
Kemudian pada saat saya ada di dalam kereta hal mengejutkan terjadi.
Karena saya meninggalkan anak anjing untuk tidur di sofa kereta maka itu menenangkan saya dan berpikir keadaan saya akan cepat. Tapi apa yang saya lihat sebaliknya.
“Ah, kamu sudah kembali.”
Dengan jawaban klise itu saya mengacaukan ekspresi saya melihatnya.
Kenapa bahkan dia ada disini di dalam kereta dan bermain dengan anak anjing? Tunggu, apakah ini bisa disebut bermain?
- Woof! Woof!!
Saat anak anjing hanya bisa menggonggong dan berusaha menggigitnya.
Apa yang dilakukan Veronica disini?
Saya menghela napas dan mencubit dahi saya seperti serangan pusing hebat melanda pikiran saya seketika.
“Bukankah sudah aku bilang untuk istirahat?”
“Ayolah, aku pikir kamu akan bersenang-senang tanpaku.”
Jadi kamu membuntuti begitu. Apa selama ini dia sengaja melakukannya dan duduk di kursi penumpang selagi aku tidak ada dan bermain-main dengan anak anjing.
Apakah dia pikir saya bisa dengan mudah menjawab ‘Oh’ dengan wajah kosong?
Tapi, apakah dia memang ada disini untuk alasan tertentu? Dipikir lagi bukankah ini kebetulan yang sempurna.
Sekali lagi saya menghela napas. Ada kemungkinan jika ini memang sebuah jalan yang tidak sengaja tersedia begitu kehadiran Veronica muncul.
Saya memindai sekitar ketika sadar para Paladin ada di belakang memasang wajah tercengang untuk apakah mereka harus mengeluarkan pedang dari sarungnya atau tidak.
“Dia orang baik, jadi tidak apa.”
Ucap saya untuk sedikit meredakan kesalahpahaman ini.
Yah, tidak menyalahkan para Paladin. Sejak awal ini salah wanita itu yang seperti penyusup yang masuk di dalam kereta orang lain. Siapapun pasti mengira dia pencuri. Dia seperti rubah.
“Hei, apakah kamu berpikir buruk tentangku lagi?”
“Tidak.”
Tentu.
“Apa yang membawamu kesini? Aku akan menendangmu jika jawabanmu tidak memuaskan.”
“Haha, apakah kesini karena penasaran juga akan di tendang?”
Wanita ini...
Saya segera naik tanpa memeriksa jawaban lagi. Begitu naik dan duduk anak anjing segera mendatangi saya dan duduk di atas paha saya seperti mau mengadukan sesuatu.
Itu menggemaskan bagaimana cara dia seperti merayu saya dengan wajah imutnya jadi saya membiarkan seperti saya paham dan mengelus kepalanya.
“Ngomong-ngomong kebetulan kamu ada disini. Bisakah kamu mengantarku?”
“...? Kemana?”
Begitu mendengar jawaban saya, Veronica terbelalak sejenak. Baginya itu tidak aneh, namun mengapa tiba-tiba. Jadi itu sedikit membuatnya kaget.
“Kenapa apa tidak bisa?”
“Bukan karena tidak bisa... Ehm... Hanya saja bukankah itu sedikit mendadak.”
Saya menatapnya dengan dingin. Ya, anak anjing juga melakukannya. Ketika respon Veronica terlihat linglung dan dipenuhi ketidakpastian membuat kami frustrasi.
“Jangan menatapku seperti itu. Maksudku baiklah, aku akan mengantarmu. Yah, mungkin mereka akan senang.”
Saya mengangguk dan menoleh ke arah jendela dan berbicara dengan Paladin Roy.
“Tuan Roy, anda bisa kembali dengan tuan Theo. Mulai dari sini saya akan pergi sendiri dengannya.”
“Apa? Ya? Maksudku anda mau kemana?”
Saya tersenyum menanggapinya.
“Jalan-jalan sejenak.”
Untuk kabur dari tekanan perlu untuk saya melihat-lihat sekitar. Meskipun tujuan saya tidak sebegitu indahnya dengan kata-kata saya jadi mengapa tidak untuk menganggap ini sebuah tour perjalanan.
Jadi Paladin Roy dan Theo kembali, lalu saya dengan Veronica yang naik kereta pergi ke tempat koordinasi yang disebutkan Veronica.
Sementara kami bergerak ke tempat tujuan, Veronica berbicara.
“Hei bajingan kecil. Boleh aku bertanya?”
“Mh, apa?”
“Apa yang sedang kamu lakukan disana tadi? Ini tidak seperti kamu melakukan kegiatan amal, bukan. Jika iya maka itu membuatku tertawa.”
“Itu benar.”
Lalu beberapa detik setelah mendengar jawabanku Veronica menjadi kosong sesaat lalu ledakan tawa memenuhi kereta ini.
“Pufhahaha! Yang benar saja... Kamu... Bajingan kecil melakukan itu. Hahaha, tidak bisa aku bayangkan.”
Tertawalah sesukamu dasar brengsek.
Saya sama sekali tidak mengelaknya karena itu kenyataan.
Veronica tertawa dan tertawa seperti dia akan benar-benar mati jika tidak melakukannya dan perutnya menjadi sakit. Saat dia menyeka air mata bahagianya dia berkata.
“Jadi apakah benar hanya itu saja.”
Saya tidak menjawabnya. Tidak, saya beralih mengelus anak anjing dengan tenang.
“Itu bukan masalah untukmu. Kamu akan semakin lelah jika terhubung dengan masalah ini.”
Lalu saya mendesah ringan untuk mengekspresikan kekesalan saya.
“Padahal sudah kubilang untuk istirahat tapi kenapa kamu tidak melakukannya.”
“Hei, jangan begitu. Lihatlah aku sudah sehat.”
Seperti biasa dengan wajah sombong bahkan kali ini lebih buruk dari sebelumnya. Dia melakukan gerakan memutar lengannya dengan kuat dan percaya diri.
“Apakah kamu tahu jika aku pingsan setelah mendengar pesan tidak langsung darimu?”
“...?”
Veronica terkejap sesaat. Dia sudah tahu tentang apa yang mungkin terjadi begitu dia mengerahkan keterampilannya dengan ekstrem waktu dungeon. Tapi, dia tidak memikirkan tentang pasal yang ini.
“Maaf, apakah itu berat?”
Itu tulus. Lebih mengejutkan lagi saya merasa merinding mendengar itu keluar dari mulutnya. Karena merinding saya menghentikannya dengan memandang ke arah luar jendela.
“Lupakanlah, bukan sesuatu yang buruk juga.”
“Hei, aku serius.”
“Aku juga. Akan lebih baik jika lain kali kamu lebih menjaganya.”
Dengan begitu tidak ada pembicaraan lagi yang konservatif di dalam kereta. Kami benar-benar menunggu untuk sampai ke tempat tujuan. Saya rasa tour ini sedikit mencengangkan.
Yang bisa saya lihat hanya keramaian masyarakat sekitar yang berjalan di trotoar dan pasar yang ramai, dan banyak orang-orang berbeda jenis kelamin sedang merundingkan sesuatu di dalam kafe mewah.
Setelah beberapa saat waktu tidak terasa kami telah tiba di tempat tujuan.
“Aku tidak tahu ada tempat seperti ini di luar distrik. Apa itu namanya jika orang menyebutnya... Ah, sisi lain.”
Baru saja saya mengeluarkan suara inisiatif terpukau dengan memandang sisi tanpa adanya cahaya dan hanya meninggalkan kesan bayangan saja. Veronica sedikit merasa tidak nyaman.
Awal datang di sisi luar lain distrik ini pengendara kereta kuda berkata dia tidak bisa untuk masuk semakin dalam ke sini jadi dia menunggu di gerbang utama distrik. Veronica berjalan dan saya mengikuti.
Ada banyak bangunan yang sangat tua dan terbengkalai.
Hei, seriuskah, jika saya menggunakan tempat ini sebagai ladang usaha berikutnya bukankah saya bisa membuka perusahaan hiburan. Mungkin saya akan beralih sebagai sutradara direktur untuk membuat film dramatis kisah horor di tempat ini.
Di tempat ini jauh dari kata baik-baik saja. Seperti jika ada sisi baik, maka tempat ini adalah sisi kebalikannya.
Apakah sejak awal distrik seperti ini ada?
“Disini.”
Kemudian kami berhenti tepat di depan bangunan setelah berjalan lumayan jauh dari tempat awal.
Di situ ada papan tulis kayu di atas bangunan bertuliskan kata dengan huruf baku dengan lengkungan yang mudah menarik perhatian, ‘Rumah Bordil’.
Saya menatapnya kosong dan tanpa sadar tangan saya menutup wajah anak anjing.
“Hei, jika kamu bercanda aku akan pergi sekarang.”
Dengan datar saya segera berjalan berbalik. Namun tangan lain sudah mencengkeram bahu saya.
“Hei bajingan kecil, bukankah kamu sendiri yang ingin dibawa kesini.”
“Itu benar! Tapi apakah kamu bodoh? Kenapa membawa anak-anak di tempat seperti ini.”
Saat itu Veronica bingung dengan apa maksud dengan membawa anak-anak di tempat ini.
Segera dia menyadari ketika melihat papan di atas bangunan itu tertulis dan suara 'ah' tidak terduga datang.
“Itu hanya reklame yang lama. Karena ini bangunan tua jadi itu sudah ada disana sejak lama.”
Apakah dia serius mengatakan itu? Bisa saja dia berbohong. Jika benar pun mengapa memilih bangunan ini sementara bangunan lain ada dengan tulisan yang lebih baik.
Tidak mungkinkan jika semua rumah akan disebut seperti ini.
Sekali lagi saya menatap tulisan itu dengan ekspresi aneh dan sedikit tertekan.
Seolah jiwa di dalam diri saya memanas saat berpikir.
Jika masa pendewasaan saya bangkit itu akan masalah.
Dengan keras saya menggelengkan kepala dan menyadari realisme dengan benar dan baik. Ya, fundalisme seperti itu tidak pernah terjadi, pokoknya tidak akan pernah.
Dengan tenang Veronica masuk melalui pintu yang sudah kehilangan engsel bawah dengan benar jadi suara berderit ada dimana-mana ketika pintu terbuka.
Seluruh jendela tertutup tapi saya bisa melihat cahaya keluar dari garis-garis lintasannya. Jadi saya masuk mengikutinya.
“Oh, pemimpin kembali!”
Ada suara kegembiraan dimana-mana datang menyambut begitu Veronica masuk. Meja-meja bulat di tata dengan baik dan banyak orang duduk bersanding dengan makan dan minum segelas besar wine.
Sejenak saya berpikir, jika keadaannya begitu ramai kenapa di luar tidak kedengaran.
“Kami shadow ingat.”
Seolah mengetahui pemikiran saya itu dijawab Veronica tanpa memandang saya.
Lalu ada suara berdeham penasaran dan decakan lidah ke dalam mengobservasi saya.
“Tapi pemimpin, kenapa kamu membawa anak kecil kemari?”
Ketika itu menjadi subjek perbincangan terbaru keramaian yang berlebihan datang menyusul.
“Eh, Anak?!”
“Tunggu, siapa anak ini pemimpin!”
“Jangan bilang anda diam-diam...”
Pada saat itu juga saya bisa mendengar suara tiga pukulan serentak terdengar bagus. Tiga orang pria jatuh bagaikan nyamuk mati.
Kemudian satu orang datang, dia pria juga. Datang pada saya menyentuh dagunya dan matanya mengobservasi serius seolah dia akan melubangi wajah saya dengan tatapan tajam yang berusaha mempelajari itu.
Pria jangkung ini memiliki rambut sedikit kriting kecoklatan, dia muda. Tidak seperti lainnya yang saya lihat sedikit lebih tua sekitar 30 an.
“Hmm, pemimpin mungkinkah anak ini...”
Dia dengan cerdas mengamati saya dan mengambil ide tertentu. Tentu dia sangat kontemplatif tapi saya tidak bisa bilang itu saat pertama bertemu dia jadi saya menyerahkan padanya untuk aksi selanjutnya.
Melihat saya tenang memberikan dia waktu berpikir bahwa saya bukan anak normal.
Itu sedikit menyakitkan tapi aku memaafkanmu nak, jika kamu bertemu saya sebelum saya reinkarnasi maka saya akan memastikan satu kakimu cedera terlebih dahulu.
Karena bagaimanapun mengobservasi orang seperti ini bagaikan tindakan kekerasan seksual.
“Ya, benar. Dia Saint.”
Jawab tegas Veronica. Begitu jawaban datang suara ‘Eh’ panjang dan penuh keterkejutan datang membuat riak dimana-mana.
Lalu pria jangkung ini memukul telapak tangannya dengan ‘Ah’ dia paham dan dengan ringan mengelus kepala saya.
Itu membuat saya terkejut.
Apa yang dia lakukan? Beraninya melakukan ini?
“Kamu sangat kecil jadi aku pikir kamu anak pemimpin.”
Apakah serius dia mengatakannya? Ada wajah ceria dan cerah di sekitarnya. Tapi, satu hal yang bisa saya pastikan. Dari sekian banyak orang disini saya tidak yakin bisa akur dengan tipe seperti ini.
Jujur saya lebih suka ketenangan.
Tidak mengabulkan keinginan kecil saya kerumunan bergegas ke arah saya dan mulai dengan tatapan mata berapi-api. Hiruk pikuk ini membuat saya layaknya dikerumuni sekumpulan reporter sementara saya artis pendatang baru. Rumor akan jatuh begitu saja.
Sejujurnya saya tenang. Tidak menjawab mereka. Namun bajingan ekstrovet ini dengan berani mengajukan tangan di sela lengan saya dan mengangkat tubuh saya seenaknya.
“Hei dimana tanganmu—!”
Bahkan sebelum saya bisa dengan jelas mengungkapkan perasaan marah saya suara lain datang menimbun milik saya.
“Hei, itu curang Edgar. Aku juga ingin menggendongnya.”
“Aku juga. Biarkan aku memberinya biskuit cokelat.”
“Hei biarkan para wanita dulu melakukannya. Anak manis itu datang kesini untuk berkunjung dan mendapatkan permen.”
Maaf nona ini bukan hallowen.
Saya menyerah dan tatapan saya jatuh benar-benar datar dan suram.
Bahkan tanpa menyadarinya saya bisa melihat wajah khawatir Veronica dan suara ******* napas panjangnya melihat anak buahnya begitu bersemangat dengan ini.
Saat itu saya sadar apa yang dia maksud di dalam kereta kenapa saya tidak seharusnya berada disini.
Bajingan-bajingan ini...
Sejak awal ini adalah keinginan mereka.