
Datang ke sini sejak awal tujuannya adalah untuk negosiasi dengan cara sedikit bermain cara berpolitik. Mungkin aneh jika mengatakan anak usia 8 tahun untuk memainkan semacam tingkat kesulitan cara berdiplomasi dengan benar. Namun para Elder mengetahui satu hal tentang mata dalam anak itu.
Kepuasan, keserakahan, tamak, hasrat, harapan, dan sifat yang menonjolkan jati dirinya itu adalah sejatinya secara keseluruhan dan itu tidak mudah goyah. Ambisinya tidak akan jatuh meski dia gagal di sini. Lalu apa itu? Para Elder melihat, pemandangan dimana puncak dari hasrat yang tanpa batas tercermin di pupilnya.
“Bodoh! Apa kau pikir mengeksploitasi kami itu adalah tindakan terhormat!?”
Dipikir bagaimanapun tindakannya sudah melewati batas. Itu penjelasannya yang singkat. Alih-alih berafiliasi dengan ras manusia dengan ras Dwarf secara menyeluruh justru dia membalikkan meja dengan menyatakan bantahannya dia secara tunggal ingin kekuatan Dwarf untuk negaranya sendiri.
Bahkan Elder Helgam yang tidak sanggup menahan amarahnya kini emosi meledak-ledak dan ada wajah cemas serta kekecewaan yang mendalam disana.
“Ras manusia saja sudah cukup membuat kami berpikir dua kali untuk menyatakan bekerja sama dengan mereka! Dari masalah politik dan ekonomi kami tidak berpikir bahwa menjabat tangan mereka akan membawa perdamaian!” Gertak kuat Elder Helgam dengan membanting meja.
“Helgam tenangkan dirimu sebentar.”
“Apa kau tidak berpikir sama denganku Orlos?! Dia mencoba mengklaim ras kita dan memanipulasi semua yang ada disini demi keuntungan pribadinya. Kenapa kita harus mempercayai jika yang dia katakan adalah benar dan bukan gertakan!”
“Helgam!!”
Teriak keras Elder Orlos yang tidak hanya membuat Elder Helgam terdiam dan tak berkutik, selain dia para Elder yang lain juga demikian membisu dan bimbang di antara sudut alisnya dan bibirnya yang melengkung ke bawah.
Kemudian Elder Orlos menghela napas setelah berhasil membuat Elder Helgam duduk kembali dengan tingkah laku kasar dan angkuh dan menyilangkan tangannya, jangan lupakan dia mengutuk sebelum melakukannya.
“Nak, aku mengerti. Jadi maksudmu kau ingin melakukan kontrak perjanjian antara negaramu dan ras kami apa benar begitu?” tanya Elder Orlos dengan nada yang masih kecewa, dia masih berpikir bahwa itu hal yang mustahil di capai.
“Jika kita melakukannya artinya kita seperti di monopoli, bukan?” tambah Elder Gruazi yang cukup pahit.
Ras Dward di kenal dengan kecerdasan mereka dalam membuat sebuah item termasuk persenjataan. Dalam hal kekuatan mungkin mereka akan kalah dalam bakat dan potensi. Namun, cukup dengan teknologi mereka yang pandai sebagai penempa handal, satu senjata tingkat tinggi mereka saja bisa menyapu hingga ratusan bakat dengan mudah.
Hanya mereka yang bisa melakukannya dan tidak ada selain mereka. Ras Dwarf ditakuti bukan karena mereka adalah ras terkuat, melainkan tingkat peralatan kemiliteran mereka melebihi seluruh ras yang ada di dunia ini.
Untuk beberapa saat tidak ada lagi kerusuhan yang memicu. Saat masih di atas akar yang kekar sama sekali tidak melepaskan tatapan dari menatap para Elder dengan berani.
Kemudian membuka mulut dan mengeluarkan ketegangan.
“Kalau begitu apa? Saya tidak bermaksud untuk memanipulasi, memonopoli, atau mengekploitasi segala yang kalian miliki. Kerja sama di antara kita nanti tidak bersifat mutlak, kalian bisa membatalkan perjanjian itu kapanpun kalian mau jika kalian melihat bahwa ras manusia adalah bajingan yang sama yang kalian benci.”
Daripada mengatakan saya membenci kalian dengan tingkah bodoh dan keras kepala kalian. Membuat mereka membuka mata sendiri adalah yang terbaik.
Tatapan mata yang datar yang memperlihatkan bahwa saya sedang mencoba membantah setiap argumen orang yang lebih tua adalah cara menunjukkan kebodohan. Elder dia tidak pernah tahu tentang sikap ini dan sekarang anehnya mereka lebih tegang dari biasanya.
“Diplomasi ini kurang resmi karena negosiasi bahkan tanpa adanya sambutan hangat dari pihak kedua. Jadi pikirkan bahwa perjanjian kita sama seperti acara sambutan yang tidak elegan ini. Dengan kalian menjabat tangan kami, saya pastikan kalian tidak akan kecewa. Saya bisa membawa teknologi kalian keluar dunia dan membuat ras manusia berhutang pada kalian. Lalu apa yang kalian permasalahkan?”
Entah kenapa dari segala ucapan saya kali ini ada banyak emosi yang menggambarkan kekesalan yang tidak bisa di ekspresikan dengan baik. Perasaan yang meluap dan siap meledak itu berhasil ditahan sesempurna mungkin.
Takut akan meledak pada akhirnya raut wajah tidak tertarik lagi menyelubungi ekspresinya.
“Seberapa tinggikah harga diri kalian? Jika harga diri bisa di beli saya akan membelinya sekarang juga bahkan jika saya harus menjual salah satu organ dalam saya.” ucap saya yang cukup menghancurkan batas kesabaran.
Dan dengan itu saya melanjutkan.
“Jika kalian takut bahwa negara saya akan melakukan perpecahan maka tulis dalam kontrak, jika kalian takut bahwa negara saya memanfaatkan teknologi kalian maka tulis juga dalam kontrak, dan jika kalian takut dengan rumor buruk ataupun sesuatu yang bisa menjatuhkan martabat ras kalian maka tulis juga dalam kontrak. Kemudian saat salah satu dari kontrak tersebut telah di langgar, saya akan menanganinya. Apapun yang kalian inginkan untuk negara saya meskipun itu kehancuran, dengan tangan saya sendiri saya akan melakukannya.”
Dengan mata yang semakin dalam dan dalam seolah membawa jurang keputusasaan ke dalam pupilnya, jauh lebih menakutkan saat berusaha berpaling dari tatapan mata kecil yang bulat sempurna itu.
Termasuk Elder Orlos semua Elder menelan ludah mereka sendiri.
“Nak, kenapa kau melakukannya sampai sejauh itu?” Elder Orlos yang sedikit mulai kehilangan ketenangan atas kecemasan yang dia rasakan mengangkat sedikit tangannya.
Lalu senyum tipis dengan tatapan pandangan mati memberinya jawaban.
“Sudah jelas bukan. Saya menginginkan kalian untuk berpihak pada saya.”
Tujuan hidupnya adalah membangun fondasi yang bermanfaat dan menguntungkan untuknya. Itu bukan sekedar ambisinya. Ini merupakan jelas potensi tanpa batas miliknya yang telah lama menjadi angan-angan baginya. Dia ingin memenuhinya, dia ingin menciptakan kehidupan baik, tanpa harus memandang ke belakang.
Di kesempatan kali ini, hidup layak dengan membangun koneksi, fondasi yang tidak ada yang bisa menggoyahkannya, meskipun dunia akan berujung pada kehancuran. Setidaknya berpikir — tidak peduli keadaan dunia, langkahnya akan membimbingnya di kehidupan yang layak dan nyaman tanpa ada masalah sama sekali.
...Saya tidak mau hidup dengan putus asa tanpa melakukan apapun.
Walaupun mengetahui hidup dan mati di pertaruhkan.
“Saya akan tetap melangkah meskipun tanpa atau dengan bantuan kalian.”
Alasan kenapa saya tidak mundur, alasan mengapa saya tidak takut dan tegang saat berhadapan dengan orang yang lebih tua bukan karena ini kehidupan kedua saya. Melainkan saya sudah tidak mau usia saya saat ini atau kehidupan lama saya dulu, mengganggu jalannya takdir yang sekarang sedang berjalan.
Mungkin Elder tahu, filosofi dalam kitab sejarah membuat mereka terlihat di singkirkan dari pandangan dunia. Namun mereka sadar jika mereka sendiri yang memilih mengasingkan diri dari dunia ini.
Elder Orlos menghela napas panjang dari hidung mancungnya dan mulutnya yang nampak seperti pecandu perokok. Dia juga tersenyum ringan.
“Haa... Baiklah setidaknya kita bisa mencapai kesepakatan dengan itu.”
“Orlos!”
“Helgam, sejarah telah berubah, peradaban dan era telah berubah. Ras Dwarf tidak akan bisa bersembunyi selamanya. Anak itu benar, dunia ini tidak akan pernah mengizinkan kita untuk hidup dengan tenang. Kau sendiri juga melihat monster mengerikan itu waktu perang bersama aliansi.”
Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi Elder Helgam hanya bisa membelokkan lehernya tentang kebenaran tersebut yang membuatnya menyadarinya sekali lagi. Dan tangannya meraih pada mata yang tertutup itu.
Hanya Elder Helgam yang merasakan putus asa itu. Karena itu, bukti bahwa dia menjadi saksi kelam di masa itu, dia kehilangan satu penglihatannya secara permanen.
“Apakah kalian sudah menerimanya dengan tenang?” saya juga akhirnya bisa lega untuk bernapas dengan bebas.
“Ya.” jawab Elder Orlos lalu dengan respon itu yang lainnya juga mengangguk sebagai bentuk tanggapan mereka.
“Akan saya jelaskan sekali lagi. Saya ingin kalian membuatkan senjata untuk pasukan negara kami, ini bukan untuk melakukan peperangan dengan ras atau apapun yang kalian pikirkan, namun dalam kondisi dimana akhir-akhir ini dungeon yang terbuka melebihi kalimat normal.”
Sebagai contohnya adalah dungeon yang pernah di taklukan oleh Veronica dan bawahannya. Bahkan ada campur tangan luar sehingga kali ini masalah itu tidak bisa di biarkan.
“Selain itu anehnya monster-monster itu sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Jadi saya pikir masalah ini menjadi lebih serius dan kami membutuhkan peralatan yang setara dengan nyawa kami. Sampai kami bisa menebas dan berakhir dengan kami yang tidak bisa mengayunkan pedang lagi.”
Kemudian saya melanjutkannya.
“Kontribusi kalian cukup sebagai pemasok persenjataan kami saja itu sudah menjadi hal yang bisa saya syukuri jika kalian mau bekerja sama dengan kami. Lalu untuk komisi dan pembayaran, kalian akan mendapatkan seperti apa yang saya katakan sebelumnya.”
“50:50, begitukah?”
“Ya. Namun, tidak hanya itu, kalian bisa mengeluarkan isi dari Kantong Dimensi di atas meja tersebut.”
Setelah Kantong Dimensi itu di lempar oleh Elder Mouris, yang mengambilnya adalah Elder Gruazi karena dekat dengan posisinya. Dia mencoba menerka-nerka sebelum akhirnya menuangkan Kantong Dimensi ke bawah dengan goyangan tangannya. Kemudian Kantong Dimensi lain muncul dan berjatuhan.
“Kantong Dimensi dalam Kantong Dimensi?” dia sempat ragu-ragu dan bingung namun pertanyaan itu menjadi miliknya sendiri.
Lalu pada saat itu dia kembali menuangkan ke bawah Kantong Dimensi pertama yang dia ambil dari puluhan Kantong Dimensi yang ada di atas meja. Dan betapa terkejutnya semua Elder saat batu-batu dengan warna berkelip terang berjatuhan seperti tumpahan batu dari tambang berlian.
Mata semua Elder terbelalak dan melotot lebar memandang betapa bersilaunya batu tersebut dan memenuhi meja sekarang. Elder Helgam pun tidak bisa menolak pesona dari batu tersebut. Bibir para Elder jatuh ke tanah.
“B-batu ini...”
“Kenapa banyak sekali?”
Saya tersenyum licik, akhirnya mereka menunjukkan sifat asli sebagaimana ras Dwarf yang tertulis di sejarah.
“Benar, tidak hanya 50:50, kalian bahkan bisa mendapatkan keuntungan yang lebih jika kalian mau.”
“Eh?!”
Sekarang bagaimana ini akan berjalan.