The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 36: CLARITY SHADOWLESS



Saya bermimpi. Di dalam mimpi semua yang saya alami terasa begitu lambat namun juga begitu cepat. Itu terasa seolah saya menjadi bagian dari keinginan saya sendiri. Mencoba melarikan diri dari keinginan saya itu sulit, seperti sesuatu mengejar saya dari belakang bayangan saya.


- Apa yang kau lakukan?


Dia berkata begitu, saya tidak tahu bagaimana rupa dari wajahnya. Saya tidak bisa melihatnya jelas, itu terlihat sangat buram.


- Apa kau ingin lari?


Seandainya jika bisa. Dunia ini dan dunia lama tidak ada bedanya. Hidup yang bergantung pada kekuatan dan dimana ada kekuatan disana juga ada tempat dimana kekuatan menjadi tidak berdaya.


- Mudah. Kenapa kau tidak mati saja?


...Itu seperti, dia tahu apa yang ada di dalam diri saya!


[Selama ketidaksadaran. Pengambil alih tubuh dilakukan sementara.]


Ya. Monitor selalu berada di sisi saya. Meski dia hanya sebuah keterampilan. Keberadaannya membuat saya tenang dan merasa damai. Saya sadar, jika tanpa monitor saya bukanlah apa-apa melainkan diri lama saya yang terikat oleh dunia yang lama. Saya berterima kasih.


Hari-hari telah berlalu begitu cepat. Sementara saya di ruang dimensi tanpa warna selalu melihat rekaman dari ingatan lama saya. Layar-layar hologram terbang di sekitar saya dan memperlihatkan semua video rekaman hidup saya.


Di bagian tengah atas layar ada judul masing-masing dan serta tanggal dan kejadian apa yang terjadi. Seperti jejak saya selama masa hidup di dunia lama ada disana.


- Tahun xx98 — anak kecil terlahir dari keluarga yang harmonis.


Itu baru bagi saya. Dimana saya terlahir pertama kali di dunia ini. Tangan kecil, dan tubuh mungil saya seakan bisa hancur dalam sekali pelukan. Tapi, saya tidak ingin mengingatnya. Mengganti layar berikutnya.


- Tahun xx00 — pertama kalinya berbicara dan pertama kali bisa berjalan.


Begitu manisnya. Ya, saya bisa percaya diri ketika melihat diri saya sendiri yang mungil dan manis yang sekarang bisa berjalan meskipun hanya perlahan dan menggenggam tangan seorang wanita, dia ibu saya.


Saya tertawa ketika melihat diri saya sendiri jatuh dan luka di dahinya memerah. Tapi, saya tidak ingin melanjutkan.


- Tahun xx05 — bersekolah dan membuat teman.


Saya hanya tersenyum pahit ketika melihat diri saya yang sedang bersekolah di sekolah dasar memakai seragam dan rompi hitam dengan lambang akademi Changdo. Semua siswa dan siswi berangkat dan diantar oleh kedua orang tuanya. Tapi saya... Saya mengganti layar berikutnya.


- Tahun xx11 — kedua orang tua bercerai dan kehidupan sekolah buruk.


Saya mengganti...


- Tahun xx15 — kasus dimana diskriminasi semakin parah.


Saya mengganti...


- Tahun xx18 - kuliah sebagai mahasiswa yang...


Saya mengganti...


Saya mengganti dan terus mengganti. Saya menggigit bibir saya sendiri hingga berdarah dan berkali-kali ingin menghancurkan semua rekaman yang ada di hadapan saya.


Kemungkinan ini adalah sebuah hiburan yang bisa saya dapatkan. Karena berada di tempat yang hanya ada warna putih ini membuat saya bosan. Meski begitu mengapa dari sekian banyak hiburan, kenapa harus rekaman kehidupan yang tidak ingin saya ingat lagi!


Terasa seakan ini bukan hiburan, melainkan hukuman bagi diri saya sendiri.


Judul yang tertera di setiap dokumentasi video sangat mencerminkan kejadian yang akan saya alami.


Fakta itu, tidak ingin saya ingat lagi.


Gugugu!


Setelah itu sesuatu mengguncang ruang dimensi saya. Getaran ringan seperti gempa peringatan membuat layar-layar menjadi rusak. Saya perlahan mengangkat kepala saya ke atas dan mencoba mempelajari situasi dengan tidak tertarik. Saat ini monitor sedang bekerja di tubuh saya, sementara waktu dia tidak bisa dihubungi, lalu getaran apa itu.


Apakah akhirnya saya akan bangun?


Saya tertawa kecut. Bangun? Adalah kata yang tidak ingin saya identifikasikan. Jika saya bangun dunia tingkat-SSS atau apalah itu akan menghancurkan saya lagi. Saya berharap tidak bangun.


Sasasasa!


Pada waktu itu juga, semua layar rekaman menghilang dan diganti oleh sesuatu yang lain. Kemungkinan yang bisa saya lihat dan pastikan adalah ini ulah monitor yang sedang memperbaiki tubuh saya.


Percikan petir emas menari-nari di udara di depan saya. Saya yang duduk di kursi kosong hanya bisa memandang hampa ke depan, dimana petir itu kini berubah menjadi jaring-jaring dan melukis merajut sesuatu disana.


Tulisan tersirat dalam utas benangnya.


[‘Descendant of Diligent, Yohan Raven’ sedang putus asa!]


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ kehilangan cahayanya!]


Benang-benang itu bergerak dengan sebuah kedipan yang seolah dia sedang ingin sebuah respon dari reaksinya kepada saya. Saya hanya terus memandangi kalimat itu dengan kosong dan berpikir. ‘Mengapa mereka terlihat putus asa?’ seakan saya tidak peduli, apa yang terjadi berikutnya adalah yang menjawab pikiran itu.


[‘Descendant of Diligent, Yohan Raven’ berharap pada penguasanya!]


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ bertanya-tanya kemana penguasanya hilang!]


Percikan itu semakin ganas setiap detiknya. Seperti dia berkata, lihatlah ini. Dan berteriak dengan percikan badai listrik. Mimpi-mimpi itu terus berlanjut. Selama berhari-hari selama beberapa minggu terakhir. Kalimat dari kabel benang itu terus terwujud bagaikan sebuah hiburan untuk waktu lama saya di tempat kosong ini, sendirian.


[‘Descendant of Obedient, Yohan Raven’ berpikir bagaimana cara menjadi kuat.]


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ berkata bahwa menjadi kuat itu mungkin.]


Pandangan saya yang termenung kemudian menjadi tertarik untuk melihat ke arah kalimat itu berada. Itu sebuah pertarungan kecil dari sebuah perdebatan dialog. Saya tanpa sadar sedikit tersenyum pada kalimat yang menggambarkan dua sosok itu.


Saya berharap itu benar, mereka selalu saja menatap seolah mereka adalah musuh abadi. Tapi, jika mereka bersama saya yakin itulah kekuatan yang mereka cari.


[‘Descendant of Diligent, Yohan Raven’ berlatih tanpa istirahat tanpa menggunakan skill.]


Mengapa dia tidak menggunakan skillnya? Itu hadiah dan berkah yang pantas untuk berjalan disisinya. Setidaknya menjadi bagian dari hidupnya sendiri.


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ sedang menunggu cahayanya kembali.]


Dari kalimat itu penggambarannya bisa diimajinasikan dengan sangat jelas. Momen yang tidak pernah sekalipun tertinggal atau pergi. Dia setia dalam penggambaranya. Ya, itulah dia. Yang diketahui memiliki kutukan paling mengerikan sekarang batinnya terluka.


Hari demi hari terus berlanjut. Keganasan dari badai di ruang dimensi saya semakin tidak teratur. Guncangan karena efek badai ini sampai membuat tempat ini seakan di terpa oleh ombak akhir dunia. Gelombang yang tidak tahu kapan akan berakhir.


[‘Descendant of Diligent, Yohan Raven’ menangis!]


Guncangan ruang tidak berhenti. Namun, ketika itu juga dalam persepsi saya seolah badai tidak terjadi. Dan saya melihat pada tulisan itu. Tulisan yang perlahan meneteskan air yang murni dan mengembun begitu jatuh di lantai lanskap ini.


[‘Descendant of Diligent, Yohan Raven’ berkata jangan memilih pada keabadian mimpi!]


Itu terus belanjut dalam penulisannya. Seolah tulisan tangannya payah, coretan kalimat berikutnya sedikit berbelok-belok.


[‘Descendant of Diligent, Yohan Raven’ menunggu dan menangis.]


Saya tidak bisa lagi. Kalimat itu paling putus asa yang pernah saya lihat. Hingga kata-katanya menjadi buram dan kabur seolah setiap hurufnya terkena tetesan air matanya.


Kemudian yang selanjutnya datang membuat tekanan yang merantai kulit saya.


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ menunggu dari luar.]


Itu sedih, terharu, sakit, dan dalam keadaan yang paling terjatuh. Tidak peduli seberapa lama dia hidup, tidak peduli semenyakitkan apa kehidupannya selama ini. Dia tidak ingin kehilangan tempatnya disisi cahaya.


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ ingin bertanya.]


Seandainya dunia ini tidak ada kutukan atau sesuatu wabah dimana seseorang bisa menjadi gila. Maka dia adalah orang pertama yang menjadi sang ahli menahan kegilaan. Tapi, dia yang ahli menahan rasa sakit sekarang tidak bisa berupaya mempertahankan rasionalnya dan mengetuk secara putus asa di dinding tak terlihat.


[‘Chain of Obedient, Heros De Charita’ memohon agar harapannya kembali.]


Perasaan depresinya bisa saya rasakan tanpa saya bertindak selanjutnya.


Benar, sejak awal ini bukanlah karena kalimat itu. Melainkan karena dari kalimat-kalimat itu muncul, tanpa menggambarkan perasaan yang dialami karakter tersebut saya bisa merasakannya langsung dengan jelas di dalam hati saya.


Perasaan ini adalah milik mereka.


Betapa menyakitkannya ini. Tidak, saya tidak mau lagi perasaan yang menyakitkan ini. Emosi saya akan hancur jika saya tidak mengenal lagi milik saya sendiri. Apa yang harus saya lakukan?


Saya meremas erat dada saya. Saya memukul dada saya berkali-kali namun tidak terasa sakit sama sekali. Berharap jika disini ada pedang atau benda tajam, saya ingin membela dada saya dan mengeluarkan perasaan ini segera.


Tapi, saya tidak bisa.


Kemudian guncangan akhirnya berhenti. Saya yang terjatuh dari kursi kosong saya hanya menatap ke arah kalimat yang mengambang di udara itu kini kian memburam dan akan segera menghilang.


Tangan saya dengan ragu-ragu dan perasaan bimbang perlahan naik untuk meraih kalimat itu. Lalu ‘Ctas!’ listrik itu menyengat dan mementalkan tangan saya. Lalu saya menatap tangan saya sendiri, darah menetes dari telapak tangan ini. Sakit, kenapa ini terasa sakit?


Semua kalimat benang menghilang.


Terduduk di tanah lanskap hanya memandangnya membuat saya sadar. Ah... Saya sendirian lagi. Putus asa dalam kehampaan ini terlalu panjang untuk dinantikan bahwa harapan akan datang.


Gugugugu!


[Melaporkan. Skill ‘Holy Blessing Apostle (L)’ meminta aktivasi!]


Tiba-tiba layar yang tidak asing muncul dari bawah saya memandang lanskap putih ini. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun saya menekan kata ‘Izinkan’ dan kemudian itu menghilang.


[Melaporkan. Aktivasi diberikan. Skill ‘Guardian of Charity’ telah bangkit 10%.]


[Keuntungan dari kebangkitan ini. Mempercepat proses penyembuhan dari Pasif atribut tersebut.]


[‘Guardian of Charity’ memulai pekerjaannya!]


Rasa hampa yang lama saya rasakan dalam sekejap hancur. Seluruh pemandangan dari lantai di sekitar saya perlahan runtuh dalam pewarnaan putihnya. Ruang dimensi berguncang dengan lembut dan menjalar menjadi sesuatu yang berwarna.


Saya yang memandangi seluruh tempat ini berubah terheran dan bingung.


Lantai berubah menjadi warna pelangi yang indah. Dinding-dinding tak terbatas dan transparan menjadi pemandangan empat musim yang menyegarkan dan indah. Kemudian langit di atas kepala saya yang tidak memiliki apa-apa, terbuka dengan megah dan memperlihatkan alam semesta dan seisinya.


Pemandangan yang tidak pernah saya lihat ada disini. Musim semi, musim gugur, musim dingin, musim panas, bisa saya lihat dari empat dinding (depan, belakang, kiri, dan kanan). Pada saat itu disana keluar peri-peri kecil yang imut sedang bermain ceria dan melompat antara musim semi dan musim gugur, lalu pada musim berikutnya.


[‘Clarity Shadowless, Veronica Vrada’ menunggu anda!]


Lalu tiba-tiba sosok cahaya yang sekejap mata terbang dari arah empat musim dan langit. Menatap tajam ke arah saya dan berkata seperti yang bisa diduga dari kepribadiannya.


- kembalilah bajingan!


Saya hanya bisa tersenyum kecut.


[Memulai kesadaran.]


Ah... Dunia ini terlalu indah untuk ditinggalkan. Saya yang tadinya berharap tidak ingin kembali harus segera kembali karena ada tugas dan orang yang menunggu saya dan hingga ada yang rela menjual harga dirinya.


Kemudian visi saya perlahan menjadi gelap. Saya meninggalkan ruang dimensi ini.