
Di malam itu, pria dengan memakai jubah biru berkumpul di tempat Claude. Saat selesai melihat keberangkatan Saint Alvius, rapat pertemuan rahasia dia gelar dimana tidak ada orang yang mengetahuinya.
Di ruangan yang hanya ada rak buku yang tinggi, sebuah bola raksasa bening seperti kaca, dan alat-alat sihir yang terkumpul di seberang rak buku yang di pajang layaknya sebuah benda koleksi atau barang antik.
Ketika sebuah portal terbuka di dalam ruangan, seseorang muncul. Dia adalah Wizard Cedric.
Claude yang melihat kedatangan Cedric bertanya dengan suara dingin.
“Bagaimana dengan para Wizard pengkhianat itu?”
Itu membuat Cedric hampir berpikir dua kali sebelum menjawab agar bisa benar-benar membuat Claude puas. Namun, mengetahui fakta bahwa hal ini tidak bisa di sembunyikan. Masalahnya rekannya yang telah terkena jebakan dan juga teman yang dia kira juga rekan ternyata adalah pengkhianat, sehingga berusaha membuat Dungeon Break.
Usaha untuk membuat keributan dan kekacauan yang disebabkan oleh para pengkhianat. Wizard yang sangat dia kenal, Reich, sudah mati.
Tetapi, tidak mengubah apapun, bahwa jika Reich masih bersikeras dengan rencananya. Maka pasti bencana besar akan terjadi di Kerajaan Suci Harvellion dan mengganggu rencana Claude.
“Para pengkhianat yang tidak menyetujui rencanaku.” seperti ini adalah sesuatu yang membuat Claude tidak ingin membual dan melepaskan kemarahannya.
Benar, Wizard yang berkhianat adalah mereka yang mengetahui fakta lain dari rencana Claude dan berusaha memutarbalikkan meja.
Tidak begitu di pikiran Claude yang cerdik. Dia tahu bahwa mereka yang berkhianat, adalah mata-mata dari bangsawan yang bekerja sama dengan Ratu.
Memikirkannya saja membuat Claude ingin membunuh mereka yang berkhianat. Ruangan pun menjadi sangat kelam.
“Pangeran, untuk laporan tersebut, kami telah berhasil memburu mereka yang berkhianat yang berniat kabur dari pengawasan anda. Lalu kami mengeksekusi mereka agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari rencana anda.”
Walaupun Cedric berusaha membuat Claude yakin. Tapi, raut wajah Claude sama sekali tidak berubah. Dia begitu terlihat mengerikan saat tidak memasang ekspresi apapun dan hanya datar dan turun. Cedric merasa gugup dan tegang.
“... Begitu.” jawab rendah Claude.
Para Wizard yang berkumpul yang ada di ruangan hanya bisa diam dan menyaksikan. Claude berjalan ke arah rak yang ada alat-alat sihir sembari melihat-lihat itu dia berbicara kasual.
“Aku harap kalian tahu, kapan kalian akan kehilangan nyawa kalian. Saat aku sudah melihat kalian itu adalah akhir. Aku tidak punya waktu untuk hal konyol yang kalian lakukan di luar sana yang keluar dari apa yang aku berikan.”
Dia meletakkan lagi alat yang dia pegang dan menatap ke arah para Wizard. Dia melihat mereka dengan pandangan yang jauh ke depan, memperlihatkan bahwa aturannya disini adalah mutlak. Selama dia masih hidup.
“Aku bisa membuang kalian kapan saja jika aku mau, tapi aku tidak melakukannya karena aku masih punya hati yang lapang. Yah, jika aku melakukannya aku akan berakhir buruk. Seseorang berkata padaku bahwa aku harus memanfaatkan orang-orang yang patuh padaku selama yang aku bisa.”
Dalam diam perkumpulan Wizard di buat berpikir dan bertanya-tanya siapa yang berani memberikan saran yang kontra seperti itu kepada seorang diktator seperti Pangeran Mahkota ini. Tidak banyak waktu untuk mereka berpikir sehingga mustahil membuat daftar siapa pelaku tersebut.
Namun, berapa kali mereka berpikir pun mereka tidak akan mengetahuinya.
Orang yang terus di pikirkan Claude, orang yang terus dia nanti, orang yang selalu membuat Claude tertarik dengan setiap tindakan mengerikannya, orang yang selalu ingin dimiliki olehnya... Kekuatannya!
Tidak ada yang mengetahui apa sebenarnya yang ada di pikiran Claude. Alhasil mereka menjadi korban tidak langsung dari setiap gerakan jarinya.
“Pangeran, ada pesan dari pihak mata-mata yang mengatakan para petinggi istana sedang melakukan rapat dengan Ratu. Bagaimana jika mereka mengetahuinya?” Kata dari salah satu Wizard yang terlibat.
“Ya. Ratu sangat cerdik dan penuh strategis, wanita ****** sialan itu membuatku kewalahan dan mengurungku layaknya seekor burung kecil yang rapuh. Tapi, itu tidak apa. Berapa kali mereka akan menghancurkan rencanaku, kali ini mereka tidak akan bisa melakukannya.”
Jawab Claude dengan mengepalkan tinjunya yang membuat sebuah percikan api berbentuk seperti seutas tali berpitar di antara tinjunya. Itu kekesalannya atas semua apa yang dia rencanakan selalu dihalangi oleh pihak Ratu.
Sekarang yakin dia bahkan ingin membunuh seseorang.
Wizard bertanya lagi.
“Apakah ada jawaban dari kediaman Charita dan Atarasia?”
Secara, faksi para bangsawan saat ini bisa di bilang terpecah namun berusaha untuk tidak terlihat di depan publik sebaik mungkin. Terutama kediaman pihak-pihak yang bermaksud memberikan kekuatan mereka pada Ratu atau memilih memihak kepada Pangeran Mahkota.
Pertanyaan ini bisa di bilang tidak spesifik bagi Claude.
Ya, dia menjawab dengan menyeringai tipis.
“Jika aku bisa membunuh mereka aku akan melakukannya. Namun, sayangnya jika aku melakukannya tanpa izin, aku akan di marahi.” dengan itu dia juga tertawa kecil. Membuat para Wizard kebingungan bersamaan dengan rasa merinding yang tidak langsung.
“Kedua keluarga utama itu bersifat netral sejauh ini. Tidak memihak siapapun. Bahkan jika para audien di kumpulkan jadi satu dengan Ratu sebagai pusatnya, mereka akan tetap bungkam sampai sekarang dan hanya melihat layaknya menonton sebuah teater. Jadi biarkan mereka.”
Alasan dia membiarkan kedua bangawan keluarga utama itu mungkin dia tidak ingin sesuatu yang tidak bisa dia genggam malah jatuh tanpa alasan. Bagi Claude semuanya adalah batu pijakan, asalkan tujuannya tercapai apapun tidak masalah sebagai pengorbanannya.
Dan Claude sudah memperkirakan sampai sejauh mungkin bahwa antara Bangsawan Charita dan juga Atarasia, mereka tidak akan bertindak.
“Mereka tidak akan bisa ikut campur meski mereka mau.”
Jika mereka melakukannya bahkan jika terpaksa, tetap itu akan gagal dan menjadi kemenangan Claude.
Itu karena bahkan tanpa kepala keluarga. Secara tidak langsung keturunan merekalah yang sudah ada di belakangnya.
Claude merasa senang. Sejauh dia hidup dia tidak pernah sesenang ini dan memiliki prediksi bahwa ini akan berjalan lancar. Dia berjalan ke arah jendela dan menatap ke atas langit.
“... Selama bulan masih bersinar di atas langit.”
Bayangan wajah Saint Alvius bisa dia lukiskan di dalam kepalanya. Bagaimana ekspresinya ketika anak itu kembali nanti dan melihat hadiah darinya?
Ketika dia melakukannya, wajahnya sangat-sangat natural seperti seorang anak anjing yang sedang menanti kedatangan tuannya. Pupilnya yang merah delima bagaikan batu ruby yang berkilau, sekarang menyala. Bibirnya yang menyeringai, sampai matanya juga ikut terlibat.
Cedric tidak bisa lagi melihat apa yang akan terjadi nanti. Dia pasrah dan diam menunggu pekerjaannya. Dia sudah tidak lagi bimbang akan keputusannya memihak Pangeran Mahkota, setidaknya hingga dia di ujung kehidupannya.
“Ugh!”
Claude yang diam memandang langit, anehnya dia meremas dadanya dengan sangat erat seperti dia akan merobek dadanya sendiri. Dia mengerang kesakitan namun dia tidak memperlihatkannya.
“Mengapa sekarang?!” gumamnya dengan merintih dan keringat dingin bahkan menetes di dahinya yang terekspos.
Kulit pucatnya terlihat semakin pucat, tetapi di malam ini gelap telah berhasil menyembunyikan warna kulitnya yang pasi.
Jantungnya berdegup semakin kencang dan dia menggernyitkan dahi serta menggertakkan giginya.
Kemudian berkata. “Siapa lagi yang akan kau hancurkan, iblis sialan!?”
Hanya satu yang dia khawatirkan sekarang daripada dirinya sendiri.
“Saint...” dengan suara lemahnya.
***
Malam yang sama, waktu yang sama, sedangkan tempatnya yang berbeda. Jika di langit dunia yang tidak terhubung dengan dimensi pelindung milik Ras Dwarf terlihat aman. Sementara di dalam pelindung, Kota Industri Tenstheon, badai besar sedang terjadi.
Langit gelap sangat hitam, kilat bergemuruh di atas langit yang tertutup kabut tebal awan. Seperti menjawab gemuruh dengan sambutan, awan menjadi berbentuk melingkar di tengah langit Kota Industri Tenstheon.
“Apa itu?”
Berdasarkan cuaca, tidak mungkin hari ini terjadi badai yang datang tiba-tiba.
Para warga masyarakat Ras Dwarf hanya bisa memandang langit kosong dengan perasaan ketakutan.
...Jauh disana, mereka telah berkumpul.
“Putri, maksudmu si ‘Ratu Malam 25’ datang?!” Elder Orlos menyatakan ketegangannya.
Sembari merespon dengan anggukan ringan, wanita yang tahu segalanya menjawab dengan nada yang seharusnya lemah lembut, kini menjadi kelam di penuhi amarah yang seperti tersimpan selama ini.
[Ya, seperti yang kamu bayangkan. Dia datang lagi.]
Elder Orlos yang mendengar jawaban itu merasa tidak percaya, namun dia harus memaksakan diri untuk percaya. Tidak ada tanda-tanda kepastian bahwa ‘Ratu Malam 25’ akan datang. Namun, hanya dengan July memandang langit mengerutkan kening dengan aura yang menakutkan. Itu saja cukup menjadi jawabannya.
“Siapa dia itu?”
Alvius yang disana bertanya.
“Dia adalah...—!”
Sebelum Elder Orlos bisa menjawabnya. Petir menyambar ‘CTAR!’ seperti sebuah peringatan dan menghanguskan tanah di depan gerbang masuk Kota Industri Tenstheon.
Kemudian juga seperti sebuah salam hangat, awan yang berpusar di langit menjadi sebuah portal besar yang pernah ada. Sesuatu menampakkan diri dari portal itu dan pelan-pelan jatuh ke bawah.
“I-itu...!!” Gelagat Elder Mouris.
“Tidak salah lagi...” Sama-sama sebagai Elder yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran itu, Elder Orlos menggigit giginya dan menggenggam erat ganggang pedangnya. “... Dia benar-benar datang.”
DONG!
Sebuah gerbang raksasa telah jatuh ke tanah melewati portal raksasa di atas langit yang sekarang telah menghilang.
Gerbang itu ada di depan pintu masuk Kota. Bentuknya sangat besar dan tinggi, seperti itu adalah gerbang yang bisa membawamu langsung ke neraka paling mengerikan. Dengan ukiran-ukiran perak gambar mengerikan itu sudah memberi nuansa — jangan mendekat!
Setelah melihat gerbang besar itu. Alvius merasakan firasat buruk.
Di dunia sebelum dia reinkarnasi tidak bisa dia bayangkan jika ada gerbang sebesar itu. Alvius yakin bahwa jika dia masih ada di dunia lamanya, dia tidak bisa membandingkan gedung pencakar langit manapun, dengan gerbang yang sekarang ada di depan matanya.
Saat-saat perasaan buruk menyelimutinya selama dia berusaha tenang. Dari gerbang sesuatu muncul menembus pintu gerbang itu sendiri. Puluhan kelelawar kecil berterbangan masuk ke dalam kota.
Beberapa kelelawar ada di depan Party sekarang. Dan kemudian itu bercahaya dan para kelelawar kecil itu berubah bentuk menjadi sebuah secarik kertas.
[ANDA DI UNDANG DI PESTA PERJAMUAN TEH] - [‘Queen Night 25’].
Alvius tidak menduga dengan apa isi kertas tersebut yang kemudian kertas itu yang telah di baca terbakar hangus begitu saja.
Alvius merasakan firasat sangat buruk dan merinding.
Karena lebih dari itu. Tanpa surat dengan isi aneh itu dia bisa memastikan karena dia punya Appraisal dan juga skill [Gaze of Wisdom] yang kini aktif. Di atas kepala semua orang bahkan para Party yang mendapat surat yang sama.
Tanda panah dengan warna merah darah mengambang di atas kepala mahkota mereka semua!