar.


Mata merah tajam dari monster yang seolah-olah bisa menelan apa saja pupilnya mengecil sampai di pertajam seperti titik-titik kecil. Dengan sangat intuitif tubuh monster yang besar dan berat bergerak menghindari serangan Heros.


Ledakan yang lumayan menghancurkan tanah di bawah monster sampai membekas dalam.


- Kiiiik!!


Monster memekik murka menunjukkan taring-taringnya.


Heros sekali lagi mengayunkan pedangnya dan sekarang dia mencoba bertarung jarak dekat dari wajah ke wajah dengan monster yang tiga kali ukurannya dari tubuhnya sendiri.


“Haaa—!!!”


Serangan yang sangat intens bahkan sangat sulit menemukan bahwa seorang ahli pedang yang masih berkembang dapat menciptakan gerakan yang tidak mampu diikuti oleh gerakan mata orang biasa. Heros dengan gerakannya seperti mencabik-cabik monster dengan amarahnya.


‘Apa dia berpikir bisa mengalahkan makhluk itu sendiri? Tidak, bahkan jika itu Heros dia tidak akan bisa.’


Di udara Heros seperti sedang menciptakan iramanya sendiri. Bilah pedangnya yang berbelok-belok seolah memiliki kesadaran yang sama dengan penggunanya.


Yohan melihat ini dengan tatapan tidak percaya, seperti Heros hendak menghancurkan dan mendistorsi ruang di udara, percikan listrik hitam dan eter hitam bertabrakan satu sama lain hanya untuk melukai tubuh monster.


“Apa yang kau lakukan?! Pergilah!”


Teriak Heros ketika dia melihat Yohan masih berdiri di situ.


Tubuh Yohan terkesiap saat Heros meneriakinya. Meskipun dia mengatakan untuk perintah ini nyatanya Yohan tidak bisa meninggalkannya juga. Lalu jika dia meninggalkan Heros disini tidak akan mudah baginya menerobos lagi ke dalam dimana Astaroth berada.


“... Sudah kuduga, aku tidak bisa.” gumam Yohan menatap ke bawah dan menggenggam kuat ganggang pedangnya. Dia menggertakkan giginya lalu memantapkan pandangannya ke arah pertarungan di depan matanya.


Skill [Sword Master Legendary] menguak kuda-kuda di kakinya kedua kakinya menukik dengan kuat dan menyeret tanah, itu di lakukan sehingga menyebabkan efek berantai. Cahaya berkumpul dan bergetar di sekitar tubuh Yohan.


‘Maaf Al, aku berjanji untuk tidak membebanimu. Jadi, kumohon, bertahanlah sebentar.’


Setelah detik persepsinya menghilang, tempat Yohan berdiri telah hancur.


Heros yang berjuang sendirian fokus yang luar biasa tidak menghancurkan konsentrasinya. Tetapi, detik itu juga instingnya berkata padanya menggantikan pemikirannya — Menghindar!


“Minggir.”


Tsu-surururut!!


Reflek Heros membuang tubuhnya sendiri ke belakang dan menarik serangannya. Bahkan dia melakukan itu secara tidak sadar dan sepertinya dewa menyelamatkannya. Jika tidak dia akan terlibat.


Ketika dimana monster telah kehilangan sayap kirinya dalam sekejap mata!


Kecepatan yang tidak bisa dia rasakan atau dengar ada di situ menebas sayap monster.


“Kecepatan macam apa itu?!”


Tatap tajam Heros melihat Yohan mengambang di udara yang berhasil menerobos bagai badai.


“Lambat.” Yohan berbalik dengan persiapan menembak melesatkan tubuhnya lagi.


Heros menyeringai tajam mendengar kata itu jatuh dari bibir pria yang dia tidak sukai ini. Tapi, anehnya Heros bersemangat akan itu dan melanjutkan serangannya. Dia juga tidak mau kalah.


Keduanya bertarung bersama. Sinar leser merah di muntahkan dari mulut monster kelelawar namun iti tidak berhasil mempengaruhi akselerasi keduanya. Heros mungkin bisa terbang di udara, tapi kecepatan Yohan lebih unggul jika hanya untuk bergerak seperti cahaya. Itulah aspek dari metode [King of Light] yang lain.


Perlahan-lahan tubuh monster ini mendarat di tanah. Sayap yang di patahkan Yohan bereaksi dengan regenerasi. Mereka menyadari luka yang menggelembung di punggung monster meletup-letup hingga mereka bergerak seirama.


Yohan menebas dengan ayunan vertikal dan kombinasi gerakan yang stagnasi, bilahnya seperti tertekuk beberapa kali dengan ke elestisitasnya.


Di dukung oleh Heros yang menyerang dari belalang dan memukul udara dengan pedang untuk menciptakan tembakan energi eter.


Percikan badai antara cahaya dan eter gelap saling bertabrakan dan saling adu kekuatan.


“Beraninya kau menjauhkanku dari adikku. Iblis sepertimu mati saja tidak akan cukup. Aku akan mencincangmu menjadi kecil-kecil dan menginjak-injak dagingmu.”


- Kiiiik!!!


Monster menjerit dengan luka yang luar biasa. Namun itu saja belum cukup untuk benar-benar menghancurkan monster ini. Dan dia membuka mulutnya lebar-lebar walau dengan menerima serangan bertubi-tubi kekuatan yang luar biasa.


Cahaya keluar dari mulutnya, saking terangnya Heros yang di belakang punggung monster mengetahui ini dan melompat menghindar.


Tembakan leser merah di ludahkan ke atas udara.


Firasat keduanya tidak salah. Saat cahaya merah itu meledak bagaikan kembang api, hujan serangan leser dengan deras jatuh ke tanah sebagai pusat yang aman hanya tanah monster itu berdiri yang tidak terlibat.


“Ugh!”


Usaha mereka menangkis dan menghindar hampir sia-sia. Tidak, bahkan sangat mustahil. Hasilnya, Heros dan Yohan terkena serangan leser yang mematikan ini.


Dengan daya panas yang luar biasa dan unsur molekul yang di padatkan di dalam setiap partikel leser mampu menembus ke dalam daging makhluk hidup.


Lengan, kaki betis, perut, kulit wajah. Hampir bagian-bagian fatal terkena leser ini.


Lalu cahaya merah yang menjatuhkan hujan leser meredup perlahan.


- Kiiik! Kiii!


Seolah tertawa mengejek dengan teriakannya yang menjijikan. Dia berhasil melihat jika serangannya efektif sangat jelas. Itu adalah serangan yang tidak bisa di hindari oleh medan pelindung manapun kecuali tingkat pelindung itu adalah absolut.


Darah menetes dan turun dari kulitnya. Yohan yang berusaha tidak jatuh menancapkan pedangnya ke tanah, luka-lukanya parah, hampir seluruh tubuhnya berkeringat darah.


Sementara Heros...


“Sial...”


Yohan dengan napas yang tersengal berusaha mendapatkan dirinya kembali dan melihat Heros di sana dengan keadaan hampir mustahil baginya untuk berdiri. Yohan terbelalak kaget dengan luka milik Heros.


“H-hei...”


Tidak ada jawaban dari Heros. Tapi Yohan tahu dia masih terengah-engah seperti orang yang sangat kelelahan.


Wajahnya yang tertutup darah merah dan seluruh tubuhnya, bahkan kulit cokelat miliknya yang tidak bisa diketahui pucat atau tidak, dari wajahnya cukup membuktikan jika dia kewalahan.


Luka Heros menembus ke dalam perut bagian tengahnya!


Monster kelelawar yang tertawa kembali melakukan gerak-gerik. Kemudian yang pertama matanya lihat dengan sorot pembunuh, Heros tercermin di retinanya.


Dalam sekejap, monster itu tiba di depan Heros terduduk pasrah.


Lalu percikan petir merah berkumpul di dalam mulut monster kelelawar yang terbuka energi kemerahan berkumpul di rongga mulutnya.


Esensinya berteriak padanya untuk melarikan diri. Tapi, kakinya tidak mendengarkannya sama sekali untuk menggerakan ujung jarinya saja di tidak memiliki kehendak itu.


“Sial...”


Monster kelelawar tidak menyembunyikan kesenangannya di depan Heros dan menyeringai, dia akan menyembur dan Heros akan berakhir lenyap.


Percikan berkumpul semakin tebal di dalam mulutnya, sekali di muntahkan semuanya selesai.


Kemudian dalam ketiadaan semua yang senyap tiba-tiba membuat gemuruh di seluruh tempat ini.


Langit seolah bergetar kuat dan anehnya tiba-tiba cahaya bersinar terang di tempat yang suram yang menolak cahaya ini, ketika menyadari, monster kelelawar terlambat untuk detik terakhir sampai membuatnya tidak meresponnya.


Dia kehilangannya jantungnya, dadanya berlubang dengan sempurna.


“Enyah kau dari sini bajingan!”


Suara itu datang dari belakang monster. Seharusnya pedangnya kesulitan menembus kulit monster, tapi dia berhasil.


Sebagai gerakan terakhir melenyapkannya dia menarik pedangnya ke atas kepalanya, itu kepuasan tersendiri saat daging otaknya tertebas.


Monster kelelawar tumbang dengan tubuh bagian atas terbelah dua.


Meskipun tubuhnya penuh luka, serangan ini adalah serangan terakhir saat tubuhnya sendiri sudah tidak menjamin untuk melakukannya kedua kali.


“Maaf...”


“Hei, bertahanlah bajingan.”


Walaupun Yohan menyatakannya untuk berusaha mempertahankan kesadaran Heros, dia sendiri tidak bisa mempertahankan kedua kakinya untuk tetap tegak.


Cahaya dan Kegelapan, telah sampai pada ujung batasnya untuk bertahan hidup.