
Rencana saya hanyalah agar Yohan mampu bertarung dan mengulur waktu sebanyak yang dia bisa. Namun, jika bisa itu hanya berlangsung selama 5 menit. Saya memang bisa membantunya tetapi saya sendiri tidak yakin.
Antara saya yang bertahan atau Yohan yang tumbang terlebih dahulu. Ini pertaruhan baginya.
Goliath Ogre telah berhasil dikalahkan. Tetapi, itu hanya seekor. Akibat kemarahan yang didapatkan iblis Sabnock. Dia mengirim lebih banyak budaknya ke depan dan menghalangi Yohan.
Jumlah Goliath Ogre di depan Yohan bertambah menjadi 5. Sekarang dia tidak tahu kapan akan selesai dan bisa tumbang kapan saja. Dia juga telah bertaruh dan mengeluarkan segala kemampuannya.
Seluruh skillnya meraung dan meledak beberapa kali di medan perang yang hanya ada dirinya.
Saya sendiri tidak tahu mengapa. Apa ini adalah harga diri iblis atau apa. Seharusnya jika iblis Sabnock berencana membunuh kami semua maka dia bisa mengerahkan semua monster untuk menyerang.
Tapi, tidak. Saya yakin itu karena dia ingin mencari sosok kuat yang nantinya bisa melawannya.
Artinya kami sebagai sandera akan menjadi mainannya. Iblis Sabnock menyuruh kami melawan para pasukannya terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa melawannya sebagai last boss.
Di depan sana Yohan dengan semangat juangnya sedang bertarung.
Sekarang...
“Senior aku butuh bantuanmu.”
“Apa? Apa yang aku bisa bantu di situasi ini? Apakah aku harus membantu Hyungmu?”
“Ya.”
“Baiklah.”
Eh? Tanpa ragu begitu saja Heros segera maju ke depan tanpa mempertanyakan kelanjutannya kepada saya atau apa alasan dia membantu saya. Secepatnya saya menghentikannya bergerak.
“Tunggu dulu senior. Jika begitu saja kamu maju maka kamu akan mati dengan cepat.”
“Ah...” ekspresi Heros seakan tidak menyadari itu.
Apa dia sengaja melakukannya atau memang dia berniat mengorbankan nyawanya disini. Saya senang karena dia membantu saya disini, bukan berarti saya ingin dia mengorbankan nyawanya begitu saja seperti membuang sampah tidak berguna.
Tentu saya bukan orang tanpa hati seperti itu.
“Senior sebelum itu ada yang ingin aku katakan.”
Heros menatap saya dengan penasaran. “Ya, katakan Alvius.” tanpa rasa curiga sedikitpun dia juga tersenyum ringan.
Entah mengapa saya merasa tidak enak.
“Aku bisa memberikanmu kekuatan. Jika kamu berjanji untuk setia kepadaku.” saya menatap Heros serius. “Apakah kamu bersedia?”
Ini bukan paksaan karena itu saya memberinya pilihan dan hak itu menjadi miliknya. Ini berbeda dengan Yohan karena saya membutuhkannya secara alami. Namun, tidak ada alasan bagi Heros bertahan di satu sisi yaitu saya.
Karena begitu kami keluar dari sini, pilihan itu nanti seolah akan mengekangnya.
Saya takut, itu akan membuatnya semakin menderita.
“Apakah kamu membutuhkanku Alvius?”
Saya bingung dengan pertanyaan tiba-tiba. Saya menjawab karena ini kewajiban saya. “Ya. Aku membutuhkan kekuatan senior.”
Heros menyeringai pada sudut bibirnya dan melihat saya dengan wajah cerah ceria. “Kalau begitu itu sudah cukup. Jika kamu membutuhkanku, aku akan memberikan semuanya padamu.”
Sesaat saya dibuat terpukau. Ini adalah kali pertama pikiran ini masuk ke dalam kepala saya. Senior jika tersenyum seperti itu, dia sangat tampan. Seperti pemain utama sebuah cerita, serta dialog itu. Tidak, tidak, apa yang saya pikirkan ini....
“Ini akan mengekangmu senior.”
“Aku tidak masalah.”
“Senior akan terikat denganku dan tidak bisa melawanku.”
“Justru itu yang aku inginkan.”
“....”
Saya tidak tahan dengan jawaban spontanitasnya dan mengeluh kesahkan diri saya. Melihatnya begitu membuat saya semakin terlihat seperti orang yang buruk. Mengetahui kutukannya saja sudah membuat saya empati kepadanya, dan di tambah membuatnya terkekang oleh kekuatan saya... Saya tidak bisa.
Namun, seperti yang dia katakan. Saya membutuhkan kekuatannya itu karena dia adalah kandidat kedua yang saya inginkan.
[‘Master Faithful’ sedang bergejolak!]
Dalam diri saya. Hanya satu itu yang ingin mengikat Heros. Kutukan Heros adalah sesuatu yang ingin dia ikat jadi jika saya melakukan itu kepada Heros, dia tidak akan bisa melawan saya dan harus tetap patuh sampai saya mati.
Bukankah itu... Adalah perbudakan.
“Alvius, kamu selalu menyelamatkanku. Aku tidak peduli apapun itu, aku akan tetap melakukannya jika demi kamu.” Heros tidak bimbang sama sekali atau merubah pikirannya. Kemudian dia tiba-tiba menunduk ke bawah kaki saya dan meraih tangan kanan saya.
“Aku akan menjadi perisaimu, Saint Alvius.” dan dia mencium punggung tangan saya.
Saya tersentak, sejenak saya melihat Heros. Pikiran saya jika kepada orang ini selalu saja seperti terpatahkan. Lalu saya melihat ke arah medan perang bahwa Yohan tidak akan bisa bertahan lagi.
Saya menutup mata kuat-kuat dan menggigit bibir saya.
‘Aku tidak punya pilihan.’
Saya menepuk kepala Heros dengan tangan kiri saya. Segera monitor mengambil alih.
[Apa anda ingin membuka Skill milik status Heros De Charita?]
“Ya.” dengan suara lemah tanpa bisa membuat keputusan lebih lama lagi saya memasrahkan semua pada monitor.
Tubuh Heros mulai mengeluarkan cahaya cemerlang.
[Memulai membuka Skill...]
Kemudian dengan pesan itu selanjutnya percikan hebat gelombang listrik menyerang saya seperti mendorong pikiran saya.
[Melaporkan. Adanya penolakan kekuatan suci dari dalam tubuh target! Mengusahakan melawan objek kutukan!]
Energi gelap menerobos keluar dan berusaha menguasai tubuh Heros. Ini adalah penolakan kuat antara kutukannya dan kekuatan suci saya. Jika begini maka skill [Holy Blessing Apostle] milik saya di cegah untuk masuk. Monitor berusaha sekuatnya.
Berkali-kali itu mendorong dan menguasai. Cahaya di tubuh Yohan sekarang berada di antara gelap dan terang. Seperti dua aura itu tidak ingin kalah satu sama lain.
‘Hancurkan secara paksa.’
[Menghancurkan secara paksa diterima.]
Lalu cahaya suci saya sepenuhnya masuk dan menguasai tubuh Heros dan menetralkan kegelapan aura miliknya. Perlahan menenangkannya dan menjaga tetap stabil.
[Proses berhasil. Kutukan telah menjadi tenang.]
[Skill telah terbuka. Peningkatan skill milik target tergolong pada atribut gelap apakah tidak masalah?]
‘Ya. Itu adalah miliknya saya tidak berniat mengubah identitasnya sama sekali.’
Setelah itu suara seperti pecahan kaca ringan menghancurkan.
[Skill ‘Splitting the Truth (L)’ berhasil di dapatkan!]
[Skill ‘Predator of Curse (L)’ berhasil di dapatkan!]
[Skill ‘Darkness Festival (L)’ berhasil di dapatkan!]
[Melaporkan seluruh Skill yang bisa terbuka telah berhasil di dapatkan. Sekarang memulai pembukaan untuk mendapatkan Job. Apakah anda yakin target menerima Job?]
Saya terdiam, saya tidak bisa memikirkan jawaban apa yang harus saya katakan, keraguan ini membuat gila. Selanjutnya, bukan saya, melainkan yang menjawab kehendak monitor adalah Heros sendiri.
“Saya menerima.”
Ekspresi saya mengerang kaku dan tidak sanggup melihat keadaan Heros di sini. Itu karena setelah dia menjawab monitor...
[Status Heros De Charita menerima permintaan klaim ‘Master Faithful’]
Krararang!
Rantai ilahi dari surga keluar dari tubuh punggung saya dan mengikat tubuh Heros dengan kekangan yang sangat kuat.
“Keuhk!”
Heros merintih kesakitan karena bagaimanapun itu mengikat erat dirinya dengan sebuah sumpah yang tidak bisa dipatahkan. Karena dia memiliki elemen gelap, rantai ini cocok untuknya agar bisa membatasi dirinya sebagai pemilik kutukan.
[Status Heros De Charita menjadi Prophet ‘Chain of Obedient (SS Job)’ telah di dapatkan!]
[Sebagai ‘Master Faithful’ anda bisa membatasi atribut dari Prophet anda.]
Saat kemudian rantai yang mengekang Heros pecah keras menjadi butiran cahaya.
Semua telah selesai. Heros telah dikekang dan skillnya telah terbuka.
Kala itu saya... Juga telah hancur secara perlahan dan dengan keterkejutan mental yang tiba-tiba.
“Anda adalah anak terkutuk!”„
“Bagaimana bisa darah Charita akan menghilangkan kutukan!”„
“Sudah saya duga monster tetaplah monster!”„
“Anak haram seperti anda tidak pantas hidup!”„
....
Ingatan yang bukan milik saya bocor dengan deras seolah sebuah film masuk ke dalam kepala saya dan memperlihatkan semua yang dialami Heros selama ini. Dan dari sekian banyak ingatan itu, semuanya adalah penderitaan.
Zuzuzuzu!
Kepala saya tersengat kuat oleh aliran ingatan yang tidak ada hentinya.
“Ahhh!!!”
Saya jatuh dan di tangkap cepat oleh Heros.
“Saint Alvius!”
Mata saya mulai menjadi putih seutuhnya dan kerusakan pikiran saya semakin dalam. Monitor segera bekerja dengan kuat dan mengaktifkan cepat pertahanan mental untuk saya. Rasa sakit perlahan dihilangkan dan motorik saya kembali.
“Alvius anda tidak apa!?”
“Y-ya, saya, baik-baik saja.”
Sementara saya tidak bisa bangkit akan efek sampingnya.
Bleduum!
Ledakan demi ledakan menguasai medan perang di depan. Saya segera mencengkeram kerah lengan Heros dan bergumam tanpa daya.
“Tolong bantu Hyung. Dan ulur waktu sebentar.”
“Baiklah.”
Heros bangkit dan menaruh ringan saya untuk duduk di tanah.
Saya tanpa bisa mengeluarkan banyak tenaga hanya mencari napas untuk menenangkan diri dan menatap punggung yang berjalan ke medan perang.
Saya menggertakkan gigi saya begitu melihat aura hitam Heros mendidih dan sangat cepat dia menghilang dengan kabut hitam menyelimutinya lalu tiba di depan Yohan dalam sekejap mata kemudian membantai semua monster yang menyerang Yohan hanya dalam kurun waktu kurang dari sedetik.
Saya bergumam ringan pada diri saya sendiri. “Aku, telah membuka monster keluar dari kandangnya...”
Dan pesan berikutnya telah sampai pada monster itu.
[‘Master Faithful’ menatap anda.]
...Heros tersenyum setelah menghancurkan tubuh Goliath Ogre.