The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 33: SAINT YANG TERLELAP (3)



Hari 27 ketidaksadaran.


Pada hari itu pelaku utama dan dalang dari semua tragedi ini adalah salah satu Priest di Gereja. Dia adalah High Priest yang paling tidak akan terduga orang akan menganggapnya sebagai sosok yang berbahaya.


Di bantu dengan ksatria keamanan yang dikirim pangeran mahkota, di komandani oleh Jean Jacques. Mereka menangkap pelakunya.


Direktur Sarion memang tidak menduga hal tersebut. Dia tidak menduga, dia terlalu mempercayai orang itu tidak lebih sebagai rekan yang lama bersamanya. Direktur Sarion dengan ekspresi dingin berbicara.


“Apakah anda puas karena menghancurkan tempat ini adalah sebuah kegagalan bagi anda? High Priest, Fatimas.”


High Priest Fatimas. Orang kedua yang juga terlibat dalam fondasi pembangunan Gereja. Dan juga salah satu anggota party bersama Direktur Sarion di masa kejayaan mereka dulu dalam memurnikan dunia ini. Namun, dia gagal. Kegagalan itu mungkin bisa diterima para party Direktur Sarion.


Tidak dengan Fatimas. Di perjalanan terakhir mereka dalam kegagalan melawan [Demon Lord], dia membuat kontrak dengan iblis itu. Iblis yang paling berbahaya dan penuh dengan tipu muslihat. Sebagai imbalan Fatimas diberikan kekuatan sihir gelap bersama beberapa item ciptaan iblis.


Dan salah satu item itu adalah [Blood-Core Essence of Abyss] yang memicu munculnya [Deception Eye] ketika perpindahan paksa dilakukan untuk mengirim target dan beberapa objek makhluk disekitarnya, ke tempat dimana koordinat telah di tentukan. Dan koordinat itu adalah Dungeon milik iblis Sabnock.


Fatimas bertanya ketika tangannya telah dikunci. “Sarion, katakan padaku, apakah umat manusia bisa yakin dan menang melawan kejahatan terbesar. Kau sendiri melihatnya dengan mata kepalamu sendiri bahwa kita tidak akan pernah bisa menang melawan makhluk mutlak seperti Raja iblis.”


“Karena itukah anda menjual jiwa anda pada iblis. Apakah janji iblis kepada anda adalah sebuah bentuk keselamatan yang layak dinanti?”


Fatimas terkekeh kelam. “Meski begitu dihadapan mereka, bahkan kau yang dalam keadaan paling prima langsung kehilangan kekuatanmu saat itu juga.”


Ucapan Fatimas bagaikan tombak api yang menusuk dan membakar ke dalam jantung Direktur Sarion. Luka lama dalam kenangannya terbuka hingga bayang-bayang menyeramkan sosok yang mutlak itu membuatnya gemetar merinding.


Sayangnya kalimat Fatimas belum berakhir. “Kau tahu bahwa tidak ada dari umat manusia yang akan menang melawannya. Kehendak dunia ini sudah ditentukan sejak awal.” kemudian dia semakin menggila dan mengeras. “Dewa telah meninggalkan dunia ini. Dunia terkutuk ini bahkan tidak mendapatkan bantuan dari para dewa. Lalu apa lagi yang umat manusia tunggu... Pemusnahan!”


“Bawa dia pergi!” Direktur Sarion yang tidak tahan lagi memberi perintah untuk segera menyingkirkan Fatimas dari hadapannya. Meski begitu Fatimas masih melihat ke arahnya dan mengatakan hal-hal yang membuatnya seolah dikutuk dengan kata-kata.


“...Apa yang akan anda lakukan dengan benda itu?”


[Blood-Core Essence of Abyss]. Batu kristal seukuran dua kepalan tangan ada di depan mereka di atas pilar rendah.


“Sesuai perintah dari pangeran, saya akan menghancurkannya. Apa tidak masalah?” jawab Jean Jacques.


“Tentu,” Direktur Sarion kemudian melihat ke arah para ksatria yang ada disini yang mana dikirim langsung atas nama pangeran mahkota. “Benda seperti itu, siapa yang menginginkannya.”


Untungnya item itu hanya sekali pakai. Jika tidak, akan timbul lagi kekacauan yang lebih besar yang mungkin lebih berbahaya dari sebelumnya. Membawa target langsung masuk ke dungeon. Memikirkannya saja membuat semua orang disini merinding tak berdaya.


Jean Jacques yang mengangguk langsung menghunuskan pedangnya dan menghancurkan batu merah delima itu hingga berkeping-keping. Saat hancur, batu itu mengeluarkan asap hitam, lalu tidak lagi berwarna dan menjadi batu biasa.


“Kalau begitu, saya ucapkan terima kasih banyak atas bantuan anda. Tolong sampailan ucapan terima kasih saya kepada pangeran.”


“Tentu, Direktur.”


“...Jika tidak ada pangeran mahkota maka sejak insiden itu para fraksi bangsawan sudah mencari celah dan masuk untuk menghancurkan tempat ini.”


Pikir Jean Jacques tentang pangeran mahkota ternyata benar. Tak salah jika High Priest Fatimas berkhianat, maka dia pasti telah membentuk kerja sama dengan para bangsawan yang musuhi Gereja. Terutama keluarga royal sendiri, yaitu Ratu.


Pangeran sejak awal tahu bahwa hal itu hanya bisa dilakukan oleh otak licik Ratu seorang. Dan demi menggagalkan rencana busuknya, tentu pangeran mahkota sebagai otak dari perencanaan menangkap pelakunya, yang mana selangkah lebih maju dari Ratu, mungkin sekarang dia sedang duduk dan menyusun strategi baru.


Kebencian itu tidak pasti. Terkadang siapapun bisa di benci oleh pangeran mahkota bahkan pengemis sekalipun. Tetapi, karena Gereja dan Keluarga Royal tidak terkait dan saling adu konflik maka kesempatan ini tidak lain digunakan untuk keuntungannya menghancurkan ekspetasi Ratu.


Direktur Sarion tidak tahu, dia hanyalah bagian dari rencana tersebut dan bantuan ini tidak lain hanya tahap awal dari semua tahap yang ada.


Jean Jacques menelan ludah. Tidak terbayangkan bahwa rencana berikutnya dari pangeran adalah orang yang dia incar. Saint Alvius.


Karena Jean Jacques mendapatkan informasi yang telah dia perlukan tentangnya, dia kembali ke istana.


Hari 38 ketidaksadaran.


Setelah semua yang terjadi dan berita tentang insiden dungeon itu telah sepenuhnya di kubur dan di bungkam sepenuhnya. Tidak ada dari para rakyat pernah membicarakan tragedi itu.


Seolah, semua itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan mereka. Aktivitas mereka seperti biasa dan terus belanjut tanpa ada kendala.


Juga para bangsawan tidak terlihat beraksi sedikitpun untuk membuka luka itu.


Hari 42 ketidaksadaran.


[Tidak ada jawaban dari ‘Monarch of Diligent’]


Pesan itu beberapa kali dikirim dan dikembalikan tanpa daya. Jawaban lanjut tidak diberikan dan kalimatnya tidak berubah meski berapa kali dia mencobanya untuk masuk ke saluran sistem.


Sampai kapan harus menunggu?


Karantina semakin hari semakin terasa berat. Hari mungkin berlalu begitu saja tanpa ada pergantian musim yang pasti. Tapi, penantian ini terasa begitu lama, satu hari terasa seperti beberapa tahun dan dua hari bahkan terasa lebih dari tahun-tahun yang berlalu.


Yohan memandangi ruangan kesehatan, di balik pintu itu ada sosok pangeran yang tertidur dengan pulas dan memimpikan sesuatu yang mungkin membuatnya tidak ingin bangun. Benar juga, karena dunia ini busuk tentu tidak ada orang ingin terbangun dari mimpi indah mereka.


Tapi, dia tidak bisa. Dia tidak bisa menerima bahwa pangeran kecilnya yang tidur itu memilih mimpi indah itu daripada kembali disisinya. Dia tidak bisa. Kemudian Yohan hanya pergi tanpa melanjutkan apapun lagi. Biasanya dia akan terus ingin membuka pintu itu lalu dihentikan oleh petugas yang menjaga tempat itu.


Lalu sekarang kenapa dia hanya melewati ruangan kesehatan itu saja dan tidak berniat membuka pintu itu?


[Tidak ada jawaban dari ‘Monarch of Diligent’]


Dia sudah mendapatkan jawabannya bahkan tanpa melakukan apapun.


Air mata menetes dari pipinya lalu Yohan mengusapnya dengan kuat dan dia tetap berjalan melanjutkan tugasnya sebagai murid Paladin.


Hari 48 ketidaksadaran.


Direktur Sarion mendapatkan kabar bahwa Fatimas yang gelarnya sudah di cabut dan di buang dari Gereja. Dimana dia di penjara di istana, mengalami perubahan aneh. Yaitu dia berubah menjadi gila dan belok setelah dia pergi dari Gereja.


Perubahan itu semakin aktif sampai muncul aura gelap dari tubuh dan kulitnya menghitam. Kemudian perlahan tumbuh tanduk kecil di kepalanya.


[Transformasi Iblis]. Yang diketahui sejumlah orang di istana. Karena berbahaya dan mengancam dengan tekanan yang mengerikan. Detik itu juga dekrit muncul, dan Fatimas di jatuhi hukuman kematian.


Berkontrak dengan iblis, lalu membuat insiden yang membahayakan, kemudian dia berubah menjadi iblis. Sudah cukup membuatnya sebagai narapidana paling bersalah dan tidak pantas hidup.