
“Mengirim Petualang dan mengikut sertakan mereka memang mudah, tapi melindungi dan memerangi itu beda lagi ceritanya. Pihak Kerajaan tidak bisa mengambil resiko yang tidak menguntungkan apalagi bisa membuat jatuhnya hukum sosial.”
Tidak hanya bangsawan, namun kadang Petualang akan menyalahkan pihak Kerajaan atas kelalaian dalam keamanan dan tingkat militer mereka. Claude tahu itu, dan dia mengambil pintasan untuk mengubah jalannya skenario.
Karena tugasnya sebagai pangeran mahkota semakin diperbincangkan.
“Juga...” Claude melirik ke arah Veronica, kemudian dia kembali melihat saya. “Berapa usia wanita itu?”
“Seperti kamu yang mulia.”
“Benarkah?” Claude memiringkan kepalanya sedikit untuk mengeluarkan kata-kata “Dia terlihat terlalu muda, aku pikir dia anak kecil.”
“Apa katamu—!” Veronica ingin melompat mengamuk namun saya hentikan cepat.
“Yah, penampilan kadang bisa menipu.” jawab saya menggantikan Veronica. Saya tahu dia kesal, tapi dia harus menahannya disini agar tidak terjadi konflik besar.
Tapi, Claude tidak berhenti disitu dan masih dalam membicarakan Veronica.
“Apa yang bisa dilakukan pembunuh itu? Kupikir dia tidak akan terlalu berguna.” dengan ******* menghina, kemudian “Aku hanya khawatir jika nanti rencana Saint gagal karena satu orang tidak bekerja dengan baik.”
Pada saat itu Yohan dan Heros mengangguk setuju pada argumen Claude. Seperti mereka bertiga sepemikiran.
Tapi, “Apa yang...” sesuatu meledak murka dan meraung berteriak “Bajingan ini!!”
Pita Veronica pecah dan segera dia menaikkan kakinya di atas sofa dan hampir melompat ke arah Claude. Yohan dan Heros menarik belakang bajunya untuk membuatnya tenang dari amukannya.
Claude sepertinya menikmati itu dan menyeringai puas, dia menyeruput tehnya. Sedangkan saya hanya bisa membuang napas risau. Kepribadiannya buruk sekali ketika memancing emosi seseorang.
Jika begini terus maka tidak akan ada kata tenang selama mereka akan lebih sering bertemu di masa depan.
“Yang mulia tolong jangan memancingnya.”
“Hehe, apa yang kamu katakan Saint?”
Wajahnya sudah di penuhi bunga-bunga mekar kebahagian setelah menjatuhkan mental orang.
“Tidak, tidak ada...”
Untuk saat ini mari biarkanlah ini terjadi selagi tidak ada pertumpahan darah.
Kemudian saya merujuk ke topik berikutnya dan bertanya kecil, alih-alih mengalihkan pikiran dari orang di belakang saya.
“Ngomong-ngomong apa tingkat kesulitan dungeon ekspedisi kali ini?”
“Ah, barat tingkat-B+ dan timur tingkat-A-.”
Mata saya sedikit melebar ketika mendengar tingkatan ‘A’ kali ini keluar lagi. Bisa saya ingat bahwa dungeon Sabnock itu juga tingkat A dan hampir itu mustahil untuk di perkirakan apakah bisa menyelesaikannya atau tidak.
“Apakah tidak berbahaya jika tingkat-A- muncul?”
Dengan santai Claude menjawab seperti itu bukan masalah besar. “Tidak.” dan menyambungnya lagi “Kali ini tidak ada iblis, karena sekarang di tempat kejadian anehnya dungeon bisa keluar-masuk gerbangnya bahkan sebelum dungeon di selesaikan.”
Itu mengejutkan, bukankah itu kejadian abnormal, seharusnya ada tingkat kewaspadaan untuk itu karena kejanggalan itu sangat jarang terjadi dan hampir mustahil.
“Ada seorang Wizard di sana dan dia sudah masuk ke dalam dungeon sebagai percobaan. Dan beruntung dia bisa keluar dalam beberapa menit. Ketika itu juga dia memeriksa apakah ada kejanggalan di dalam, dan dia berkata bahwa hanya ada monster dan boss monster disana. Jadi aku pikir itu aman.”
Meski Claude mengatakan begitu tapi entah kenapa saya merasa tidak enak dengan perasaan saya.
Yah, karena ini adalah Claude yang saya bicarakan kemungkinan dia sudah selangkah lebih maju dari saya. Jadi saya akan mempercayainya.
“Tapi...”
Saat kata itu muncul saya berhenti bergerak atau bahkan lupa untuk bergerak meski sedikit.
“Tentu ada yang aneh. Wizard itu bilang, bahwa monster di dalam dungeon sangat tenang. Seharusnya jika sudah ada yang memasuki dungeon maka insting monster akan bekerja keras dan muncul untuk menyerangnya. Tapi, Wizard keluar tanpa luka dan mengatakan itu dengan jelas.”
Merasa tidak tenang untuk ini, saya memandang lurus kepada Claude dan angkat bicara.
“Apakah kemungkinan ini jebakan?”
Dan entah sejak kapan yang lain juga mendengarkan dengan serius.
Yang pertama masuk dalam pembicaraan adalah Yohan.
“Apakah ini akan seperti insiden waktu itu?”
Dan di lanjutkan dengan Heros dengan nada sedikit risih untuk mengingat bahwa kesulitan insiden waktu itu sangat besar, “Tidakkah itu berbahaya dan perlu di tanggulangi dengan baik.”
“Hei bajingan kecil, bagaimana menurutmu?”
Mengapa dia mengubahnya ke arah saya? Bukankah seharusnya dia bertanya pada yang lebih paham keadaan ini.
Saya pikir mungkin Veronica canggung kepada Claude. Tapi, tidak. Ketika dia menatap saya dia benar-benar serius untuk itu.
Sejenak saya tenggelam dalam batin untuk memikirkan cara menjawabnya. Jika dilihat lagi ini sulit karena dungeon itu adalah suatu fenomena yang tidak bisa di prediksi apa yang ada di dalamnya.
Ini tidak seperti saya memiliki [Precognitif], tapi saya mencobanya.
“Ada dua kemungkinan...”
Pandangan semua orang tertuju pada saya.
“Yang pertama adalah ini bukanlah jebakan. Tapi, ada sebuah unsur yang membuat bagaimana keadaan bisa membuat keluar-masuk dungeon.”
Seperti di dalam game yang pernah saya mainkan dengan teman saya sebelum reinkarnasi. Di permainan itu kami membentuk kelompok yang nilai anggotanya sesuai dengan angka dimana kita bisa memulai sebuah Battle. Ini seperti survival mode.
Jika Wizard yang dikatakan Claude hanya seorang maka itu tidak cukup untuk membuat dungeon tertutup sepenuhnya. Itu artinya monster di dalamnya juga seakan menunggu jumlah yang tepat agar mereka bisa bergerak.
Tapi masalahnya adalah, kenapa...
“Dan kedua. Ini bukan jebakan, melainkan peralihan.”
“Peralihan...?” Claude untuk pertama kalinya tidak bisa memprediksi ini.
“Ya. Ini seperti seolah mereka ingin kita teralihkan oleh dungeon itu untuk memancing sesuatu keluar. Tapi, aku tidak yakin itu apa.”
“Apakah itu berbahaya?” Veronica masuk segera, saya tahu jika dia sangat mencemaskan ini dan kemungkinan ini berbahaya. Operasi ini hanya berjalan dengan adanya Veronica.
“Tidak dan juga iya.”
“Yang mana sialan!”
Saya menggunakan jari-jari saya untuk menjelaskan.
“Tidak. Artinya jika yang mereka cari tidak ada maka itu tidak berbahaya. Ya, artinya yang mereka cari atau jumlah yang mereka inginkan telah sepenuhnya tercapai, dan disini kemungkinan ada seseorang yang sengaja melakukannya.”
Penasaran untuk itu Veronica bertanya sedikit lagi “Siapa itu apakah kamu bisa membayangkannya dalang tersebut?” dan sedikit menebak-nebak dengan ocehannya yang lucu.
Tidak, itu tidak seperti yang Veronica kira. Saat ekspresi saya jatuh sepenuhnya ke tingkat pemahaman yang bisa mereka bayangkan...
“Raja Iblis.”
Hanya dua kata dari itu merinding menerpa mereka dan ketakutan yang tidak langsung bisa terlihat di dalam retina mereka.
Claude dengan tenang menyimak ini sebagai masalah yang perlu dia dengar baik-baik dan membuka suara.
“Apakah kamu yakin dengan itu Saint?”
“Sudah aku katakan. Ini adalah setengah-setengah, antara benar dan juga salah.”
“Lalu apakah perlu aku melakukan tindakan pencegahan dan melarang mereka ekspedisi, menanggalkan jadwal tidak terlalu buruk namun hanya butuh beberapa waktu sampai dungeon break terjadi.”
Itulah sebabnya saya berkata sulit di bayangkan. Tapi, itu juga tidak sulit untuk di jawab.
“Tidak perlu khawatir. Medan di dalam dungeon mungkin sedikit unik dengan nuansa kelam. Tapi bukankah ada cara yang sedikit normal untuk menghadapinya.”
“Hm, cara normal?” ekspresi Claude turun dan alisnya naik. Apakah dia benar-benar tidak tahu atau memang mencoba memancing saya membuka semuanya.
Yah, apapun itu saya tidak peduli dan mengeluarkannya. Karena ini juga demi kerja sama berlangsung.
“Kamu bilang dungeon keluar-masuk. Sudah berapa banyak yang mencobanya?”
“Dalam pesan yang dikirim pihak penyelidikkan baru ada sekitar 5 orang.”
“Itu tidak terlalu buruk karena ada sedikit peningkatan. Lalu apakah ada reaksi aneh lainnya?”
“Tidak ada. Masih dalam tahap diam dan tenang. Yang berjaga di sana juga meningkatkan keamanan mereka.”
Saya menyeringai menaikkan suara.
“Itu cukup. Sekarang mari kita buat strategi pengumpan balik.”