The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 45: KEMUNCULAN DRYAD



“Apa... yang kamu katakan?”


Veronica terkejut, pupilnya melebar menjadi bagian terkecil korneanya.


Itu untuk menyebabkan beberapa tekanan yang tegang.


Kemudian Yohan dan Heros datang dengan suara mendesah ‘Huh’ saat bibirnya tertarik di sudut kanan dan alis mereka berkedut.


Yohan berbicara. “Al, kamu bercanda kan?”


Di susul dengan itu Heros ragu-ragu menambahkan. “Alvius, sepertinya itu agak...”


Pada saat itu saya tidak mengerti kenapa mereka seolah melihat saya memiliki ide yang buruk. Tidak, ini adalah ide seratus persen terbaik dari semua ide yang saya miliki. Ayolah, saya akan mendapatkan banyak keuntungan dari ini.


“Apa...” samar suara melengking masuk. “Apa kamu sudah gila!?” meledak untuk itu Veronica benar-benar hilang kesabaran.


Wajah gadis ini memerah dan berapi-api dengan kemarahan. Seperti telah mencicipi bumbu yang pedas, sementara dia tidak tahan pedas.


Membuat saya untuk menjawab dengan tenang dan santai seolah ini bukan masalah besar.


“Ya, aku benar-benar waras.”


jika tidak saya tidak akan pernah mengusulkannya di awal.


“Apakah itu buruk?”


Urat muncul di dahi Veronica begitu kalimat spontanitas saya sangat skeptis.


Senyum tipis-tipis dia paksakan dan satu alisnya naik ke atas.


“Hei, bajingan kecil... Kamu jangan main-main! Kamu tahu mereka adalah ras yang hidupnya lebih lama dari manusia, menurutmu mereka akan jatuh ke dalam ocehan anak sepertimu! Huh?”


Veronica menambahkannya dengan dengusan sombong dan berkata arogan. “Heh! Itu tidak akan pernah terjadi, lagipula orang-orang tua itu tidak akan jatuh dalam kelicikanmu, maksudku mereka hidup lebih lama jadi pengalaman mereka pasti lebih banyak.”


Ya, itu tidak salah juga. Sebenarnya saya berpikir terlalu di luar persepsi. Untuk menghubungkan dua ras dan saling berbicara, sama mustahilnya saat diplomasi antar negara asing terjalin ketika mereka tidak cocok hidup berdampingan.


Saya masih melihat pada batu-batu berkilau.


Coba lihatlah, apakah mungkin bagi ras dwarf untuk tidak tertarik dengan barang ini. Ini pastilah revolusi yang mereka cari selama ini.


Seperti yang dikatakan Veronica ini sulit. Ya, saya setuju dan mengangguk ringan.


Tipis saya tersenyum pahit dan berpikir, ‘Bagaimana caraku bisa memancing dwarf itu?’


Ini tidak seperti saya akan pergi ke sungai Han dan berpikir untuk memancing.


“Hei, jangan coba-coba memikirkan ide yang buruk lagi. Pikirkan orang disekitarmu, mereka ketakutan setengah mati saat mendengar ide gilamu.”


Hm...


Ah.


Sesuatu telah membuat mereka syok. Perasaan heran dan pikiran seolah semuanya mustahil jika yang sedang berbicara itu adalah saya. Itu membuat Yohan dan Heros tertekan dan hilang fokus.


“Maaf. Tapi sepertinya kalian jangan terlibat, ini sulit bagi kalian. Biarkan aku dan Veronica yang memikirkan jalannya. Hyung dan senior duduk saja.”


Veronica menunjuk dirinya sendiri “Ha! Kenapa aku terseret juga!?”


“Karena kamu juga bagian dari ini dan menyerahlah.”


“Sial!” dan sumpah serapah dia terapkan.


Kemudian saya mendekat dan berbicara berdua dengan Veronica masalah tentang ini.


Pertama-tama mari—


“Al...”


“Ada apa Hyung?” saya tersenyum selembut mungkin meresponnya.


Pada detik itu juga Heros dan Yohan murung dan muram. Saya sedikit menajamkan mata dengan kecurigaan.


Tunggu, ini seperti saya bisa melihat telinga mereka turun layaknya seekor puppy kecil.


“Al, Biarkan aku terlibat juga.”


Di setujui dengan Heros yang mengangguk dengan kilauan mata yang malang.


Mengapa ini seperti saya sedang berdebat dengan binatang peliharaan yang ingin di ajak keluar jalan-jalan, sementara saya akan pergi mencari nafkah.


Sekali lagi saya menghela napas dan tersenyum dengan tingkah mereka.


“Baiklah, jika kalian ingin itu.”


Kembali fokus pada pembicaraan. Kami berempat disini serius dalam perbincangan dan saling berbagi informasi. Sementara saya berpikir bahwa ini bagus jika melihat tidak ada pertengkaran yang tidak penting di antara mereka bertiga.


Lalu pertama-pertama, Heros berbicara.


“Menurutku untuk informasi antara ras dwarf dan iblis. Itu sedikit konfrontasi. Seperti yang dikatakan jal— maksudku Veronica, tidak semuanya terlibat satu kasus saja. Jika itu benar, maka sejak awal akan ada pertarungan besar antar sesama ras lain. Tapi, sampai sekarang tidak ada berita mengenai hal itu.”


Veronica yang mendengarkannya merengut kesal menatap Heros dengan datar pada matanya, ‘Hei bajingan, baru saja kau ingin menyebutku ******?!’


“Kesampingkan soal mereka berdebat dengan ras lain atau bekerja sama dengan iblis. Kita manfaatkan situasinya jika itu benar. Dan ini akan semakin menguntungkan kita jika rumor itu benar.”


Semakin kesini saya semakin diliputi kebahagian melihat ras lain hancur dengan ide saya.


“I-itu benar, tapi tolong Alvius jangan bertindak aneh...” jawab Heros sedikit takut dan ragu pada pemikiran saya.


Veronica sebagai landasan menjawab. “Hei, kawan, ini tidak seperti kita akan berperang bukan. Hei, bajingan kecil. Jika saja rencanamu ini berakhir buruk, maka yang terkena imbasnya bukan kamu saja, satu Kerajaan dan bahkan ras manusia akan mengalami mimpi buruk.”


Pandangan kami tertuju padanya dengan kondisi kelam.


Veronica melanjutkan dengan merengutkan pahit dahinya.


“Kamu tahu sendiri faktanya ras dwarf adalah pembuat item legendaris yang kuno. Jika sampai terlibat dengan ahli militer senjata kuno seperti mereka, maka tamat sudah sisi manusia sebelum bisa menghadapi kekacauan yang disebabkan oleh para iblis.”


Awal mulanya dunia ini dibagi di antara berbagai macam ras yang mendominasi. Tapi kebanyakan adalah manusia.


Kelangsungan hidup manusia terus berkembang sejalan dengan era yang maju. Semakin dalam dan semakin jauh pandangan umat manusia, itu membuat ras lain tidak memiliki pilihan selain membenci manusia dan iri.


Kemudian akhirnya, ras iblis dan monster dungeon muncul sebagai kiamat di dunia ini.


Persis yang dikatakan Veronica, informasi itu cukup untuk menghancurkan ide saya. Salah sedikit saja semuanya akan jatuh dalam kekacauan.


Tapi.


Saya berpikir lagi menyentuh dagu dengan lembut.


‘Kenapa aku harus memikirkannya?’


Dunia ini telah jatuh dalam kehancuran sejak saya tiba. Lalu kenapa mereka takut akan kehancuran berikutnya? Ini tidak seperti saya memegang tombol nuklir yang siap di ledakan. Tapi, alih-alih tombol nuklir, ini adalah revolusi saya membentuk nilai kekuatan yang saya butuhkan.


Saya menyeringai datar kepada mereka sembari terkikik nakal.


“Kalau begitu mari kita hancurkan semuanya saja. Lagipula dunia ini akan hancur.”


Lalu saya berjalan ke arah jendela.


“Diam saja tidak akan membawa keberuntungan. Jika kita tidak berani mengambil langkah yang mematikan, maka...” saya menoleh dan berkata “Sebaiknya berhenti saja menjadi manusia!”


“Haha... Kamu benar-benar sudah gila, bajingan kecil.”


Dengan ringan saya menaikkan pundak dan tersenyum tipis.


Yohan dan Heros saling menatap. Lalu Heros menaikkan tangannya seolah pasrah, dan Yohan menekan dahinya seperti dia sedang migrain.


Di pikir lagi, saya sempat memberi apresiasi bahwa dunia ini indah dan itu jujur.


Tapi, setelah di tarik ke dalam dungeon Sabnock saya tidak tahu lagi. Indah dan tercemar, mana yang lebih masuk akal.


Tidak menyerah pada kehidupan kali ini membuat saya seakan tertelan ke dalam semua kekacauan dan bencana. Dunia ini tidak mengizinkan siapapun berpikir bahwa kemerdekaan dan kedamaian sudah di dapatkan.


Hanya teror dan mimpi buruk yang di persilahkan untuk hadir.


Saya tidak ingin kehilangan moralitas. Tapi, setelah hidup di dunia ini, saya akan melakukan apapun untuk hidup layak bahagia bersama keluarga.


‘Apapun caranya aku akan berusaha mendapatkannya.’


Heros bertanya karena penasaran, “Dan dengan itu. Bagaimana kita akan menjual ini dan membuat dwarf tertarik dengan kita dan mengambil umpannya.”


“Apakah kita coba alihkan pada para blacksmith agar mereka memakan umpannya? Atau kita bisa melakukan lelang di pasar gelap?”


Di sambung dengan beberapa pernyataan saran dari Yohan, Veronica menjawab.


“Sebaiknya jangan, itu ide buruk. Blacksmith dan juga lelang pasar gelap itu adalah taman bermain bagi para bangsawan. Aku dengar, terutama untuk kamu bajingan kecil. Gereja sedang tidak akrab dengan mereka, bukan. Jadi sebaiknya jangan memancing hal yang tidak diperlukan.”


Terkadang saya sangat terkagum dengan luasnya pegetahuan dan nilai intelektual dalam mengambil dan memecahkan masalah dari seorang Veronica. Saya beruntung bisa membuatnya bekerja di bawah saya.


Saya bergerak di tengah dan berbicara. “Veronica benar, sebaiknya kita tidak terlalu memancing para anjing royal.”


Begitu juga dengan Claude. Saya harap pekerjaannya semua sedang berjalan lancar. Kontrak saya dengannya masih berlaku, jadi membuat bangsawan lain mengejar saya itu tidak bagus. Jika sampai Claude tahu mengenai ini dia akan menjadi gila dan menghancurkan para bangsawan.


Ini bagus jika dilihat sebagai kesempatan besar.


Tetapi, itu akan mengganggu jalannya untuk masa depan.


Jadi kita libatkan Claude nanti dan mencari jalan keluar lainnya.


Kemudian pada saat itu seperti sesuatu mendengar keluh kesah kami. Sebuah badai angin menerobos masuk ke dalam ruangan ini. Pusaran angin yang kencang dengan warna kehijauan alami di temukan di dekat jendela yang terbuka.


Sasasah!


Pada saat suara dan embun gelombang angin topan memudar. Sekelebat sesuatu melewati titik pandang saya dengan kilauan butir-butir cahaya hijau.


Hanya satu yang bisa saya pikirkan, ‘Apa ini?’


Detik itu juga, akar keluar dari tanah di sekat jendela, kupu-kupu berterbangan masuk di ruangan ini, dan cahaya bola-bola gelembung hijau bertaburan seperti membuat seisi ruangan menjadi interior volcadot.


Sosok muncul turun menunggangi udara, rambutnya menyentuh tanah dengan gaun hitam panjang berekor miliknya. Saya terpukau pada sekali lihat kealamian yang natural dalam kecantikan. Mungkin jika nominasi aktris ada di dunia ini saya yakin sosok ini akan memenangkan semua sekaligus penghargaan terbaik.


Lalu dengan ‘Slalala’ hembusan angin yang merdu seperti melodi ketukan yang indah.


Tanpa sadar bibir saya terbuka dan berkata. “Siapa?” dengan suara terpukau.


Pertama dia mengedipkan matanya. Itu mata tidak biasa. Retina yang seperti batu permata emerald dan garis iris tipis dengan sedikit coretan kehitaman. Itu seperti panah tinta hitam menggores retina emerald miliknya.


Bola gelembung menari di dekat saya diikuti dengan bola mata saya.


Kemudian dengannya mengangkat rendah gaunnya seperti memberi salam, suara terdengar.


[Salam untuk Saint milik umat manusia.]


Inilah mengapa saya terpukau, suaranya adalah melodi indah itu sendiri.


Senyum tipis pada bibirnya yang menawan terlukis lembut.


“Kamu siapa?”


[Aku, ‘The Oldest Princess’, Dryad. Namaku, July Lilyca.]


Tanpa lama lagi saya hanya bisa terheran-heran dan bingung harus memasang respon seperti apa.


Tiba-tiba Veronica bergegas berdiri di depan saya dengan belati kembar dia hunuskan kemudian berteriak hebat.


“Apa yang kamu lakukan bajingan kecil?! Dia berbahaya! Apa kamu tidak menyadarinya!?”


Karena dia bilang begitu, saya langsung terbelalak menatap ke depan.


Jelas sekali bahwa sejak dari tadi saya tidak menyadari, jika peringatan telah muncul.


[Sosok berbahaya! Peringatan! Peringatan!]


Di imbuhi dengan warna merah darah pesan itu mengalir deras.


Sosok itu menatap saya dengan wajah sayu dan senyum tipis. Tidak terpikir jika itu, terlihat berbahaya.