The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 86: MALAPETAKA YANG TERULANG



Sebagai informasi. Keuntungan yang akan di dapatkan oleh para Dwarf melebihi apa yang mereka perkirakan. Batu material itu saja sudah cukup untuk membangun satu Kerajaan agar bertahan tanpa kekurangan kendala pengeluaran dalam kurun waktu puluhan tahun.


Bisa di bayangkan berapa yang di dapatkan mereka untuk membuat satu item dengan modal satu material saja.


Tidak hanya mereka akan mendapatkan uang namun mereka juga mendapatkan pengalaman baru dalam mengolah bahan mentah tersebut.


Dan lagi seluruh material yang saya bawa tidak dalam jumlah sedikit. Bagus untuk dikatakan bahwa ini akan membuat mereka sibuk setidaknya setahun atau lebih jika harus mengolah seluruh bahan material dengan hati-hati.


“Seluruh akomodasi akan di bantu oleh pihak kami jadi kalian jangan terlalu khawatir. Bukan hanya itu saja, kami memberi kalian kesempatan untuk memperdagangkan produk kalian secara legal dengan mengatasnamakan Kerajaan Harvellion sebagai brand utama kalian. Itu akan membuat yang lain iri setelah mendengar berita ini tersebar.”


Tidak bermaksud menyombongkan diri namun saya percaya diri ini akan berhasil. Kalkulasi saya tidak pernah salah. Secara pribadi, ini memang sedikit beresiko. Tapi saya sadar kalau setiap resiko akan membawa keuntungan tersendiri. Kali ini saya tidak ragu mengeluarkan itu sebagai kartu terbaik saya.


Ngomong-ngomong tentang hak akomodasi. Claude juga membuat kesepakatan tersebut jika delegasi ini berhasil. Mungkin saat ini dia sedang menunggu kabar baik tersebut. Saya tidak boleh mengecewakannya.


“Jadi bagaimana, Elder?”


Seolah saya bicara sendiri tanpa dihiraukan sama sekali. Para Elder sialnya mereka sibuk meneliti batu-batu berkilau daripada mendengarkan penjelasan saya.


“Ha? Ah, iya nak. Tidak, tunggu! Bagaimana kau bisa mendapatkan benda seberharga ini. Maksudku, sebanyak ini!”


Saya tidak tahu jika orang tua ini begitu membara mengangkat batu-batu material seperti menyodorkan makanan mentah di hadapan saya, apalagi parahnya dia sangat bersemangat. Bayangan saya terhadap Elder Orlos menurun.


Tidak hanya Elder Orlos, yang lain juga sama. Bahkan, Elder Helgam yang tidak tertarik dan selalu memasang wajah antisipasi diam-diam tertarik.


‘Heh! Dasar tua bangka sialan, reputasi kalian jatuh saat melihat material berharga, huh.’


Yah, apapun itu saya lega jika mereka memilih tertarik kesana. Karena ini artinya mereka secara tidak langsung menunjukkan fakta bahwa itu menguntungkan kalian dan tanpa ragu itu juga membawa mereka pada persetujuan.


“Tapi, apa benar dengan semua yang kau katakan?” Elder Gruazi bertanya dengan kedua tangan penuh batu kristal.


“Ya, jika anda tidak percaya, saya bisa mengundang anda ke negeri kami untuk memberikan kejelasan. Mungkin bagi anda melihat anak kecil seperti saya memberi penjelasan tentang kerja sama dan negosiasi adalah hal memalukan dari pihak kami, bukan?”


Untuk Elder Gruazi sendiri yang paling memiliki cara berpikir intuitif dan tidak langsung bertindak secara gegabah adalah orang yang bisa di ajak bicara. Dan wajar baginya jika tidak ada satu pun dari penjelasan saya yang mungkin dia anggap benar.


Dari semua Elder dialah yang paling ragu atas semua ini.


Baginya entah itu menguntungkan ras Dwarf atau tidak. Intinya, eksistensi mereka kink di pertanyakan dalam negosiasi ini.


“T-tidak, tentu aku tidak menghinamu nak.”


Elder Gruazi menjadis bingung dan di penuhi kecemasan.


‘Bagaimana cara mengatakannya, keberadaan ras kami saja cukup membuat pergolakan antar ras lainnya yang tidak terlalu menyukai ras manusia. Jika berita kami bekerja sama dengan mereka meskipun salah satu dari suatu negara... Ras lain tidak akan tinggal diam.’


Walaupun semua ras tidak memiliki konflik di dalam sejarah selama ratusan tahun setelah perang aliansi. Hubungan mereka yang pecah tidak membuat mereka berperang satu sama lain. Itu bukan karena mereka membentuk perjanjian atau ikatan politik.


Alasannya sederhana... Mereka tidak punya muka untuk melakukannya.


Kemudian sampai sekarang seluruh Kerajaan hanya hidup dalam diam dan ketenangan masing-masing, ketika dunia di landa kekacauan.


Wajar jika Elder Gruazi cemas. Pertaruhan ini bisa menjadi malapetaka.


Melihat wajah Elder Gruazi yang dipenuhi kekhawatiran tersendiri. Mungkin saya bisa tahu apa yang kini dia pikirkan agar tidak bimbang.


“Jangan khawatir Elder. Saya mengerti, sudah saya katakan. Jika salah satu dari pemimpin Kota Industri Tenstheon tidak memberi persetujuan, saya rasa, saya tidak akan memaksa. Negosiasi ini ingin saya lakukan berdasarkan kepercayaan, dan bukan paksaan. Jadi jangan anggap jika kedatangan saya adalah bentuk dari timbulnya bencana di masa depan kalian.”


Satu-satunya ras yang memiliki fondasi yang akan memperkuat persenjataan kami dalam militer adalah Dwarf. Mendapatkan kepercayaan mereka adalah bentuk cinta dari dewi keberuntungan untuk saya. Tapi, jika ini tidak berjalan, maka saya tentu menyerah.


Namun, saat itu terjadi ketika rencana saya gagal. Saya akan mengambil jalan lainnya. Ras lain tidak akan tinggal diam? Harga diri mereka sangat tinggi sampai langit pun tidak mampu menampungnya.


Dan negosiasi dengan Dwarf adalah salah satu bentuk rencana saya untuk membuat ras lainnya bergerak.


“... Kau anak yang aneh.” gumaman datang dari bibir Elder Gruazi. Tapi, tidak hanya gumaman, dia bahkan tersenyum di sudut bibirnya.


“Tidak perlu berkata begitu, nak. Kami percaya padamu.” dan dilanjutkan oleh kalimat Elder Orlos. Dalam pengucapannya bisa saya rasakan bahwa dia sepenuhnya tulus dan jujur.


Bahkan tanpa argumen yang mana berat lagi, saya melihat Elder Mouris, Vergo, dan Helgam. Tidak mengumpan balik pernyataan dan memilih diam atas persetujuan Elder Orlos yaitu pemimpi di pertemuan ini.


“Setelah rapat ini selesai kami para Elder akan menandatangani surat perjanjian beserta kontrak kerja yang kau inginkan dan tentu sesuai ketentuan yang kau katakan.”


“Baik, terima kasih Elder.”


Perasaan senang tidak cukup untuk menyampaikan apa yang saya katakan. Kelegaan yang tadinya mustahil saya rasakan ternyata muncul di detik-detik terakhir dimana saya menganggap akan kegagalan. Ya, saya berhasil.


Dengan ini sedikit demi sedikit perubahan akan di mulai.


Tapi, saya masih belum mendapatkan satu jawaban lagi. Sepertinya mereka melupakan hal terpenting dalam pertemuan ini.


Ketika saya bertanya dengan suara konsonan yang rendah wajah dari Elder yang bahagia berubah.


“Elder, bagaimana dengan pertanyaan yang satu lagi? Fakta terakhir yang saya sampaikan sebelumnya.”


Fakta terakhir. Apakah benar mereka bekerja sama dengan para Iblis atau tidak? Sekarang dan disini saya ingin menemukan jawabannya.


Namun, ekspresi para Elder menunjukkan seperti deklarasi saya ini tidak seharusnya saya kaitkan lagi pengungkapannya disaat mereka tidak ingin mengatakan apapun.


“Tidak. Itulah jawabannya.” dengan penuh keyakinan dan tepat pada landasannya dia tidak ragu dengan itu.


Namun dia belum selesai dan melanjutkan.


“Fakta itu tidak benar. Itu yang bisa aku katakan. Tapi, jika mendengar cerita ini mungkin bagimu fakta itu benar, nak.”


Lalu suaranya berubah semakin dan semakin tenggelam. Wajahnya yang seolah telah meninggalkan dunia ini dan pilihannya dalam tindakan tersebut itu benar. Tidak membuat kemungkinan, dia mengakui kekalahan.


“Pada perang aliansi, kita para ras Dwarf mundur. Itu yang aku katakan padamu. Tetapi, selain mundur kami melarikan diri dan pada akhirnya bersembunyi sampai perang mereda. Tapi, itu tepat sebelum Kota ini di bangun.”


Kemudian kata-katanya menyatu dalam udara dan menghilang saat itu juga.


“Raja iblis mengejar kami.”


Waktu seperti berhenti ketika kalimat tersebut keluar langsung dari kerongkongan Elder Orlos. Ruang pertemuan tidak di penuhi semangat lagi, sebaliknya itu sekarang jatuh dalam penderitaan terkelam.


“Setelah berhasil kabur, kami bersembunyi di balik dinding yang memutuskan antar dunia luar seperti sekarang. Berkah dari putri Dryad masih aktif, dan kehidupan kami di bawah perlindungan beliau membuat kami lega dan damai sejenak. Itulah yang kami pikirkan.”


“Apa... yang terjadi?”


“Perang berakhir beberapa bulan setelah kami melarikan diri. Pihak manusia menderita kehilangan banyak hal. Kemudian kami pikir itu telah selesai, namun tidak. Salah satu dari Raja Iblis saat di medan perang mengejar kami dan meluluhlantakan apa yang kami miliki.”


Jika mereka pada akhirnya dikejar Raja Iblis itu masuk akal. Satu Raja Iblis saja setara dengan bencana alam yang besar dan mampu menghancurkan satu Kerajaan dengan mudah. Pada saat itu, pastilah para Dwarf, menderita keputusasaan yang lebih besar.


“Dia menghancurkan dan membunuh ras Dwarf. Lalu kemudian dia berkata akan mengampuni kami dan menyisakan setengah dari kami agar tetap hidup, dengan mencuri semua item yang kami ciptakan.”


Mungkin itulah alasan kenapa para Dwarf sangat waspada terhadap orang luar dan memasang segala bentuk keamanan diri dimana pun mereka berada.


“Contohnya Kantong Dimensi ini.” itu adalah kalimat dengan kesedihan yang dikeluarkan oleh Elder Orlos. Para Elder lainnya juga sedih seperti itu.


Bagaimanapun karya mereka adalah harta berharga bagi mereka daripada hidup mereka sendiri.


Kehilangan item ciptaan mereka, itu lebih buruk daripada kehilangan nyawa sendiri. Karena item bagi ras Dwarf, adalah bentuk kehormatan dan harga diri mereka.


“Begitu... Maafkan saya karena membawa luka yang tidak seharusnya.”


“Tidak. Ini adalah kebenarannya, tidak masalah jika kau mengetahuinya. Alasan kami menyembunyikan fakta ini karena—”


“Saya paham. Anda tidak perlu lagi mengatakannya jika itu berat.”


Ah, ini buruk. Saya tidak bermaksud untuk membuka luka lama, namun secara tidak sengaja saya telah membukanya. Betapa beratnya ketika luka itu terbuka, saya paham akan perasaan itu.


Elder Orlos tersenyum. “Terima kasih.”


Saat saya sendiri tidak bisa memberi balasan kembali.


Situasi yang mengembang ini menjadi lebih berkembang ke arah yang tidak seharusnya.


Dan tiba-tiba ruangan pertemuan menjadi bergetar hebat seperti tanah telah di landa gempa bumi skala besar.


“...! Ada apa ini!?” Kata Elder Gruazi yang panik.


Elder Orlos dan Elder Helgam yang memiliki intuisi tajam bangkit dari tempat duduknya dan mengambil senjata mereka.


Saya tidak tahu apa yang terjadi sampai terjadi guncangan hebat dan memutuskan mengikuti mereka keluar.


Ketika saat melihat saya keluar di tengah para Elder, para Party saya mendekat ke arah saya, terutama Yohan yang terlihat sangat cemas langsung bicara.


“Al! Kamu tidak apa? Tadi aku merasakan tekanan dari ruang pertemuan, apa terjadi sesuatu yang buruk?”


“Tidak hyung, semua berjalan lancar. Daripada itu, ada apa ini?”


Kota Industri Tenstheon tidak hanya di landa gempa yang bergetar melainkan para rakyatnya keluar dari bangunan dan terjadi keramaian karena guncangan.


“Aku tidak tahu...”


Pada saat itu july yang muncul juga memastikan kejadian ini dengan wajah yang terdistorsi.


Langit yang perlahan menjadi gelap dan meledakkan kilat di atas menjadi fenomena yang tidak terprediksi.


“... Tiba-tiba langit menjadi gelap dan aneh.”


Kata Yohan berikutnya.


Lalu July yang ada di depan yang telah menduga apa yang terjadi ini membuka suaranya dengan suara yang penuh kemarahan.


[Dia datang.]


Elder bingung dengan kata July tersebut. Tapi, itu tidak berlangsung lama.


[‘Ratu Malam 25’ datang lagi!]


Para Elder menjadi sangat terkejut, wajah pucat mereka menjawab segalanya. Itu bukan hanya ketakutan, lebih dari itu... Adalah keputusasaan.