
Karena Claude tidak mengatakan apapun, saya juga demikian dan menutup mulut saya. Lebih baik mengikutinya dari belakang daripada mengatakan hal bodoh yang terlihat jelas di depan mata. Anehnya disini saya sedikit tegang tanpa alasan dan menelan ludah.
Ketika kami masuk ke dalam Penjara Bawah Tanah menuruni tangga ke bawah hanya pemandanga gelap dengan hanya adanya obor api yang menggantung menggantikan lampu cahaya.
Tangan saya yang menempel di dinding bata hanya bisa merasakan sensasu dingin yang kurang wajar. Lebih tepatnya suhunya kurang teratur di tempat ini.
Semakin dalam kami masuk, pada akhirnya kami berhenti.
“Lihatlah Saint.”
Saat-saat Claude membuka suara tepat di depan satu sel penjara besi saya melihat selusin orang ada di sana dengan tangan diikat dan keadaan compang camping.
Mata saya langsung turun begitu melihat wajah orang-orang itu.
“Y-yang mulia!? Yang mulia tolong maafkan saya! Saya berjanji tidak akan melakukan tindakan kriminal seperti itu lagi jadi tolong... Tolong keluarkan saya dari sini!”
Begitu menyadari keberadaan Claude mereka hanya bisa memohon dan bersujud di depannya. Terutama para bangsawan yang telah di tangkap oleh Claude. Seberapa banyak yang terlibat dalam kasus ini? Lebih dari 4 orang.
“Viscount sudah kukatakan berkali-kali, jika kau ingin mengatakan sesuatu bukan padaku tapi pada orang di sebelahku. Dan apa yang kau katakan Viscount, untuk bawahan Ratu sepertimu memohon tidaklah seperti dirimu yang biasa aku lihat.”
Senyuman itu bukanlah senyum yang bisa diartikan anda baik. Hanya keputusasaan paling dalam berada di matanya. Semua tawanan tahu akan hal itu sebaik apa mereka mengenal Pangeran Mahkota ini. Tapi di situasi mereka mungkin dapat dipahami mengapa mereka memilih mencium lantai daripada mengangkat mata mereka.
Setidaknya mereka tidak bodoh.
Dia... Claude, jika berada di depannya entah kenapa semuanya terasa mutlak.
Apa ini cuman firasat saja? Samar-samar saya juga merasakannya.
“R-ratu! Ratu pasti mengerti jika anda memberitahunya! Yang mulia, tolong katakan pada Ratu!”
Yah, itu semua tidak penting. Sekarang fokus utama adalah ini.
Dari dalam sel penjara wajah-wajah yang sedikit familiar bisa saya kenali. Dari kiri ke kanan, semuanya meringkuk dengan keadaan tangan di ikat rantai besi dan pergelangan kaki mereka. Agar mereka tidak kabur? Mereka lebih mirip cacing daripada manusia sekarang.
“S-Saint?!”
Salah satu pengurus panti asuhan. Saya menduga dia yang menjaga bagian distrik timur.
Menyadari keberadaan saya dia segera menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Dia lupa jika kakinya diikat karena itu dia berniat berdiri dan gagal. Seperti orang bodoh.
“S-saint tolong! S-saya tidak melakukan kesalahan apapun! Saya bersumpah!”
Pria itu mengangkat wajahnya untuk menatap saya. Wajahnya yang putus asa sudah terdistorsi antara ketakutan dan juga keputusasaan. Sejauh mana Claude sudah menyiksanya hingga keadaanya babak belur.
Tapi, saya tidak membalas.
Sudah berapa lama saya tidak mengalami adegan seperti ini. Terasa baru dan terdengar mengerikan untuk di gambarkan. Seolah sesuatu yang sifat bervariasi bergejolak di dalam diri saya. Amarah? Tegang? Kasihan?
Tidak, tidak ada yang seperti itu.
Mereka yang menyadari saya. Para penjaga dan pengasuh panti asuhan dari distrik lainnya juga bersujud di depan kaki saya dan tersenyum dengan wajah ingin di mengerti. Ini gila.
“Mhm, aku mengerti.”
Claude menyadari tindakan saya sedikit terkesiap, mungkin karena tiba-tiba saya membuka mulut.
Saya berjongkok dan berbicara dengan nada suara lembut.
“Menurutmu, aku ini siapa?”
“A-anda adalah Saint! Saint adalah tangan dan kaki milik dewa!”
“Anak baik.”
Lalu saya mengalihkan pertanyaan yang lainnya pada masing-masing pengurus panti yang lain dan di jawab secara bergantian dengan suara gemetar hebat dan penuh kehati-hatian agar tidak membuat kesalahan.
Itu benar-benar perhitungan.
“Saint, tugas apa yang harus diemban oleh Saint?”
“M-menyelamatkan umat manusia!”
“Ya tepat sekali. Dan bagaimana dengan orang-orang yang menderita, apakah mereka layak di selamatkan?”
“T-tentu! S-semua orang berhak mendapatkan penyelamatan.”
Mata saya semakin dalam dan semakin menusuk untuk melubangi setiap wajah di depan saya.
“Dan terakhir. Apakah tindakan kalian pantas di pertanyakan dan mendapatkan pertimbangan yang adil dan baik?”
“I-iya!”
Saya terdiam dan tidak mengajukan pertanyaan lagi layaknya polisi yang mengintropeksi tahanan.
“S-saint adalah orang yang paling mengerti! Anda satu-satunya yang kami hormati!”
Mendengar itu saya bisa merasakan udara dingin di sebelah saya. Itu Claude yang pitanya naik namun dia menahannya dengan menggertakkan ke dalam sembari tersenyum.
Saya mengambil napas hingga mengeluarkan suara hembusannya. Beberapa menit sudah berlalu dan keadaan di dalam sel dapat dipahami, menjadi hening dan senyap.
“Di dunia ini dewa tidak ada, aku harap kalian menggaris bawahi itu. Kedua, sudah jelas bagaimana aku menyelamatkan orang-orang yang butuh bantuanku dan aku akan berjuang untuk itu. Ketiga, menyelamatkan umat manusia? Apa kau serius mengatakan itu di depan anak berusia 8 tahun?”
Tangan saya bergerak masuk di antara sela pipa penjara dan meraih satu wajah mereka dan mengangkatnya ke atas dengan halus.
“Kenapa aku menyelamatkan umat manusia? Jika orang yang harus aku selamatkan bahkan tidak pantas untuk mendapatkan penyelamatan.”
Saat wajah kami bertemu, ekspresi pria ini menjadi kaku dan ketakutan parah.
Entah apa yang dilihat dari pantulan retinanya ketika menatap saya. Dan saya juga tidak tahu ekspresi apa yang sekarang saya lukiskan, itu sesuatu yang diluar perkiraan.
Namun, bisa saya jelaskan, jika energi sihir saya yang sekarang keluar akibat emosi meluap dalam diri saya. Itu menekan mereka semua dan membuat mereka ketakutan.
“Jawaban kalian. Padahal kalian sudah tahu jawabannya dan masih ingin mendapatkan penyelamatan, apakah perlu cermin untuk aku bawakan kemari? Penganiyaan, perbudakan, pelelangan manusia, perdagangan ilegal. Semuanya, kalian pikir bahkan dewa akan mengampuni tindakanmu?”
Saya tertawa, saya tertawa keras dan terbahak-bahak, mungkin seluruh isi tempat ini menggema karena suara tawa saya.
Tidak hanya tahanan, bahkan Claude dan kesatria yang mengikuti dari belakang juga bingung. Mengapa saya tertawa? Itulah yang membuat mereka sedikit gelisah.
“Haa... Sungguh pertanyaan bodoh dan konyol. Jika dewa ada dan memaafkan tindakan kalian, maka aku dengan senang hati akan melawan perintahnya demi menghukum kalian dengan balasan yang setimpal.”
Dunia ini telah ditinggalkan, dewa itu tidak ada. Jika ada maka bentuk keselamatan seperti apapun yang mereka minta pasti akan terjawab. Bahkan orang yang sekarat pun akan disembuhkan. Tapi, dunia ini yang akan berakhir bahkan tidak pernah sekalipun mendapatkan keajaiban tersebut.
Tidak, bahkan sejak awal keajaiban itu tidak ada. Itu diluar kehendak kita. Tapi, paling tidak kita bisa membuat keajaiban itu sendiri sesuai yang kita inginkan.
Walaupun itu tidak mutlak, walaupun itu hanya fiksi dan tidak nyata, dan walau itu hanya mimpi semata.
Saya tidak peduli dan tetap mengejarnya meskipun hanya meninggalkan seberkas cahaya harapan.
Orang-orang ini telah jatuh.
“Mereka tidak pantas di selamatkan.”
Gumaman saya dengan menggerakan bibir dengan ringan.
“Yang mulia, apakah kamu suka melihat orang menderita?”
“...! Haha, tentu. Kalau Saint?”
“Kenapa kamu bertanya hal yang sudah jelas.”
Setelah melepaskan wajah mereka dan melihat bahwa mereka benar-benar telah kehilangan harapan, saya merasa puas. Saya berdiri dan menatap Claude dengan tersenyum.
“Aku juga menyukainya.”
“Jadi sudah diputuskan?”
“Ya.”
Kala itu benar-benar adalah hal yang bisa saya prediksi dengan baik. Bahkan tanpa melihatnya. Claude dan saya benar-benar seperti dua sisi yang sama. Hanya beberapa keping saja yang berbeda. Namun tujuan kami tetap pada apa yang saat ini ada di depan.
Sebagai perumpamaan...
“Bunuh mereka semua.”
...Untuk pertama kalinya di dunia ini saya menginginkan kematian orang lain dengan sepenuh hati.
Claude terkekeh kemudian tertawa keras seperti orang tidak waras. Meski sejak awal dia memang begitu.
Mata merah itu menyala dengan warna darah, rambut emasnya mengalir di antara udara yang perlahan memanas.
“Dengan senang hati.”
Seberkas percikan api muncul di udara dan tanpa menahan dirinya. Api yang berkumpul di tangan Claude, mulai membakar habis para tahanan di dalamnya.
Jeritan kematian menjadi sebuah irama paduan suara.
Sementara Claude mengeksekusi dengan wajah yang benar-benar terlihat menikmatinya, saya berjalan untuk pergi.
Terbakar oleh api penghakiman adalah kematian yang paling menyakitkan.