The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 37: UNDANGAN TAK TERDUGA



Pada pagi hari semua orang yang merasa paling ditinggalkan, seakan dunia akan hancur kapan saja. Cahaya yang redup bagaikan sebuah gerhana. Kini gerhana telah lewat, dan cahaya kembali bersinar. Semua orang bergegas ke ruang kesehatan.


Yohan datang dengan keadaan telah kehilangan napasnya berusaha menguasai dirinya dan mengatur pernapasan dalam. Heros di belakangnya menyusul serta beberapa orang lain dari pihak priest. Air mata menetes dari mata Yohan begitu juga pada Heros.


Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, anak kecil yang akan menyinari dunia dengan kekuatannya sedang berada di pelukan ayahnya. Direktur Sarion menatapnya dan mengangguk dengan senyuman, seperti dia berkata, semua telah kembali.


Beberapa detik kemudian, setelah ayahnya melepas pelukannya. Anak itu, pangeran yang tidak ingin meninggalkan mimpinya menatapnya, lalu dia tersenyum. Ya, seperti itulah khas senyuman darinya, tidak ada orang yang memiliki senyuman seperti dirinya.


Pada saat itu suara datang dari sosok itu. “Hyung...”


“Ah—Ha... Ah, ini...”


Ekspresi Yohan benar-benar bercampur aduk antara senang dan juga terharu. Dia benar-benar yakin bahwa adiknya telah kembali setelah sekian lama. Yohan berlari ke arahnya dan segera memeluknya.


“Alvius!”


“Uh-huh... Hyung, aku kembali.”


Ya, ini benar-benar dia. Perasaan ketika dia memeluk tubuh kecil itu sama persis dimana dia setiap kali ada kesempatan untuk memeluk adiknya, perasaan itu tidak pernah hilang. Tubuhnya sekarang terasa hangat, berbeda ketika waktu itu saat-saat tragedi, tubuhnya sangat dingin dan pucat. Sekarang dia kembali.


“Saint Alvius...”


Heros tidak bisa menahannya dan memanggilnya. Apakah harapan telah kembali ke sisinya? Jawabannya adalah yang pertama telah tersenyum kepadanya.


“Senior, maaf membuatmu menunggu.”


Heros menggelengkan kepalanya kuat dengan air mata berserakan lalu dia berusaha mengelap air mata itu namun tidak kunjung berhenti. “Tidak, tidak Saint. Maafkan aku karena tidak bisa melakukan apapun waktu, maaf. Aku senang kamu kembali.”


“Mhm, terima kasih senior.”


Setelah adegan dramatis penuh emosional ini mereka telah yakin bahwa Saint benar-benar telah kembali kepada mereka. Tidak, sungguhkah dia kembali tanpa ada apa-apa.


Saat dia memeluk Yohan dia menatap ke depan pada sesuatu yang hampa dan kosong, dia melihat...


Sebuah tragedi baru akan segera terjadi.


***


Saya tidak menduga setelah mendengar laporan dari monitor bahwa saya telah masuk dalam kondisi tidak normal dalam kurun waktu lebih dari dua bulan. Pada saat berada di ruang dimensi seperti waktu telah berlalu begitu lama antara bertahun-tahun bisa dirasakan. Setelah membuka mata dan hanya dua bulan berlalu, saya merasa aneh.


Selang beberapa hari telah berjalan ketika saya bangun kembali. Direktur Sarion berkata untuk saya istirahat hingga benar-benar pulih. Dan sekarang sudah seminggu saya merasa sehat kembali. Jadi hari ini saya keluar dari ruang kesehatan ini.


Tidak tahu bagaimana bisa Direktur Sarion berpikir meletakkan saya di ruangan sebesar ini dan lagi mewah. Seharusnya kamar ini untuk bangsawan. Yah, saya juga tidak peduli, lagipula sudah terlanjur.


“Al, apa kamu sudah selesai?”


“Sebentar lagi.”


“Kalau begitu aku akan ke ruang mentor terlebih dulu untuk memberikan laporan. Setelah itu aku akan kembali.”


“Mhm.”


Yohan menatap saya. Tentu saja dia adalah orang yang paling mengkhawatirkan saya jadi anggap sebagai perhatian yang luar biasa dari saudara. Tapi, bukankah dia berlebihan akhir-akhir ini. Maksudku, dia akan menunggu diriku dan terus memantau dari jarak yang bahkan sangat dekat.


Diperhatikan dengan lembut membuat saya merasa bersalah karena kadang sifat saya keterlaluan kepadanya.


“Ah, Hyung, tentang waktu —”


Terlambat, dia telah pergi ke tempat yang telah dia katakan. Jarak antara kami antara meregang lalu kembali lagi. Seberapa banyak kepercayaan yang harus kami bangun meski kita saudara sedarah. Saya mengancingkan kancing terakhir pakaian saya dan bersiap keluar.


Lalu saya melihat benda seperti kantung kecil ada diletakkan di atas meja sebelah tempat tidur. Saya yakin kemarin tidak ada barang ini. Dan barang-barang saya juga tidak ada disini dan tersimpan di asrama. Apa ini milik Yohan? Apa mungkin Priest yang mengurus saya?


Karena penasaran saya mengambil kantung itu dan pesan layar muncul di depan mata saya.


[Replica-Mass Pocket Dimension].


Lalu ada tombol untuk ‘Penjelasan’ saya membukanya dan kalimatnya ada disana.


*


— Sebuah item replika dari produksi massa yang di buat oleh ahli kerajinan kuno ras Dwarf. Item ini bisa menyimpan sampai 30+ barang yang bisa di muat di dalamnya.


*


Tunggu, apa? Item... Saya tidak yakin jika benda ini seharusnya ada disini. Sebuah item sangat jarang dan kadang harganya sampai selangit jadi tidak mungkin ada orang bodoh yang meninggalkan ini di atas alas lemari. Orang bodoh mana yang melupakan benda berharga ini.


Saat itu juga beberapa pesan kemudian muncul. Itu adalah barang-barang yang tersimpan di dalam Kantong Dimensi


*


- [Black-Steel Orichalcum] 3x


- [Curse Crystal Adamantium] 4x


- [Demon Heart Mercury] 4x


*


Eh? Bukankah ini semua benda mati yang hanya berupa batu yang harus diolah terlebih dahulu. Dan lagi semua golongannya terkena efek kegelapan. Sepertinya ini akan menambah beban pekerjaan saya. Saya tidak tahu Sabnock adalah penyuka batu, apa dia suka mengumpulkan batu di tanah gelap? Bisa saya bayangkan dia memungut semua batu ini sendiri.


Kemudian suara familiar dan lembut muncul. Dia telah kembali.


“Benda itu adalah milikmu. Aku menyimpannya selama ini dan tidak pernah membukanya. Sepertinya itu adalah Drop dari penyelesaian dungeon waktu itu. Itu sempurna adalah milikmu.”


Apa? Benarkah? Ini dari penyelesaian iblis Sabnock waktu itu. Apa itu artinya ini adalah hadiah yang didapatkan dari mengakhiri dungeon. Jika begitu apa semua iblis seperti Sabnock juga akan memiliki drop item seperti ini. Bukankah ini adalah keberuntungan, meski nyawa saya taruhannya.


Saya tersenyum pahit membayangkan bagaimana akhir dari diri saya saat melawan Sabnock.


“Terima kasih, Hyung. Aku akan menyimpannya.”


Menyimpan barang ini adalah hadiah yang saya butuhkan. Nilai dari barang ini seperti dua kali pencapaian saya selama ini.


Sesaat setelahnya saya dan Yohan keluar dari kamar.


Sejujurnya saya tidak nyaman karena memakai pakaian seperti pasien jadi saya senang karena bisa melarikan diri dari ruang kesehatan dan memakai pakaian formal saya kembali.


“Apa kamu sungguh sudah sehat?”


“Mhm. Terima kasih karena menjagaku. Tapi, ada banyak yang harus aku kerjakan jadi aku tidak bisa untuk terus istirahat.”


Ada ekspresi sedih di wajah Yohan. Tapi tiba-tiba saja dia ‘plak!’ dengan suara yang bagus dan nyaring, dia menampar pipinya sendiri sampai memerah.


“H-Hyung? Ada apa?”


Yohan menggelengkan kepalanya dengan senyuman ceria di bibirnya “Mhm, tidak ada.” dan dengan terkekeh dia dan saya melanjutkan jalan kami. Sedangkan saya masih bingung kenapa dia begitu.


“Ah, aku dengar Direktur sedang mencarimu.”


“Benarkah? Kenapa tiba-tiba sekali?”


Yohan mengangkat bahunya. “Entahlah, aku juga tidak tahu.”


Saya berpikir sejenak. Untuk apa Direktur Sarion ingin menemuiku. Di waktu ini biasanya dia bisa mengatakan untuk memberi pesan itu langsung dari bawahannya lalu kenapa harus dari Yohan. Dia sendiri yang berkata saya harus istirahat banyak, lalu apa ini?


“Baiklah. Terima kasih sudah memberitahu.”


“Al...”


“Hmm.” saat saya melihat ke arahnya, raut wajah Yohan sedikit sedih, alisnya turun. “Ada apa? Apa ada sesuatu diwajahku.” untuk mengalihkan tatapannya yang serius saya ingin meregangkan ketegangan ini.


“Apa kamu akan melakukan sesuatu yang berbahaya lagi?”


Saya tersenyum pada diri saya sendiri. Untuk inilah kenapa saya tidak ingin membicarakan yang seperti ini kepada Yohan atau bahkan orang lain. Seperti yang anda ketahui, di dunia ini saya mungkin tidak bisa berpikir untuk mengambil istirahat atau cuti lama. Yakin dengan itu jika sedikit saja lengah maka entah akan kejadian apa lagi.


Saya mendongak dan tersenyum kepada Yohan. “Hyung lebih tahu diriku daripada orang lain. Jadi, jawabannya, Hyung sudah tahu.” saya tetap melanjutkan jalan saya dan Yohan terlambat mengikuti. Tidak, dia tidak bergerak.


“Bagaimana jika aku melarangmu?”


Kaki saya berhenti seolah di cegah untuk bergerak hanya dengan kalimat itu. Saya tidak berbalik untuk melihatnya, Yohan berbicara.


“Jika aku bilang aku tidak ingin kamu terluka lagi apakah kamu akan berhenti dari membahayakan diri sendiri?”


Ada banyak emosi di dalam kata-katanya. Saya tidak ingin tahu ekspresi apa yang dia pasang sekarang, hanya bisa mengepalkan tangan saya.


“Bisakah, kamu tidak membahayakan dirimu lagi.”


“Hyung...” sulit untuk menemukan kalimat yang tepat untuk menjawabnya. Seolah ada sesuatu menekan tenggorokkan saya untuk tidak berbicara lebih. Tapi saya tetap berkata, “Terima kasih. Sungguh, aku beruntung memiliki seorang kakak sepertimu. Tolong jangan khawatir lagi.”


Perasaan apa yang saya tuangkan dalam mengatakan itu. Pernyataan itu seolah di buat bukan dari bibir saya. Dengan begitu saya melanjutkan langkah saya dan meninggalkan Yohan tanpa mendengar pernyataannya selanjutnya.


Rasa yang dia rasakan bukan hanya kasih sayang dan perhatian tulus. Yohan yang paling tahu perasaan ini tapi tidak bisa berbuat banyak.


‘Mengapa ini sulit bahkan untuk diriku?!’


Dia membentuk tinju pada kepalannya. Semakin bertambahnya hari. Ketika dia hanya mengasah dan terus melatih kemampuannya. Sebuah fakta baru bisa dirasakan. Dia tidak akan sejauh ini tanpa adiknya. Dia tidak akan bisa merasakan medan perang sebenarnya jika bukan karena adiknya.


Semua pengalaman itu berasal dari satu orang itu.


Usahanya untuk menghentikan adiknya bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan, dia tahu bahaya apa yang akan terus mengikuti jejak dari adiknya.


Setelah membuat keputusan bersama dengan Heros, dia berjanji untuk menjadi lebih kuat agar bisa melindungi adiknya